Showing posts sorted by relevance for query masukan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query masukan. Sort by date Show all posts

Saturday, December 3, 2016

Makar Beda dengan Kritik ke Pemerintah

Jakarta - Polisi menegaskan bahwa secara definisi, makar dan kritik berbeda. Penegasan Polri soal perbedaan makar dengan kritik terkait penangkapan Rachmawati Soekarnoputri dkk.

"Ini bukan kritikan. Kritik dengan makar berbeda. Kritik memberikan masukan kepada pemerintah dengan pandangan kritis lumrah di negara demokrasi. Tetapi hukum tetap harus dipegang," ujar Kadiv Humas Irjen Boy Rafli di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Sabtu (3/12/2016).

Boy menjelaskan, dalam negara demokrasi diperbolehkan kritik. Namun hal itu harus sesuai dengan ketentuan hukum yang ada.

"Kita harus sadar bahwa ada hukumnya. Jadi jangan sampai di negara hukum kita serba boleh. Tidak demikian implementasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini juga yang akan kita sadarkan ke masyarakat," paparnya.

Sementara itu, dalam kaitan makar, kata Boy, ketujuh tersangka telah membuat suatu rencana dalam aksi demo 212 kemarin. Mereka diduga akan menduduki MPR dan DPR. Ketujuh tersangka itu adalah Kivlan Zen, Adityawarman Thaha, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko Suryo Santjojo, Alvin Indra, dan Rachmawati Soekarnoputri.

"Ada upaya-upaya yang tidak sejalan dengan aspirasi yang sebenarnya, tapi ada tujuan lain," paparnya.

Boy mengatakan tindakan polisi adalah upaya pembelajaran hukum di era demokrasi. Sebab, kebebasan itu tidak mutlak seenaknya begitu saja.

"Hukum diyakini menjadi sebuah produk. Jadi ini adalah sesuatu yang perlu kita simak, jangan sampai terjadi pemahaman yang nanti keliru. Jadi kebebasan kita yang dibatasi oleh hukum. Itu konsekuensinya negara hukum," pungkasnya.
(bag/tor)

"

| Makar | Beda | dengan | Kritik | Pemerintah | Jakarta< | strong> | Polisi | menegaskan | bahwa | secara | definisi | makar | kritik | berbeda | Penegasan | Polri | soal | perbedaan | terkait | penangkapan | Rachmawati | Soekarnoputri | bukan | kritikan | memberikan | masukan | kepada | pemerintah | pandangan | kritis | lumrah | negara | demokrasi | hukum | tetap | harus | dipegang | ujar | Kadiv | Humas | Irjen | Rafli | Mabes | Jalan | Trunojoyo | Jakarta | Selatan | Sabtu | 2016) | p>Boy | menjelaskan | dalam | diperbolehkan | Namun | sesuai | ketentuan | yang | p>Kita | sadar | hukumnya | Jadi | jangan | sampai | serba | boleh | Tidak | demikian | implementasi | kehidupan | berbangsa | bernegara | juga | sadarkan | masyarakat | paparnya | p>Sementara | kaitan | kata | ketujuh | tersangka | telah | membuat | suatu | rencana | aksi | demo | kemarin | Mereka | diduga | menduduki | Ketujuh | adalah | Kivlan | Adityawarman | Thaha | Ratna | Sarumpaet | Firza | Husein | Suryo | Santjojo | Alvin | Indra | p>Ada | upaya | sejalan | aspirasi | sebenarnya | tujuan | lain | mengat | tind | polisi | pembelajaran | Sebab | kebebasan | mutlak | seenaknya | begitu | p>Hukum | diyakini | menjadi | sebuah | produk | sesuatu | perlu | simak | terjadi | pemahaman | nanti | keliru | dibatasi | oleh | konsekuensinya | pungkasnya | (bag | tor)< |

Wednesday, December 7, 2016

Polisi Buru Seorang Aktivis Asal Sumbawa Atas Dugaan Makar

Rabu, 07 Desember 2016 | 18:21 WIB

Polisi Buru Seorang Aktivis Asal Sumbawa Atas Dugaan Makar

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar (tengah) bersama Karo Penmas Divisi Humas Polri Kombes Pol Rikwanto (kanan) dan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol RP Argo Yuwono (kiri) usai memberikan keterangan pers di Mabes Polri, Jakarta, 3 Desember 2016. Polri menetapkan tujuh orang tersangka sebagai terduga makar. TEMPO/M Iqbal Ichsan

TEMPO.CO, Mataram - Polisi saat ini masih mencari seorang aktivis berinisial HT yang berasal dari Kabupaten Sumbawa Besar. Aktivis itu diduga terlibat dalam rencana makar pada 2 Desember 2016.

"Nanti kita cek sajalah kegiatan sehari-harinya di sana (Sumbawa Barat)," kata Kapolda NTB Brigjen Umar Septono di Mataram, Rabu, 7 Desember 2016. Menurut Umar secara resmi Polda Metro Jaya belum berkoordinasikannya dengan Polda NTB. "Belum ada sama sekali (koordinasi), kita belum dilibatkan, karena itu kan TKP di sana, urusan Polda Metro Jaya. Jadi, sejauh ini belum ada masukan apa-apa."

Sebelumnya Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap sebelas aktivis yang diduga akan melakukaan makar dengan memanfaatkan massa pengunjuk rasa 2 Desember 2916. Aktivis-aktivis itu antara lain adalah Kivlan Zein, Adityawarman, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko, Alvin Indra, dan Rachmawati Soekarnoputri Ahmad Dani, Sri Bintang Pamungkas, Jamran, dan Rizal Kobar. Diduga HT juga terlibat secara langsung dengan kelompok itu.

Keterlibatan HT diketahui setelah polisi mengantongi sejumlah alat bukti adanya rencana makar yang bertujuan menjatuhkan pemerintahan Joko Widodo dengan memanfaatkan aksi 2 Desember. Hanya saja keberadaan HT hingga kini belum diketahui oleh polisi. Polda Metro Jaya sudah mencari mantan anggota legislatif tersebut.

Dari sebelas tersangka makar yang ditangkap, hanya tiga yang menjalani proses penahanan, yakni Sri Bintang Pamungkas, Jamran, dan Rizal Kobar. Untuk ketiganya, polisi menyangkakan dengan Pasal 28 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 11/2008 tentang ITE dan juga Pasal 107 Juncto Pasal 110 KUHP tentang Makar dan Permufakatan Jahat.

ANTARA

"

| Polisi | Buru | Seorang | Aktivis | Asal | Sumbawa | Atas | Dugaan | Makar | Rabu | Desember | 2016 | 18:21 | WIB< | p> < | div> Kepala | Divisi | Humas | Polri | Irjen | Rafli | Amar | (tengah) | bersama | Karo | Penmas | Kombes | Rikwanto | (kanan) | Kabid | Polda | Metro | Jaya | Argo | Yuwono | (kiri) | usai | memberikan | keterangan | pers | Mabes | Jakarta | menetapkan | tujuh | orang | tersangka | sebagai | terduga | makar | TEMPO | Iqbal | Ichsan< | p> < | div> TEMPO | strong>< | span> | Mataram< | strong> | saat | masih | mencari | seorang | aktivis | berinisial | yang | berasal | Kabupaten | Besar | diduga | terlibat | dalam | rencana | pada | p> Nanti | kegiatan | sehari | harinya | sana | (Sumbawa | Barat) | kata | Kapolda | Brigjen | Umar | Septono | Mataram | Menurut | secara | resmi | berkoordinasikannya | dengan | Belum | sama | sekali | (koordinasi) | dilibatkan | karena | urusan | Jadi | sejauh | masukan | p>Senya | Kepolisian | Daerah | menangkap | sebelas | melakukaan | memanfaatkan | massa | pengunjuk | rasa | 2916 | antara | lain | adalah Kivlan | Zein | Adityawarman | Ratna | Sarumpaet | Firza | Husein | Alvin | Indra | Rachmawati | Soekarnoputri | Ahmad | Dani | Bintang | Pamungkas | Jamran | Rizal | Kobar | Diduga | juga | langsung | kelompok | p>Keterlibatan | diketahui | setelah | polisi | mengantongi | sejumlah | alat | bukti | adanya | bertujuan | menjatuhkan | pemerintahan | Joko | Widodo | aksi | Hanya | keberadaan | kini | oleh | mantan | anggota | legislatif | tersebut | p>Dari | ditangkap | hanya | tiga | menjalani | proses | penahanan | yakni | Untuk | ketiganya | menyangk | Pasal | Ayat | Undang | Nomor | 2008 | tentang | Juncto | KUHP | Permufakatan | Jahat | p>ANTARA< | p> |

Saturday, December 3, 2016

Makar Beda dengan Kritik ke Pemerintah

Jakarta - Polisi menegaskan bahwa secara definisi, makar dan kritik berbeda. Penegasan Polri soal perbedaan makar dengan kritik terkait penangkapan Rachmawati Soekarnoputri dkk.

"Ini bukan kritikan. Kritik dengan makar berbeda. Kritik memberikan masukan kepada pemerintah dengan pandangan kritis lumrah di negara demokrasi. Tetapi hukum tetap harus dipegang," ujar Kadiv Humas Irjen Boy Rafli di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Sabtu (3/12/2016).

Boy menjelaskan, dalam negara demokrasi diperbolehkan kritik. Namun hal itu harus sesuai dengan ketentuan hukum yang ada.

"Kita harus sadar bahwa ada hukumnya. Jadi jangan sampai di negara hukum kita serba boleh. Tidak demikian implementasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini juga yang akan kita sadarkan ke masyarakat," paparnya.

Sementara itu, dalam kaitan makar, kata Boy, ketujuh tersangka telah membuat suatu rencana dalam aksi demo 212 kemarin. Mereka diduga akan menduduki MPR dan DPR. Ketujuh tersangka itu adalah Kivlan Zen, Adityawarman Thaha, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko Suryo Santjojo, Alvin Indra, dan Rachmawati Soekarnoputri.

"Ada upaya-upaya yang tidak sejalan dengan aspirasi yang sebenarnya, tapi ada tujuan lain," paparnya.

Boy mengatakan tindakan polisi adalah upaya pembelajaran hukum di era demokrasi. Sebab, kebebasan itu tidak mutlak seenaknya begitu saja.

"Hukum diyakini menjadi sebuah produk. Jadi ini adalah sesuatu yang perlu kita simak, jangan sampai terjadi pemahaman yang nanti keliru. Jadi kebebasan kita yang dibatasi oleh hukum. Itu konsekuensinya negara hukum," pungkasnya.
(bag/tor)

"

| Makar | Beda | dengan | Kritik | Pemerintah | Jakarta< | strong> | Polisi | menegaskan | bahwa | secara | definisi | makar | kritik | berbeda | Penegasan | Polri | soal | perbedaan | terkait | penangkapan | Rachmawati | Soekarnoputri | bukan | kritikan | memberikan | masukan | kepada | pemerintah | pandangan | kritis | lumrah | negara | demokrasi | hukum | tetap | harus | dipegang | ujar | Kadiv | Humas | Irjen | Rafli | Mabes | Jalan | Trunojoyo | Jakarta | Selatan | Sabtu | 2016) | p>Boy | menjelaskan | dalam | diperbolehkan | Namun | sesuai | ketentuan | yang | p>Kita | sadar | hukumnya | Jadi | jangan | sampai | serba | boleh | Tidak | demikian | implementasi | kehidupan | berbangsa | bernegara | juga | sadarkan | masyarakat | paparnya | p>Sementara | kaitan | kata | ketujuh | tersangka | telah | membuat | suatu | rencana | aksi | demo | kemarin | Mereka | diduga | menduduki | Ketujuh | adalah | Kivlan | Adityawarman | Thaha | Ratna | Sarumpaet | Firza | Husein | Suryo | Santjojo | Alvin | Indra | p>Ada | upaya | sejalan | aspirasi | sebenarnya | tujuan | lain | mengat | tind | polisi | pembelajaran | Sebab | kebebasan | mutlak | seenaknya | begitu | p>Hukum | diyakini | menjadi | sebuah | produk | sesuatu | perlu | simak | terjadi | pemahaman | nanti | keliru | dibatasi | oleh | konsekuensinya | pungkasnya | (bag | tor)< |

Ahmad Dhani Cs Ditangkap, Polri Tegaskan Makar dan Kritik Beda

Liputan6.com, Jakarta Penyidik Polri menangkap 11 orang, termasuk di dalamnya aktivis dan tokoh nasional, terkait dugaanmakar, Jumat 2 Desember 2016 pagi. Salah satu tersangka makar yang ditangkap yakni putri Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan, penangkapan itu bukan berarti membungkam sikap kritis masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Dia menegaskan, perbuatan makar dan kritik berbeda.

"(Yang dilakukan Rachmawati Cs) ini bukan kritikan. Kritik denganmakar berbeda," tegas Boy di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Sabtu (3/12/2016).

Boy menjelaskan, di beberapa negara demokrasi, memberikan masukan kepada pemerintah dengan pandangan kritis adalah hal lumrah. Kendati, cara penyampaian kritik juga harus memperhatikan hukum yang berlaku.

Sebab, demokrasi di Indonesia bukan berarti masyarakat memiliki kebebasan yang absolut. Bebas berbuat apa saja. Sebagai negara hukum, tentu semua memiliki aturan.

"Demikian juga kritikan, apabila bersentuhan dengan hukum lainnya, harus kita pahami," kata dia.

Jenderal bintang dua itu menuturkan, dalam era demokrasi di Indonesia, seringkali terjadi hatespech atau ujaran kebencian yang dilakukan masyarakat secara luas. Apalagi dengan berkembangnya teknologi informasi yang semakin pesat.

"Di sini kita harus sadar, kita punya UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE. Di media sosial, ujaran kebencian, penghinaan, penistaan, penyebarluasan kata-kata bohong ini marak terjadi, ini tentu harus disadarkan kepada warga negara bahwa ada hukumnya," kata Boy.

Sebelumnya, 11 tokoh dan aktivis ditangkap di beberapa tempat dalam waktu hampir bersamaan, Jumat 2 Desember pagi. Mereka diduga kuat terlibat upaya makar.

Tujuh orang tersangka makar yakni Kivlan Zein, Adityawarman, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko, Alvin Indra, dan Rachmawati Soekarnoputri telah dipulangkan setelah menjalani pemeriksaan hampir 1x24 jam.

Begitu juga terhadap musikus Ahmad Dhani yang dalam penangkapan ini ditetapkan sebagai tersangka penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Sementara tiga lainnya, yakni Sri Bintang Pamungkas, Jamran, dan Rizal Kobar ditahan di Polda Metro Jaya. Ketiganya dijerat dengan UU ITE dan juga Pasal 107 Jo Pasal 110 KUHP tentang Makar dan Permufakatan Jahat.

"

| Ahmad | Dhani | Ditangkap, | Polri | Tegaskan | Makar | Kritik | Beda | Liputan6 | Jakarta< | strong> | Penyidik | menangkap | orang | termasuk | dalamnya | aktivis | tokoh | nasional | terkait | dugaanmakar< | Jumat | Desember | 2016 | pagi | Salah | satu | tersangka | makar | yang | ditangkap | yakni | putri | Bung | Karno | Rachmawati | Soekarnoputri | p> Kadiv | Humas | Mabes | Irjen | Rafli | Amar | mengat | penangkapan | bukan | berarti | membungkam | sikap | kritis | masyarakat | terhadap | kebij | pemerintah | menegaskan | perbuatan | kritik | berbeda | p> (Yang | dilakukan | kritikan | denganmakar< | tegas | Jakarta | Selatan | Sabtu | 2016) | p> Boy | menjelaskan | beberapa | negara | demokrasi | memberikan | masukan | kepada | dengan | pandangan | adalah | lumrah | Kendati | cara | penyampaian | juga | harus | memperhatikan | hukum | berlaku | p> Sebab | Indonesia | memiliki | kebebasan | absolut | Bebas | berbuat | Sebagai | tentu | semua | aturan | p> Demikian | apabila | bersentuhan | lainnya | pahami | kata | p> Jenderal | bintang | menuturkan | dalam | seringkali | terjadi | hatespech< | atau | ujaran | kebencian | secara | luas | Apalagi | berkembangnya | teknologi | informasi | semakin | pesat | p> Di | sini | sadar | punya | Nomor | Tahun | 2008 | tentang | media | sosial | penghinaan | penistaan | penyebarluasan | bohong | marak | disadarkan | warga | bahwa | hukumnya | p> Senya | tempat | waktu | hampir | bersamaan | Mereka | diduga | kuat | terlibat | upaya | makar< | p> Tujuh | Kivlan | Zein | Adityawarman | Ratna | Sarumpaet | Firza | Husein | Alvin | Indra | telah | dipulangkan | setelah | menjalani | pemeriksaan | 1x24 | p> Begitu | musikus | ditetapkan | sebagai | Presiden | Joko | Widodo | Jokowi | p> Sementara | tiga | Bintang | Pamungkas | Jamran | Rizal | Kobar | ditahan | Polda | Metro | Jaya | Ketiganya | dijerat | Pasal | KUHP | Permufakatan | Jahat | p> |