Showing posts sorted by date for query menghormati. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query menghormati. Sort by relevance Show all posts

Monday, December 5, 2016

Beda Pendapat Polisi dan Sri Bintang Soal Makar Baiknya Diuji di Pengadilan

Jakarta - Sri Bintang Pamungkas menolak menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP) atas dirinya karena merasa sangkaan dugaan makar tidak tepat ditujukan padanya. Polisi pun berkata sebaliknya.

Ahli pidana Prof Hibnu Nugroho mengatakan agar perdebatan tersebut dibuktikan saja di ranah pengadilan. Menurutnya, jangan sampai nantinya publik terbelah menjadi pro-kontra tentang hal tersebut.

"Gini aja, karena ini kan tafsirnya banyak sekali. Ini kan tafsir dari Pak Bintang, dan tafsir dari kepolisian. Dan kita menghormati tafsir dari Pak Bintang seperti itu, tafsir kepolisian cukup, katanya cukup bukti. Saya kira kalau sekarang memang sudah masuk proses hukum, nah kita bicara itu saja, makanya kalau menurut saya lebih baik kita lanjut ke proses hukum. Bahwa apa yang disampaikan pihak yang bersangkutan diuji di persidangan, gitu. Jadi nanti jangan sampai kita terjebak malah pro dan kontra. Saya melihatnya ke sana," kata Prof Hibnu saat berbincang dengan detikcom, Senin (5/12/2016) malam.

Beda Pendapat Polisi dan Sri Bintang Soal Makar, Baiknya Diuji di PengadilanProf Hibnu Nugroho (Foto: Andi Saputra/detikcom)

Apabila yang dipermasalahkan Sri Bintang termasuk prosedur penangkapan, Hibnu mengatakan ada mekanisme praperadilan. Namun untuk sangkaan dugaan makar, menurut Hibnut tetap seharusnya diuji di depan majelis hakim saja.

"Ada solusi hukum kalau memang penangkapannya, buktinya tidak cukup. Kan ada praperadilan. Prosedurnya, kan gitu kan. Buktinya cukup atau tidak. Sebab memang kita terbelah. Atau kalau kedua yang kita disidangkan, toh kalau tidak terbukti diputus bebas. Nah kita yang di luar ini karena tidak tahu fakta bukti asli, buktinya apa, suratnya bagaimana, berapa bukti yang dikumpulkan, kan kita tidak tahu," ucap Hibnu.

Salah satu hal yang menjadi pertimbangan polisi menjerat Sri Bintang yaitu adanya surat berisi sejumlah poin permintaan, salah satunya agar DPR menggelar sidang pencabutan mandat Jokowi-JK. Pengacara Sri Bintang, Habiburokhman, mengatakan surat tersebut merupakan hal yang masih dalam koridor aturan yang ada. Namun, polisi menyebut surat itulah yang menjadi salah satu dasar penetapan tersangka Sri Bintang dalam kasus dugaan makar.

Delapan orang ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan makar, yakni Eko Suryo Santjojo, Adityawarman Thaha, Kivlan Zen, Firza Husein, Rachmawati Soekarnoputri, Ratna Sarumpaet, Alvin Indra, dan Sri Bintang Pamungkas. Dari delapan tersangka, hanya Sri Bintang Pamungkas yang hingga kini ditahan polisi.
(dhn/dhn)

"

| Beda | Pendapat | Polisi | Bintang | Soal | Makar | Baiknya | Diuji | Pengadilan | Jakarta< | strong> | Pamungkas | menolak | menandatangani | berita | acara | pemeriksaan | (BAP) | atas | dirinya | karena | merasa | sangkaan | dugaan | makar | tepat | ditujukan | padanya | berkata | sebaliknya | Ahli | pidana | Prof | Hibnu | Nugroho | mengat | agar | perdebatan | tersebut | dibuktikan | ranah | pengadilan | Menurutnya | jangan | sampai | nantinya | publik | terbelah | menjadi | kontra | tentang | p>Gini | tafsirnya | banyak | sekali | tafsir | kepolisian | menghormati | seperti | cukup | katanya | bukti | Saya | kira | kalau | sekarang | memang | masuk | proses | hukum | bicara | menurut | saya | lebih | baik | lanjut | Bahwa | yang | disampaikan | pihak | bersangkutan | diuji | persidangan | gitu | Jadi | nanti | terjebak | malah | melihatnya | sana | kata | saat | berbincang | dengan | detikcom | Senin | 2016) | malam | p> Prof | (Foto: | Andi | Saputra | detikcom)< | div> < | td> < | tr>< | tbody>< | table>Apabila | dipermasalahkan | termasuk | prosedur | penangkapan | mekanisme | praperadilan | Namun | untuk | Hibnut | tetap | seharusnya | depan | majelis | hakim | p>Ada | solusi | penangkapannya | buktinya | Prosedurnya | Buktinya | atau | Sebab | Atau | kedua | disidangkan | terbukti | diputus | bebas | luar | tahu | fakta | asli | suratnya | bagaimana | berapa | dikumpulkan | ucap | p>Salah | satu | pertimbangan | polisi | menjerat | yaitu | adanya | surat | berisi | sejumlah | poin | permintaan | salah | satunya | menggelar | sidang | pencabutan | mandat | Jokowi | Pengacara | Habiburokhman | merup | masih | dalam | koridor | aturan | menyebut | itulah | dasar | penetapan | tersangka | kasus | p>Delapan | orang | ditetapkan | sebagai | yakni | Suryo | Santjojo | Adityawarman | Thaha | Kivlan | Firza | Husein | Rachmawati | Soekarnoputri | Ratna | Sarumpaet | Alvin | Indra | Dari | delapan | hanya | kini | ditahan | (dhn | dhn)< |

Kivlan Zein Bercerita soal Penangkapannya atas Tuduhan Makar

JAKARTA, KOMPAS.com â€" Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zein (69) hanya tertawa ketika mengenang penangkapannya, Jumat (2/12/2012) pagi, menjelang unjuk rasa damai 212 di Monas, Jakarta.

Seperti dikutip dari Tribunnews.com , Senin (5/12/2016), Kivlan menceritakan kronologi penangkapannya.

Awalnya, sekitar pukul 04.45 WIB, dia baru selesai shalat subuh di kediamannya, Gading Griya Lestari, Blok H1 nomor 15, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Saat itu, Kivlan sudah siap untuk berangkat ke Silang Monas. Ia hendak mendampingi pemimpin Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, untuk memimpin unjuk rasa damai terkait proses hukum Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Tiba-tiba, rumahnya didatangi polisi, bersamaan dengan datangnya pembantu rumah. Sebanyak 20 polisi langsung masuk ke dalam rumah.

Saat itu, hanya ada Kivlan, seorang pembantu, dan staf di rumahnya. Sementara istri Kivlan tengah membesuk anak yang tengah sakit dan dirawat di Surabaya, Jawa Timur.

"Mereka langsung masuk menyerbu. Di depan pintu rumah saya sudah ada tiga orang berdiri," ujar Kivlan.

Ia mengaku awalnya kaget dengan kedatangan para polisi ke rumahnya kala pagi buta itu. Namun, dalam benaknya, ia menduga dirinya hendak diproses oleh polisi terkait dugaan makar.

Ia mengaku berusaha tenang karena ia sudah mengira apa yang menyebabkan sekelompok polisi tersebut mendatangi rumahnya, yakni tuduhan makar.

"Jadi saya sudah tahu bahwa dari berita bahwa polisi sudah menargetkan saya. Anak saya juga sudah cerita karena temannya banyak di polisi. Saya juga kaget waktu dikasih tahu, tapi itu sudah sebulan lalu," ujarnya.

Kivlan mempersilakan para polisi untuk duduk di ruang tamu rumahnya. Lantas, seorang polisi menyodorkan surat penggeledahan rumah. Ia tak melawan karena polisi membawa surat tersebut.

"Saya bilang, 'Kalau ada senjata ambil saja, kalau ada granat ambil saja. Kalau ada dokumen rancangan untuk makar, silakan (ambil)," ujarnya.

Beberapa polisi langsung membuka lemari dan laci meja. Mereka memeriksa sejumlah berkas, buku catatan, lembaran tiket pesawat perjalanan selama 5 sampai 10 tahun terakhir, hingga data dalam komputer jinjing atau laptop dan telepon genggamnya.

Namun, polisi tidak menemukan bukti petunjuk terkait rencana makar dari penggeledahan dan pemeriksaan tersebut. Polisi juga tidak menemukan senjata api maupun senjata tajam.

Polisi hanya menemukan beberapa berkas berisi karya tulisnya perihal kritik terhadap UUD 1945 perubahan dan ketatanegaraan.

Para polisi tersebut hendak membawa Kivlan dari rumahnya setelah penggeledahan. Namun, Kivlan tak begitu saja menuruti.

Sebab, ia merasa masih berstatus sebagai tentara cadangan yang seharusnya diproses oleh Polisi Militer TNI jika disangkakan melakukan tindak pidana tertentu.

Akhirnya, Kivlan manut setelah tiga personel PM TNI, termasuk Kasie Intel Kodam Jaya berpangkat Kapten, ternyata ikut dalam rombongan pihak kepolisian ini.

Kivlan mengaku tertawa saat mengalami proses penangkapannya itu. Sebab, ia pun pernah melakukan hal yang sama sewaktu menjadi Kepala Staf Kostrad pada 1998.

"Saya melihat itu, enggak apa-apa, saya ketawa saja. Saya sudah tahu. Dulu saya juga begini waktu saya dinas, waktu saya nangkapin orang begini juga, ya sudah sekarang saya ditangkapin orang, ya sudah," ujarnya.

Kivlan teringat dirinya sewaktu menjabat Kepala Staf Kostrad bersama Kodam Jaya dan Polri pernah memerintahkan penangkapan terhadap beberapa jenderal TNI dan mantan menteri yang melakukan pertemuan makar di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, pada 12 November 1998.

Menurut dia, kelompok tersebut ditangkap karena sudah jelas dan ada bukti permufakatan makar. Di antaranya telah memproklamasikan pemerintah koalisi nasional dan menentukan kabinet hingga susunan MPR-nya.

"Ada Jenderal Kemal Idris, Toto S, dan banyak jenderal, termasuk ada Sri Bintang Pamungkas, Edi Sularsono. Ya, dulu juga kita perintahkan menangkap mereka karena mau makar pada masa Presiden Habibie," ucap Kivlan.

Kivlan mengaku tergelitik teringat pengalamannya itu dan apa yang dialaminya saat ini. Oleh karena itu, ia dapat memahami dan menghormati penangkapan yang dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap dirinya.

"Cuma saya ketawa saja," ujarnya. (Baca juga: Kivlan Zein: Saya Tidak Ditangkap, Saya Diundang)

Menurut Kivlan, tidak ada ketegangan antara dirinya ataupun para penyidik kepolisian saat menjalani proses pemeriksaan di Mako Brimob.

Ia pun tidak merasa sebagai seorang pesakitan yang hendak dicecar pertanyaan. Justru perbincangan santai disertai guyonan terjadi.

"Saya malah ketawa-ketawa. Karena kata mereka (penyidik), 'Bapak dulu kan mengajarkan kami begitu, untuk menangkapi orang'. Saya bilang, ya sudah enggak apa-apa, silakan saja, saya juga begitu," kata Kivlan seraya tertawa karena teringat perkataan penyidik tersebut.

(Abdul Qodir/Tribunnews.com)

---

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul: Kivlan Zein Justru Tertawa Ditangkap Polisi, Ini Alasannya


Kompas TV Jadi Tersangka, Ahmad Dhani Akan Ajukan Praperadilan

"

| Kivlan | Zein | Bercerita | soal | Penangkapannya | atas | Tuduhan | Makar | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> | Mayor | Jenderal | TNI< | (Purn) | Zein< | (69) | hanya | tertawa | ketika | mengenang | penangkapannya | Jumat | 2012) | pagi | menjelang | unjuk | rasa | damai | 212< | Monas | Jakarta | p> Seperti | dikutip | Tribunnews | Senin | 2016) | mencerit | kronologi | p> Awalnya | pukul | baru | selesai | shalat | subuh | kediamannya | Gading | Griya | Lestari | Blok | nomor | Kelapa | Utara | p> Saat | siap | untuk | berangkat | Silang | hendak | mendampingi | pemimpin | Front | Pembela | Islam< | (FPI) | Rizieq | Shihab< | memimpin | terkait | proses | hukum | Gubernur | nonaktif | Basuki | Tjahaja | Purnama< | atau | Ahok | p> Tiba | tiba | rumahnya | didatangi | polisi | bersamaan | dengan | datangnya | pembantu | rumah | Sebanyak | langsung | masuk | dalam | seorang | staf | Sementara | istri | tengah | membesuk | anak | yang | sakit | dirawat | Surabaya | Jawa | Timur | p> Mereka | menyerbu | depan | pintu | saya | tiga | orang | berdiri | ujar | p> Ia | mengaku | awalnya | kaget | kedatangan | para | kala | buta | Namun | benaknya | menduga | dirinya | diproses | oleh | dugaan | makar | berusaha | tenang | karena | mengira | menyebabkan | sekelompok | tersebut | mendatangi | yakni | tuduhan | p> Jadi | tahu | bahwa | berita | menargetkan | Anak | juga | cerita | temannya | banyak | Saya | waktu | dikasih | sebulan | ujarnya | p> Kivlan | mempersil | duduk | ruang | tamu | Lantas | menyodorkan | surat | penggeledahan | melawan | membawa | p> Saya | bilang | Kalau | senjata | ambil | kalau | granat | dokumen | rancangan | (ambil) | p> Beberapa | membuka | lemari | laci | meja | Mereka | memeriksa | sejumlah | berkas | buku | catatan | lembaran | tiket | pesawat | perjalanan | selama | sampai | tahun | terakhir | data | komputer | jinjing | laptop | telepon | genggamnya | p> Namun | menemukan | bukti | petunjuk | rencana | pemeriksaan | Polisi | maupun | tajam | p> Polisi | beberapa | berisi | karya | tulisnya | perihal | kritik | terhadap | 1945 | perubahan | ketatanegaraan | p> Para | setelah | begitu | menuruti | p> Sebab | merasa | masih | berstatus | sebagai | tentara | cadangan | seharusnya | Militer | jika | disangk | melakukan | tindak | pidana | tertentu | p> Akhirnya | manut | personel | termasuk | Kasie | Intel | Kodam | Jaya | berpangkat | Kapten | ternyata | ikut | rombongan | pihak | kepolisian | saat | mengalami | Sebab | pernah | sama | sewaktu | menjadi | Kepala | Staf | Kostrad | pada | 1998 | melihat | enggak | ketawa | Dulu | begini | dinas | nangkapin< | sekarang | ditangkapin< | teringat | menjabat | bersama | Polri< | memerintahkan | penangkapan | jenderal | mantan | menteri | pertemuan | Hotel | Sahid | November | p> Menurut | kelompok | ditangkap | jelas | permufakatan | antaranya | telah | memproklamasikan | pemerintah | koalisi | nasional | menentukan | kabinet | susunan | p> Ada | Kemal | Idris | Toto | Bintang | Pamungkas< | Sularsono | dulu | perintahkan | menangkap | masa | Presiden | Habibie | ucap | tergelitik | pengalamannya | dialaminya | Oleh | dapat | memahami | menghormati | dilakukan | p> Cuma | (Baca | juga: | Zein: | Tidak | Ditangkap | Diundang< | a>)< | ketegangan | antara | ataupun | penyidik | menjalani | Mako | Brimob | pesan | dicecar | pertanyaan | Justru | perbincangan | santai | disertai | guyonan | terjadi | malah | Karena | kata | (penyidik) | Bapak | mengajarkan | kami | menangkapi | seraya | perkataan | p> (Abdul | Qodir | com)< | strong>< | p> Artikel | tayang | judul: | Tertawa | Alasannya< | p> Kompas | span> | Jadi | Tersangka | Ahmad | Dhani< | Akan | Ajukan | Praperadilan< | p> |

Kivlan Zein Bercerita soal Penangkapannya atas Tuduhan Makar

JAKARTA, KOMPAS.com â€" Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zein (69) hanya tertawa ketika mengenang penangkapannya, Jumat (2/12/2012) pagi, menjelang unjuk rasa damai 212 di Monas, Jakarta.

Seperti dikutip dari Tribunnews.com , Senin (5/12/2016), Kivlan menceritakan kronologi penangkapannya.

Awalnya, sekitar pukul 04.45 WIB, dia baru selesai shalat subuh di kediamannya, Gading Griya Lestari, Blok H1 nomor 15, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Saat itu, Kivlan sudah siap untuk berangkat ke Silang Monas. Ia hendak mendampingi pemimpin Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, untuk memimpin unjuk rasa damai terkait proses hukum Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Tiba-tiba, rumahnya didatangi polisi, bersamaan dengan datangnya pembantu rumah. Sebanyak 20 polisi langsung masuk ke dalam rumah.

Saat itu, hanya ada Kivlan, seorang pembantu, dan staf di rumahnya. Sementara istri Kivlan tengah membesuk anak yang tengah sakit dan dirawat di Surabaya, Jawa Timur.

"Mereka langsung masuk menyerbu. Di depan pintu rumah saya sudah ada tiga orang berdiri," ujar Kivlan.

Ia mengaku awalnya kaget dengan kedatangan para polisi ke rumahnya kala pagi buta itu. Namun, dalam benaknya, ia menduga dirinya hendak diproses oleh polisi terkait dugaan makar.

Ia mengaku berusaha tenang karena ia sudah mengira apa yang menyebabkan sekelompok polisi tersebut mendatangi rumahnya, yakni tuduhan makar.

"Jadi saya sudah tahu bahwa dari berita bahwa polisi sudah menargetkan saya. Anak saya juga sudah cerita karena temannya banyak di polisi. Saya juga kaget waktu dikasih tahu, tapi itu sudah sebulan lalu," ujarnya.

Kivlan mempersilakan para polisi untuk duduk di ruang tamu rumahnya. Lantas, seorang polisi menyodorkan surat penggeledahan rumah. Ia tak melawan karena polisi membawa surat tersebut.

"Saya bilang, 'Kalau ada senjata ambil saja, kalau ada granat ambil saja. Kalau ada dokumen rancangan untuk makar, silakan (ambil)," ujarnya.

Beberapa polisi langsung membuka lemari dan laci meja. Mereka memeriksa sejumlah berkas, buku catatan, lembaran tiket pesawat perjalanan selama 5 sampai 10 tahun terakhir, hingga data dalam komputer jinjing atau laptop dan telepon genggamnya.

Namun, polisi tidak menemukan bukti petunjuk terkait rencana makar dari penggeledahan dan pemeriksaan tersebut. Polisi juga tidak menemukan senjata api maupun senjata tajam.

Polisi hanya menemukan beberapa berkas berisi karya tulisnya perihal kritik terhadap UUD 1945 perubahan dan ketatanegaraan.

Para polisi tersebut hendak membawa Kivlan dari rumahnya setelah penggeledahan. Namun, Kivlan tak begitu saja menuruti.

Sebab, ia merasa masih berstatus sebagai tentara cadangan yang seharusnya diproses oleh Polisi Militer TNI jika disangkakan melakukan tindak pidana tertentu.

Akhirnya, Kivlan manut setelah tiga personel PM TNI, termasuk Kasie Intel Kodam Jaya berpangkat Kapten, ternyata ikut dalam rombongan pihak kepolisian ini.

Kivlan mengaku tertawa saat mengalami proses penangkapannya itu. Sebab, ia pun pernah melakukan hal yang sama sewaktu menjadi Kepala Staf Kostrad pada 1998.

"Saya melihat itu, enggak apa-apa, saya ketawa saja. Saya sudah tahu. Dulu saya juga begini waktu saya dinas, waktu saya nangkapin orang begini juga, ya sudah sekarang saya ditangkapin orang, ya sudah," ujarnya.

Kivlan teringat dirinya sewaktu menjabat Kepala Staf Kostrad bersama Kodam Jaya dan Polri pernah memerintahkan penangkapan terhadap beberapa jenderal TNI dan mantan menteri yang melakukan pertemuan makar di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, pada 12 November 1998.

Menurut dia, kelompok tersebut ditangkap karena sudah jelas dan ada bukti permufakatan makar. Di antaranya telah memproklamasikan pemerintah koalisi nasional dan menentukan kabinet hingga susunan MPR-nya.

"Ada Jenderal Kemal Idris, Toto S, dan banyak jenderal, termasuk ada Sri Bintang Pamungkas, Edi Sularsono. Ya, dulu juga kita perintahkan menangkap mereka karena mau makar pada masa Presiden Habibie," ucap Kivlan.

Kivlan mengaku tergelitik teringat pengalamannya itu dan apa yang dialaminya saat ini. Oleh karena itu, ia dapat memahami dan menghormati penangkapan yang dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap dirinya.

"Cuma saya ketawa saja," ujarnya. (Baca juga: Kivlan Zein: Saya Tidak Ditangkap, Saya Diundang)

Menurut Kivlan, tidak ada ketegangan antara dirinya ataupun para penyidik kepolisian saat menjalani proses pemeriksaan di Mako Brimob.

Ia pun tidak merasa sebagai seorang pesakitan yang hendak dicecar pertanyaan. Justru perbincangan santai disertai guyonan terjadi.

"Saya malah ketawa-ketawa. Karena kata mereka (penyidik), 'Bapak dulu kan mengajarkan kami begitu, untuk menangkapi orang'. Saya bilang, ya sudah enggak apa-apa, silakan saja, saya juga begitu," kata Kivlan seraya tertawa karena teringat perkataan penyidik tersebut.

(Abdul Qodir/Tribunnews.com)

---

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul: Kivlan Zein Justru Tertawa Ditangkap Polisi, Ini Alasannya


Kompas TV Jadi Tersangka, Ahmad Dhani Akan Ajukan Praperadilan

"

| Kivlan | Zein | Bercerita | soal | Penangkapannya | atas | Tuduhan | Makar | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> | Mayor | Jenderal | TNI< | (Purn) | Zein< | (69) | hanya | tertawa | ketika | mengenang | penangkapannya | Jumat | 2012) | pagi | menjelang | unjuk | rasa | damai | 212< | Monas | Jakarta | p> Seperti | dikutip | Tribunnews | Senin | 2016) | mencerit | kronologi | p> Awalnya | pukul | baru | selesai | shalat | subuh | kediamannya | Gading | Griya | Lestari | Blok | nomor | Kelapa | Utara | p> Saat | siap | untuk | berangkat | Silang | hendak | mendampingi | pemimpin | Front | Pembela | Islam< | (FPI) | Rizieq | Shihab< | memimpin | terkait | proses | hukum | Gubernur | nonaktif | Basuki | Tjahaja | Purnama< | atau | Ahok | p> Tiba | tiba | rumahnya | didatangi | polisi | bersamaan | dengan | datangnya | pembantu | rumah | Sebanyak | langsung | masuk | dalam | seorang | staf | Sementara | istri | tengah | membesuk | anak | yang | sakit | dirawat | Surabaya | Jawa | Timur | p> Mereka | menyerbu | depan | pintu | saya | tiga | orang | berdiri | ujar | p> Ia | mengaku | awalnya | kaget | kedatangan | para | kala | buta | Namun | benaknya | menduga | dirinya | diproses | oleh | dugaan | makar | berusaha | tenang | karena | mengira | menyebabkan | sekelompok | tersebut | mendatangi | yakni | tuduhan | p> Jadi | tahu | bahwa | berita | menargetkan | Anak | juga | cerita | temannya | banyak | Saya | waktu | dikasih | sebulan | ujarnya | p> Kivlan | mempersil | duduk | ruang | tamu | Lantas | menyodorkan | surat | penggeledahan | melawan | membawa | p> Saya | bilang | Kalau | senjata | ambil | kalau | granat | dokumen | rancangan | (ambil) | p> Beberapa | membuka | lemari | laci | meja | Mereka | memeriksa | sejumlah | berkas | buku | catatan | lembaran | tiket | pesawat | perjalanan | selama | sampai | tahun | terakhir | data | komputer | jinjing | laptop | telepon | genggamnya | p> Namun | menemukan | bukti | petunjuk | rencana | pemeriksaan | Polisi | maupun | tajam | p> Polisi | beberapa | berisi | karya | tulisnya | perihal | kritik | terhadap | 1945 | perubahan | ketatanegaraan | p> Para | setelah | begitu | menuruti | p> Sebab | merasa | masih | berstatus | sebagai | tentara | cadangan | seharusnya | Militer | jika | disangk | melakukan | tindak | pidana | tertentu | p> Akhirnya | manut | personel | termasuk | Kasie | Intel | Kodam | Jaya | berpangkat | Kapten | ternyata | ikut | rombongan | pihak | kepolisian | saat | mengalami | Sebab | pernah | sama | sewaktu | menjadi | Kepala | Staf | Kostrad | pada | 1998 | melihat | enggak | ketawa | Dulu | begini | dinas | nangkapin< | sekarang | ditangkapin< | teringat | menjabat | bersama | Polri< | memerintahkan | penangkapan | jenderal | mantan | menteri | pertemuan | Hotel | Sahid | November | p> Menurut | kelompok | ditangkap | jelas | permufakatan | antaranya | telah | memproklamasikan | pemerintah | koalisi | nasional | menentukan | kabinet | susunan | p> Ada | Kemal | Idris | Toto | Bintang | Pamungkas< | Sularsono | dulu | perintahkan | menangkap | masa | Presiden | Habibie | ucap | tergelitik | pengalamannya | dialaminya | Oleh | dapat | memahami | menghormati | dilakukan | p> Cuma | (Baca | juga: | Zein: | Tidak | Ditangkap | Diundang< | a>)< | ketegangan | antara | ataupun | penyidik | menjalani | Mako | Brimob | pesan | dicecar | pertanyaan | Justru | perbincangan | santai | disertai | guyonan | terjadi | malah | Karena | kata | (penyidik) | Bapak | mengajarkan | kami | menangkapi | seraya | perkataan | p> (Abdul | Qodir | com)< | strong>< | p> Artikel | tayang | judul: | Tertawa | Alasannya< | p> Kompas | span> | Jadi | Tersangka | Ahmad | Dhani< | Akan | Ajukan | Praperadilan< | p> |

Sunday, December 4, 2016

Kivlan Zein Bercerita soal Penangkapannya atas Tuduhan Makar

JAKARTA, KOMPAS.com - Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zein (69) hanya tertawa ketika mengenang penangkapannya, Jumat (2/12) pagi, menjelang unjuk rasa damai 212 di Monas Jakarta.

Seperti dikutip dari Tribunnews.com , Senin (5/12/2016), Kivlan menceritakan kronologi penangkapannya.

Awalnya, sekitar pukul 04.45 WIB, dia baru selesai shalat Subuh di kediamannya, Gading Griya Lestari, Blok H1 nomor 15, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Saat itu, Kivlan sudah siap untuk berangkat ke Silang Monas. Ia hendak mendampingi Pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, untuk memimpin unjuk rasa damai terkait proses hukum Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Tiba-tiba, rumahnya didatangi polisi, bersamaan dengan datangnya pembantu rumah. Sebanyak 20 polisi langsung masuk ke dalam rumah.

Saat itu, hanya ada Kivlan, seorang pembantu dan staf di rumahnya. Sementara, istri Kivlan tengah membesuk anak yang tengah sakit dan dirawat di Surabaya, Jawa Timur.

"Mereka langsung masuk menyerbu. Di depan pintu rumah saya sudah ada tiga orang berdiri," ujar Kivlan.

Ia mengaku awalnya kaget dengan kedatangan para polisi ke rumahnya kala pagi buta itu. Namun, dalam benaknya ia menduga dirinya hendak diproses oleh polisi terkait dugaan makar.

Ia mengaku berusaha tenang karena ia sudah mengira apa yang menyebabkan sekelompok polisi tersebut mendatangi rumahnya, yakni tuduhan makar.

"Jadi saya sudah tahu bahwa dari berita bahwa polisi sudah menargetkan saya. Anak saya juga sudah cerita, karena temannya banyak di polisi. Saya juga kaget waktu dikasih tahu, tapi itu sudah sebulan lalu," ujarnya.

Kivlan mempersilakan para polisi untuk duduk di ruang tamu rumahnya. Lantas, seorang polisi menyodorkan surat penggeledahan rumah. Ia tak melawan karena polisi membawa surat tersebut.

"Saya bilang, 'Kalau ada senjata ambil saja, kalau ada granat ambil saja. Kalau ada dokumen rancangan untuk makar, silakan (ambil)," ujarnya.

Beberapa polisi langsung membuka lemari dan laci meja. Mereka memeriksa sejumlah berkas, buku catatan, lembaran tiket pesawat perjalanan selama 5 sampai 10 tahun terakhir, hingga data dalam komputer jinjing atau laptop dan telepon genggamnya.

Namun, polisi tidak menemukan bukti petunjuk terkait rencana makar dari penggeledahan dan pemeriksaan tersebut. Polisi juga tidak menemukan senjata api maupun senjata tajam.

Polisi hanya menemukan beberapa berkas berisi karya tulisnya perihal kritik terhadap UUD 1945 perubahan dan ketatanegaraan.

Para polisi tersebut hendak membawa Kivlan dari rumahnya setelah penggeledahan. Namun, Kivlan tak begitu saja menuruti.

Sebab, ia merasa masih berstatus sebagai tentara cadangan yang seharusnya diproses oleh Polisi Militer TNI jika disangkakan melakukan tindak pidana tertentu.

Akhirnya, Kivlan manut setelah tiga personel PM TNI, termasuk Kasie Intel Kodam Jaya berpangkat Kapten, ternyata ikut dalam rombongan pihak kepolisian ini.

Kivlan mengaku tertawa saat mengalami proses penangkapannya itu. Sebab, ia pun pernah melakukan hal yang sama sewaktu menjadi Kepala Staf Kostrad pada 1998.

"Saya melihat itu, enggak apa-apa, saya ketawa saja. Saya sudah tahu.Dulu saya juga begini waktu saya dinas, waktu saya nangkapin orang begini juga, ya sudah sekarang saya ditangkapin orang, ya sudah," ujarnya.

Kivlan teringat dirinya sewaktu menjabat Kepala Staf Kostrad bersama Kodam Jaya dan Polri, pernah memerintahkan penangkapan terhadap beberapa jenderal TNI dan mantan menteri yang melakukan pertemuan makar di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, pada 12 November 1998.

Menurut dia, kelompok tersebut ditangkap karena sudah jelas dan ada bukti permufakatan makar. Di antaranya telah memproklamirkan pemerintah koalisi nasional, menentukan kabinetnya hingga susunan MPR-nya.

"Ada Jenderal Kemal Idris, Toto S, dan banyak jenderal, termasuk ada Sri Bintang Pamungkas, Edi Sularsono. Yah, dulu juga kita perintahkan menangkap mereka karena mau makar pada masa Presiden Habibie," ucap Kivlan.

Kivlan mengaku tergelitik teringat pengalamannya itu dan apa yang dialaminya saat ini. Oleh karena itu, ia dapat memahami dan menghormati penangkapan yang dilakukan oleh pihak kepolisian kepada dirinya.

"Cuma saya ketawa saja," ujarnya. (Baca juga: Kivlan Zein: Saya Tidak Ditangkap, Saya Diundang)

Menurut Kivlan, tidak ada ketegangan antara dirinya maupun para penyidik kepolisian saat menjalani proses pemeriksaan di Mako Brimob.

Ia pun tidak merasa sebagai seorang pesakitan yang hendak dicecar pertanyaan. Justru perbincangan santai disertai guyonan terjadi.

"Saya malah ketawa-ketawa. Karena kata mereka (penyidik), 'Bapak dulu kan mengajarkan kami begitu, untuk menangkapi orang'. Saya bilang, ya sudah enggak apa-apa, silakan saja, saya juga begitu," kata Kivlan seraya tertawa karena teringat perkataan penyidik tersebut.

(Abdul Qodir/Tribunnews.com)

---

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul: Kivlan Zein Justru Tertawa Ditangkap Polisi, Ini Alasannya


Kompas TV Jadi Tersangka, Ahmad Dhani Akan Ajukan Praperadilan

"

| Kivlan | Zein | Bercerita | soal | Penangkapannya | atas | Tuduhan | Makar | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> | Mayor | Jenderal | TNI< | (Purn) | Zein< | (69) | hanya | tertawa | ketika | mengenang | penangkapannya | Jumat | pagi | menjelang | unjuk | rasa | damai | 212< | Monas | Jakarta | p> Seperti | dikutip | Tribunnews | Senin | 2016) | mencerit | kronologi | p> Awalnya | pukul | baru | selesai | shalat | Subuh | kediamannya | Gading | Griya | Lestari | Blok | nomor | Kelapa | Utara | p> Saat | siap | untuk | berangkat | Silang | hendak | mendampingi | Pimpinan | Front | Pembela | Islam< | (FPI) | Rizieq | Shihab< | memimpin | terkait | proses | hukum | Gubernur | nonaktif | Basuki | Tjahaja | Purnama< | atau | Ahok | p> Tiba | tiba | rumahnya | didatangi | polisi | bersamaan | dengan | datangnya | pembantu | rumah | Sebanyak | langsung | masuk | dalam | seorang | staf | Sementara | istri | tengah | membesuk | anak | yang | sakit | dirawat | Surabaya | Jawa | Timur | p> Mereka | menyerbu | depan | pintu | saya | tiga | orang | berdiri | ujar | p> Ia | mengaku | awalnya | kaget | kedatangan | para | kala | buta | Namun | benaknya | menduga | dirinya | diproses | oleh | dugaan | makar | berusaha | tenang | karena | mengira | menyebabkan | sekelompok | tersebut | mendatangi | yakni | tuduhan | p> Jadi | tahu | bahwa | berita | menargetkan | Anak | juga | cerita | temannya | banyak | Saya | waktu | dikasih | sebulan | ujarnya | p> Kivlan | mempersil | duduk | ruang | tamu | Lantas | menyodorkan | surat | penggeledahan | melawan | membawa | p> Saya | bilang | Kalau | senjata | ambil | kalau | granat | dokumen | rancangan | (ambil) | p> Beberapa | membuka | lemari | laci | meja | Mereka | memeriksa | sejumlah | berkas | buku | catatan | lembaran | tiket | pesawat | perjalanan | selama | sampai | tahun | terakhir | data | komputer | jinjing | laptop | telepon | genggamnya | p> Namun | menemukan | bukti | petunjuk | rencana | pemeriksaan | Polisi | maupun | tajam | p> Polisi | beberapa | berisi | karya | tulisnya | perihal | kritik | terhadap | 1945 | perubahan | ketatanegaraan | p> Para | setelah | begitu | menuruti | p> Sebab | merasa | masih | berstatus | sebagai | tentara | cadangan | seharusnya | Militer | jika | disangk | melakukan | tindak | pidana | tertentu | p> Akhirnya | manut | personel | termasuk | Kasie | Intel | Kodam | Jaya | berpangkat | Kapten | ternyata | ikut | rombongan | pihak | kepolisian | saat | mengalami | Sebab | pernah | sama | sewaktu | menjadi | Kepala | Staf | Kostrad | pada | 1998 | melihat | enggak | ketawa | Dulu | begini | dinas | nangkapin< | sekarang | ditangkapin< | teringat | menjabat | bersama | Polri< | memerintahkan | penangkapan | jenderal | mantan | menteri | pertemuan | Hotel | Sahid | November | p> Menurut | kelompok | ditangkap | jelas | permufakatan | antaranya | telah | memproklamirkan | pemerintah | koalisi | nasional | menentukan | kabinetnya | susunan | p> Ada | Kemal | Idris | Toto | Bintang | Pamungkas< | Sularsono | dulu | perintahkan | menangkap | masa | Presiden | Habibie | ucap | tergelitik | pengalamannya | dialaminya | Oleh | dapat | memahami | menghormati | dilakukan | kepada | p> Cuma | (Baca | juga: | Zein: | Tidak | Ditangkap | Diundang< | a>)< | ketegangan | antara | penyidik | menjalani | Mako | Brimob | pesan | dicecar | pertanyaan | Justru | perbincangan | santai | disertai | guyonan | terjadi | malah | Karena | kata | (penyidik) | Bapak | mengajarkan | kami | menangkapi | seraya | perkataan | p> (Abdul | Qodir | com)< | strong>< | p> Artikel | tayang | judul: | Tertawa | Alasannya< | p> Kompas | span> | Jadi | Tersangka | Ahmad | Dhani< | Akan | Ajukan | Praperadilan< | p> |

Friday, December 2, 2016

Kompolnas Anggap Kasus Makar Tak Ada Hubungan dengan Perkara Ahok

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Poengky Indarti menanggapi banyaknya wacana yang menyebut bahwa penangkapan sejumlah orang terkait dugaan makar berkaitan dengan dugaan penistaan agama dengan tersangka Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Polisi menangkap 10 orang yang diduga melakukan pemufakatan untuk bertindak makar.

"Kompolnas memandang tidak ada relevansinya penangkapan 10 orang yang diduga makar, dengan penanganan kasus dugaan penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang telah dilakukan oleh Polri," ujar Poengky melalui keterangan tertulis, Jumat (2/12/2016).

Poengky mengatakan, jika ada pihak yang keberatan dengan adanya penangkapan itu, maka ada upaya hukum yang tersedia, yakni praperadilan. Mereka bisa menguji keabsahan penangkapan lewat cara tersebut.

"Untuk substansi perkaranya sendiri, mari kita sama-sama menghargai sistem peradilan pidana yang berlaku di Indonesia," kata Poengky.

Masyarakat diminta mempercayakan proses penegakan hukum kepada Polri. Kompolnas, kata Poengky, meminta masyarakat untuk menebarkan kesejukan. Jangan lagi ada upaya memprovokasi hingga makar.

"Serta menghormati seluruh proses hukum yang tengah berlangsung," kata Poengky.

Mengenai doa bersama 2 Desember, Poengky mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat. Mereka berhasil membuktikan bahwa aksi yang dilakukan berjalan damai.

"Selamat bertugas kepada seluruh jajaran Polri atas jerih payahnya selama ini dalam melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, dan menegakkan hukum," kata Poengky.

Polisi menangkap 10 orang di tempat terpisah atas dugaan melakukan makar. Sepuluh orang tersebut sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Mereka adalah musisi Ahmad Dhani, aktivis Ratna Sarumpaet, Rachmawati Soekarnoputri, Sri Bintang Pamungkas, Kivlan Zein, Adityawarman, Jamran, Eko, Rizal Khobar, dan Firza Huzein.

"Kalau sudah ditangkap itu pasti sudah ditetapkan menjadi tersangka," kata Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Boy Rafli Amar.

(Baca juga: Ditanya soal Penangkapan 8 Orang Terkait Dugaan Makar, Ini Jawaban Jokowi)

Mereka ada yang dipersangkakan dengan Pasal 207 KUHP tentang penghinaan terhadap penguasa, ada yang terkena Pasal 107 KUHP juncto Pasal 110 KUHP juncto Pasal 87 KUHP tentang Makar, dan ada juga yang terkait Pasal UU ITE.

Boy belum dapat memastikan apakah mereka akan langsung ditahan atau tidak. Saat ini, kata dia, 10 orang tersebut masih menjalani pemeriksaan secara intensif.

(Baca juga: 10 Orang yang Diduga Makar Ingin Manfaatkan Momentum Doa Bersama 2 Desember)

Kompas TV Soal Isu Makar, Jokowi: Itu untuk Mengingatkan

"

| Kompolnas | Anggap | Kasus | Makar | Hubungan | dengan | Perkara | Ahok | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> | Komisioner | Komisi | Kepolisian | Nasional | (Kompolnas) | Poengky | Indarti | menanggapi | banyaknya | wacana | yang | menyebut | bahwa | penangkapan | sejumlah | orang | terkait | dugaan | makar | berkaitan | penistaan | agama | tersangka | Gubernur | nonaktif | Jakarta | Basuki | Tjahaja | Purnama< | alias | p> Polisi | menangkap | diduga | melakukan | pemufakatan | untuk | bertindak | p> Kompolnas | memandang | tidak | relevansinya | penanganan | kasus | dilakukan | oleh | (Ahok) | telah | Polri< | ujar | melalui | keterangan | tertulis | Jumat | 2016) | p> Poengky | mengatakan | jika | pihak | keberatan | adanya | maka | upaya | hukum | tersedia | yakni | praperadilan | Mereka | bisa | menguji | keabsahan | lewat | cara | tersebut | p> Untuk | substansi | perkaranya | sendiri | mari | kita | sama | menghargai | sistem | peradilan | pidana | berlaku | Indonesia | kata | p> Masyarakat | diminta | mempercayakan | proses | penegakan | kepada | meminta | masyarakat | menebarkan | kesejukan | Jangan | lagi | memprovokasi | hingga | p> Serta | menghormati | seluruh | tengah | berlangsung | p> Mengenai | bersama< | Desember< | mengapresiasi | terlibat | berhasil | membuktikan | aksi | berjalan | damai | p> Selamat | bertugas | jajaran | atas | jerih | payahnya | selama | dalam | melindungi | mengayomi | melayani | menegakkan | tempat | terpisah |  Sepuluh | sudah | ditetapkan | sebagai | p> Mereka | adalah | musisi | Ahmad | Dhani< | aktivis | Ratna | Sarumpaet | Rachmawati | Soekarnoputri | Bintang | Pamungkas | Kivlan | Zein | Adityawarman | Jamran | Rizal | Khobar | Firza | Huzein | p> Kalau | ditangkap | pasti | menjadi | Kepala | Divisi | Humas | Irjen | Rafli | Amar | p> (Baca | juga: | Ditanya | soal | Penangkapan | Orang | Terkait | Dugaan | Jawaban | Jokowi< | a>)< | dipersangkakan | Pasal | KUHP | tentang | penghinaan | terhadap | penguasa | terkena | juncto | juga | ITE< | p> Boy | belum | dapat | memastikan | apakah | mereka | akan | langsung | ditahan | atau | Saat | masih | menjalani | pemeriksaan | secara | intensif | Diduga | Ingin | Manfaatkan | Momentum | Bersama | p> Kompas | span> | Soal | Jokowi: | Mengingatkan< | p> |