Showing posts sorted by relevance for query saat. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query saat. Sort by date Show all posts

Thursday, December 8, 2016

Hatta Taliwang Tertawa Saat Ditangkap dengan Dugaan Makar

JAKARTA, KOMPAS.com - Aparat Polda Metro Jaya menangkap Hatta Taliwang lantaran diduga terlibat rencana makar di Rumah Susun Bendungan Hilir II, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (8/12/2016) dini hari.

Ketua RT 01, RW 08 Rusun Benhil II, Karman, mengungkapkan, penangkapan terhadap Hatta berlangsung santai dan tidak ada aksi perlawanan sedikitpun.

Karman menceritakan kronologi penangkapan Hatta. Menurutnya aparat polisi sekitar empat orang, datang ke unitnya sekitar pukul 01.15 dini Hari, Kamis.

"Saya tanya, 'mau apa?', saya tanya surat penangkapan juga saat mereka bilang minta diantar ke unit Pak Hatta," kata dia.

Saat tahu, mereka adalah polisi, lantas Karman mengantar Hatta ke unitnya di Blok C Lantai 2, dan mengetuk kamar Hatta. Saat itu, kata dia, Hatta belum tidur.

"Prosesnya cepat, pintu dibuka sama Pak Hatta, langsung suruh baca surat penangkapan, terus diminta tanda tangan sama Pak Hatta," cerita Karman.

Menurut Karman, tidak banyak sanggahan dan pertanyaan yang keluar dari mulut Hatta, yang ada, Karman melihat wajah semringah Hatta saat menandatangani surat penangkapan.

"Jadi gak ada perlawanan, malah Pak Hatta ketawa-ketawa saja," kata dia.

Proses penangkapan terhadap Hatta, kata Karman, berlangsung sekitar satu jam.

"Polisi melakukan penggeledahan juga, cari-cari berkas, dan ada beberapa berkas yang dibawa," kata dia. (Baca: Diduga Terlibat Upaya Makar, Aktivis Hatta Taliwang Diburu Polisi)

Sekitar pukul 02.30 WIB, kata Karman, Hatta kemudian dibawa ke Polda Metro Jaya tanpa diborgol.

"Dibawa pake mobil polisi, saat saya ke bawah ternyata polisinya banyak ada sekitar 12 orang," kata dia.

Kini, Hatta, telah ditetapkan sebagai tersangka dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). (Acep Nazmudin)

Kompas TV 10 Tokoh Diperiksa Polisi Terkait Dugaan Makar

"

| Hatta | Taliwang | Tertawa | Saat | Ditangkap | dengan | Dugaan | Makar | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> | Aparat | Polda | Metro | Jaya | menangkap | lantaran | diduga | terlibat | rencana | makar | Rumah | Susun | Bendungan | Hilir | Tanah | Abang | Jakarta | Pusat | Kamis | 2016) | dini | hari | p>Ketua | Rusun | Benhil | Karman | mengungkapkan | penangkapan | terhadap | berlangsung | santai | aksi | perlawanan | sedikitpun | p>Karman | mencerit | kronologi | Menurutnya | aparat | polisi | empat | orang | datang | unitnya | pukul | Hari | p>Saya | tanya | saya | surat | juga | saat | bilang | minta | diantar | unit | kata | p>Saat | tahu | adalah | lantas | mengantar | Blok | Lantai | mengetuk | kamar | tidur | p>Prosesnya | cepat | pintu | dibuka | sama | langsung | suruh | baca | terus | diminta | tanda | tangan | cerita | p>Menurut | banyak | sanggahan | pertanyaan | yang | keluar | mulut | melihat | wajah | semringah | menandatangani | p>Jadi | malah | ketawa | p>Proses | satu | p>Polisi | melakukan | penggeledahan | cari | berkas | beberapa | dibawa | (Baca: | Diduga | Terlibat | Upaya | Aktivis | Diburu | Polisi< | a>)< | p>Ser | kemudian | tanpa | diborgol | p>Dibawa | pake | mobil | bawah | ternyata | polisinya | p>Kini | telah | ditetapkan | sebagai | tersangka | dugaan | pelanggaran | Undang | Informasi | Transaksi | Elektronik | ITE< | (Acep | Nazmudin< | strong>)< | p> Kompas | span> | Tokoh | Diperiksa | Polisi | Terkait | Makar< | p> |

Friday, December 2, 2016

Diduga Makar, Begini Penangkapan Rachmawati di Rumahnya | hukum

Rachmawati Soekarnoputri sedang menjalani pemeriksaan tensi darah di Mako Brimob Kelapa Dua. Rachma diminta istirahat sebelum pemeriksaan terkait kasus dugaan makar. Foto: Istimewa

TEMPO.CO, Jakarta รข€" Rachmawati Soekarnoputri ditangkap anggota Kepolisian Daerah Metro Jaya di kediamannya di Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat pagi, 2 Desember 2016. Saat ini, Rachmawati berada di Markas Komando Brigade Mobil, Kelapa Dua, Depok.

Kuasa hukum Rachmawati, Aldwin Rahardian, menceritakan saat-saat penangkapan. Ia menuturkan, Rachmawati menghubunginya setelah salat subuh dan memintanya datang ke rumah karena ada beberapa polisi yang membawa surat penangkapan.

รข€Saya tiba jam 6, semua sudah di luar (rumah), termasuk Bu Rachmawati,รข€ kata Aldwin kepada Tempo, Jumat siang.

Saat itu, kata Aldwin, ada sekitar 15 polisi di rumah Rachmawati. Mereka kemudian langsung membawa Rachmawati. รข€œSaya diminta ikut karena Bu Rachmawati akan dibawa ke Markas Polda Metro Jaya untuk diperiksa,รข€ ujarnya.

Namun, di tengah perjalanan, polisi mengarahkan laju kendaraannya ke Kelapa Dua, Depok. Ternyata Rachmawati dibawa ke Markas Komando Brigade Mobil. รข€œEnggak tahu kenapa dibawanya ke Mako Brimob, bukan Polda,รข€ kata Aldwin.

Saat ini, Aldwin masih mendampingi Rachmawati menjalani pemeriksaan. Berdasarkan surat penangkapan, Aldwin menjelaskan, Rachmawati disangkakan tiga pasal, yakni Pasal 107 tentang Makar untuk menggulingkan pemerintahan dan Pasal 110 terkait dengan pemufakatan kejahatan juncto Pasal 87 KUHP. รข€œDituduh makar, Bu Rachmawati tidak tahu kenapa dituduh makar.รข€

Bukan hanya Rachmawati, sejumlah aktivis juga ditangkap, termasuk Ratna Sarumpaet dan Ahmad Dhani. Ratna dan Dhani ditangkap di Hotel Sari Pan Pacific pada Jumat pagi dan langsung dibawa ke Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Dalam surat penangkapan, Ratna juga dituduh melanggar Pasal 107 KUHP tentang Makar.

AFRILIA SURYANIS

Baca juga:
Polri Sebut 10 Orang Ditangkap karena Permufakatan Jahat
>
Seusai Salat Jumat, Sebagian Massa Berorasi รข€˜Tangkap Ahokรข€™

"

| Diduga | Makar, | Begini | Penangkapan | Rachmawati | Rumahnya | hukum | Soekarnoputri | sedang | menjalani | pemeriksaan | tensi | darah | Mako | Brimob | Kelapa | Rachma | diminta | istirahat | sebelum | terkait | kasus | dugaan | makar | Foto: | Istimewa< | p> TEMPO | strong> | Jakarta< | ditangkap | anggota | Kepolisian | Daerah | Metro | Jaya | kediamannya | Jati | Padang | Pasar | Minggu | Jakarta | Selatan | Jumat | pagi | Desember | 2016 | Saat | berada | Markas | Komando | Brigade | Mobil | Depok | p>Kuasa | Aldwin | Rahardian | menceritakan | saat | penangkapan | menuturkan | menghubunginya | setelah | salat | subuh | memintanya | datang | rumah | karena | beberapa | polisi | yang | membawa | surat | p>รข€Saya | tiba | semua | sudah | luar | (rumah) | termasuk | kata | kepada | Tempo< | siang | p>Saat | sekitar | Mereka | kemudian | langsung | รข€œSaya | ikut | akan | dibawa | Polda | untuk | diperiksa | ujarnya | p> Namun | tengah | perjalanan | mengarahkan | laju | kendaraannya | Ternyata | รข€œEnggak | tahu | kenapa | dibawanya | bukan | masih | mendampingi | Berdasarkan | menjelaskan | disangkakan | tiga | pasal | yakni | Pasal | tentang | Makar | menggulingkan | pemerintahan | dengan | pemufakatan | kejahatan | juncto< | KUHP | รข€œDituduh | tidak | dituduh | รข€< | p>Bukan | hanya | sejumlah | aktivis | juga | Ratna | Sarumpaet | Ahmad | Dhani | Hotel | Sari | Pacific | pada | Dalam | melanggar | p>AFRILIA | SURYANIS< | strong>< | p>Baca | juga:Polri | Sebut | Orang | Ditangkap | Permufakatan | Jahat> | Seusai | Salat | Sebagian | Massa | Berorasi | รข€˜Tangkap | Ahokรข€™< | p> < | div> |

Sunday, December 4, 2016

Kivlan Zein Bercerita soal Penangkapannya atas Tuduhan Makar

JAKARTA, KOMPAS.com - Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zein (69) hanya tertawa ketika mengenang penangkapannya, Jumat (2/12) pagi, menjelang unjuk rasa damai 212 di Monas Jakarta.

Seperti dikutip dari Tribunnews.com , Senin (5/12/2016), Kivlan menceritakan kronologi penangkapannya.

Awalnya, sekitar pukul 04.45 WIB, dia baru selesai shalat Subuh di kediamannya, Gading Griya Lestari, Blok H1 nomor 15, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Saat itu, Kivlan sudah siap untuk berangkat ke Silang Monas. Ia hendak mendampingi Pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, untuk memimpin unjuk rasa damai terkait proses hukum Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Tiba-tiba, rumahnya didatangi polisi, bersamaan dengan datangnya pembantu rumah. Sebanyak 20 polisi langsung masuk ke dalam rumah.

Saat itu, hanya ada Kivlan, seorang pembantu dan staf di rumahnya. Sementara, istri Kivlan tengah membesuk anak yang tengah sakit dan dirawat di Surabaya, Jawa Timur.

"Mereka langsung masuk menyerbu. Di depan pintu rumah saya sudah ada tiga orang berdiri," ujar Kivlan.

Ia mengaku awalnya kaget dengan kedatangan para polisi ke rumahnya kala pagi buta itu. Namun, dalam benaknya ia menduga dirinya hendak diproses oleh polisi terkait dugaan makar.

Ia mengaku berusaha tenang karena ia sudah mengira apa yang menyebabkan sekelompok polisi tersebut mendatangi rumahnya, yakni tuduhan makar.

"Jadi saya sudah tahu bahwa dari berita bahwa polisi sudah menargetkan saya. Anak saya juga sudah cerita, karena temannya banyak di polisi. Saya juga kaget waktu dikasih tahu, tapi itu sudah sebulan lalu," ujarnya.

Kivlan mempersilakan para polisi untuk duduk di ruang tamu rumahnya. Lantas, seorang polisi menyodorkan surat penggeledahan rumah. Ia tak melawan karena polisi membawa surat tersebut.

"Saya bilang, 'Kalau ada senjata ambil saja, kalau ada granat ambil saja. Kalau ada dokumen rancangan untuk makar, silakan (ambil)," ujarnya.

Beberapa polisi langsung membuka lemari dan laci meja. Mereka memeriksa sejumlah berkas, buku catatan, lembaran tiket pesawat perjalanan selama 5 sampai 10 tahun terakhir, hingga data dalam komputer jinjing atau laptop dan telepon genggamnya.

Namun, polisi tidak menemukan bukti petunjuk terkait rencana makar dari penggeledahan dan pemeriksaan tersebut. Polisi juga tidak menemukan senjata api maupun senjata tajam.

Polisi hanya menemukan beberapa berkas berisi karya tulisnya perihal kritik terhadap UUD 1945 perubahan dan ketatanegaraan.

Para polisi tersebut hendak membawa Kivlan dari rumahnya setelah penggeledahan. Namun, Kivlan tak begitu saja menuruti.

Sebab, ia merasa masih berstatus sebagai tentara cadangan yang seharusnya diproses oleh Polisi Militer TNI jika disangkakan melakukan tindak pidana tertentu.

Akhirnya, Kivlan manut setelah tiga personel PM TNI, termasuk Kasie Intel Kodam Jaya berpangkat Kapten, ternyata ikut dalam rombongan pihak kepolisian ini.

Kivlan mengaku tertawa saat mengalami proses penangkapannya itu. Sebab, ia pun pernah melakukan hal yang sama sewaktu menjadi Kepala Staf Kostrad pada 1998.

"Saya melihat itu, enggak apa-apa, saya ketawa saja. Saya sudah tahu.Dulu saya juga begini waktu saya dinas, waktu saya nangkapin orang begini juga, ya sudah sekarang saya ditangkapin orang, ya sudah," ujarnya.

Kivlan teringat dirinya sewaktu menjabat Kepala Staf Kostrad bersama Kodam Jaya dan Polri, pernah memerintahkan penangkapan terhadap beberapa jenderal TNI dan mantan menteri yang melakukan pertemuan makar di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, pada 12 November 1998.

Menurut dia, kelompok tersebut ditangkap karena sudah jelas dan ada bukti permufakatan makar. Di antaranya telah memproklamirkan pemerintah koalisi nasional, menentukan kabinetnya hingga susunan MPR-nya.

"Ada Jenderal Kemal Idris, Toto S, dan banyak jenderal, termasuk ada Sri Bintang Pamungkas, Edi Sularsono. Yah, dulu juga kita perintahkan menangkap mereka karena mau makar pada masa Presiden Habibie," ucap Kivlan.

Kivlan mengaku tergelitik teringat pengalamannya itu dan apa yang dialaminya saat ini. Oleh karena itu, ia dapat memahami dan menghormati penangkapan yang dilakukan oleh pihak kepolisian kepada dirinya.

"Cuma saya ketawa saja," ujarnya. (Baca juga: Kivlan Zein: Saya Tidak Ditangkap, Saya Diundang)

Menurut Kivlan, tidak ada ketegangan antara dirinya maupun para penyidik kepolisian saat menjalani proses pemeriksaan di Mako Brimob.

Ia pun tidak merasa sebagai seorang pesakitan yang hendak dicecar pertanyaan. Justru perbincangan santai disertai guyonan terjadi.

"Saya malah ketawa-ketawa. Karena kata mereka (penyidik), 'Bapak dulu kan mengajarkan kami begitu, untuk menangkapi orang'. Saya bilang, ya sudah enggak apa-apa, silakan saja, saya juga begitu," kata Kivlan seraya tertawa karena teringat perkataan penyidik tersebut.

(Abdul Qodir/Tribunnews.com)

---

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul: Kivlan Zein Justru Tertawa Ditangkap Polisi, Ini Alasannya


Kompas TV Jadi Tersangka, Ahmad Dhani Akan Ajukan Praperadilan

"

| Kivlan | Zein | Bercerita | soal | Penangkapannya | atas | Tuduhan | Makar | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> | Mayor | Jenderal | TNI< | (Purn) | Zein< | (69) | hanya | tertawa | ketika | mengenang | penangkapannya | Jumat | pagi | menjelang | unjuk | rasa | damai | 212< | Monas | Jakarta | p> Seperti | dikutip | Tribunnews | Senin | 2016) | mencerit | kronologi | p> Awalnya | pukul | baru | selesai | shalat | Subuh | kediamannya | Gading | Griya | Lestari | Blok | nomor | Kelapa | Utara | p> Saat | siap | untuk | berangkat | Silang | hendak | mendampingi | Pimpinan | Front | Pembela | Islam< | (FPI) | Rizieq | Shihab< | memimpin | terkait | proses | hukum | Gubernur | nonaktif | Basuki | Tjahaja | Purnama< | atau | Ahok | p> Tiba | tiba | rumahnya | didatangi | polisi | bersamaan | dengan | datangnya | pembantu | rumah | Sebanyak | langsung | masuk | dalam | seorang | staf | Sementara | istri | tengah | membesuk | anak | yang | sakit | dirawat | Surabaya | Jawa | Timur | p> Mereka | menyerbu | depan | pintu | saya | tiga | orang | berdiri | ujar | p> Ia | mengaku | awalnya | kaget | kedatangan | para | kala | buta | Namun | benaknya | menduga | dirinya | diproses | oleh | dugaan | makar | berusaha | tenang | karena | mengira | menyebabkan | sekelompok | tersebut | mendatangi | yakni | tuduhan | p> Jadi | tahu | bahwa | berita | menargetkan | Anak | juga | cerita | temannya | banyak | Saya | waktu | dikasih | sebulan | ujarnya | p> Kivlan | mempersil | duduk | ruang | tamu | Lantas | menyodorkan | surat | penggeledahan | melawan | membawa | p> Saya | bilang | Kalau | senjata | ambil | kalau | granat | dokumen | rancangan | (ambil) | p> Beberapa | membuka | lemari | laci | meja | Mereka | memeriksa | sejumlah | berkas | buku | catatan | lembaran | tiket | pesawat | perjalanan | selama | sampai | tahun | terakhir | data | komputer | jinjing | laptop | telepon | genggamnya | p> Namun | menemukan | bukti | petunjuk | rencana | pemeriksaan | Polisi | maupun | tajam | p> Polisi | beberapa | berisi | karya | tulisnya | perihal | kritik | terhadap | 1945 | perubahan | ketatanegaraan | p> Para | setelah | begitu | menuruti | p> Sebab | merasa | masih | berstatus | sebagai | tentara | cadangan | seharusnya | Militer | jika | disangk | melakukan | tindak | pidana | tertentu | p> Akhirnya | manut | personel | termasuk | Kasie | Intel | Kodam | Jaya | berpangkat | Kapten | ternyata | ikut | rombongan | pihak | kepolisian | saat | mengalami | Sebab | pernah | sama | sewaktu | menjadi | Kepala | Staf | Kostrad | pada | 1998 | melihat | enggak | ketawa | Dulu | begini | dinas | nangkapin< | sekarang | ditangkapin< | teringat | menjabat | bersama | Polri< | memerintahkan | penangkapan | jenderal | mantan | menteri | pertemuan | Hotel | Sahid | November | p> Menurut | kelompok | ditangkap | jelas | permufakatan | antaranya | telah | memproklamirkan | pemerintah | koalisi | nasional | menentukan | kabinetnya | susunan | p> Ada | Kemal | Idris | Toto | Bintang | Pamungkas< | Sularsono | dulu | perintahkan | menangkap | masa | Presiden | Habibie | ucap | tergelitik | pengalamannya | dialaminya | Oleh | dapat | memahami | menghormati | dilakukan | kepada | p> Cuma | (Baca | juga: | Zein: | Tidak | Ditangkap | Diundang< | a>)< | ketegangan | antara | penyidik | menjalani | Mako | Brimob | pesan | dicecar | pertanyaan | Justru | perbincangan | santai | disertai | guyonan | terjadi | malah | Karena | kata | (penyidik) | Bapak | mengajarkan | kami | menangkapi | seraya | perkataan | p> (Abdul | Qodir | com)< | strong>< | p> Artikel | tayang | judul: | Tertawa | Alasannya< | p> Kompas | span> | Jadi | Tersangka | Ahmad | Dhani< | Akan | Ajukan | Praperadilan< | p> |

Monday, December 5, 2016

Kivlan Zein Bercerita soal Penangkapannya atas Tuduhan Makar

JAKARTA, KOMPAS.com รข€" Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zein (69) hanya tertawa ketika mengenang penangkapannya, Jumat (2/12/2012) pagi, menjelang unjuk rasa damai 212 di Monas, Jakarta.

Seperti dikutip dari Tribunnews.com , Senin (5/12/2016), Kivlan menceritakan kronologi penangkapannya.

Awalnya, sekitar pukul 04.45 WIB, dia baru selesai shalat subuh di kediamannya, Gading Griya Lestari, Blok H1 nomor 15, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Saat itu, Kivlan sudah siap untuk berangkat ke Silang Monas. Ia hendak mendampingi pemimpin Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, untuk memimpin unjuk rasa damai terkait proses hukum Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Tiba-tiba, rumahnya didatangi polisi, bersamaan dengan datangnya pembantu rumah. Sebanyak 20 polisi langsung masuk ke dalam rumah.

Saat itu, hanya ada Kivlan, seorang pembantu, dan staf di rumahnya. Sementara istri Kivlan tengah membesuk anak yang tengah sakit dan dirawat di Surabaya, Jawa Timur.

"Mereka langsung masuk menyerbu. Di depan pintu rumah saya sudah ada tiga orang berdiri," ujar Kivlan.

Ia mengaku awalnya kaget dengan kedatangan para polisi ke rumahnya kala pagi buta itu. Namun, dalam benaknya, ia menduga dirinya hendak diproses oleh polisi terkait dugaan makar.

Ia mengaku berusaha tenang karena ia sudah mengira apa yang menyebabkan sekelompok polisi tersebut mendatangi rumahnya, yakni tuduhan makar.

"Jadi saya sudah tahu bahwa dari berita bahwa polisi sudah menargetkan saya. Anak saya juga sudah cerita karena temannya banyak di polisi. Saya juga kaget waktu dikasih tahu, tapi itu sudah sebulan lalu," ujarnya.

Kivlan mempersilakan para polisi untuk duduk di ruang tamu rumahnya. Lantas, seorang polisi menyodorkan surat penggeledahan rumah. Ia tak melawan karena polisi membawa surat tersebut.

"Saya bilang, 'Kalau ada senjata ambil saja, kalau ada granat ambil saja. Kalau ada dokumen rancangan untuk makar, silakan (ambil)," ujarnya.

Beberapa polisi langsung membuka lemari dan laci meja. Mereka memeriksa sejumlah berkas, buku catatan, lembaran tiket pesawat perjalanan selama 5 sampai 10 tahun terakhir, hingga data dalam komputer jinjing atau laptop dan telepon genggamnya.

Namun, polisi tidak menemukan bukti petunjuk terkait rencana makar dari penggeledahan dan pemeriksaan tersebut. Polisi juga tidak menemukan senjata api maupun senjata tajam.

Polisi hanya menemukan beberapa berkas berisi karya tulisnya perihal kritik terhadap UUD 1945 perubahan dan ketatanegaraan.

Para polisi tersebut hendak membawa Kivlan dari rumahnya setelah penggeledahan. Namun, Kivlan tak begitu saja menuruti.

Sebab, ia merasa masih berstatus sebagai tentara cadangan yang seharusnya diproses oleh Polisi Militer TNI jika disangkakan melakukan tindak pidana tertentu.

Akhirnya, Kivlan manut setelah tiga personel PM TNI, termasuk Kasie Intel Kodam Jaya berpangkat Kapten, ternyata ikut dalam rombongan pihak kepolisian ini.

Kivlan mengaku tertawa saat mengalami proses penangkapannya itu. Sebab, ia pun pernah melakukan hal yang sama sewaktu menjadi Kepala Staf Kostrad pada 1998.

"Saya melihat itu, enggak apa-apa, saya ketawa saja. Saya sudah tahu. Dulu saya juga begini waktu saya dinas, waktu saya nangkapin orang begini juga, ya sudah sekarang saya ditangkapin orang, ya sudah," ujarnya.

Kivlan teringat dirinya sewaktu menjabat Kepala Staf Kostrad bersama Kodam Jaya dan Polri pernah memerintahkan penangkapan terhadap beberapa jenderal TNI dan mantan menteri yang melakukan pertemuan makar di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, pada 12 November 1998.

Menurut dia, kelompok tersebut ditangkap karena sudah jelas dan ada bukti permufakatan makar. Di antaranya telah memproklamasikan pemerintah koalisi nasional dan menentukan kabinet hingga susunan MPR-nya.

"Ada Jenderal Kemal Idris, Toto S, dan banyak jenderal, termasuk ada Sri Bintang Pamungkas, Edi Sularsono. Ya, dulu juga kita perintahkan menangkap mereka karena mau makar pada masa Presiden Habibie," ucap Kivlan.

Kivlan mengaku tergelitik teringat pengalamannya itu dan apa yang dialaminya saat ini. Oleh karena itu, ia dapat memahami dan menghormati penangkapan yang dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap dirinya.

"Cuma saya ketawa saja," ujarnya. (Baca juga: Kivlan Zein: Saya Tidak Ditangkap, Saya Diundang)

Menurut Kivlan, tidak ada ketegangan antara dirinya ataupun para penyidik kepolisian saat menjalani proses pemeriksaan di Mako Brimob.

Ia pun tidak merasa sebagai seorang pesakitan yang hendak dicecar pertanyaan. Justru perbincangan santai disertai guyonan terjadi.

"Saya malah ketawa-ketawa. Karena kata mereka (penyidik), 'Bapak dulu kan mengajarkan kami begitu, untuk menangkapi orang'. Saya bilang, ya sudah enggak apa-apa, silakan saja, saya juga begitu," kata Kivlan seraya tertawa karena teringat perkataan penyidik tersebut.

(Abdul Qodir/Tribunnews.com)

---

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul: Kivlan Zein Justru Tertawa Ditangkap Polisi, Ini Alasannya


Kompas TV Jadi Tersangka, Ahmad Dhani Akan Ajukan Praperadilan

"

| Kivlan | Zein | Bercerita | soal | Penangkapannya | atas | Tuduhan | Makar | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> | Mayor | Jenderal | TNI< | (Purn) | Zein< | (69) | hanya | tertawa | ketika | mengenang | penangkapannya | Jumat | 2012) | pagi | menjelang | unjuk | rasa | damai | 212< | Monas | Jakarta | p> Seperti | dikutip | Tribunnews | Senin | 2016) | mencerit | kronologi | p> Awalnya | pukul | baru | selesai | shalat | subuh | kediamannya | Gading | Griya | Lestari | Blok | nomor | Kelapa | Utara | p> Saat | siap | untuk | berangkat | Silang | hendak | mendampingi | pemimpin | Front | Pembela | Islam< | (FPI) | Rizieq | Shihab< | memimpin | terkait | proses | hukum | Gubernur | nonaktif | Basuki | Tjahaja | Purnama< | atau | Ahok | p> Tiba | tiba | rumahnya | didatangi | polisi | bersamaan | dengan | datangnya | pembantu | rumah | Sebanyak | langsung | masuk | dalam | seorang | staf | Sementara | istri | tengah | membesuk | anak | yang | sakit | dirawat | Surabaya | Jawa | Timur | p> Mereka | menyerbu | depan | pintu | saya | tiga | orang | berdiri | ujar | p> Ia | mengaku | awalnya | kaget | kedatangan | para | kala | buta | Namun | benaknya | menduga | dirinya | diproses | oleh | dugaan | makar | berusaha | tenang | karena | mengira | menyebabkan | sekelompok | tersebut | mendatangi | yakni | tuduhan | p> Jadi | tahu | bahwa | berita | menargetkan | Anak | juga | cerita | temannya | banyak | Saya | waktu | dikasih | sebulan | ujarnya | p> Kivlan | mempersil | duduk | ruang | tamu | Lantas | menyodorkan | surat | penggeledahan | melawan | membawa | p> Saya | bilang | Kalau | senjata | ambil | kalau | granat | dokumen | rancangan | (ambil) | p> Beberapa | membuka | lemari | laci | meja | Mereka | memeriksa | sejumlah | berkas | buku | catatan | lembaran | tiket | pesawat | perjalanan | selama | sampai | tahun | terakhir | data | komputer | jinjing | laptop | telepon | genggamnya | p> Namun | menemukan | bukti | petunjuk | rencana | pemeriksaan | Polisi | maupun | tajam | p> Polisi | beberapa | berisi | karya | tulisnya | perihal | kritik | terhadap | 1945 | perubahan | ketatanegaraan | p> Para | setelah | begitu | menuruti | p> Sebab | merasa | masih | berstatus | sebagai | tentara | cadangan | seharusnya | Militer | jika | disangk | melakukan | tindak | pidana | tertentu | p> Akhirnya | manut | personel | termasuk | Kasie | Intel | Kodam | Jaya | berpangkat | Kapten | ternyata | ikut | rombongan | pihak | kepolisian | saat | mengalami | Sebab | pernah | sama | sewaktu | menjadi | Kepala | Staf | Kostrad | pada | 1998 | melihat | enggak | ketawa | Dulu | begini | dinas | nangkapin< | sekarang | ditangkapin< | teringat | menjabat | bersama | Polri< | memerintahkan | penangkapan | jenderal | mantan | menteri | pertemuan | Hotel | Sahid | November | p> Menurut | kelompok | ditangkap | jelas | permufakatan | antaranya | telah | memproklamasikan | pemerintah | koalisi | nasional | menentukan | kabinet | susunan | p> Ada | Kemal | Idris | Toto | Bintang | Pamungkas< | Sularsono | dulu | perintahkan | menangkap | masa | Presiden | Habibie | ucap | tergelitik | pengalamannya | dialaminya | Oleh | dapat | memahami | menghormati | dilakukan | p> Cuma | (Baca | juga: | Zein: | Tidak | Ditangkap | Diundang< | a>)< | ketegangan | antara | ataupun | penyidik | menjalani | Mako | Brimob | pesan | dicecar | pertanyaan | Justru | perbincangan | santai | disertai | guyonan | terjadi | malah | Karena | kata | (penyidik) | Bapak | mengajarkan | kami | menangkapi | seraya | perkataan | p> (Abdul | Qodir | com)< | strong>< | p> Artikel | tayang | judul: | Tertawa | Alasannya< | p> Kompas | span> | Jadi | Tersangka | Ahmad | Dhani< | Akan | Ajukan | Praperadilan< | p> |

Kivlan Zein Bercerita soal Penangkapannya atas Tuduhan Makar

JAKARTA, KOMPAS.com รข€" Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zein (69) hanya tertawa ketika mengenang penangkapannya, Jumat (2/12/2012) pagi, menjelang unjuk rasa damai 212 di Monas, Jakarta.

Seperti dikutip dari Tribunnews.com , Senin (5/12/2016), Kivlan menceritakan kronologi penangkapannya.

Awalnya, sekitar pukul 04.45 WIB, dia baru selesai shalat subuh di kediamannya, Gading Griya Lestari, Blok H1 nomor 15, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Saat itu, Kivlan sudah siap untuk berangkat ke Silang Monas. Ia hendak mendampingi pemimpin Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, untuk memimpin unjuk rasa damai terkait proses hukum Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Tiba-tiba, rumahnya didatangi polisi, bersamaan dengan datangnya pembantu rumah. Sebanyak 20 polisi langsung masuk ke dalam rumah.

Saat itu, hanya ada Kivlan, seorang pembantu, dan staf di rumahnya. Sementara istri Kivlan tengah membesuk anak yang tengah sakit dan dirawat di Surabaya, Jawa Timur.

"Mereka langsung masuk menyerbu. Di depan pintu rumah saya sudah ada tiga orang berdiri," ujar Kivlan.

Ia mengaku awalnya kaget dengan kedatangan para polisi ke rumahnya kala pagi buta itu. Namun, dalam benaknya, ia menduga dirinya hendak diproses oleh polisi terkait dugaan makar.

Ia mengaku berusaha tenang karena ia sudah mengira apa yang menyebabkan sekelompok polisi tersebut mendatangi rumahnya, yakni tuduhan makar.

"Jadi saya sudah tahu bahwa dari berita bahwa polisi sudah menargetkan saya. Anak saya juga sudah cerita karena temannya banyak di polisi. Saya juga kaget waktu dikasih tahu, tapi itu sudah sebulan lalu," ujarnya.

Kivlan mempersilakan para polisi untuk duduk di ruang tamu rumahnya. Lantas, seorang polisi menyodorkan surat penggeledahan rumah. Ia tak melawan karena polisi membawa surat tersebut.

"Saya bilang, 'Kalau ada senjata ambil saja, kalau ada granat ambil saja. Kalau ada dokumen rancangan untuk makar, silakan (ambil)," ujarnya.

Beberapa polisi langsung membuka lemari dan laci meja. Mereka memeriksa sejumlah berkas, buku catatan, lembaran tiket pesawat perjalanan selama 5 sampai 10 tahun terakhir, hingga data dalam komputer jinjing atau laptop dan telepon genggamnya.

Namun, polisi tidak menemukan bukti petunjuk terkait rencana makar dari penggeledahan dan pemeriksaan tersebut. Polisi juga tidak menemukan senjata api maupun senjata tajam.

Polisi hanya menemukan beberapa berkas berisi karya tulisnya perihal kritik terhadap UUD 1945 perubahan dan ketatanegaraan.

Para polisi tersebut hendak membawa Kivlan dari rumahnya setelah penggeledahan. Namun, Kivlan tak begitu saja menuruti.

Sebab, ia merasa masih berstatus sebagai tentara cadangan yang seharusnya diproses oleh Polisi Militer TNI jika disangkakan melakukan tindak pidana tertentu.

Akhirnya, Kivlan manut setelah tiga personel PM TNI, termasuk Kasie Intel Kodam Jaya berpangkat Kapten, ternyata ikut dalam rombongan pihak kepolisian ini.

Kivlan mengaku tertawa saat mengalami proses penangkapannya itu. Sebab, ia pun pernah melakukan hal yang sama sewaktu menjadi Kepala Staf Kostrad pada 1998.

"Saya melihat itu, enggak apa-apa, saya ketawa saja. Saya sudah tahu. Dulu saya juga begini waktu saya dinas, waktu saya nangkapin orang begini juga, ya sudah sekarang saya ditangkapin orang, ya sudah," ujarnya.

Kivlan teringat dirinya sewaktu menjabat Kepala Staf Kostrad bersama Kodam Jaya dan Polri pernah memerintahkan penangkapan terhadap beberapa jenderal TNI dan mantan menteri yang melakukan pertemuan makar di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, pada 12 November 1998.

Menurut dia, kelompok tersebut ditangkap karena sudah jelas dan ada bukti permufakatan makar. Di antaranya telah memproklamasikan pemerintah koalisi nasional dan menentukan kabinet hingga susunan MPR-nya.

"Ada Jenderal Kemal Idris, Toto S, dan banyak jenderal, termasuk ada Sri Bintang Pamungkas, Edi Sularsono. Ya, dulu juga kita perintahkan menangkap mereka karena mau makar pada masa Presiden Habibie," ucap Kivlan.

Kivlan mengaku tergelitik teringat pengalamannya itu dan apa yang dialaminya saat ini. Oleh karena itu, ia dapat memahami dan menghormati penangkapan yang dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap dirinya.

"Cuma saya ketawa saja," ujarnya. (Baca juga: Kivlan Zein: Saya Tidak Ditangkap, Saya Diundang)

Menurut Kivlan, tidak ada ketegangan antara dirinya ataupun para penyidik kepolisian saat menjalani proses pemeriksaan di Mako Brimob.

Ia pun tidak merasa sebagai seorang pesakitan yang hendak dicecar pertanyaan. Justru perbincangan santai disertai guyonan terjadi.

"Saya malah ketawa-ketawa. Karena kata mereka (penyidik), 'Bapak dulu kan mengajarkan kami begitu, untuk menangkapi orang'. Saya bilang, ya sudah enggak apa-apa, silakan saja, saya juga begitu," kata Kivlan seraya tertawa karena teringat perkataan penyidik tersebut.

(Abdul Qodir/Tribunnews.com)

---

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul: Kivlan Zein Justru Tertawa Ditangkap Polisi, Ini Alasannya


Kompas TV Jadi Tersangka, Ahmad Dhani Akan Ajukan Praperadilan

"

| Kivlan | Zein | Bercerita | soal | Penangkapannya | atas | Tuduhan | Makar | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> | Mayor | Jenderal | TNI< | (Purn) | Zein< | (69) | hanya | tertawa | ketika | mengenang | penangkapannya | Jumat | 2012) | pagi | menjelang | unjuk | rasa | damai | 212< | Monas | Jakarta | p> Seperti | dikutip | Tribunnews | Senin | 2016) | mencerit | kronologi | p> Awalnya | pukul | baru | selesai | shalat | subuh | kediamannya | Gading | Griya | Lestari | Blok | nomor | Kelapa | Utara | p> Saat | siap | untuk | berangkat | Silang | hendak | mendampingi | pemimpin | Front | Pembela | Islam< | (FPI) | Rizieq | Shihab< | memimpin | terkait | proses | hukum | Gubernur | nonaktif | Basuki | Tjahaja | Purnama< | atau | Ahok | p> Tiba | tiba | rumahnya | didatangi | polisi | bersamaan | dengan | datangnya | pembantu | rumah | Sebanyak | langsung | masuk | dalam | seorang | staf | Sementara | istri | tengah | membesuk | anak | yang | sakit | dirawat | Surabaya | Jawa | Timur | p> Mereka | menyerbu | depan | pintu | saya | tiga | orang | berdiri | ujar | p> Ia | mengaku | awalnya | kaget | kedatangan | para | kala | buta | Namun | benaknya | menduga | dirinya | diproses | oleh | dugaan | makar | berusaha | tenang | karena | mengira | menyebabkan | sekelompok | tersebut | mendatangi | yakni | tuduhan | p> Jadi | tahu | bahwa | berita | menargetkan | Anak | juga | cerita | temannya | banyak | Saya | waktu | dikasih | sebulan | ujarnya | p> Kivlan | mempersil | duduk | ruang | tamu | Lantas | menyodorkan | surat | penggeledahan | melawan | membawa | p> Saya | bilang | Kalau | senjata | ambil | kalau | granat | dokumen | rancangan | (ambil) | p> Beberapa | membuka | lemari | laci | meja | Mereka | memeriksa | sejumlah | berkas | buku | catatan | lembaran | tiket | pesawat | perjalanan | selama | sampai | tahun | terakhir | data | komputer | jinjing | laptop | telepon | genggamnya | p> Namun | menemukan | bukti | petunjuk | rencana | pemeriksaan | Polisi | maupun | tajam | p> Polisi | beberapa | berisi | karya | tulisnya | perihal | kritik | terhadap | 1945 | perubahan | ketatanegaraan | p> Para | setelah | begitu | menuruti | p> Sebab | merasa | masih | berstatus | sebagai | tentara | cadangan | seharusnya | Militer | jika | disangk | melakukan | tindak | pidana | tertentu | p> Akhirnya | manut | personel | termasuk | Kasie | Intel | Kodam | Jaya | berpangkat | Kapten | ternyata | ikut | rombongan | pihak | kepolisian | saat | mengalami | Sebab | pernah | sama | sewaktu | menjadi | Kepala | Staf | Kostrad | pada | 1998 | melihat | enggak | ketawa | Dulu | begini | dinas | nangkapin< | sekarang | ditangkapin< | teringat | menjabat | bersama | Polri< | memerintahkan | penangkapan | jenderal | mantan | menteri | pertemuan | Hotel | Sahid | November | p> Menurut | kelompok | ditangkap | jelas | permufakatan | antaranya | telah | memproklamasikan | pemerintah | koalisi | nasional | menentukan | kabinet | susunan | p> Ada | Kemal | Idris | Toto | Bintang | Pamungkas< | Sularsono | dulu | perintahkan | menangkap | masa | Presiden | Habibie | ucap | tergelitik | pengalamannya | dialaminya | Oleh | dapat | memahami | menghormati | dilakukan | p> Cuma | (Baca | juga: | Zein: | Tidak | Ditangkap | Diundang< | a>)< | ketegangan | antara | ataupun | penyidik | menjalani | Mako | Brimob | pesan | dicecar | pertanyaan | Justru | perbincangan | santai | disertai | guyonan | terjadi | malah | Karena | kata | (penyidik) | Bapak | mengajarkan | kami | menangkapi | seraya | perkataan | p> (Abdul | Qodir | com)< | strong>< | p> Artikel | tayang | judul: | Tertawa | Alasannya< | p> Kompas | span> | Jadi | Tersangka | Ahmad | Dhani< | Akan | Ajukan | Praperadilan< | p> |

Wednesday, December 7, 2016

Dituduh Rencanakan Makar, Ini Kronologi Versi Rachmawati

Rabu, 07 Desember 2016 | 17:50 WIB

Dituduh Rencanakan Makar, Ini Kronologi Versi Rachmawati

Rachmawati Soekarnoputri, saat mendatangi kediaman Markas Front Pembela Islam, untuk bertemu dengan Habib Rizieq Shihab, di Petamburan III, Jakarta, 31 Oktober 2016. TEMPO/GRANDY AJI

TEMPO.CO, Jakarta - Rahmawati Soekarno Putri menjelaskan kronologi kegiatannya yang selama ini oleh pihak Kepolisian RI disebut sebagai upaya makar. Menurut dia, kegitan yang dilakukannya adalah upaya membela kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Saya memang secara konsisten ingin menyampaikan petisi tentang kembalikan UUD 45 ke yang asli, karena UUD yang sudah empat kali di tanda tangani Megawati amandennya menjadikan Undang-Undang kita bersifat liberal dan kapitalistik," kata Rahmawati dalam jumpa pers di kediamannya di Jati Padang, Jakarta Selatan, Rabu, 7 Desember 2016.

Rahmawati menjelaskan, kegiatannya berawal dari tanggal 15 Desember 2015. Saat itu, ia dan beberapa tokoh Gerakan Selamatkan NKRI, yakni Djoko Santoso, Lily Wahid, Syamsu Djalal dan Hatta Taliwang bertemu dengan ketua MPR Zulkifli Hasan.

"Saya menyampaikan keprihatinan terkait UUD 45, Zulkifli (Ketua MPR Zulkifli Hasan) pun mengaku punya kepedulian yang sama dan senang jika massa menduduki MPR untuk menyampaikan aspirasinya," katanya.

Kemudian, pada 30 Maret 2016, kata Rachma, Megawati Soekarnoputri berpidato dan menyatakan pemerintah perlu memberikan perhatian pada haluan negara dalam proses pembangunan. Menurut Rachma, pidato itu mengindikasikan ada rencana untuk mengamandemen UUD lagi.

Baca juga:
Rahmawati: Saya Tidak Berupaya Makar
Polisi Temukan Bukti Transfer Pendanaan Rencana Makar

Indikasi tersebut kemudian dibenarkan oleh Zulkifli Hasan pada pertemuan mereka 23 Mei 2016. "Zulkifli menyampaikan bahwa saat ini ada dua arus di parlemen. Pertama yang menginginkan amandemen kelima. Kedua, yang menginginkan UUD 45 kembali ke aslinya," jelasnya.

Pada 30 Oktober 2016, Rachmawati mengunjungi pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab dengan tujuan bertukar pikiran soal isu kebangsaan, termasuk penegakan hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Diskusi tersebut membuahkan hasil, yakni Rizieq mendukung upaya bela negara dengan menuntut pengembalian UUD 45 dan Pancasila yang asli.

Rachmawati menyampaikan tuntutan pengembalian UUD 45 saat Aksi Bela Islam II, 4 November lalu. Dalam aksi yang berujung bentrok itu, Presiden Joko Widodo menuding adanya aktor yang menungganginya.

Pada 30 November 2016, Rachmawati kembali berkunjung ke kediaman Rizieq, sekitar pukul 14.00 WIB. Dalam pertemuan itu, Rizieq menjelaskan konsesus antara GNPF MUI dan polisi terkait Aksi 212 yang akan dilaksanakan di lapangan Monas. "Saya mempersilakan, tapi aksi Bela Negara tetap akan dilakukan di gedung DPR/MPR," katanya.

Masih di hari yang sama, sekitar pukul 15.30 WIB, Rachmawati bertemu dengan Sri Bintang Pamungkas di Pegangsaan, Jakarta. Dalam pertemuan itu Sri Bintang mengaku sudah membentuk Front People Power Indonesia dengan tiga tuntutan, yakni kembali ke UUD 45 sebelum amandemen, lengserkan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla dan membentuk pemerintahan transisi.

"Saya tidak setuju dengan poin dua dan tiga dan menegaskan akan menggunakan soft landing," kata Rachmawati.

Setelah menegaskan tujuan aksinya bukanlah untuk makar, Gerakan Selamatkan NKRI kemudian mengirimkan surat pemberitahuan ke Kepolisian Daerah Metro Jaya terkait rencana aksi bela negara di depan DPR yang dimulai pukul 13.00 WIB dengan jumlah masa 20 ribu orang.

"Kami mengirimkan surat ke Polda Metro, dan menjelaskan bahwa aksi kami di luar gedung bukan di dalam. Sehari kemudian juga kami sudah jelaskan dalam konpers di Sari Pan Pasifik" katanya.

Pada Jumat, 2 Desember 2016, sebelum aksi super damat berlangsung di Lapangan Monas, polisi menangkap 11 orang yang diduga akan melakukan makar. Delapan orang di antaranya ditetapkan sebagai tersangka dugaan perencanaan makar, Rahmawati termasuk di dalamnya. Terkait dengan tuduhan itu, Rahmawati pun telah membantahnya dengan keras.

Selain delapan orang tersebut ada pula dua orang yang terjerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik terkait ujaran kebencian, dan satu orang terkait penghinaan terhadap penguasa.

INGE KLARA

Baca juga:
Saham Sari Roti Turun, Dampak Bantahan Bagi Roti Gratis?
>
Penyebar Isu SARA di Medsos Ternyata Narapidana, Siapa Dia?

"

| Dituduh | Rencan | Makar, | Kronologi | Versi | Rachmawati | Rabu | Desember | 2016 | 17:50 | WIB< | p> < | div> Rachmawati | Soekarnoputri | saat | mendatangi | kediaman | Markas | Front | Pembela | Islam | untuk | bertemu | dengan | Habib | Rizieq | Shihab | Petamburan | Jakarta | Oktober | TEMPO | GRANDY | AJI< | p> < | div> TEMPO | strong>< | span> | Jakarta< | Rahmawati | Soekarno | Putri | menjelaskan | kronologi | kegiatannya | yang | selama | oleh | pihak | Kepolisian | disebut | sebagai | upaya | makar | Menurut | kegitan | dilakukannya | adalah | membela | kesatuan | Negara | Kesatuan | Republik | Indonesia | (NKRI) | p>Saya | memang | secara | konsisten | ingin | menyampaikan | petisi | tentang | kembalikan | asli | karena | empat | kali | tanda | tangani | Megawati | amandennya | menjadikan | Undang | bersifat | liberal | kapitalistik | kata | dalam | jumpa | pers | kediamannya | Jati | Padang | Selatan | p>Rahmawati | berawal | tanggal | 2015 | Saat | beberapa | tokoh | Selamatkan | NKRI | yakni | Djoko | Santoso | Lily | Wahid | Syamsu | Djalal | Hatta | Taliwang | ketua | Zulkifli | Hasan | keprihatinan | terkait | (Ketua | Hasan) | mengaku | punya | kepedulian | sama | senang | jika | massa | menduduki | aspirasinya | katanya | p>Kemudian | pada | Maret | Rachma | berpidato | menyat | pemerintah | perlu | memberikan | perhatian | haluan | negara | proses | pembangunan | pidato | mengindikasikan | rencana | mengamandemen | lagi | p>Baca | juga:< | strong>Rahmawati: | Saya | Tidak | Berupaya | Makar< | strong>Polisi | Temukan | Bukti | Transfer | Pendanaan | Rencana | p>Indikasi | tersebut | kemudian | dibenarkan | pertemuan | bahwa | arus | parlemen | Pertama | menginginkan | amandemen | kelima | Kedua | kembali | aslinya | jelasnya | p>Pada | mengunjungi | pimpinan | (FPI) | tujuan | bertukar | pikiran | soal | kebangsaan | termasuk | peneg | hukum | terhadap | Basuki | Tjahaja | Purnama | alias | Ahok | Diskusi | membuahkan | hasil | mendukung | bela | menuntut | pengembalian | Pancasila | p>Rachmawati | tuntutan | Aksi | Bela | November | Dalam | aksi | berujung | bentrok | Presiden | Joko | Widodo | menuding | adanya | aktor | menungganginya | berkunjung | pukul | konsesus | antara | GNPF | polisi | dilaksan | lapangan | Monas | mempersil | tetap | dilakukan | gedung | p>Masih | hari | Bintang | Pamungkas | Pegangsaan | membentuk | People | Power | tiga | lengserkan | pemerintahan | Jokowi | Jusuf | Kalla | transisi | setuju | poin | menegaskan | menggun | soft | landing | p>Setelah | aksinya | bukanlah | mengirimkan | surat | pemberitahuan | Daerah | Metro | Jaya | depan | dimulai | jumlah | masa | ribu | orang | p>Kami | Polda | kami | luar | bukan | Sehari | juga | jelaskan | konpers | Sari | Pasifik | Jumat | super | damat | berlangsung | Lapangan | menangkap | diduga | melakukan | Delapan | antaranya | ditetapkan | tersangka | dugaan | perencanaan | dalamnya | Terkait | tuduhan | telah | membantahnya | keras | p>Selain | delapan | pula | terjerat | Informasi | Transaksi | Elektronik | ujaran | kebencian | satu | penghinaan | penguasa | p>INGE | KLARA< | juga:Saham | Roti | Turun | Dampak | Bantahan | Bagi | Gratis | a>Penyebar | SARA | Medsos | Ternyata | Narapidana | Siapa | p> |