Showing posts sorted by relevance for query p> Ya. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query p> Ya. Sort by date Show all posts

Thursday, December 8, 2016

Gambar Aliran Dugaan Dana Makar Beredar di Media Sosial, Kapolda: Nanti Kalau Ada Bukti Kita Buka

WARTA KOTA, SEMANGGI-- Gambar  berbentuk bagan dugaan penerimaan aliran dana untuk gerakan makar sebelum aki bela islam jilid III di Monumen Nasional (Monas), Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (2/12), beredar.

Gambar itu berisi juga foto-foto sejumlah tokoh, baik tokoh berlatar belakang politisi, pengusaha, pensiunan militer, ustaz, dan maupun aktivis buruh.

Baca: Polisi Jerat Hatta Taliwang Pakai UU ITE dan Pasal Makar

20161209 hatta taliwang isu makar
Aktivis Hatta Taliwang dibekuk di Rusun Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Dia hanya tertawa dan berpesan agar ketua RT setempat menjaga rusunnya.

Bahkan anak bontot mantan Presiden Soeharto atau Tomy Soeharto digadang-gadang sebagai orang yang mengalirkan dana dalam gambar tersebut.

Baca: Rachmawati Soekarnoputri Stres Jika Dirawat di Rumah Sakit

Rachmawati
Rachmawati dan Sejumlah Tokoh yang Ditangkap sudah Dijadikan Tersangka Makar.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Mochammad Iriawan mengatakan foto yang beredar di media sosial janganlah dipercaya. Karena kalau menuduh seseorang tanpa bukti melanggar Undang-Undang.

"Ya jangan dulu lah, kalau belum jelas ya jangan dispkeluasi macam-macam. Bukan, belum lah belum. Itu kata siapa?" tanya Iriawan kepada wartawan di Ancol, Jakarta Utara, Jumat (9/12).

Dia menegaskan bahwa seseorang jangan sampai dituduh. Jadi perlu ada bukti yang otentik untuk menjerat mereka ke dalam hukum.

"Ya gak boleh lah nuduh orang. Perlu bukti dong. Jangan nuduh. (Tomy Soeharto-red) Bukan, tapi gak boleh nuduh. Nanti kalau udah ada baru kita buka. Kalau gambar orang bisa buka, semua juga bisa. Jangan percaya media sosial ya. Menyesatkan lah. Kalau orang ga terlibat lalu dituduh, kan gak enak," ucapnya.

Saat ditanya sekali lagi soal gambar-gambar aktivis yang diduga mendapatkan aliran dana untuk makar, dia menegaskan semua sedang diselidiki.

"Semua orang bisa gambar. Tersangka boleh bicara apa saja bebas. Kami terus ngusut. Kami mau nggak mungkin hentikan," ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, polisi menangkap 10 orang pada Jumat (2/12) dengan berbagai tuduhan, tetapi sebagian besar tuduhannya adalah makar.

Dari 10 orang itu, tiga orang, satu di antaranya Sri Bintang Pamungkas, masih ditahan di Polda Metro Jaya. Sri Bintang dituduh akan melakukan makar.

Beberapa tokoh lainnya, seperti Mayjen  Purn Kivlan Zein, Rachmawati Soekarnoputri, Ahmad Dhani, dan Eko, telah ditetapkan sebagai tersangka tetapi tidak ditahan.

Polisi kemarin menangkap dan menahan mantan anggota DPR dan aktivis, Hatta Taliwang, dari tempat tinggalnya di Rusun Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Sementara itu, Wartakotalive.com belum bisa menghubungi Tommy Soeharto yang di dalam gambar itu sebagai penyandang dana.

"

| Gambar | Aliran | Dugaan | Dana | Makar | Beredar | Media | Sosial, | Kapolda: | Nanti | Kalau | Bukti | Kita | Buka | WARTA | KOTA | SEMANGGI | strong> | Gambar  | berbentuk | bagan | dugaan | penerimaan | aliran | dana | untuk | makar | bela | islam | jilid | Monumen | Nasional | (Monas) | Gambir | Jakarta | Pusat | Jumat | beredar | p> Gambar | berisi | juga | foto | sejumlah | tokoh | baik | berlatar | belg | politisi | pengusaha | pensiunan | militer | ustaz | maupun | aktivis | buruh | p> Baca: | Polisi | Jerat | Hatta | Taliwang | Pakai | Pasal | Makar< | strong>< | h4> Aktivis | dibekuk | Rusun | Bendungan | Hilir | hanya | tertawa | berpesan | agar | ketua | setempat | menjaga | rusunnya | h5> Bahkan | anak | bontot | mantan | Presiden | Soeharto | atau | Tomy | digadang | gadang | sebagai | orang | yang | mengalirkan | dalam | gambar | tersebut | Rachmawati | Soekarnoputri | Stres | Jika | Dirawat | Rumah | Sakit< | h4> Rachmawati | Sejumlah | Tokoh | Ditangkap | Dijadikan | Tersangka | h5> Kapolda | Metro | Jaya | Irjen | Mochammad | Iriawan | mengat | media | sosial | janganlah | dipercaya | Karena | kalau | menuduh | seseorang | tanpa | bukti | melanggar | Undang | p> Ya | jangan | dulu | jelas | dispkeluasi | macam | Bukan | kata | siapa | tanya | kepada | wartawan | Ancol | Utara | p> Dia | menegaskan | bahwa | sampai | dituduh | Jadi | perlu | otentik | menjerat | hukum | boleh | nuduh | Perlu | dong | Jangan | (Tomy | red) | udah | baru | buka | semua | percaya | Menyesatkan | terlibat | enak | ucapnya | p> Saat | ditanya | sekali | lagi | soal | diduga | mendapatkan | diselidiki | p> Semua | bicara | bebas | Kami | terus | ngusut | nggak | mungkin | hentikan | p> Seperti | diberit | senya | polisi | menangkap | pada | dengan | berbagai | tuduhan | sebagian | besar | tuduhannya | adalah | p> Dari | tiga | satu | antaranya | Bintang | Pamungkas | masih | ditahan | Polda | melakukan | p> Beberapa | lainnya | seperti | Mayjen  | Purn | Kivlan | Zein | Ahmad | Dhani | telah | ditetapkan | tersangka | p> Polisi | kemarin | menahan | anggota | tempat | tinggalnya | p> Sementara | Wartakotalive | menghubungi | Tommy | penyandang | p> |

Monday, December 5, 2016

Kivlan Zein Bercerita soal Penangkapannya atas Tuduhan Makar

JAKARTA, KOMPAS.com â€" Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zein (69) hanya tertawa ketika mengenang penangkapannya, Jumat (2/12/2012) pagi, menjelang unjuk rasa damai 212 di Monas, Jakarta.

Seperti dikutip dari Tribunnews.com , Senin (5/12/2016), Kivlan menceritakan kronologi penangkapannya.

Awalnya, sekitar pukul 04.45 WIB, dia baru selesai shalat subuh di kediamannya, Gading Griya Lestari, Blok H1 nomor 15, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Saat itu, Kivlan sudah siap untuk berangkat ke Silang Monas. Ia hendak mendampingi pemimpin Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, untuk memimpin unjuk rasa damai terkait proses hukum Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Tiba-tiba, rumahnya didatangi polisi, bersamaan dengan datangnya pembantu rumah. Sebanyak 20 polisi langsung masuk ke dalam rumah.

Saat itu, hanya ada Kivlan, seorang pembantu, dan staf di rumahnya. Sementara istri Kivlan tengah membesuk anak yang tengah sakit dan dirawat di Surabaya, Jawa Timur.

"Mereka langsung masuk menyerbu. Di depan pintu rumah saya sudah ada tiga orang berdiri," ujar Kivlan.

Ia mengaku awalnya kaget dengan kedatangan para polisi ke rumahnya kala pagi buta itu. Namun, dalam benaknya, ia menduga dirinya hendak diproses oleh polisi terkait dugaan makar.

Ia mengaku berusaha tenang karena ia sudah mengira apa yang menyebabkan sekelompok polisi tersebut mendatangi rumahnya, yakni tuduhan makar.

"Jadi saya sudah tahu bahwa dari berita bahwa polisi sudah menargetkan saya. Anak saya juga sudah cerita karena temannya banyak di polisi. Saya juga kaget waktu dikasih tahu, tapi itu sudah sebulan lalu," ujarnya.

Kivlan mempersilakan para polisi untuk duduk di ruang tamu rumahnya. Lantas, seorang polisi menyodorkan surat penggeledahan rumah. Ia tak melawan karena polisi membawa surat tersebut.

"Saya bilang, 'Kalau ada senjata ambil saja, kalau ada granat ambil saja. Kalau ada dokumen rancangan untuk makar, silakan (ambil)," ujarnya.

Beberapa polisi langsung membuka lemari dan laci meja. Mereka memeriksa sejumlah berkas, buku catatan, lembaran tiket pesawat perjalanan selama 5 sampai 10 tahun terakhir, hingga data dalam komputer jinjing atau laptop dan telepon genggamnya.

Namun, polisi tidak menemukan bukti petunjuk terkait rencana makar dari penggeledahan dan pemeriksaan tersebut. Polisi juga tidak menemukan senjata api maupun senjata tajam.

Polisi hanya menemukan beberapa berkas berisi karya tulisnya perihal kritik terhadap UUD 1945 perubahan dan ketatanegaraan.

Para polisi tersebut hendak membawa Kivlan dari rumahnya setelah penggeledahan. Namun, Kivlan tak begitu saja menuruti.

Sebab, ia merasa masih berstatus sebagai tentara cadangan yang seharusnya diproses oleh Polisi Militer TNI jika disangkakan melakukan tindak pidana tertentu.

Akhirnya, Kivlan manut setelah tiga personel PM TNI, termasuk Kasie Intel Kodam Jaya berpangkat Kapten, ternyata ikut dalam rombongan pihak kepolisian ini.

Kivlan mengaku tertawa saat mengalami proses penangkapannya itu. Sebab, ia pun pernah melakukan hal yang sama sewaktu menjadi Kepala Staf Kostrad pada 1998.

"Saya melihat itu, enggak apa-apa, saya ketawa saja. Saya sudah tahu. Dulu saya juga begini waktu saya dinas, waktu saya nangkapin orang begini juga, ya sudah sekarang saya ditangkapin orang, ya sudah," ujarnya.

Kivlan teringat dirinya sewaktu menjabat Kepala Staf Kostrad bersama Kodam Jaya dan Polri pernah memerintahkan penangkapan terhadap beberapa jenderal TNI dan mantan menteri yang melakukan pertemuan makar di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, pada 12 November 1998.

Menurut dia, kelompok tersebut ditangkap karena sudah jelas dan ada bukti permufakatan makar. Di antaranya telah memproklamasikan pemerintah koalisi nasional dan menentukan kabinet hingga susunan MPR-nya.

"Ada Jenderal Kemal Idris, Toto S, dan banyak jenderal, termasuk ada Sri Bintang Pamungkas, Edi Sularsono. Ya, dulu juga kita perintahkan menangkap mereka karena mau makar pada masa Presiden Habibie," ucap Kivlan.

Kivlan mengaku tergelitik teringat pengalamannya itu dan apa yang dialaminya saat ini. Oleh karena itu, ia dapat memahami dan menghormati penangkapan yang dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap dirinya.

"Cuma saya ketawa saja," ujarnya. (Baca juga: Kivlan Zein: Saya Tidak Ditangkap, Saya Diundang)

Menurut Kivlan, tidak ada ketegangan antara dirinya ataupun para penyidik kepolisian saat menjalani proses pemeriksaan di Mako Brimob.

Ia pun tidak merasa sebagai seorang pesakitan yang hendak dicecar pertanyaan. Justru perbincangan santai disertai guyonan terjadi.

"Saya malah ketawa-ketawa. Karena kata mereka (penyidik), 'Bapak dulu kan mengajarkan kami begitu, untuk menangkapi orang'. Saya bilang, ya sudah enggak apa-apa, silakan saja, saya juga begitu," kata Kivlan seraya tertawa karena teringat perkataan penyidik tersebut.

(Abdul Qodir/Tribunnews.com)

---

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul: Kivlan Zein Justru Tertawa Ditangkap Polisi, Ini Alasannya


Kompas TV Jadi Tersangka, Ahmad Dhani Akan Ajukan Praperadilan

"

| Kivlan | Zein | Bercerita | soal | Penangkapannya | atas | Tuduhan | Makar | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> | Mayor | Jenderal | TNI< | (Purn) | Zein< | (69) | hanya | tertawa | ketika | mengenang | penangkapannya | Jumat | 2012) | pagi | menjelang | unjuk | rasa | damai | 212< | Monas | Jakarta | p> Seperti | dikutip | Tribunnews | Senin | 2016) | mencerit | kronologi | p> Awalnya | pukul | baru | selesai | shalat | subuh | kediamannya | Gading | Griya | Lestari | Blok | nomor | Kelapa | Utara | p> Saat | siap | untuk | berangkat | Silang | hendak | mendampingi | pemimpin | Front | Pembela | Islam< | (FPI) | Rizieq | Shihab< | memimpin | terkait | proses | hukum | Gubernur | nonaktif | Basuki | Tjahaja | Purnama< | atau | Ahok | p> Tiba | tiba | rumahnya | didatangi | polisi | bersamaan | dengan | datangnya | pembantu | rumah | Sebanyak | langsung | masuk | dalam | seorang | staf | Sementara | istri | tengah | membesuk | anak | yang | sakit | dirawat | Surabaya | Jawa | Timur | p> Mereka | menyerbu | depan | pintu | saya | tiga | orang | berdiri | ujar | p> Ia | mengaku | awalnya | kaget | kedatangan | para | kala | buta | Namun | benaknya | menduga | dirinya | diproses | oleh | dugaan | makar | berusaha | tenang | karena | mengira | menyebabkan | sekelompok | tersebut | mendatangi | yakni | tuduhan | p> Jadi | tahu | bahwa | berita | menargetkan | Anak | juga | cerita | temannya | banyak | Saya | waktu | dikasih | sebulan | ujarnya | p> Kivlan | mempersil | duduk | ruang | tamu | Lantas | menyodorkan | surat | penggeledahan | melawan | membawa | p> Saya | bilang | Kalau | senjata | ambil | kalau | granat | dokumen | rancangan | (ambil) | p> Beberapa | membuka | lemari | laci | meja | Mereka | memeriksa | sejumlah | berkas | buku | catatan | lembaran | tiket | pesawat | perjalanan | selama | sampai | tahun | terakhir | data | komputer | jinjing | laptop | telepon | genggamnya | p> Namun | menemukan | bukti | petunjuk | rencana | pemeriksaan | Polisi | maupun | tajam | p> Polisi | beberapa | berisi | karya | tulisnya | perihal | kritik | terhadap | 1945 | perubahan | ketatanegaraan | p> Para | setelah | begitu | menuruti | p> Sebab | merasa | masih | berstatus | sebagai | tentara | cadangan | seharusnya | Militer | jika | disangk | melakukan | tindak | pidana | tertentu | p> Akhirnya | manut | personel | termasuk | Kasie | Intel | Kodam | Jaya | berpangkat | Kapten | ternyata | ikut | rombongan | pihak | kepolisian | saat | mengalami | Sebab | pernah | sama | sewaktu | menjadi | Kepala | Staf | Kostrad | pada | 1998 | melihat | enggak | ketawa | Dulu | begini | dinas | nangkapin< | sekarang | ditangkapin< | teringat | menjabat | bersama | Polri< | memerintahkan | penangkapan | jenderal | mantan | menteri | pertemuan | Hotel | Sahid | November | p> Menurut | kelompok | ditangkap | jelas | permufakatan | antaranya | telah | memproklamasikan | pemerintah | koalisi | nasional | menentukan | kabinet | susunan | p> Ada | Kemal | Idris | Toto | Bintang | Pamungkas< | Sularsono | dulu | perintahkan | menangkap | masa | Presiden | Habibie | ucap | tergelitik | pengalamannya | dialaminya | Oleh | dapat | memahami | menghormati | dilakukan | p> Cuma | (Baca | juga: | Zein: | Tidak | Ditangkap | Diundang< | a>)< | ketegangan | antara | ataupun | penyidik | menjalani | Mako | Brimob | pesan | dicecar | pertanyaan | Justru | perbincangan | santai | disertai | guyonan | terjadi | malah | Karena | kata | (penyidik) | Bapak | mengajarkan | kami | menangkapi | seraya | perkataan | p> (Abdul | Qodir | com)< | strong>< | p> Artikel | tayang | judul: | Tertawa | Alasannya< | p> Kompas | span> | Jadi | Tersangka | Ahmad | Dhani< | Akan | Ajukan | Praperadilan< | p> |

Kivlan Zein Bercerita soal Penangkapannya atas Tuduhan Makar

JAKARTA, KOMPAS.com â€" Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zein (69) hanya tertawa ketika mengenang penangkapannya, Jumat (2/12/2012) pagi, menjelang unjuk rasa damai 212 di Monas, Jakarta.

Seperti dikutip dari Tribunnews.com , Senin (5/12/2016), Kivlan menceritakan kronologi penangkapannya.

Awalnya, sekitar pukul 04.45 WIB, dia baru selesai shalat subuh di kediamannya, Gading Griya Lestari, Blok H1 nomor 15, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Saat itu, Kivlan sudah siap untuk berangkat ke Silang Monas. Ia hendak mendampingi pemimpin Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, untuk memimpin unjuk rasa damai terkait proses hukum Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Tiba-tiba, rumahnya didatangi polisi, bersamaan dengan datangnya pembantu rumah. Sebanyak 20 polisi langsung masuk ke dalam rumah.

Saat itu, hanya ada Kivlan, seorang pembantu, dan staf di rumahnya. Sementara istri Kivlan tengah membesuk anak yang tengah sakit dan dirawat di Surabaya, Jawa Timur.

"Mereka langsung masuk menyerbu. Di depan pintu rumah saya sudah ada tiga orang berdiri," ujar Kivlan.

Ia mengaku awalnya kaget dengan kedatangan para polisi ke rumahnya kala pagi buta itu. Namun, dalam benaknya, ia menduga dirinya hendak diproses oleh polisi terkait dugaan makar.

Ia mengaku berusaha tenang karena ia sudah mengira apa yang menyebabkan sekelompok polisi tersebut mendatangi rumahnya, yakni tuduhan makar.

"Jadi saya sudah tahu bahwa dari berita bahwa polisi sudah menargetkan saya. Anak saya juga sudah cerita karena temannya banyak di polisi. Saya juga kaget waktu dikasih tahu, tapi itu sudah sebulan lalu," ujarnya.

Kivlan mempersilakan para polisi untuk duduk di ruang tamu rumahnya. Lantas, seorang polisi menyodorkan surat penggeledahan rumah. Ia tak melawan karena polisi membawa surat tersebut.

"Saya bilang, 'Kalau ada senjata ambil saja, kalau ada granat ambil saja. Kalau ada dokumen rancangan untuk makar, silakan (ambil)," ujarnya.

Beberapa polisi langsung membuka lemari dan laci meja. Mereka memeriksa sejumlah berkas, buku catatan, lembaran tiket pesawat perjalanan selama 5 sampai 10 tahun terakhir, hingga data dalam komputer jinjing atau laptop dan telepon genggamnya.

Namun, polisi tidak menemukan bukti petunjuk terkait rencana makar dari penggeledahan dan pemeriksaan tersebut. Polisi juga tidak menemukan senjata api maupun senjata tajam.

Polisi hanya menemukan beberapa berkas berisi karya tulisnya perihal kritik terhadap UUD 1945 perubahan dan ketatanegaraan.

Para polisi tersebut hendak membawa Kivlan dari rumahnya setelah penggeledahan. Namun, Kivlan tak begitu saja menuruti.

Sebab, ia merasa masih berstatus sebagai tentara cadangan yang seharusnya diproses oleh Polisi Militer TNI jika disangkakan melakukan tindak pidana tertentu.

Akhirnya, Kivlan manut setelah tiga personel PM TNI, termasuk Kasie Intel Kodam Jaya berpangkat Kapten, ternyata ikut dalam rombongan pihak kepolisian ini.

Kivlan mengaku tertawa saat mengalami proses penangkapannya itu. Sebab, ia pun pernah melakukan hal yang sama sewaktu menjadi Kepala Staf Kostrad pada 1998.

"Saya melihat itu, enggak apa-apa, saya ketawa saja. Saya sudah tahu. Dulu saya juga begini waktu saya dinas, waktu saya nangkapin orang begini juga, ya sudah sekarang saya ditangkapin orang, ya sudah," ujarnya.

Kivlan teringat dirinya sewaktu menjabat Kepala Staf Kostrad bersama Kodam Jaya dan Polri pernah memerintahkan penangkapan terhadap beberapa jenderal TNI dan mantan menteri yang melakukan pertemuan makar di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, pada 12 November 1998.

Menurut dia, kelompok tersebut ditangkap karena sudah jelas dan ada bukti permufakatan makar. Di antaranya telah memproklamasikan pemerintah koalisi nasional dan menentukan kabinet hingga susunan MPR-nya.

"Ada Jenderal Kemal Idris, Toto S, dan banyak jenderal, termasuk ada Sri Bintang Pamungkas, Edi Sularsono. Ya, dulu juga kita perintahkan menangkap mereka karena mau makar pada masa Presiden Habibie," ucap Kivlan.

Kivlan mengaku tergelitik teringat pengalamannya itu dan apa yang dialaminya saat ini. Oleh karena itu, ia dapat memahami dan menghormati penangkapan yang dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap dirinya.

"Cuma saya ketawa saja," ujarnya. (Baca juga: Kivlan Zein: Saya Tidak Ditangkap, Saya Diundang)

Menurut Kivlan, tidak ada ketegangan antara dirinya ataupun para penyidik kepolisian saat menjalani proses pemeriksaan di Mako Brimob.

Ia pun tidak merasa sebagai seorang pesakitan yang hendak dicecar pertanyaan. Justru perbincangan santai disertai guyonan terjadi.

"Saya malah ketawa-ketawa. Karena kata mereka (penyidik), 'Bapak dulu kan mengajarkan kami begitu, untuk menangkapi orang'. Saya bilang, ya sudah enggak apa-apa, silakan saja, saya juga begitu," kata Kivlan seraya tertawa karena teringat perkataan penyidik tersebut.

(Abdul Qodir/Tribunnews.com)

---

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul: Kivlan Zein Justru Tertawa Ditangkap Polisi, Ini Alasannya


Kompas TV Jadi Tersangka, Ahmad Dhani Akan Ajukan Praperadilan

"

| Kivlan | Zein | Bercerita | soal | Penangkapannya | atas | Tuduhan | Makar | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> | Mayor | Jenderal | TNI< | (Purn) | Zein< | (69) | hanya | tertawa | ketika | mengenang | penangkapannya | Jumat | 2012) | pagi | menjelang | unjuk | rasa | damai | 212< | Monas | Jakarta | p> Seperti | dikutip | Tribunnews | Senin | 2016) | mencerit | kronologi | p> Awalnya | pukul | baru | selesai | shalat | subuh | kediamannya | Gading | Griya | Lestari | Blok | nomor | Kelapa | Utara | p> Saat | siap | untuk | berangkat | Silang | hendak | mendampingi | pemimpin | Front | Pembela | Islam< | (FPI) | Rizieq | Shihab< | memimpin | terkait | proses | hukum | Gubernur | nonaktif | Basuki | Tjahaja | Purnama< | atau | Ahok | p> Tiba | tiba | rumahnya | didatangi | polisi | bersamaan | dengan | datangnya | pembantu | rumah | Sebanyak | langsung | masuk | dalam | seorang | staf | Sementara | istri | tengah | membesuk | anak | yang | sakit | dirawat | Surabaya | Jawa | Timur | p> Mereka | menyerbu | depan | pintu | saya | tiga | orang | berdiri | ujar | p> Ia | mengaku | awalnya | kaget | kedatangan | para | kala | buta | Namun | benaknya | menduga | dirinya | diproses | oleh | dugaan | makar | berusaha | tenang | karena | mengira | menyebabkan | sekelompok | tersebut | mendatangi | yakni | tuduhan | p> Jadi | tahu | bahwa | berita | menargetkan | Anak | juga | cerita | temannya | banyak | Saya | waktu | dikasih | sebulan | ujarnya | p> Kivlan | mempersil | duduk | ruang | tamu | Lantas | menyodorkan | surat | penggeledahan | melawan | membawa | p> Saya | bilang | Kalau | senjata | ambil | kalau | granat | dokumen | rancangan | (ambil) | p> Beberapa | membuka | lemari | laci | meja | Mereka | memeriksa | sejumlah | berkas | buku | catatan | lembaran | tiket | pesawat | perjalanan | selama | sampai | tahun | terakhir | data | komputer | jinjing | laptop | telepon | genggamnya | p> Namun | menemukan | bukti | petunjuk | rencana | pemeriksaan | Polisi | maupun | tajam | p> Polisi | beberapa | berisi | karya | tulisnya | perihal | kritik | terhadap | 1945 | perubahan | ketatanegaraan | p> Para | setelah | begitu | menuruti | p> Sebab | merasa | masih | berstatus | sebagai | tentara | cadangan | seharusnya | Militer | jika | disangk | melakukan | tindak | pidana | tertentu | p> Akhirnya | manut | personel | termasuk | Kasie | Intel | Kodam | Jaya | berpangkat | Kapten | ternyata | ikut | rombongan | pihak | kepolisian | saat | mengalami | Sebab | pernah | sama | sewaktu | menjadi | Kepala | Staf | Kostrad | pada | 1998 | melihat | enggak | ketawa | Dulu | begini | dinas | nangkapin< | sekarang | ditangkapin< | teringat | menjabat | bersama | Polri< | memerintahkan | penangkapan | jenderal | mantan | menteri | pertemuan | Hotel | Sahid | November | p> Menurut | kelompok | ditangkap | jelas | permufakatan | antaranya | telah | memproklamasikan | pemerintah | koalisi | nasional | menentukan | kabinet | susunan | p> Ada | Kemal | Idris | Toto | Bintang | Pamungkas< | Sularsono | dulu | perintahkan | menangkap | masa | Presiden | Habibie | ucap | tergelitik | pengalamannya | dialaminya | Oleh | dapat | memahami | menghormati | dilakukan | p> Cuma | (Baca | juga: | Zein: | Tidak | Ditangkap | Diundang< | a>)< | ketegangan | antara | ataupun | penyidik | menjalani | Mako | Brimob | pesan | dicecar | pertanyaan | Justru | perbincangan | santai | disertai | guyonan | terjadi | malah | Karena | kata | (penyidik) | Bapak | mengajarkan | kami | menangkapi | seraya | perkataan | p> (Abdul | Qodir | com)< | strong>< | p> Artikel | tayang | judul: | Tertawa | Alasannya< | p> Kompas | span> | Jadi | Tersangka | Ahmad | Dhani< | Akan | Ajukan | Praperadilan< | p> |

Sunday, December 4, 2016

Kivlan Zein Bercerita soal Penangkapannya atas Tuduhan Makar

JAKARTA, KOMPAS.com - Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zein (69) hanya tertawa ketika mengenang penangkapannya, Jumat (2/12) pagi, menjelang unjuk rasa damai 212 di Monas Jakarta.

Seperti dikutip dari Tribunnews.com , Senin (5/12/2016), Kivlan menceritakan kronologi penangkapannya.

Awalnya, sekitar pukul 04.45 WIB, dia baru selesai shalat Subuh di kediamannya, Gading Griya Lestari, Blok H1 nomor 15, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Saat itu, Kivlan sudah siap untuk berangkat ke Silang Monas. Ia hendak mendampingi Pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, untuk memimpin unjuk rasa damai terkait proses hukum Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Tiba-tiba, rumahnya didatangi polisi, bersamaan dengan datangnya pembantu rumah. Sebanyak 20 polisi langsung masuk ke dalam rumah.

Saat itu, hanya ada Kivlan, seorang pembantu dan staf di rumahnya. Sementara, istri Kivlan tengah membesuk anak yang tengah sakit dan dirawat di Surabaya, Jawa Timur.

"Mereka langsung masuk menyerbu. Di depan pintu rumah saya sudah ada tiga orang berdiri," ujar Kivlan.

Ia mengaku awalnya kaget dengan kedatangan para polisi ke rumahnya kala pagi buta itu. Namun, dalam benaknya ia menduga dirinya hendak diproses oleh polisi terkait dugaan makar.

Ia mengaku berusaha tenang karena ia sudah mengira apa yang menyebabkan sekelompok polisi tersebut mendatangi rumahnya, yakni tuduhan makar.

"Jadi saya sudah tahu bahwa dari berita bahwa polisi sudah menargetkan saya. Anak saya juga sudah cerita, karena temannya banyak di polisi. Saya juga kaget waktu dikasih tahu, tapi itu sudah sebulan lalu," ujarnya.

Kivlan mempersilakan para polisi untuk duduk di ruang tamu rumahnya. Lantas, seorang polisi menyodorkan surat penggeledahan rumah. Ia tak melawan karena polisi membawa surat tersebut.

"Saya bilang, 'Kalau ada senjata ambil saja, kalau ada granat ambil saja. Kalau ada dokumen rancangan untuk makar, silakan (ambil)," ujarnya.

Beberapa polisi langsung membuka lemari dan laci meja. Mereka memeriksa sejumlah berkas, buku catatan, lembaran tiket pesawat perjalanan selama 5 sampai 10 tahun terakhir, hingga data dalam komputer jinjing atau laptop dan telepon genggamnya.

Namun, polisi tidak menemukan bukti petunjuk terkait rencana makar dari penggeledahan dan pemeriksaan tersebut. Polisi juga tidak menemukan senjata api maupun senjata tajam.

Polisi hanya menemukan beberapa berkas berisi karya tulisnya perihal kritik terhadap UUD 1945 perubahan dan ketatanegaraan.

Para polisi tersebut hendak membawa Kivlan dari rumahnya setelah penggeledahan. Namun, Kivlan tak begitu saja menuruti.

Sebab, ia merasa masih berstatus sebagai tentara cadangan yang seharusnya diproses oleh Polisi Militer TNI jika disangkakan melakukan tindak pidana tertentu.

Akhirnya, Kivlan manut setelah tiga personel PM TNI, termasuk Kasie Intel Kodam Jaya berpangkat Kapten, ternyata ikut dalam rombongan pihak kepolisian ini.

Kivlan mengaku tertawa saat mengalami proses penangkapannya itu. Sebab, ia pun pernah melakukan hal yang sama sewaktu menjadi Kepala Staf Kostrad pada 1998.

"Saya melihat itu, enggak apa-apa, saya ketawa saja. Saya sudah tahu.Dulu saya juga begini waktu saya dinas, waktu saya nangkapin orang begini juga, ya sudah sekarang saya ditangkapin orang, ya sudah," ujarnya.

Kivlan teringat dirinya sewaktu menjabat Kepala Staf Kostrad bersama Kodam Jaya dan Polri, pernah memerintahkan penangkapan terhadap beberapa jenderal TNI dan mantan menteri yang melakukan pertemuan makar di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, pada 12 November 1998.

Menurut dia, kelompok tersebut ditangkap karena sudah jelas dan ada bukti permufakatan makar. Di antaranya telah memproklamirkan pemerintah koalisi nasional, menentukan kabinetnya hingga susunan MPR-nya.

"Ada Jenderal Kemal Idris, Toto S, dan banyak jenderal, termasuk ada Sri Bintang Pamungkas, Edi Sularsono. Yah, dulu juga kita perintahkan menangkap mereka karena mau makar pada masa Presiden Habibie," ucap Kivlan.

Kivlan mengaku tergelitik teringat pengalamannya itu dan apa yang dialaminya saat ini. Oleh karena itu, ia dapat memahami dan menghormati penangkapan yang dilakukan oleh pihak kepolisian kepada dirinya.

"Cuma saya ketawa saja," ujarnya. (Baca juga: Kivlan Zein: Saya Tidak Ditangkap, Saya Diundang)

Menurut Kivlan, tidak ada ketegangan antara dirinya maupun para penyidik kepolisian saat menjalani proses pemeriksaan di Mako Brimob.

Ia pun tidak merasa sebagai seorang pesakitan yang hendak dicecar pertanyaan. Justru perbincangan santai disertai guyonan terjadi.

"Saya malah ketawa-ketawa. Karena kata mereka (penyidik), 'Bapak dulu kan mengajarkan kami begitu, untuk menangkapi orang'. Saya bilang, ya sudah enggak apa-apa, silakan saja, saya juga begitu," kata Kivlan seraya tertawa karena teringat perkataan penyidik tersebut.

(Abdul Qodir/Tribunnews.com)

---

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul: Kivlan Zein Justru Tertawa Ditangkap Polisi, Ini Alasannya


Kompas TV Jadi Tersangka, Ahmad Dhani Akan Ajukan Praperadilan

"

| Kivlan | Zein | Bercerita | soal | Penangkapannya | atas | Tuduhan | Makar | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> | Mayor | Jenderal | TNI< | (Purn) | Zein< | (69) | hanya | tertawa | ketika | mengenang | penangkapannya | Jumat | pagi | menjelang | unjuk | rasa | damai | 212< | Monas | Jakarta | p> Seperti | dikutip | Tribunnews | Senin | 2016) | mencerit | kronologi | p> Awalnya | pukul | baru | selesai | shalat | Subuh | kediamannya | Gading | Griya | Lestari | Blok | nomor | Kelapa | Utara | p> Saat | siap | untuk | berangkat | Silang | hendak | mendampingi | Pimpinan | Front | Pembela | Islam< | (FPI) | Rizieq | Shihab< | memimpin | terkait | proses | hukum | Gubernur | nonaktif | Basuki | Tjahaja | Purnama< | atau | Ahok | p> Tiba | tiba | rumahnya | didatangi | polisi | bersamaan | dengan | datangnya | pembantu | rumah | Sebanyak | langsung | masuk | dalam | seorang | staf | Sementara | istri | tengah | membesuk | anak | yang | sakit | dirawat | Surabaya | Jawa | Timur | p> Mereka | menyerbu | depan | pintu | saya | tiga | orang | berdiri | ujar | p> Ia | mengaku | awalnya | kaget | kedatangan | para | kala | buta | Namun | benaknya | menduga | dirinya | diproses | oleh | dugaan | makar | berusaha | tenang | karena | mengira | menyebabkan | sekelompok | tersebut | mendatangi | yakni | tuduhan | p> Jadi | tahu | bahwa | berita | menargetkan | Anak | juga | cerita | temannya | banyak | Saya | waktu | dikasih | sebulan | ujarnya | p> Kivlan | mempersil | duduk | ruang | tamu | Lantas | menyodorkan | surat | penggeledahan | melawan | membawa | p> Saya | bilang | Kalau | senjata | ambil | kalau | granat | dokumen | rancangan | (ambil) | p> Beberapa | membuka | lemari | laci | meja | Mereka | memeriksa | sejumlah | berkas | buku | catatan | lembaran | tiket | pesawat | perjalanan | selama | sampai | tahun | terakhir | data | komputer | jinjing | laptop | telepon | genggamnya | p> Namun | menemukan | bukti | petunjuk | rencana | pemeriksaan | Polisi | maupun | tajam | p> Polisi | beberapa | berisi | karya | tulisnya | perihal | kritik | terhadap | 1945 | perubahan | ketatanegaraan | p> Para | setelah | begitu | menuruti | p> Sebab | merasa | masih | berstatus | sebagai | tentara | cadangan | seharusnya | Militer | jika | disangk | melakukan | tindak | pidana | tertentu | p> Akhirnya | manut | personel | termasuk | Kasie | Intel | Kodam | Jaya | berpangkat | Kapten | ternyata | ikut | rombongan | pihak | kepolisian | saat | mengalami | Sebab | pernah | sama | sewaktu | menjadi | Kepala | Staf | Kostrad | pada | 1998 | melihat | enggak | ketawa | Dulu | begini | dinas | nangkapin< | sekarang | ditangkapin< | teringat | menjabat | bersama | Polri< | memerintahkan | penangkapan | jenderal | mantan | menteri | pertemuan | Hotel | Sahid | November | p> Menurut | kelompok | ditangkap | jelas | permufakatan | antaranya | telah | memproklamirkan | pemerintah | koalisi | nasional | menentukan | kabinetnya | susunan | p> Ada | Kemal | Idris | Toto | Bintang | Pamungkas< | Sularsono | dulu | perintahkan | menangkap | masa | Presiden | Habibie | ucap | tergelitik | pengalamannya | dialaminya | Oleh | dapat | memahami | menghormati | dilakukan | kepada | p> Cuma | (Baca | juga: | Zein: | Tidak | Ditangkap | Diundang< | a>)< | ketegangan | antara | penyidik | menjalani | Mako | Brimob | pesan | dicecar | pertanyaan | Justru | perbincangan | santai | disertai | guyonan | terjadi | malah | Karena | kata | (penyidik) | Bapak | mengajarkan | kami | menangkapi | seraya | perkataan | p> (Abdul | Qodir | com)< | strong>< | p> Artikel | tayang | judul: | Tertawa | Alasannya< | p> Kompas | span> | Jadi | Tersangka | Ahmad | Dhani< | Akan | Ajukan | Praperadilan< | p> |

Top 3: Tentang Niat Makar dalam Surat Sri Bintang Pamungkas

Liputan6.com, Jakarta - Aktivis Sri Bintang Pamungkas ditangkap penyidik Polda Metro Jaya atas dugaan makar. Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan empertanyakan penetapan itu karena menurutnya apa yang dituliskan Sri Bintang baru sebatas niat saja. Kabar ini menjadi berita yang paling banyak dibaca sepanjang Minggu hingga Senin pagi.

Disusul oleh sikap Partai Demokrat yang masih menunggu hasil penyidikan kepolisian atas penetapan tersangka penghinaan terhadap penguasa oleh musikus Ahmad Dhani. Demikian pula dengan detik-detik jatuhnya pesawat milik Polri di perairan Lingga, Kepri.

Top 3 News Selengkapnya:

1. Syarief Hasan: Isi Surat Sri Bintang Pamungkas Itu Baru Niat

Syarief Hasan (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Aktivis Sri Bintang Pamungkas ditangkap penyidik Polda Metro Jaya atas dugaan makar. Ernalia, istri aktivis Sri Bintang Pamungkas sempat membacakan surat yang pada tanggal 1 Desember lalu hendak diantar ke DPR-MPR dan Markas TNI di Cilangkap yang isinya diduga soal makar.

Terkait hal itu, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan meminta pembuktian kalau surat Sri Bintang Pamungkas adalah soal makar. Karena, hal itu belum dibuktikan oleh adanya tindakan.

"Silahkan saja kalau memang dianggap (dugaan makar), itu baru niat gitu lho yah, bisa dijerat enggak kalau baru niat begitu," ungkap Syarief kepada Liputan6.com di Jakarta, Sabtu (3/12/2016).

Selengkapnya...

2. Ahmad Dhani Jadi Tersangka, Demokrat Tunggu Hasil Penyidikan

Musisi Ahmad Dhani saat memberi keterangan kepada awak media usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar di gedung Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Sabtu (3/12/2016). (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Musikus Ahmad Dhani telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penghinaan terhadap penguasa. Dhani saat ini sudah kembali ke rumah, setelah Jumat 2 Desember kemarin seharian diperiksa di Mako Brimob Kepala Dua, Depok, Jawa Barat.

Dhani sendiri saat ini merupakan calon Wakil Bupati Bekasi yang akan maju pada Pilkada 2017. Sebagai salah satu partai pengusung, Partai Demokrat angkat bicara terkait penetapan status tersangka Dhani.

"Ya itu kan baru disangka, baru ditengarai melakukan makar. Ini kan mesti diselidiki dulu," ucap Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan kepada Liputan6.com di Jakarta, Sabtu (3/12/2016).

Selengkapnya...

3. Detik-detik Pesawat Polri Jatuh di Perairan Kepri

Pesawat jenis Skytruck milik polisi jatuh di sekitar perairan Lingga, Kepulauan Riau, Sabtu pagi 3 Desember 2016.

Pesawat Polri M-28 Skytruck mengalami insiden di Perairan Kepulauan Riau. Pesawat tersebut jatuh setelah sempat melayang-layang di udara.

Menurut Kapolda Kepri, Brigjen Sam Budiangusdian, saat jatuh ke laut, bagian depan pesawat itu terlebih dulu menyentuh permukaan laut.

"Lima nelayan yang melihat pesawat polri itu sempat melayang-layang, mesin antara hidup mati, hidung pesawat ke bawah dan terjadi ledakan di air," kata Sam usai turut dalam pencarian di Telaga Punggur Batam, Minggu (4/12/2016).

Selengkapnya...

"

| Tentang | Niat | Makar | dalam | Surat | Bintang | Pamungkas | Liputan6 | Jakarta | strong> | Aktivis | ditangkap | penyidik | Polda | Metro | Jaya | atas | dugaan | makar | Wakil | Ketua | Umum | Partai | Demokrat | Syarief | Hasan | empertany | penetapan | karena | menurutnya | yang | dituliskan | baru | sebatas | niat | Kabar | menjadi | berita | paling | banyak | dibaca | sepanjang | Minggu | Senin | pagi | p> Disusul | oleh | sikap | masih | menunggu | hasil | penyidikan | kepolisian | tersangka | penghinaan | terhadap | penguasa | musikus | Ahmad | Dhani | Demikian | pula | dengan | detik | jatuhnya | pesawat | milik | Polri | perairan | Lingga | Kepri | p> Top | News | Selengkapnya:< | p> 1 | Hasan: | Baru | Niat< | strong>< | p> < | p> Aktivis | Ernalia | istri | aktivis | sempat | membac | surat | pada | tanggal | Desember | hendak | diantar | Markas | Cilangkap | isinya | diduga | soal | p> Terkait | meminta | pembuktian | kalau | adalah | Karena | dibuktikan | adanya | tind | p> Silahkan | memang | dianggap | (dugaan | makar) | gitu | dijerat | enggak | begitu | ungkap | kepada | com< | Sabtu | 2016) | p> Selengkapnya | p> 2 | Jadi | Tersangka | Tunggu | Hasil | Penyidikan< | p> Musikus | telah | ditetapkan | sebagai | kasus | saat | kembali | rumah | setelah | Jumat | kemarin | seharian | diperiksa | Mako | Brimob | Kepala | Depok | Jawa | Barat | p> Dhani | sendiri | merup | calon | Bupati | Bekasi | maju | Pilkada | 2017 | Sebagai | salah | satu | partai | pengusung | angkat | bicara | terkait | status | p> Ya | disangka | ditengarai | melakukan | mesti | diselidiki | dulu | ucap | p> 3 | Detik | Pesawat | Jatuh | Perairan | Kepri< | p> Pesawat | Skytruck | mengalami | insiden | Kepulauan | Riau | tersebut | jatuh | melayang | layang | udara | p> Menurut | Kapolda | Brigjen | Budiangusdian | laut | bagian | depan | terlebih | menyentuh | permukaan | p> Lima | nelayan | melihat | polri | mesin | antara | hidup | mati | hidung | bawah | terjadi | kata | usai | turut | pencarian | Telaga | Punggur | Batam | p> |