Showing posts sorted by relevance for query keliru. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query keliru. Sort by date Show all posts

Sunday, December 4, 2016

Polri Sebut Rachmawati Cs Makar dalam Bentuk Permufakatan

Liputan6.com, Jakarta Polri telah menangkap 11 aktivis dan tokoh nasional, salah satunya putri Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri, sebagai tersangka dugaan makar. Penangkapan dilakukan sesaat sebelum aksi damai Jumat 2 Desember di Monas dimulai.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan, makar memiliki banyak pengertian berdasarkan pada hukum yang berlaku di Indonesia.

"Antara lain makar terhadap kepala negara, makar terhadap upaya menggulingkan pemerintahan yang sah, makar sebagai permufakatan, dan makar oleh pemberontakan, biasanya dengan senjata api dan sebagainya," ujar Boy di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Sabtu (3/12/2016).

Boy menjelaskan, yang saat ini ditangani Polri merupakan makar sebagai sebuah permufakatan. Di mana hal itu dapat dikategorikan sebagai perbuatan delik formil, sehingga penangkapan terhadap para tersangka tidak perlu menunggu perbuatan makar terjadi.

"Artinya dia tidak perlu terjadi perbuatan makar itu, tapi dengan adanya rencana dan kesepakatan, permufakatan oleh sekelompok orang dapat dipersangkakan dengan pasal ini (Pasal 170 jo Pasal 110 jo Pasal 87 KUHP)," jelas dia.

Namun begitu, Boy menegaskan bahwa polisi telah memiliki bukti permulaan yang kuat untuk menangkap dan mempersangkakan mereka dalam perkara dugaan makar. Polisi bahkan telah mengindikasikan pidana ini jauh-jauh hari.

"Penyidik perlahan mendeteksi adanya berbagai pertemuan, kegiatan, penyelidikan, pengumpulan alat bukti, dan rumusan permufakatan itu," kata Boy.

Penyelidikan ini secara intens dilakukan sekitar tiga pekan lalu, atau setelah aksi besar-besaran pada Jumat 4 November 2016. Indikasi adanya upaya makar juga pernah disampaikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian jauh sebelum aksi damai 2 Desember direncanakan.

"Jadi setelah peristiwa itu (demo 4 November), ketika masyarakat antusias melakukan unjuk rasa, ada upaya-upaya yang tidak sejalan dengan aspirasi yang sebenarnya, tapi justru memiliki tujuan lain," jelas dia.

Sebagai Edukasi

Boy menuturkan, penangkapan 11 tokoh terkait dugaan makar ini cukup bagus dijadikan sebagai pembelajaran atau edukasi terhadap masyarakat. Sebab, selama ini banyak masyarakat yang mengartikan makar sebagai bentuk pemberontakan bersenjata.

"Selama ini makar diartikan suatu yang sensitif, yang dikonotasikan dengan tindakan pemberontakan bersenjata," kata Boy.

"Tapi makar di era demokrasi ini, dia memanfaatkan ruang demokrasi untuk menelurkan ide, gagasan yang bisa disalahartikan oleh sekelompok orang, dan bisa menggulirkan suatu reaksi yang bersifat penghasutan," sambung dia.

Menurut Boy, demokrasi bukan berarti masyarakat bebas berbuat semaunya tanpa memperhatikan aturan hukum. Sebagai negara hukum, kebebasan di Indonesia tentu tidak absolut.

"Karena hukum itu harus diyakini menjadi sebuah produk yang demokratis karena melalui proses legislasi," terang Jenderal Bintang Dua itu.

Mantan Kapolda Banten itu meminta, masyarakat berpikir jernih terlebih dulu dalam setiap tindakan. Jangan sampai masyarakat terjebak dalam kebebasan yang kebablasan.

"Jadi ini adalah sesuatu yang perlu kita simak, jangan sampai menjadi sebuah pemahaman yang nanti keliru, melahirkan suatu kegiatan yang inskonstitusional," pungkas Boy.

"

| Polri | Sebut | Rachmawati | Makar | dalam | Bentuk | Permufakatan | Liputan6 | Jakarta< | strong> | telah | menangkap | aktivis | tokoh | nasional | salah | satunya | putri | Bung | Karno | Soekarnoputri | sebagai | tersangka | dugaan | makar< | Penangkapan | dilakukan | sesaat | aksi | damai | Jumat | Desember | Monas | dimulai | p> Kadiv | Humas | Mabes | Irjen | Rafli | Amar | mengat | makar | memiliki | banyak | pengertian | berdasarkan | pada | hukum | yang | berlaku | Indonesia | p> Antara | lain | terhadap | kepala | negara | upaya | menggulingkan | pemerintahan | permufakatan | oleh | pemberont | biasanya | dengan | senjata | sebagainya | ujar | Jakarta | Selatan | Sabtu | 2016) | p> Boy | menjelaskan | saat | ditangani | merup | sebuah | mana | dapat | dikategorikan | perbuatan | delik | formil | penangkapan | para | perlu | menunggu | terjadi | p> Artinya | adanya | rencana | kesepakatan | sekelompok | orang | dipersangk | pasal | (Pasal | Pasal | KUHP) | jelas | p> Namun | begitu | menegaskan | bahwa | polisi | bukti | permulaan | kuat | untuk | mempersangk | perkara | Polisi | bahkan | mengindikasikan | pidana | jauh | hari | p> Penyidik | perlahan | mendeteksi | berbagai | pertemuan | kegiatan | penyelidikan | pengumpulan | alat | rumusan | kata | p> Penyelidikan | secara | intens | tiga | pekan | atau | setelah | besar | besaran | November | 2016 | Indikasi | juga | pernah | disampaikan | Kapolri | Jenderal | Tito | Karnavian | direncan | p> Jadi | peristiwa | (demo | November) | ketika | masyarakat | antusias | melakukan | unjuk | rasa | sejalan | aspirasi | sebenarnya | justru | tujuan | p> Sebagai | Edukasi< | strong>< | menuturkan | terkait | cukup | bagus | dijadikan | pembelajaran | edukasi | Sebab | selama | mengartikan | bentuk | bersenjata | p> Selama | diartikan | suatu | sensitif | dikonotasikan | tind | p> Tapi | demokrasi | memanfaatkan | ruang | menelurkan | gagasan | disalahartikan | menggulirkan | reaksi | bersifat | penghasutan | sambung | p> Menurut | bukan | berarti | bebas | berbuat | semaunya | tanpa | memperhatikan | aturan | Sebagai | kebebasan | tentu | absolut | p> Karena | harus | diyakini | menjadi | produk | demokratis | karena | proses | legislasi | terang | Bintang | p> Mantan | Kapolda | Banten | meminta | berpikir | jernih | terlebih | dulu | setiap | Jangan | sampai | terjebak | kebablasan | adalah | sesuatu | simak | jangan | pemahaman | nanti | keliru | melahirkan | inskonstitusional | pungkas | p> |

Saturday, December 3, 2016

Makar Beda dengan Kritik ke Pemerintah

Jakarta - Polisi menegaskan bahwa secara definisi, makar dan kritik berbeda. Penegasan Polri soal perbedaan makar dengan kritik terkait penangkapan Rachmawati Soekarnoputri dkk.

"Ini bukan kritikan. Kritik dengan makar berbeda. Kritik memberikan masukan kepada pemerintah dengan pandangan kritis lumrah di negara demokrasi. Tetapi hukum tetap harus dipegang," ujar Kadiv Humas Irjen Boy Rafli di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Sabtu (3/12/2016).

Boy menjelaskan, dalam negara demokrasi diperbolehkan kritik. Namun hal itu harus sesuai dengan ketentuan hukum yang ada.

"Kita harus sadar bahwa ada hukumnya. Jadi jangan sampai di negara hukum kita serba boleh. Tidak demikian implementasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini juga yang akan kita sadarkan ke masyarakat," paparnya.

Sementara itu, dalam kaitan makar, kata Boy, ketujuh tersangka telah membuat suatu rencana dalam aksi demo 212 kemarin. Mereka diduga akan menduduki MPR dan DPR. Ketujuh tersangka itu adalah Kivlan Zen, Adityawarman Thaha, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko Suryo Santjojo, Alvin Indra, dan Rachmawati Soekarnoputri.

"Ada upaya-upaya yang tidak sejalan dengan aspirasi yang sebenarnya, tapi ada tujuan lain," paparnya.

Boy mengatakan tindakan polisi adalah upaya pembelajaran hukum di era demokrasi. Sebab, kebebasan itu tidak mutlak seenaknya begitu saja.

"Hukum diyakini menjadi sebuah produk. Jadi ini adalah sesuatu yang perlu kita simak, jangan sampai terjadi pemahaman yang nanti keliru. Jadi kebebasan kita yang dibatasi oleh hukum. Itu konsekuensinya negara hukum," pungkasnya.
(bag/tor)

"

| Makar | Beda | dengan | Kritik | Pemerintah | Jakarta< | strong> | Polisi | menegaskan | bahwa | secara | definisi | makar | kritik | berbeda | Penegasan | Polri | soal | perbedaan | terkait | penangkapan | Rachmawati | Soekarnoputri | bukan | kritikan | memberikan | masukan | kepada | pemerintah | pandangan | kritis | lumrah | negara | demokrasi | hukum | tetap | harus | dipegang | ujar | Kadiv | Humas | Irjen | Rafli | Mabes | Jalan | Trunojoyo | Jakarta | Selatan | Sabtu | 2016) | p>Boy | menjelaskan | dalam | diperbolehkan | Namun | sesuai | ketentuan | yang | p>Kita | sadar | hukumnya | Jadi | jangan | sampai | serba | boleh | Tidak | demikian | implementasi | kehidupan | berbangsa | bernegara | juga | sadarkan | masyarakat | paparnya | p>Sementara | kaitan | kata | ketujuh | tersangka | telah | membuat | suatu | rencana | aksi | demo | kemarin | Mereka | diduga | menduduki | Ketujuh | adalah | Kivlan | Adityawarman | Thaha | Ratna | Sarumpaet | Firza | Husein | Suryo | Santjojo | Alvin | Indra | p>Ada | upaya | sejalan | aspirasi | sebenarnya | tujuan | lain | mengat | tind | polisi | pembelajaran | Sebab | kebebasan | mutlak | seenaknya | begitu | p>Hukum | diyakini | menjadi | sebuah | produk | sesuatu | perlu | simak | terjadi | pemahaman | nanti | keliru | dibatasi | oleh | konsekuensinya | pungkasnya | (bag | tor)< |

Makar Beda dengan Kritik ke Pemerintah

Jakarta - Polisi menegaskan bahwa secara definisi, makar dan kritik berbeda. Penegasan Polri soal perbedaan makar dengan kritik terkait penangkapan Rachmawati Soekarnoputri dkk.

"Ini bukan kritikan. Kritik dengan makar berbeda. Kritik memberikan masukan kepada pemerintah dengan pandangan kritis lumrah di negara demokrasi. Tetapi hukum tetap harus dipegang," ujar Kadiv Humas Irjen Boy Rafli di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Sabtu (3/12/2016).

Boy menjelaskan, dalam negara demokrasi diperbolehkan kritik. Namun hal itu harus sesuai dengan ketentuan hukum yang ada.

"Kita harus sadar bahwa ada hukumnya. Jadi jangan sampai di negara hukum kita serba boleh. Tidak demikian implementasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini juga yang akan kita sadarkan ke masyarakat," paparnya.

Sementara itu, dalam kaitan makar, kata Boy, ketujuh tersangka telah membuat suatu rencana dalam aksi demo 212 kemarin. Mereka diduga akan menduduki MPR dan DPR. Ketujuh tersangka itu adalah Kivlan Zen, Adityawarman Thaha, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko Suryo Santjojo, Alvin Indra, dan Rachmawati Soekarnoputri.

"Ada upaya-upaya yang tidak sejalan dengan aspirasi yang sebenarnya, tapi ada tujuan lain," paparnya.

Boy mengatakan tindakan polisi adalah upaya pembelajaran hukum di era demokrasi. Sebab, kebebasan itu tidak mutlak seenaknya begitu saja.

"Hukum diyakini menjadi sebuah produk. Jadi ini adalah sesuatu yang perlu kita simak, jangan sampai terjadi pemahaman yang nanti keliru. Jadi kebebasan kita yang dibatasi oleh hukum. Itu konsekuensinya negara hukum," pungkasnya.
(bag/tor)

"

| Makar | Beda | dengan | Kritik | Pemerintah | Jakarta< | strong> | Polisi | menegaskan | bahwa | secara | definisi | makar | kritik | berbeda | Penegasan | Polri | soal | perbedaan | terkait | penangkapan | Rachmawati | Soekarnoputri | bukan | kritikan | memberikan | masukan | kepada | pemerintah | pandangan | kritis | lumrah | negara | demokrasi | hukum | tetap | harus | dipegang | ujar | Kadiv | Humas | Irjen | Rafli | Mabes | Jalan | Trunojoyo | Jakarta | Selatan | Sabtu | 2016) | p>Boy | menjelaskan | dalam | diperbolehkan | Namun | sesuai | ketentuan | yang | p>Kita | sadar | hukumnya | Jadi | jangan | sampai | serba | boleh | Tidak | demikian | implementasi | kehidupan | berbangsa | bernegara | juga | sadarkan | masyarakat | paparnya | p>Sementara | kaitan | kata | ketujuh | tersangka | telah | membuat | suatu | rencana | aksi | demo | kemarin | Mereka | diduga | menduduki | Ketujuh | adalah | Kivlan | Adityawarman | Thaha | Ratna | Sarumpaet | Firza | Husein | Suryo | Santjojo | Alvin | Indra | p>Ada | upaya | sejalan | aspirasi | sebenarnya | tujuan | lain | mengat | tind | polisi | pembelajaran | Sebab | kebebasan | mutlak | seenaknya | begitu | p>Hukum | diyakini | menjadi | sebuah | produk | sesuatu | perlu | simak | terjadi | pemahaman | nanti | keliru | dibatasi | oleh | konsekuensinya | pungkasnya | (bag | tor)< |

Sunday, December 4, 2016

Politikus Gerindra Ini Desak Polisi Tak Tuduh Makar | hukum

Sekjen Komite Bangkit Indonesia Ferry Juliantono setelah menjalani sidang perdana di Pengadilan Jakarta Pusat, (19/11). Ferry Juliantono diduga mendalangi demo di depan DPR dan kampus Universitas Katolik Atmajaya Jakarta yang berakhir rusuh. TEMPO/Am

TEMPO.CO, Jakarta - Politikus Partai Gerindra Ferry Juliantono mendesak kepolisian untuk menghapuskan tuduhan makar terhadap pihak-pihak yang kritis menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Ia menginginkan kejadian penangkapan 11 aktivis adalah yang terakhir atas tuduhan mereka melakukan makar.

“Jangan lagi gunakan isu makar untuk orang-orang yang kritis di negara ini,” kata Ferry di Jakarta, Sabtu, 3 Desember 2016. Ia beralasan apabila kepolisian menilai sikap kritis terhadap pemerintah diartikan sebagai makar maka adalah sikap yang keliru. Sebab, nantinya sudah tidak ada lagi perbedaan antara kritis dan makar.

Ferry menilai makar adalah penggunaan kekuasaan bersenjata untuk menggulingkan pemerintahan. Untuk 11 orang yang ditangkap polisi menjelang aksi super damai Jumat kemarin hanyalah orang yang kritis menyuarakan aspirasi kepada pemerintah. Ia menilai tidak mungkin kesebelas orang itu melakukan makar.

Menurut Ferry, kasus penangkapan adalah buntut dari ketidaktegasan aparat kepolisian dalam menangani perkara dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Polisi dinilai kebingungan dan terkesan melindungi Ahok.

Ferry justru khawatir, ketidaktegasan kepolisian untuk menahan Ahok berbuntut pada aksi lain yang tidak sedamai aksi bela Islam jilid lll kemarin. Ia mendesak agar polisi segera menahan Ahok. “Kalau Ahok ditahan, pasti aman,” ujar dia.

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan pihaknya sudah membebaskan 8 dari 11 orang yang ditangkap atas dugaan makar. Namun 3 orang lainnya dipastikan ditahan. Mereka berinisial J, RK, dan SBP.

Martinus berasalan penyidik telah menemukan bukti-bukti yang cukup untuk menahan tida orang itu. Ia menyebutkan sudah ada upaya perencanaan makar yang dilakukan. Yaitu mendompleng aksi bela Islam jilid lll dengan agenda politik. Ia mengatakan ada upaya bergerak ke DPR dan memaksa parlemen menggelar sidang istimewa.

DANANG FIRMANTO

"

| Politikus | Gerindra | Desak | Polisi | Tuduh | Makar | hukum | Sekjen | Komite | Bangkit | Indonesia | Ferry | Juliantono | setelah | menjalani | sidang | perdana | Pengadilan | Jakarta | Pusat | diduga | mendalangi | demo | depan | kampus | Universitas | Katolik | Atmajaya | yang | berakhir | rusuh | TEMPO | p> TEMPO | strong>< | span> | Jakarta< | Partai | mendesak | kepolisian | untuk | menghapuskan | tuduhan | makar | terhadap | pihak | kritis | menyampaikan | aspirasi | kepada | pemerintah | menginginkan | kejadian | penangkapan | aktivis | adalah | terakhir | atas | melakukan | p>“Jangan | lagi | orang | negara | kata | Sabtu | Desember | 2016 | beralasan | apabila | menilai | sikap | diartikan | sebagai | maka | keliru | Sebab | nantinya | perbedaan | antara | p>Ferry | penggunaan | kekuasaan | bersenjata | menggulingkan | pemerintahan | Untuk | ditangkap | polisi | menjelang | aksi | super | damai | Jumat | kemarin | hanyalah | menyuar | mungkin | kesebelas | p>Menurut | kasus | buntut | ketegasan | aparat | dalam | menangani | perkara | dugaan | penistaan | agama | dilakukan | Gubernur | Basuki | Tjahaja | Purnama | alias | Ahok | dinilai | kebingungan | terkesan | melindungi | p> Ferry | justru | khawatir | menahan | berbuntut | pada | lain | sedamai | bela | Islam | jilid | agar | segera | “Kalau | ditahan | pasti | aman | ujar | p>Kepala | Bagian | Penerangan | Umum | Mabes | Polri | Komisaris | Besar | Martinus | Sitompul | mengat | pihaknya | membebaskan | Namun | lainnya | dipastikan | Mereka | berinisial | p>Martinus | berasalan | penyidik | telah | menemukan | bukti | cukup | tida | menyebutkan | upaya | perencanaan | Yaitu | mendompleng | dengan | agenda | politik | bergerak | memaksa | parlemen | menggelar | istimewa | p>DANANG | FIRMANTO< | p> < | div> |