Showing posts sorted by relevance for query sesuatu. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query sesuatu. Sort by date Show all posts

Wednesday, December 7, 2016

Komisi III DPR Dukung Langkah Polri Soal Dugaan Makar 2 Desember

Bintang.com, Jakarta Anggota Komisi III DPR Aziz Syamsudin mendukung langkah kepolisian mengamankan 11 tokoh dan aktivis terkait dugaan makar. Ia bahkan mengapresiasi respons cepat Polri, khususnya Polda Metro Jaya dalam mengantisipasi terjadinya sesuatu yang dianggap bisa mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Saya masih menaruh apresiasi yang tinggi pada penegak hukum dalam melakukan tugas dan kewenangannya secara profesional berdasarkan ketentuan dan aturan perundang-undangan,” kata Aziz saat dihubungi Rabu (7/12/2016).

Politisi Partai Golkar ini menilai, polisi tentunya punya alasan untuk menangkap dan menetapkan delapan dari 11 tokoh dan aktivis sebagai tersangka. “Tentu penegak hukum punya alasan, punya petunjuk dan punya bukti dalam menetapkan seseorang sebagai tersangka,” tegasnya.

Aziz juga menaruh hormat terkait sikap TNI yang tetap solid, meski ada dua purnawirawan yang ikut ditangkap. “TNI dalam fungsi dan tugasnya yang diatur dalam undang-undang kan (memang) untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Apresiasi yang tinggi pada Polda Metro Jaya turut disampaikan Praktisi Hukum M Zakir Rasyidin. “Sebab kita tahu makar tidak hanya berbahaya dalam konteks politik, namun juga dalam aspek ekonomi maupun sosial budaya. Sehingga siapapun yang mau mencoba melakukan makar, maka sudah menjadi tugas kepolisian untuk menegakkan aturannya,” jelas Zakir.

Pasukan Asmaul Husna sebenarnya sudah ada sejak 2008 lalu. (Bintang.com/Nurwahyunan)

Apresiasi serupa juga dialamatkan Zakir kepada TNI. “TNI tetap Konsekuen terhadap tangungjawabnya dalam mempertahankan negara. Pernyataan Pangdam Jaya saya kira sudah menjadi kesimpulan bahwa isu keberatan TNI terkait penangkapan para purnawirawan TNI tidak benar,” tegasnya.

Menurutnya, Indonesia menganut prinsip Hukum Equality Before The Law. “Artinya semua warga negara sama kedudukannya di hadapan Hukum, sehingga tidak ada satupun yang kebal hukum. Ketika dianggap melanggar hukum, itu sudah menjadi tugas polisi untuk memprosesnya,” pungkas Zakir.

Kapolda Metro Jaya Mochammad Iriawan dan Pangdam Jaya Teddy Lhaksmana | foto : istimewa

Seperti diketahui  Jumat, 2 Desember 2016, publik dikejutkan dengan penangkapan 11 orang terkait dugaan makar. Mereka ditangkap polisi dalam rentang waktu pukul 03 . 00 WIB hingga 06.00 WIB.

Mereka yang ditangkap yaitu Sri Bintang Pamungkas, Rachmawati Soekarnoputri , Ratna Sarumpaet, Kivlan Zein, Adityawarman Thahar, Firza Huzein, Eko Santjojo, dan Alvin Indra. Kedelapan orang itu ditetapkan sebagai tersangka. Mereka dijerat Pasal 107 Juncto Pasal 110 Juncto Pasal 87 KUHP tentang perbuatan makar dan pemufakatan Jahat untuk melakukan makar.

Polisi juga menangkap dan menetapkan tersangka pada Rizal Kobar dan Jamran. Keduanya dijerat Pasal 107 Juncto Pasal 110 Juncto Pasal 87 KUHP & Pasal 28 UU Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Terakhir, Ahmad Dhani. Dia dijerat Pasal 207 KUHP tentang Penghinaan terhadap Penguasa.

"

| Komisi | Dukung | Langkah | Polri | Soal | Dugaan | Makar | Desember | Bintang | Jakarta< | strong> | Anggota | DPR< | a> Aziz | Syamsudin | mendukung | langkah | kepolisian | mengamankan | tokoh | aktivis | terkait | dugaan | makar | bahkan | mengapresiasi | respons | cepat | khususnya | Polda | Metro | Jaya | dalam | mengantisipasi | terjadinya | sesuatu | yang | dianggap | mengganggu | keamanan | ketertiban | masyarakat | p> “Saya | masih | menaruh | apresiasi | tinggi | pada | penegak | hukum | melakukan | tugas | kewenangannya | secara | profesional | berdasarkan | ketentuan | aturan | perundang | undangan | kata | Aziz | saat | dihubungi | Rabu | 2016) | p> Politisi | Partai | Golkar | menilai | polisi | tentunya | punya | alasan | untuk | menangkap | menetapkan | delapan | sebagai | tersangka | “Tentu | petunjuk | bukti | seseorang | tegasnya | p> Aziz | juga | hormat | sikap | tetap | solid | meski | purnawirawan | ikut | ditangkap | “TNI | fungsi | tugasnya | diatur | undang | (memang) | menjaga | keutuhan | Negara | Kesatuan | Republik | Indonesia | katanya | p> Apresiasi | turut | disampaikan | Praktisi | Hukum | Zakir | Rasyidin | “Sebab | tahu | hanya | berbahaya | konteks | politik | aspek | ekonomi | maupun | sosial | budaya | siapapun | mencoba | maka | menjadi | menegakkan | aturannya | jelas | p> < | serupa | dialamatkan | kepada | Konsekuen | terhadap | tangungjawabnya | mempertahankan | negara | Pernyataan | Pangdam | saya | kira | kesimpulan | bahwa | keberatan | penangkapan | para | benar | p> Menurutnya | menganut | prinsip | Equality | Before | “Artinya | semua | warga | sama | kedudukannya | hadapan | satupun | kebal | Ketika | melanggar | memprosesnya | pungkas | p> Seperti | diketahui |  Jumat | 2016 | publik | dikejutkan | dengan | orang | Mereka | rentang | waktu | pukul | p> Mereka | yaitu | Pamungkas | Rachmawati | Soekarnoputri | Ratna | Sarumpaet | Kivlan | Zein | Adityawarman | Thahar | Firza | Huzein | Santjojo | Alvin | Indra | Kedelapan | ditetapkan | dijerat | Pasal | Juncto | KUHP | tentang | perbuatan | makar< | a> dan | pemufakatan | Jahat | p> Polisi | Rizal | Kobar | Jamran | Keduanya | & | Nomor | 2008 | Informasi | Transaksi | Elektronik | Terakhir | Ahmad | Dhani | Penghinaan | Penguasa | p> |

Friday, December 2, 2016

Dunia Sorot Penahanan 10 Orang Diduga Makar Jelang Aksi Damai 212

Liputan6.com, Jakarta - Tak hanya demo 2 Desember yang menjadi sorotan dunia. Sejumlah media massa asing juga memuat laporan penangkapan 10 orang terduga makar.

Melalui artikel berjudul "Jakarta protests: Treason arrests as mass rally against city's Governor, Ahok, get underway", ABC News memuat pernyataan Karo Penmas Mabes Polri Kombes Rikwanto yang mengatakan 10 orang ditangkap pagi tadi. Delapan di antaranya terduga makar dan konspirasi jahat, sementara dua lainnya melanggar Undang-Undang ITE.

"Polisi mengatakan mereka yang ditangkap atas dugaan makar tengah diinterogasi dan dimintai keterangan lebih lanjut," demikian laporan dari ABC News, Jumat, (2/12/2016).

Dalam laporannya, ABC News juga memuat bahwa salah satu dari 10 orang yang ditangkap tersebut adalah adik presiden ke-5, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati. Disebutkan pula bahwa pengacara terkenal Indonesia, Yusril Ihza Mahendra, setuju untuk menjadi kuasa hukum mereka yang ditangkap atas dugaan makar.

"Saya akan membela mereka karena saya percaya mereka berjuang untuk sesuatu yang mereka yakini benar, sah, dan konstitusional," ujar Yusril.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo enggan banyak berkomentar terkait penangkapan tersebut. Ia justru mengungkap kecil kemungkinan bahwa demo 2 Desember akan diwarnai kerusuhan.

"Itu berdasarkan komitmen yang telah disepakati. Saya rasa ini akan menjadi aksi yang super damai. Super oke," ujar pria yang akrab disapa Jokowi itu.

Sementara itu media asing lainnya, Reuters, dalam laporannya yang bertajuk "Sea of protesters in Jakarta amid fury over Christian governor" menuliskan 10 orang ditangkap menjelang pagi, di mana delapan di antaranya terduga makar. Dan dua lainnya didakwa melanggar UU ITE.

"Mereka kini ditahan dan tengah menjalani pemeriksaan," ujar Kombes Rikwanto.

Media Singapura, Straits Times, dengan laporannya berjudul "Indonesia arrests 10 for dissident activities, charges 8 of them for treason" juga menginformasikan peristiwa serupa. Pihak kepolisian RI dilaporkan menangkap 10 tersangka dengan delapan di antaranya terduga makar, sementara dua lainnya melanggar pasal UU ITE.

"Kombes Rikwanto tidak menyebutkan nama, tapi mengidentifikasi mereka dengan sembilan inisial, yakni AD, E, AD, KZ, FH, RA, JA, RK dan SB," tulis Straits Times dalam laporannya.

Disebutkan pula bahwa beberapa yang ditangkap termasuk tokoh politik dan aktivis yang vokal terhadap mengkritik Presiden Jokowi dan gubernur non-aktif Basuki Tjahaja Purnama.

Ada pula News Ghana yang menulis laporan bertajuk "Indonesian police arrest 10 over treason allegation".

"Kesepuluh orang tersebut ditangkap sekitar pukul 03.00 hingga pukul 06.00 pagi tadi. Mereka saat ini tengah diinvestigasi di Markas Brimob. Di antara yang ditahan adalah Ratna Sarumpaet, Sri Bintang Pamungkas, pensiunan jenderal Kivlan Zen, mantan menteri Rizal Ramli, bintang rock Dhani Ahmad dan Rachmawati Soekarnoputri yang merupakan adik dari mantan Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri," tulis News Ghana yang mengutip laporan Xinhua.

Media tersebut mengutip pernyataan pihak kepolisian RI yang mengatakan, penangkapan kesepuluh orang ini tidak ada kaitannya dengan aksi damai 2 Desember yang tengah berlangsung di ibu kota.

Dalam beberapa waktu ke depan Kepala Kepolisian RI, Jenderal Tito Karnavian, dilaporkan akan menggelar konferensi pers untuk menjelaskan peristiwa penangkapan 10 orang ini.

"

| Dunia | Sorot | Penahanan | Orang | Diduga | Makar | Jelang | Aksi | Damai | Liputan6 | Jakarta | strong> | hanya | demo | Desember< | a> yang | menjadi | sorotan | dunia | Sejumlah | media | massa | asing | juga | memuat | laporan | penangkapan | orang | terduga | makar | p> Melalui | artikel | berjudul | protests: | Treason | arrests | mass | rally | against | citys | Governor | Ahok | underway | News< | em> memuat | pernyataan | Karo | Penmas | Mabes | Polri | Kombes | Rikwanto | yang | mengatakan | ditangkap | pagi | tadi | Delapan | antaranya | konspirasi | jahat | sementara | lainnya | melanggar | Undang | p> Polisi | mereka | atas | dugaan | tengah | diinterogasi | dimintai | keterangan | lebih | lanjut | demikian | dari | News | Jumat | 2016) | p> Dalam | laporannya | bahwa | salah | satu | tersebut | adalah | adik | presiden | Megawati | Soekarnoputri | Rachmawati | Disebutkan | pula | pengacara | terkenal | Indonesia | Yusril | Ihza | Mahendra | setuju | untuk | kuasa | hukum | p> Saya | akan | membela | karena | saya | percaya | berjuang | sesuatu | yakini | benar | konstitusional | ujar | p> Sementara | Presiden | Joko | Widodo | enggan | banyak | berkomentar | terkait | justru | mengungkap | kecil | kemungkinan | a> akan | diwarnai | kerusuhan | p> Itu | berdasarkan | komitmen | telah | disepakati | Saya | rasa | aksi | super | damai | Super | pria | akrab | disapa | Jokowi | Reuters | dalam | bertajuk | protesters | amid | fury | over | Christian | governor | menuliskan | menjelang | mana | delapan | didakwa | p> Mereka | kini | ditahan | menjalani | pemeriksaan | p> Media | Singapura | Straits | Times | dengan | dissident | activities | charges | them | treason | menginformasikan | peristiwa | serupa | Pihak | kepolisian | dilaporkan | menangkap | tersangka | pasal | p> Kombes | tidak | menyebutkan | nama | tapi | mengidentifikasi | sembilan | inisial | yakni | tulis | Times< | p> Disebutkan | beberapa | termasuk | tokoh | politik | aktivis | vokal | terhadap | mengkritik | gubernur | aktif | Basuki | Tjahaja | Purnama | p> Ada | Ghana< | menulis | bertajuk Indonesian | police | arrest | allegation | em>< | p> Kesepuluh | sekitar | pukul | hingga | Mereka | saat | diinvestigasi | Markas | Brimob | antara | Ratna | Sarumpaet | Bintang | Pamungkas | pensiunan | jenderal | Kivlan | mantan | menteri | Rizal | Ramli | bintang | rock< | Dhani | Ahmad | merupakan | mengutip | Xinhua | pihak | kesepuluh | kaitannya | berlangsung | kota | waktu | depan | Kepala | Kepolisian |  Jenderal | Tito | Karnavian | menggelar | konferensi | pers | menjelaskan | p> |

Yusril: Saya Akan Bela Mereka yang Ditangkap Diduga Makar

Liputan6.com, Jakarta - Delapan orang ditangkap polisi diduga terkait tindak pidana makar. Mereka yang ditangkap antara lain Rachmawati Soekarnoputri, Ahmad Dhani, dan Ratna Sarumpaet.

Mantan Menteri Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra menyatakan akan membela mereka yang kini diperiksa di Mako Brimob, Kelapa Dua.

"Benar, saya akan bela mereka karena saya yakin mereka memperjuangkan sesuatu yang mereka anggap benar, sah, dan konstitusional," kata Yusril saat dihubungi Liputan6.com di Jakarta, Jumat (2/12/2016).

"Saya sudah di Kelapa Dua," tutur Yusril.

Ia mengaku telah bicara dengan Ratna Sarumpaet. Dalam pembicaraan itu, Ratna mengatakan telah dijemput polisi di Hotel Sari Pacific dan dibawa ke markas Brimob Kelapa Dua.

"Bu Ratna bilang beliau akan dimintai keterangan karena ada bukti beliau dan kawan-kawan mau melakukan makar. Saya katakan kepada Bu Ratna saya dampingi beliau sebagai lawyer, begitu juga tokoh-tokoh lain yang diambil polisi pagi ini," ungkap Yusril.

Selain berbicara dengan Ratna, Yusril mengaku belum dapat berkomunikasi dengan pihak lain yang diduga ikut ditangkap karena diduga merencanakan makar. "Seperti Kivlan Zen, Adityawarman Taha, Jamran, Hatta Taliwang, Sri Bintang Pamungkas, dan lainnya," ujar Yusril.

"Mereka semua termasuk Bu Rachmawati Soekarnoputri dikabarkan dijemput polisi dini hari tadi," Yusril menjelaskan.

"

| Yusril: | Saya | Akan | Bela | Mereka | yang | Ditangkap | Diduga | Makar | Liputan6 | Jakarta | strong> | Delapan | orang | ditangkap | polisi | diduga | terkait | tindak | pidana | makar< | antara | lain | Rachmawati | Soekarnoputri | Ahmad | Dhani | Ratna | Sarumpaet | p> Mantan | Menteri | Hukum | Yusril | Ihza | Mahendra | menyatakan | akan | membela | mereka | kini | diperiksa | Mako | Brimob | Kelapa | p> Benar | saya | bela | karena | yakin | memperjuangkan | sesuatu | anggap | benar | konstitusional | kata | saat | dihubungi | com< | Jumat | 2016) | p> Saya | sudah | tutur | p> Ia | mengaku | telah | bicara | dengan | Dalam | pembicaraan | mengatakan | dijemput | Hotel | Sari | Pacific | dibawa | markas | p> Bu | bilang | beliau | dimintai | keterangan | bukti | kawan | melakukan | katakan | kepada | dampingi | sebagai | lawyer< | begitu | juga | tokoh | diambil | pagi | ungkap | p> Selain | berbicara | belum | dapat | berkomunikasi | pihak | ikut | merencanakan | Seperti | Kivlan | Adityawarman | Taha | Jamran | Hatta | Taliwang | Bintang | Pamungkas | lainnya | ujar | p> Mereka | semua | termasuk | dikabarkan | dini | hari | tadi | menjelaskan | p> |

Sunday, December 4, 2016

Polri Sebut Rachmawati Cs Makar dalam Bentuk Permufakatan

Liputan6.com, Jakarta Polri telah menangkap 11 aktivis dan tokoh nasional, salah satunya putri Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri, sebagai tersangka dugaan makar. Penangkapan dilakukan sesaat sebelum aksi damai Jumat 2 Desember di Monas dimulai.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan, makar memiliki banyak pengertian berdasarkan pada hukum yang berlaku di Indonesia.

"Antara lain makar terhadap kepala negara, makar terhadap upaya menggulingkan pemerintahan yang sah, makar sebagai permufakatan, dan makar oleh pemberontakan, biasanya dengan senjata api dan sebagainya," ujar Boy di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Sabtu (3/12/2016).

Boy menjelaskan, yang saat ini ditangani Polri merupakan makar sebagai sebuah permufakatan. Di mana hal itu dapat dikategorikan sebagai perbuatan delik formil, sehingga penangkapan terhadap para tersangka tidak perlu menunggu perbuatan makar terjadi.

"Artinya dia tidak perlu terjadi perbuatan makar itu, tapi dengan adanya rencana dan kesepakatan, permufakatan oleh sekelompok orang dapat dipersangkakan dengan pasal ini (Pasal 170 jo Pasal 110 jo Pasal 87 KUHP)," jelas dia.

Namun begitu, Boy menegaskan bahwa polisi telah memiliki bukti permulaan yang kuat untuk menangkap dan mempersangkakan mereka dalam perkara dugaan makar. Polisi bahkan telah mengindikasikan pidana ini jauh-jauh hari.

"Penyidik perlahan mendeteksi adanya berbagai pertemuan, kegiatan, penyelidikan, pengumpulan alat bukti, dan rumusan permufakatan itu," kata Boy.

Penyelidikan ini secara intens dilakukan sekitar tiga pekan lalu, atau setelah aksi besar-besaran pada Jumat 4 November 2016. Indikasi adanya upaya makar juga pernah disampaikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian jauh sebelum aksi damai 2 Desember direncanakan.

"Jadi setelah peristiwa itu (demo 4 November), ketika masyarakat antusias melakukan unjuk rasa, ada upaya-upaya yang tidak sejalan dengan aspirasi yang sebenarnya, tapi justru memiliki tujuan lain," jelas dia.

Sebagai Edukasi

Boy menuturkan, penangkapan 11 tokoh terkait dugaan makar ini cukup bagus dijadikan sebagai pembelajaran atau edukasi terhadap masyarakat. Sebab, selama ini banyak masyarakat yang mengartikan makar sebagai bentuk pemberontakan bersenjata.

"Selama ini makar diartikan suatu yang sensitif, yang dikonotasikan dengan tindakan pemberontakan bersenjata," kata Boy.

"Tapi makar di era demokrasi ini, dia memanfaatkan ruang demokrasi untuk menelurkan ide, gagasan yang bisa disalahartikan oleh sekelompok orang, dan bisa menggulirkan suatu reaksi yang bersifat penghasutan," sambung dia.

Menurut Boy, demokrasi bukan berarti masyarakat bebas berbuat semaunya tanpa memperhatikan aturan hukum. Sebagai negara hukum, kebebasan di Indonesia tentu tidak absolut.

"Karena hukum itu harus diyakini menjadi sebuah produk yang demokratis karena melalui proses legislasi," terang Jenderal Bintang Dua itu.

Mantan Kapolda Banten itu meminta, masyarakat berpikir jernih terlebih dulu dalam setiap tindakan. Jangan sampai masyarakat terjebak dalam kebebasan yang kebablasan.

"Jadi ini adalah sesuatu yang perlu kita simak, jangan sampai menjadi sebuah pemahaman yang nanti keliru, melahirkan suatu kegiatan yang inskonstitusional," pungkas Boy.

"

| Polri | Sebut | Rachmawati | Makar | dalam | Bentuk | Permufakatan | Liputan6 | Jakarta< | strong> | telah | menangkap | aktivis | tokoh | nasional | salah | satunya | putri | Bung | Karno | Soekarnoputri | sebagai | tersangka | dugaan | makar< | Penangkapan | dilakukan | sesaat | aksi | damai | Jumat | Desember | Monas | dimulai | p> Kadiv | Humas | Mabes | Irjen | Rafli | Amar | mengat | makar | memiliki | banyak | pengertian | berdasarkan | pada | hukum | yang | berlaku | Indonesia | p> Antara | lain | terhadap | kepala | negara | upaya | menggulingkan | pemerintahan | permufakatan | oleh | pemberont | biasanya | dengan | senjata | sebagainya | ujar | Jakarta | Selatan | Sabtu | 2016) | p> Boy | menjelaskan | saat | ditangani | merup | sebuah | mana | dapat | dikategorikan | perbuatan | delik | formil | penangkapan | para | perlu | menunggu | terjadi | p> Artinya | adanya | rencana | kesepakatan | sekelompok | orang | dipersangk | pasal | (Pasal | Pasal | KUHP) | jelas | p> Namun | begitu | menegaskan | bahwa | polisi | bukti | permulaan | kuat | untuk | mempersangk | perkara | Polisi | bahkan | mengindikasikan | pidana | jauh | hari | p> Penyidik | perlahan | mendeteksi | berbagai | pertemuan | kegiatan | penyelidikan | pengumpulan | alat | rumusan | kata | p> Penyelidikan | secara | intens | tiga | pekan | atau | setelah | besar | besaran | November | 2016 | Indikasi | juga | pernah | disampaikan | Kapolri | Jenderal | Tito | Karnavian | direncan | p> Jadi | peristiwa | (demo | November) | ketika | masyarakat | antusias | melakukan | unjuk | rasa | sejalan | aspirasi | sebenarnya | justru | tujuan | p> Sebagai | Edukasi< | strong>< | menuturkan | terkait | cukup | bagus | dijadikan | pembelajaran | edukasi | Sebab | selama | mengartikan | bentuk | bersenjata | p> Selama | diartikan | suatu | sensitif | dikonotasikan | tind | p> Tapi | demokrasi | memanfaatkan | ruang | menelurkan | gagasan | disalahartikan | menggulirkan | reaksi | bersifat | penghasutan | sambung | p> Menurut | bukan | berarti | bebas | berbuat | semaunya | tanpa | memperhatikan | aturan | Sebagai | kebebasan | tentu | absolut | p> Karena | harus | diyakini | menjadi | produk | demokratis | karena | proses | legislasi | terang | Bintang | p> Mantan | Kapolda | Banten | meminta | berpikir | jernih | terlebih | dulu | setiap | Jangan | sampai | terjebak | kebablasan | adalah | sesuatu | simak | jangan | pemahaman | nanti | keliru | melahirkan | inskonstitusional | pungkas | p> |

Saturday, December 3, 2016

Makar Beda dengan Kritik ke Pemerintah

Jakarta - Polisi menegaskan bahwa secara definisi, makar dan kritik berbeda. Penegasan Polri soal perbedaan makar dengan kritik terkait penangkapan Rachmawati Soekarnoputri dkk.

"Ini bukan kritikan. Kritik dengan makar berbeda. Kritik memberikan masukan kepada pemerintah dengan pandangan kritis lumrah di negara demokrasi. Tetapi hukum tetap harus dipegang," ujar Kadiv Humas Irjen Boy Rafli di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Sabtu (3/12/2016).

Boy menjelaskan, dalam negara demokrasi diperbolehkan kritik. Namun hal itu harus sesuai dengan ketentuan hukum yang ada.

"Kita harus sadar bahwa ada hukumnya. Jadi jangan sampai di negara hukum kita serba boleh. Tidak demikian implementasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini juga yang akan kita sadarkan ke masyarakat," paparnya.

Sementara itu, dalam kaitan makar, kata Boy, ketujuh tersangka telah membuat suatu rencana dalam aksi demo 212 kemarin. Mereka diduga akan menduduki MPR dan DPR. Ketujuh tersangka itu adalah Kivlan Zen, Adityawarman Thaha, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko Suryo Santjojo, Alvin Indra, dan Rachmawati Soekarnoputri.

"Ada upaya-upaya yang tidak sejalan dengan aspirasi yang sebenarnya, tapi ada tujuan lain," paparnya.

Boy mengatakan tindakan polisi adalah upaya pembelajaran hukum di era demokrasi. Sebab, kebebasan itu tidak mutlak seenaknya begitu saja.

"Hukum diyakini menjadi sebuah produk. Jadi ini adalah sesuatu yang perlu kita simak, jangan sampai terjadi pemahaman yang nanti keliru. Jadi kebebasan kita yang dibatasi oleh hukum. Itu konsekuensinya negara hukum," pungkasnya.
(bag/tor)

"

| Makar | Beda | dengan | Kritik | Pemerintah | Jakarta< | strong> | Polisi | menegaskan | bahwa | secara | definisi | makar | kritik | berbeda | Penegasan | Polri | soal | perbedaan | terkait | penangkapan | Rachmawati | Soekarnoputri | bukan | kritikan | memberikan | masukan | kepada | pemerintah | pandangan | kritis | lumrah | negara | demokrasi | hukum | tetap | harus | dipegang | ujar | Kadiv | Humas | Irjen | Rafli | Mabes | Jalan | Trunojoyo | Jakarta | Selatan | Sabtu | 2016) | p>Boy | menjelaskan | dalam | diperbolehkan | Namun | sesuai | ketentuan | yang | p>Kita | sadar | hukumnya | Jadi | jangan | sampai | serba | boleh | Tidak | demikian | implementasi | kehidupan | berbangsa | bernegara | juga | sadarkan | masyarakat | paparnya | p>Sementara | kaitan | kata | ketujuh | tersangka | telah | membuat | suatu | rencana | aksi | demo | kemarin | Mereka | diduga | menduduki | Ketujuh | adalah | Kivlan | Adityawarman | Thaha | Ratna | Sarumpaet | Firza | Husein | Suryo | Santjojo | Alvin | Indra | p>Ada | upaya | sejalan | aspirasi | sebenarnya | tujuan | lain | mengat | tind | polisi | pembelajaran | Sebab | kebebasan | mutlak | seenaknya | begitu | p>Hukum | diyakini | menjadi | sebuah | produk | sesuatu | perlu | simak | terjadi | pemahaman | nanti | keliru | dibatasi | oleh | konsekuensinya | pungkasnya | (bag | tor)< |

Makar Beda dengan Kritik ke Pemerintah

Jakarta - Polisi menegaskan bahwa secara definisi, makar dan kritik berbeda. Penegasan Polri soal perbedaan makar dengan kritik terkait penangkapan Rachmawati Soekarnoputri dkk.

"Ini bukan kritikan. Kritik dengan makar berbeda. Kritik memberikan masukan kepada pemerintah dengan pandangan kritis lumrah di negara demokrasi. Tetapi hukum tetap harus dipegang," ujar Kadiv Humas Irjen Boy Rafli di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Sabtu (3/12/2016).

Boy menjelaskan, dalam negara demokrasi diperbolehkan kritik. Namun hal itu harus sesuai dengan ketentuan hukum yang ada.

"Kita harus sadar bahwa ada hukumnya. Jadi jangan sampai di negara hukum kita serba boleh. Tidak demikian implementasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini juga yang akan kita sadarkan ke masyarakat," paparnya.

Sementara itu, dalam kaitan makar, kata Boy, ketujuh tersangka telah membuat suatu rencana dalam aksi demo 212 kemarin. Mereka diduga akan menduduki MPR dan DPR. Ketujuh tersangka itu adalah Kivlan Zen, Adityawarman Thaha, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko Suryo Santjojo, Alvin Indra, dan Rachmawati Soekarnoputri.

"Ada upaya-upaya yang tidak sejalan dengan aspirasi yang sebenarnya, tapi ada tujuan lain," paparnya.

Boy mengatakan tindakan polisi adalah upaya pembelajaran hukum di era demokrasi. Sebab, kebebasan itu tidak mutlak seenaknya begitu saja.

"Hukum diyakini menjadi sebuah produk. Jadi ini adalah sesuatu yang perlu kita simak, jangan sampai terjadi pemahaman yang nanti keliru. Jadi kebebasan kita yang dibatasi oleh hukum. Itu konsekuensinya negara hukum," pungkasnya.
(bag/tor)

"

| Makar | Beda | dengan | Kritik | Pemerintah | Jakarta< | strong> | Polisi | menegaskan | bahwa | secara | definisi | makar | kritik | berbeda | Penegasan | Polri | soal | perbedaan | terkait | penangkapan | Rachmawati | Soekarnoputri | bukan | kritikan | memberikan | masukan | kepada | pemerintah | pandangan | kritis | lumrah | negara | demokrasi | hukum | tetap | harus | dipegang | ujar | Kadiv | Humas | Irjen | Rafli | Mabes | Jalan | Trunojoyo | Jakarta | Selatan | Sabtu | 2016) | p>Boy | menjelaskan | dalam | diperbolehkan | Namun | sesuai | ketentuan | yang | p>Kita | sadar | hukumnya | Jadi | jangan | sampai | serba | boleh | Tidak | demikian | implementasi | kehidupan | berbangsa | bernegara | juga | sadarkan | masyarakat | paparnya | p>Sementara | kaitan | kata | ketujuh | tersangka | telah | membuat | suatu | rencana | aksi | demo | kemarin | Mereka | diduga | menduduki | Ketujuh | adalah | Kivlan | Adityawarman | Thaha | Ratna | Sarumpaet | Firza | Husein | Suryo | Santjojo | Alvin | Indra | p>Ada | upaya | sejalan | aspirasi | sebenarnya | tujuan | lain | mengat | tind | polisi | pembelajaran | Sebab | kebebasan | mutlak | seenaknya | begitu | p>Hukum | diyakini | menjadi | sebuah | produk | sesuatu | perlu | simak | terjadi | pemahaman | nanti | keliru | dibatasi | oleh | konsekuensinya | pungkasnya | (bag | tor)< |

Friday, December 2, 2016

Dunia Sorot Penahanan 10 Orang Diduga Makar Jelang Aksi Damai 212

Liputan6.com, Jakarta - Tak hanya demo 2 Desember yang menjadi sorotan dunia. Sejumlah media massa asing juga memuat laporan penangkapan 10 orang terduga makar.

Melalui artikel berjudul "Jakarta protests: Treason arrests as mass rally against city's Governor, Ahok, get underway", ABC News memuat pernyataan Karo Penmas Mabes Polri Kombes Rikwanto yang mengatakan 10 orang ditangkap pagi tadi. Delapan di antaranya terduga makar dan konspirasi jahat, sementara dua lainnya melanggar Undang-Undang ITE.

"Polisi mengatakan mereka yang ditangkap atas dugaan makar tengah diinterogasi dan dimintai keterangan lebih lanjut," demikian laporan dari ABC News, Jumat, (2/12/2016).

Dalam laporannya, ABC News juga memuat bahwa salah satu dari 10 orang yang ditangkap tersebut adalah adik presiden ke-5, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati. Disebutkan pula bahwa pengacara terkenal Indonesia, Yusril Ihza Mahendra, setuju untuk menjadi kuasa hukum mereka yang ditangkap atas dugaan makar.

"Saya akan membela mereka karena saya percaya mereka berjuang untuk sesuatu yang mereka yakini benar, sah, dan konstitusional," ujar Yusril.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo enggan banyak berkomentar terkait penangkapan tersebut. Ia justru mengungkap kecil kemungkinan bahwa demo 2 Desember akan diwarnai kerusuhan.

"Itu berdasarkan komitmen yang telah disepakati. Saya rasa ini akan menjadi aksi yang super damai. Super oke," ujar pria yang akrab disapa Jokowi itu.

Sementara itu media asing lainnya, Reuters, dalam laporannya yang bertajuk "Sea of protesters in Jakarta amid fury over Christian governor" menuliskan 10 orang ditangkap menjelang pagi, di mana delapan di antaranya terduga makar. Dan dua lainnya didakwa melanggar UU ITE.

"Mereka kini ditahan dan tengah menjalani pemeriksaan," ujar Kombes Rikwanto.

Media Singapura, Straits Times, dengan laporannya berjudul "Indonesia arrests 10 for dissident activities, charges 8 of them for treason" juga menginformasikan peristiwa serupa. Pihak kepolisian RI dilaporkan menangkap 10 tersangka dengan delapan di antaranya terduga makar, sementara dua lainnya melanggar pasal UU ITE.

"Kombes Rikwanto tidak menyebutkan nama, tapi mengidentifikasi mereka dengan sembilan inisial, yakni AD, E, AD, KZ, FH, RA, JA, RK dan SB," tulis Straits Times dalam laporannya.

Disebutkan pula bahwa beberapa yang ditangkap termasuk tokoh politik dan aktivis yang vokal terhadap mengkritik Presiden Jokowi dan gubernur non-aktif Basuki Tjahaja Purnama.

Ada pula News Ghana yang menulis laporan bertajuk "Indonesian police arrest 10 over treason allegation".

"Kesepuluh orang tersebut ditangkap sekitar pukul 03.00 hingga pukul 06.00 pagi tadi. Mereka saat ini tengah diinvestigasi di Markas Brimob. Di antara yang ditahan adalah Ratna Sarumpaet, Sri Bintang Pamungkas, pensiunan jenderal Kivlan Zen, mantan menteri Rizal Ramli, bintang rock Dhani Ahmad dan Rachmawati Soekarnoputri yang merupakan adik dari mantan Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri," tulis News Ghana yang mengutip laporan Xinhua.

Media tersebut mengutip pernyataan pihak kepolisian RI yang mengatakan, penangkapan kesepuluh orang ini tidak ada kaitannya dengan aksi damai 2 Desember yang tengah berlangsung di ibu kota.

Dalam beberapa waktu ke depan Kepala Kepolisian RI, Jenderal Tito Karnavian, dilaporkan akan menggelar konferensi pers untuk menjelaskan peristiwa penangkapan 10 orang ini.

"

| Dunia | Sorot | Penahanan | Orang | Diduga | Makar | Jelang | Aksi | Damai | Liputan6 | Jakarta | strong> | hanya | demo | Desember< | a> yang | menjadi | sorotan | dunia | Sejumlah | media | massa | asing | juga | memuat | laporan | penangkapan | orang | terduga | makar | p> Melalui | artikel | berjudul | protests: | Treason | arrests | mass | rally | against | citys | Governor | Ahok | underway | News< | em> memuat | pernyataan | Karo | Penmas | Mabes | Polri | Kombes | Rikwanto | yang | mengatakan | ditangkap | pagi | tadi | Delapan | antaranya | konspirasi | jahat | sementara | lainnya | melanggar | Undang | p> Polisi | mereka | atas | dugaan | tengah | diinterogasi | dimintai | keterangan | lebih | lanjut | demikian | dari | News | Jumat | 2016) | p> Dalam | laporannya | bahwa | salah | satu | tersebut | adalah | adik | presiden | Megawati | Soekarnoputri | Rachmawati | Disebutkan | pula | pengacara | terkenal | Indonesia | Yusril | Ihza | Mahendra | setuju | untuk | kuasa | hukum | p> Saya | akan | membela | karena | saya | percaya | berjuang | sesuatu | yakini | benar | konstitusional | ujar | p> Sementara | Presiden | Joko | Widodo | enggan | banyak | berkomentar | terkait | justru | mengungkap | kecil | kemungkinan | a> akan | diwarnai | kerusuhan | p> Itu | berdasarkan | komitmen | telah | disepakati | Saya | rasa | aksi | super | damai | Super | pria | akrab | disapa | Jokowi | Reuters | dalam | bertajuk | protesters | amid | fury | over | Christian | governor | menuliskan | menjelang | mana | delapan | didakwa | p> Mereka | kini | ditahan | menjalani | pemeriksaan | p> Media | Singapura | Straits | Times | dengan | dissident | activities | charges | them | treason | menginformasikan | peristiwa | serupa | Pihak | kepolisian | dilaporkan | menangkap | tersangka | pasal | p> Kombes | tidak | menyebutkan | nama | tapi | mengidentifikasi | sembilan | inisial | yakni | tulis | Times< | p> Disebutkan | beberapa | termasuk | tokoh | politik | aktivis | vokal | terhadap | mengkritik | gubernur | aktif | Basuki | Tjahaja | Purnama | p> Ada | Ghana< | menulis | bertajuk Indonesian | police | arrest | allegation | em>< | p> Kesepuluh | sekitar | pukul | hingga | Mereka | saat | diinvestigasi | Markas | Brimob | antara | Ratna | Sarumpaet | Bintang | Pamungkas | pensiunan | jenderal | Kivlan | mantan | menteri | Rizal | Ramli | bintang | rock< | Dhani | Ahmad | merupakan | mengutip | Xinhua | pihak | kesepuluh | kaitannya | berlangsung | kota | waktu | depan | Kepala | Kepolisian |  Jenderal | Tito | Karnavian | menggelar | konferensi | pers | menjelaskan | p> |

Yusril: Polisi Mengaku Punya Bukti Permulaan Makar

Liputan6.com, Depok - Yusril Ihza Mahendra siap mendampingi Ratna Sarumpaet dan Rachmawati Soekarnoputri menjadi penasihat hukumnya. Menurut Yusril, keduanya dituduh akan melakukan makar.

"Saya berjanji untuk mendampingi Ratna (Sarumpaet) dan ibu Rachmawati (Soekarnoputri). Saya mengatakan akan mendampingi, supaya proses pemeriksaan berjalan secara adil menurut hukum yang berlaku," ujar Yusril Ihza Mahendra, di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Jumat (2/12/2016).

Yusril mengatakan, berdasarkan informasi Ratna Sarumpaet dan Rachmawati Soekarnoputri diduga akan melakukan makar. Karena itu mereka dikaitkan dengan Pasal 87, Pasal 107, dan Pasal 207 KUHP.

"Pasal 87 itu tentang niat melakukan sesuatu perbuatan. Pasal 107 itu kemakaran menggulingkan pemerintahan yang sah, dan Pasal 207 kaitannya dengan pengambilan kekuasaan," kata Yusril.

Menurut Yusril, ini adalah delik formil. Jadi jika permulaan makar saja cukup menjadi alasan bagi aparat untuk bertindak.

"Ratna baru diperiksa dan disebut-sebut akan melakukan makar. Ibu Ratna mengatakan dirinya  tidak mau makar, tapi polisi mengaku sudah mempunyai bukti-bukti permulaan, maka beliau akan diperiksa," ungkap Yusril.

Yusril berharap proses hukum berjalan adil. Namun, ia mengharapkan, bila tidak cukup bukti mereka harus dilepaskan.

"Kalau enggak cukup bukti (makar) saya berharap mereka segera dilepaskan. Supaya dapat kembali normal," Yusril memungkas.

"

| Yusril: | Polisi | Mengaku | Punya | Bukti | Permulaan | Makar | Liputan6 | Depok | strong> | Yusril | Ihza | Mahendra | siap | mendampingi | Ratna | Sarumpaet | Rachmawati | Soekarnoputri | menjadi | penasihat | hukumnya | Menurut | keduanya | dituduh | akan | melakukan | makar< | p> Saya | berjanji | untuk | (Sarumpaet) | (Soekarnoputri) | Saya | mengatakan | supaya | proses | pemeriksaan | berjalan | secara | adil | menurut | hukum | yang | berlaku | ujar | Mako | Brimob | Kelapa | Jawa | Barat | Jumat | 2016) | p> Yusril | berdasarkan | informasi | diduga | Karena | mereka | dikaitkan | dengan | Pasal | KUHP | p> Pasal | tentang | niat | sesuatu | perbuatan | kemakaran | menggulingkan | pemerintahan | kaitannya | pengambilan | kekuasaan | kata | p> Menurut | adalah | delik | formil | Jadi | jika | permulaan makar< | saja | cukup | alasan | bagi | aparat | bertindak | p> Ratna | baru | diperiksa | disebut | sebut | makar | dirinya  | tidak | tapi | polisi | mengaku | sudah | mempunyai | bukti | permulaan | maka | beliau | ungkap | p> Yusril | berharap | Namun | mengharapkan | bila | harus | dilepaskan | p> Kalau | enggak | (makar< | saya | segera | Supaya | dapat | kembali | normal | memungkas | p> |

Monday, December 5, 2016

Pasal makar untuk 'bungkam kebebasan berpendapat'?

politik, sri bintang pamungkas, makarImage copyright AP Image caption Sri Bintang Pamungkas pernah dipenjara di era pemerintahan Presiden Suharto atas tuduhan subversif.

Suara Ernalia, istri Sri Bintang Pamungkas, beberapa kali terdengar tercekat. Dia berupaya menjelaskan duduk perkara penangkapan suaminya, tanpa larut dalam kesedihan.

Sudah dua malam Sri Bintang Pamungkas menghabiskan waktu sebagai tahanan kepolisian sejak dibawa dari rumahnya di bilangan Cibubur, Jakarta Timur, pada Jumat (02/11) pagi. Sri Bintang adalah salah satu dari 11 orang yang ditangkap dan dijadikan tersangka oleh kepolisian menjelang doa bersama di kawasan Monas.

"Waktu awal-awal, ketika dibawa ke Markas Brimob, saya tidak dikasih surat apapun. Minta tidak dikasih. Mau foto kopi tidak boleh, difoto menggunakan ponsel juga tidak boleh. Kemarin saya sudah lihat surat penahanannya setelah dibawa ke Polda. Tuduhannya makar, Pasal 107 KUHP," kata Ernalia kepada BBC Indonesia.

Ernalia mengutarakan bahwa tuduhan kepolisian terhadap suaminya didasari oleh pertemuan dengan sejumlah tokoh di sebuah hotel. Tapi, menurut Ernalia, Sri Bintang tidak menghadiri pertemuan itu.

"Kemudian (tuduhan) dialihkan ke waktu (Sri Bintang Pamungkas) ada di orasi di penggusuran," kata Ernalia.

Dalam rekaman video di media Youtube, tampak mantan politikus PPP itu berorasi di bawah jalan tol. Saat itu dia mengatakan bahwa kaum kaya semestinya diberikan pajak tinggi, lalu hasilnya disalurkan ke fakir miskin.

"Pemerintah kita sejak zamannya Suharto sampai hari ini tidak melakukan itu. Apa yang bisa saya simpulkan dari situ? Mereka jahat...Ya harus diturunkan, harus dijatuhkan. Inilah yang perlu kita lakukan pada presiden-presiden yang jahat ini, termasuk Jokowi," kata Sri Bintang Pamungkas.

Ucapan Sri Bintang tersebut, kata Ernalia, adalah hak dia untuk berpendapat dan meminta.

Image copyright EPA Image caption Kepolisian menyatakan sebanyak delapan orang diduga melakukan makar dengan berupaya menggiring para peserta doa bersama di kawasan Silang Monas, 2 Desember lalu, untuk menguasai gedung DPR/MPR.

'Tergesa-gesa'

Secara terpisah, Ratna Sarumpaet menuding Polri ingin tergesa-gesa menangkap dan menjadikannya sebagai tersangka tapi tidak siap dengan unsur-unsur bukti.

"Katanya sudah terpenuhi unsur-unsurnya. Unsur yang mana?" tanya Ratna.

Yusril Ihza Mahendra, selaku kuasa hukum Ratna dan Rachmawati Sukarnoputri, mengatakan apa yang dilakukan kliennya hanyalah sebatas kritikan terhadap pemerintah.

"Kalau sampai pelaksanaan makar, masih jauh. Dan bahwa mereka mengadakan rapat-rapat, pertemuan, mengkritik pemerintah, itu normal-normal saja," kata Yusril Ihza Mahendra, Minggu (04/12) siang.

Perbedaan kritik dan makar

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Boy Rafli Amar, menepis klaim bahwa yang dilakukan 11 orang adalah murni kritik terhadap pemerintah.

"Apakah di alam demokrasi ini tidak boleh orang mengkritik? Ini bukan kritikan. Kritik dengan makar berbeda," tegas Boy.

Boy mengklaim kepolisian telah mengantongi beragam bukti yang memberatkan 11 tersangka, termasuk tulisan tangan dan hasil pemantauan percakapan.

"Dugaan ini berkaitan adanya rencana pemanfaatan massa untuk menduduki kantor DPR RI, kemudian berencana melakukan pemaksaan agar bisa dilakukannya sidang istimewa untuk menuntut pergantian pemerintahan dan seterusnya," kata Boy.

Boy menegaskan bahwa penangkapan tidak perlu menunggu sampai upaya makar telah terjadi. "Ketika terdeteksi adanya niatan itu, inilah yang dimainkan kepolisian."

Image copyright HOTLI SIMANJUNTAK/EPA Image caption Pasal makar dalam KUHP, menurut Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Alghiffari Aqsa, telah digunakan penguasa sejak era Orde Baru sebagai alat untuk membungkam kebebasan berekspresi.

Tafsir penguasa

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Alghiffari Aqsa, mengatakan bahwa pasal makar dalam KUHP telah digunakan sejak era Orde Baru sebagai alat untuk membungkam kebebasan berekspresi.

"Pasal makar itu tergantung dari definisi ataupun tafsir penguasa. Seringkali orang dituduh makar karena ekspresinya meminta pemerintah untuk turun atau menyampaikan ekspresi ketidakpuasan terhadap pemerintah. Penerapan pasal itu tidak tepat, melanggar kebebasan berekspresi," kata Alghiffari.

Pasal makar, tambahnya, bisa saja digunakan apabila memang ada bukti-bukti yang memadai.

"Jika ada bukti-bukti menggulingkan pemerintahan, dalam artian ada kekerasan di dalamnya, ada upaya untuk melakukan sabotase, ada upaya untuk membuat kaos. Tapi apakah orang-orang yang ditangkap punya kemampuan itu?"

Menurut ahli hukum pidana dari Universitas Indonesia, Eva Ahyani Djulfa, hal yang bisa mengategorikan suatu perbuatan sebagai makar berdasarkan pasal 87 KUHP adalah niat dan permulaan pelaksanaan.

Karena niat adalah sesuatu yang abstrak, maka aparat hukum bisa memandangnya menggunakan sudut pandang subjektif.

"Jadi segala tindakan yang menggambarkan tentang niat, itu sudah dianggap sebagai permulaan pelaksanaan," kata Eva.

Namun, ada sudut pandang objektif yang juga bisa dipakai dari sisi hukum. Sudut pandang ini menimbang kemampuan seseorang atau suatu pihak untuk mewujudkan tindakan makar.

"Kedua sudut pandang ini bisa sama-sama digunakan. Hanya saja, tergantung dari penegak hukum," tutup Eva.

Pada Jumat 2 Desember, sebanyak delapan orang ditangkap atas dugaan pemufakatan makar yakni eks Staf Ahli Panglima TNI Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha, mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zein, Ketua Solidaritas Sahabat Cendana Firza Huzein.

Turut ditangkap aktivis politik Ratna Sarumpaet, calon wakil Bupati Bekasi Ahmad Dhani, putri presiden pertama Presiden Soekarno, Rachmawati Soerkarnoputri, Sri Bintang Pamungkas dan Eko.

Ada pula dua orang yang ditangkap dan dijerat Pasal 28 Undang-Undang ITE yakni Jamran dan Rizal Kobar.

Pasal-pasal makar dalam KUHP

Pasal 104

  • Makar dengan maksud untuk membunuh, atau merampas kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil Presiden memerintah, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Pasal 105

[Pasal ini ditiadakan berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 1946, pasal VIII, butir 13.]

Pasal 106

  • Makar dengan maksud supaya seluruh atau sebagian dari wilayah negara, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Pasal 107

  1. Makar dengan maksud untuk menggulingkan pemerintah, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
  2. Para pemimpin dan pengatur makar tersebbut dalam ayat 1, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.
"

| Pasal | makar | untuk | bungkam | kebebasan | berpendapat? | Image | copyright< | span> | caption< | Bintang | Pamungkas | pernah | dipenjara | pemerintahan | Presiden | Suharto | atas | tuduhan | subversif | Suara | Ernalia | istri | beberapa | kali | terdengar | tercekat | berupaya | menjelaskan | duduk | perkara | penangkapan | suaminya | tanpa | larut | dalam | kesedihan | p>Sudah | malam | menghabiskan | waktu | sebagai | tahanan | kepolisian | sejak | dibawa | rumahnya | bilangan | Cibubur | Jakarta | Timur | pada | Jumat | pagi | adalah | salah | satu | orang | yang | ditangkap | dijadikan | tersangka | oleh | menjelang | bersama | kawasan | Monas | p>Waktu | awal | ketika | Markas | Brimob | saya | dikasih | surat | apapun | Minta | foto | kopi | boleh | difoto | menggun | ponsel | juga | Kemarin | lihat | penahanannya | setelah | Polda | Tuduhannya | KUHP | kata | kepada | Indonesia | p>Ernalia | mengutar | bahwa | terhadap | didasari | pertemuan | dengan | sejumlah | tokoh | sebuah | hotel | Tapi | menurut | menghadiri | p>Kemudian | (tuduhan) | dialihkan | (Sri | Pamungkas) | orasi | penggusuran | p>Dalam | rekaman | video | media | Youtube | tampak | mantan | politikus | berorasi | bawah | jalan | Saat | mengat | kaum | kaya | semestinya | diberikan | pajak | tinggi | hasilnya | disalurkan | fakir | miskin | p>Pemerintah | zamannya | sampai | hari | melakukan | simpulkan | situ | Mereka | jahat | harus | diturunkan | dijatuhkan | Inilah | perlu | lakukan | presiden | termasuk | Jokowi | p>Ucapan | tersebut | berpendapat | meminta | EPA< | Kepolisian | menyat | sebanyak | delapan | diduga | menggiring | para | peserta | Silang | Desember | menguasai | gedung | Tergesa | gesa< | h2>Secara | terpisah | Ratna | Sarumpaet | menuding | Polri | ingin | tergesa | gesa | menangkap | menjadikannya | siap | unsur | bukti | p>Katanya | terpenuhi | unsurnya | Unsur | mana | tanya | p>Yusril | Ihza | Mahendra | selaku | kuasa | hukum | Rachmawati | Sukarnoputri | dilakukan | kliennya | hanyalah | sebatas | kritikan | pemerintah | p>Kalau | pelaksanaan | masih | jauh | mengad | rapat | mengkritik | normal | Yusril | Minggu | siang | p>Perbedaan | kritik | makar< | h2>Kepala | Divisi | Humas | Mabes | Rafli | Amar | menepis | klaim | murni | p>Apakah | alam | demokrasi | bukan | Kritik | berbeda | tegas | p>Apa | arti | keikutsertaan | salat | Rizieq | Shihab | li> Aksi | 212: | Usai | bicara | langsung | serukan | tangkap | Ahok | li> < | ul>Boy | mengklaim | telah | mengantongi | beragam | memberatkan | tulisan | tangan | hasil | pemantauan | percakapan | p>Dugaan | berkaitan | adanya | rencana | pemanfaatan | massa | menduduki | kantor | kemudian | berencana | pemaksaan | agar | dilakukannya | sidang | istimewa | menuntut | pergantian | seterusnya | p>Boy | menegaskan | menunggu | upaya | terjadi | Ketika | terdeteksi | niatan | inilah | dimainkan | HOTLI | SIMANJUNTAK | Direktur | Lembaga | Bantuan | Hukum | Alghiffari | Aqsa | digun | penguasa | Orde | Baru | alat | membungkam | berekspresi | Tafsir | penguasa< | h2>Direktur | pasal | p>Pasal | tergantung | definisi | ataupun | tafsir | Seringkali | dituduh | karena | ekspresinya | turun | atau | menyampaikan | ekspresi | kepuasan | Penerapan | tepat | melanggar | tambahnya | apabila | memang | memadai | p>Jika | menggulingkan | artian | kekerasan | dalamnya | sabotase | membuat | kaos | apakah | punya | kemampuan | p>Menurut | ahli | pidana | Universitas | Ahyani | Djulfa | mengategorikan | suatu | perbuatan | berdasarkan | niat | permulaan | p>Karena | sesuatu | abstrak | maka | aparat | memandangnya | sudut | pandang | subjektif | p>Jadi | segala | tind | menggambarkan | tentang | dianggap | p>Namun | objektif | dipakai | sisi | Sudut | menimbang | seseorang | pihak | mewujudkan | p>Kedua | sama | Hanya | penegak | tutup | p>Pada | dugaan | pemufakatan | yakni | Staf | Ahli | Panglima | Brigjen | (Purn) | Adityawarman | Thaha | Kepala | Kostrad | Mayjen | Kivlan | Zein | Ketua | Solitas | Sahabat | Cendana | Firza | Huzein | p>Turut | aktivis | politik | calon | wakil | Bupati | Bekasi | Ahmad | Dhani | putri | pertama | Soekarno | Soerkarnoputri | p>Ada | pula | dijerat | Undang | Jamran | Rizal | Kobar | strong> | KUHP< | strong>< | 104< | p>Makar | maksud | membunuh | merampas | kemerdekaan | meniad | Wakil | memerintah | diancam | mati | penjara | seumur | hidup | sementara | paling | lama | puluh | tahun | li>< | ul>Pasal | 105< | p>[Pasal | ditiad | undang | Tahun | 1946 | VIII | butir | 106< | supaya | seluruh | sebagian | wilayah | negara | 107< | lima | belas | li> Para | pemimpin | pengatur | tersebbut | ayat | ol> |