Showing posts sorted by relevance for query punya. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query punya. Sort by date Show all posts

Wednesday, December 7, 2016

Komisi III DPR Dukung Langkah Polri Soal Dugaan Makar 2 Desember

Bintang.com, Jakarta Anggota Komisi III DPR Aziz Syamsudin mendukung langkah kepolisian mengamankan 11 tokoh dan aktivis terkait dugaan makar. Ia bahkan mengapresiasi respons cepat Polri, khususnya Polda Metro Jaya dalam mengantisipasi terjadinya sesuatu yang dianggap bisa mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Saya masih menaruh apresiasi yang tinggi pada penegak hukum dalam melakukan tugas dan kewenangannya secara profesional berdasarkan ketentuan dan aturan perundang-undangan,” kata Aziz saat dihubungi Rabu (7/12/2016).

Politisi Partai Golkar ini menilai, polisi tentunya punya alasan untuk menangkap dan menetapkan delapan dari 11 tokoh dan aktivis sebagai tersangka. “Tentu penegak hukum punya alasan, punya petunjuk dan punya bukti dalam menetapkan seseorang sebagai tersangka,” tegasnya.

Aziz juga menaruh hormat terkait sikap TNI yang tetap solid, meski ada dua purnawirawan yang ikut ditangkap. “TNI dalam fungsi dan tugasnya yang diatur dalam undang-undang kan (memang) untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Apresiasi yang tinggi pada Polda Metro Jaya turut disampaikan Praktisi Hukum M Zakir Rasyidin. “Sebab kita tahu makar tidak hanya berbahaya dalam konteks politik, namun juga dalam aspek ekonomi maupun sosial budaya. Sehingga siapapun yang mau mencoba melakukan makar, maka sudah menjadi tugas kepolisian untuk menegakkan aturannya,” jelas Zakir.

Pasukan Asmaul Husna sebenarnya sudah ada sejak 2008 lalu. (Bintang.com/Nurwahyunan)

Apresiasi serupa juga dialamatkan Zakir kepada TNI. “TNI tetap Konsekuen terhadap tangungjawabnya dalam mempertahankan negara. Pernyataan Pangdam Jaya saya kira sudah menjadi kesimpulan bahwa isu keberatan TNI terkait penangkapan para purnawirawan TNI tidak benar,” tegasnya.

Menurutnya, Indonesia menganut prinsip Hukum Equality Before The Law. “Artinya semua warga negara sama kedudukannya di hadapan Hukum, sehingga tidak ada satupun yang kebal hukum. Ketika dianggap melanggar hukum, itu sudah menjadi tugas polisi untuk memprosesnya,” pungkas Zakir.

Kapolda Metro Jaya Mochammad Iriawan dan Pangdam Jaya Teddy Lhaksmana | foto : istimewa

Seperti diketahui  Jumat, 2 Desember 2016, publik dikejutkan dengan penangkapan 11 orang terkait dugaan makar. Mereka ditangkap polisi dalam rentang waktu pukul 03 . 00 WIB hingga 06.00 WIB.

Mereka yang ditangkap yaitu Sri Bintang Pamungkas, Rachmawati Soekarnoputri , Ratna Sarumpaet, Kivlan Zein, Adityawarman Thahar, Firza Huzein, Eko Santjojo, dan Alvin Indra. Kedelapan orang itu ditetapkan sebagai tersangka. Mereka dijerat Pasal 107 Juncto Pasal 110 Juncto Pasal 87 KUHP tentang perbuatan makar dan pemufakatan Jahat untuk melakukan makar.

Polisi juga menangkap dan menetapkan tersangka pada Rizal Kobar dan Jamran. Keduanya dijerat Pasal 107 Juncto Pasal 110 Juncto Pasal 87 KUHP & Pasal 28 UU Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Terakhir, Ahmad Dhani. Dia dijerat Pasal 207 KUHP tentang Penghinaan terhadap Penguasa.

"

| Komisi | Dukung | Langkah | Polri | Soal | Dugaan | Makar | Desember | Bintang | Jakarta< | strong> | Anggota | DPR< | a> Aziz | Syamsudin | mendukung | langkah | kepolisian | mengamankan | tokoh | aktivis | terkait | dugaan | makar | bahkan | mengapresiasi | respons | cepat | khususnya | Polda | Metro | Jaya | dalam | mengantisipasi | terjadinya | sesuatu | yang | dianggap | mengganggu | keamanan | ketertiban | masyarakat | p> “Saya | masih | menaruh | apresiasi | tinggi | pada | penegak | hukum | melakukan | tugas | kewenangannya | secara | profesional | berdasarkan | ketentuan | aturan | perundang | undangan | kata | Aziz | saat | dihubungi | Rabu | 2016) | p> Politisi | Partai | Golkar | menilai | polisi | tentunya | punya | alasan | untuk | menangkap | menetapkan | delapan | sebagai | tersangka | “Tentu | petunjuk | bukti | seseorang | tegasnya | p> Aziz | juga | hormat | sikap | tetap | solid | meski | purnawirawan | ikut | ditangkap | “TNI | fungsi | tugasnya | diatur | undang | (memang) | menjaga | keutuhan | Negara | Kesatuan | Republik | Indonesia | katanya | p> Apresiasi | turut | disampaikan | Praktisi | Hukum | Zakir | Rasyidin | “Sebab | tahu | hanya | berbahaya | konteks | politik | aspek | ekonomi | maupun | sosial | budaya | siapapun | mencoba | maka | menjadi | menegakkan | aturannya | jelas | p> < | serupa | dialamatkan | kepada | Konsekuen | terhadap | tangungjawabnya | mempertahankan | negara | Pernyataan | Pangdam | saya | kira | kesimpulan | bahwa | keberatan | penangkapan | para | benar | p> Menurutnya | menganut | prinsip | Equality | Before | “Artinya | semua | warga | sama | kedudukannya | hadapan | satupun | kebal | Ketika | melanggar | memprosesnya | pungkas | p> Seperti | diketahui |  Jumat | 2016 | publik | dikejutkan | dengan | orang | Mereka | rentang | waktu | pukul | p> Mereka | yaitu | Pamungkas | Rachmawati | Soekarnoputri | Ratna | Sarumpaet | Kivlan | Zein | Adityawarman | Thahar | Firza | Huzein | Santjojo | Alvin | Indra | Kedelapan | ditetapkan | dijerat | Pasal | Juncto | KUHP | tentang | perbuatan | makar< | a> dan | pemufakatan | Jahat | p> Polisi | Rizal | Kobar | Jamran | Keduanya | & | Nomor | 2008 | Informasi | Transaksi | Elektronik | Terakhir | Ahmad | Dhani | Penghinaan | Penguasa | p> |

Friday, December 2, 2016

Tersangka Makar Ditangkap, Ini Kritik Prabowo untuk Elite Negara

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyarankan aparat penegak hukum-- sebagai kepanjangan tangan pemerintah--untuk berhati-hati dalam penangkapan kasus dugaan makar.

Prabowo menekankan agar hukum dapat diterapkan secara adil kepada semua kalangan, baik kepada kalangan elite maupun rakyat bawah.

"Selalu saya anjurkan bahwa kita bertindak selalu dengan hati-hati dan dengan seadil-adilnya," kata Prabowo di Kantor DPP Partai Gerindra, Ragunan, Jakarta Selatan, Jumat (2/12/2016).

"Jadi saya lihat, bangsa Indonesia ini sering elite-elite tidak punya empati kepada rakyat bawah," tegas dia.

Menurut Prabowo, jika rasa empati sudah pudar, bangsa Indonesia mudah menjalankan sesuai rekayasa.

"Dengan tidak punya empati, kita juga punya sifat sering rekayasa, sering nipu, sering bohong," ujar dia.

Jika sudah demikian, kata Prabowo, kepercayaan dan dukungan dari rakyat akan hilang kepada pemerintah dan elite politik.

"Kalau sudah ada ketidakpercayaan pada sistem, lembaga negara, ini repot. Kita tidak bisa bernegara berbangsa dengan baik," kata dia.

Menurut mantan Danjen Kopassus itu, untuk melaksanakan kehidupan bernegara dibutuhkan kepercayaan antara pemimpin dan rakyatnya.

"Kita harus timbulkan masyarakat yang adil. Adil artinya harus dibangun atas dasar kebersihan, kejujuran. Kalau sistem kita rusak, jangan salahkan rakyat kalau rakyat tidak percaya dengan sistem itu," kata dia.

"Itu yang saya anjurkan di semua pihak untuk adil, hukum harus adil. Jangan hanya orang-orang tertentu yang cepat disalahkan, tapi ada pihak yang mungkin yang punya uang dan becking yang banyak, tidak diperlakukan dengan sama," tandas Prabowo.

Sebanyak 10 orang ditangkap atas dugaan makar dan mendompleng aksi damai 2 Desember. Polisi menyatakan sudah mengendus upaya makar tersebut sejak tiga minggu lalu. Mereka diduga akan menduduki Gedung DPR.

"Mereka ingin menguasai gedung DPR-MPR," kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar di Silang Monas, Jakarta, Jumat 2 Desember 2016.

Sementara, Karopenmas Polri Kombes Rikwanto mengatakan, mereka yang ditangkap terkait dugaan makar ada delapan orang. Mereka berinisial AD, E, AD, KZ, RS, RA, SB, dan RK. Sedangkan dua orang berinisial JA dengan RK terkait pelanggaran UU ITE.

"Delapan di antaranya dikenakan tuduhan Pasal 107 junto Pasal 110 KUHP junto Pasal 87 KUHP. Sedangkan dua orang dengan inisial JA dengan RK dikenakan Pasal UU ITE, Pasal 28," kata Rikwanto di Mabes Polri, Jumat 2 Desember.

Saat ini mereka sudah diamankan dan diperiksa di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

"

| Tersangka | Makar | Ditangkap, | Kritik | Prabowo | untuk | Elite | Negara | Liputan6 | Jakarta | strong> | Ketua | Umum | Partai | Gerindra | Subianto | menyarankan | aparat | penegak | hukum | sebagai | kepanjangan | tangan | pemerintah | berhati | hati | dalam | penangkapan | kasus | dugaan | makar< | p> Prabowo | menekankan | agar | dapat | diterapkan | secara | adil | kepada | semua | kalangan | baik | elite | maupun | rakyat | bawah | p> Selalu | saya | anjurkan | bahwa | kita | bertindak | selalu | dengan | seadil | adilnya | kata | Kantor | Ragunan | Selatan | Jumat | 2016) | p> Jadi | lihat | bangsa | Indonesia | sering | tidak | punya | empati | tegas | p> Menurut | jika | rasa | sudah | pudar | mudah | menjalankan | sesuai | rekayasa | p> Dengan | juga | sifat | nipu | bohong | ujar | p> Jika | demikian | kepercayaan | dukungan | dari | akan | hilang | politik | p> Kalau | ketidakpercayaan | pada | sistem | lembaga | negara | repot | Kita | bisa | bernegara | berbangsa | mantan | Danjen | Kopassus | melaksanakan | kehidupan | dibutuhkan | antara | pemimpin | rakyatnya | p> Kita | harus | timbulkan | masyarakat | yang | Adil | artinya | dibangun | atas | dasar | kebersihan | kejujuran | Kalau | rusak | jangan | salahkan | kalau | percaya | p> Itu | pihak | Jangan | hanya | orang | tertentu | cepat | disalahkan | tapi | mungkin | uang | becking< | banyak | diperlakukan | sama | tandas | p> Sebanyak | ditangkap | dugaan makar< | mendompleng | aksi | damai | Desember | Polisi | menyatakan | mengendus | upaya | makar | tersebut | sejak | tiga | minggu | lalu | Mereka | diduga | menduduki | Gedung | p> Mereka | ingin | menguasai | gedung | Kadiv | Humas | Polri | Irjen | Rafli | Amar | Silang | Monas | 2016 | p> Sementara | Karopenmas | Kombes | Rikwanto | mengatakan | mereka | terkait | delapan | berinisial | Sedangkan | pelanggaran | p> Delapan | antaranya | dikenakan | tuduhan | Pasal | junto | KUHP | inisial | Mabes | p> Saat | diamankan | diperiksa | Mako | Brimob | Kelapa | Depok | Jawa | Barat | p> |

Tersangka Makar Ditangkap, Ini Kritik Prabowo untuk Elite Negara

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyarankan aparat penegak hukum-- sebagai kepanjangan tangan pemerintah--untuk berhati-hati dalam penangkapan kasus dugaan makar.

Prabowo menekankan agar hukum dapat diterapkan secara adil kepada semua kalangan, baik kepada kalangan elite maupun rakyat bawah.

"Selalu saya anjurkan bahwa kita bertindak selalu dengan hati-hati dan dengan seadil-adilnya," kata Prabowo di Kantor DPP Partai Gerindra, Ragunan, Jakarta Selatan, Jumat (2/12/2016).

"Jadi saya lihat, bangsa Indonesia ini sering elite-elite tidak punya empati kepada rakyat bawah," tegas dia.

Menurut Prabowo, jika rasa empati sudah pudar, bangsa Indonesia mudah menjalankan sesuai rekayasa.

"Dengan tidak punya empati, kita juga punya sifat sering rekayasa, sering nipu, sering bohong," ujar dia.

Jika sudah demikian, kata Prabowo, kepercayaan dan dukungan dari rakyat akan hilang kepada pemerintah dan elite politik.

"Kalau sudah ada ketidakpercayaan pada sistem, lembaga negara, ini repot. Kita tidak bisa bernegara berbangsa dengan baik," kata dia.

Menurut mantan Danjen Kopassus itu, untuk melaksanakan kehidupan bernegara dibutuhkan kepercayaan antara pemimpin dan rakyatnya.

"Kita harus timbulkan masyarakat yang adil. Adil artinya harus dibangun atas dasar kebersihan, kejujuran. Kalau sistem kita rusak, jangan salahkan rakyat kalau rakyat tidak percaya dengan sistem itu," kata dia.

"Itu yang saya anjurkan di semua pihak untuk adil, hukum harus adil. Jangan hanya orang-orang tertentu yang cepat disalahkan, tapi ada pihak yang mungkin yang punya uang dan becking yang banyak, tidak diperlakukan dengan sama," tandas Prabowo.

Sebanyak 10 orang ditangkap atas dugaan makar dan mendompleng aksi damai 2 Desember. Polisi menyatakan sudah mengendus upaya makar tersebut sejak tiga minggu lalu. Mereka diduga akan menduduki Gedung DPR.

"Mereka ingin menguasai gedung DPR-MPR," kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar di Silang Monas, Jakarta, Jumat 2 Desember 2016.

Sementara, Karopenmas Polri Kombes Rikwanto mengatakan, mereka yang ditangkap terkait dugaan makar ada delapan orang. Mereka berinisial AD, E, AD, KZ, RS, RA, SB, dan RK. Sedangkan dua orang berinisial JA dengan RK terkait pelanggaran UU ITE.

"Delapan di antaranya dikenakan tuduhan Pasal 107 junto Pasal 110 KUHP junto Pasal 87 KUHP. Sedangkan dua orang dengan inisial JA dengan RK dikenakan Pasal UU ITE, Pasal 28," kata Rikwanto di Mabes Polri, Jumat 2 Desember.

Saat ini mereka sudah diamankan dan diperiksa di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

"

| Tersangka | Makar | Ditangkap, | Kritik | Prabowo | untuk | Elite | Negara | Liputan6 | Jakarta | strong> | Ketua | Umum | Partai | Gerindra | Subianto | menyarankan | aparat | penegak | hukum | sebagai | kepanjangan | tangan | pemerintah | berhati | hati | dalam | penangkapan | kasus | dugaan | makar< | p> Prabowo | menekankan | agar | dapat | diterapkan | secara | adil | kepada | semua | kalangan | baik | elite | maupun | rakyat | bawah | p> Selalu | saya | anjurkan | bahwa | kita | bertindak | selalu | dengan | seadil | adilnya | kata | Kantor | Ragunan | Selatan | Jumat | 2016) | p> Jadi | lihat | bangsa | Indonesia | sering | tidak | punya | empati | tegas | p> Menurut | jika | rasa | sudah | pudar | mudah | menjalankan | sesuai | rekayasa | p> Dengan | juga | sifat | nipu | bohong | ujar | p> Jika | demikian | kepercayaan | dukungan | dari | akan | hilang | politik | p> Kalau | ketidakpercayaan | pada | sistem | lembaga | negara | repot | Kita | bisa | bernegara | berbangsa | mantan | Danjen | Kopassus | melaksanakan | kehidupan | dibutuhkan | antara | pemimpin | rakyatnya | p> Kita | harus | timbulkan | masyarakat | yang | Adil | artinya | dibangun | atas | dasar | kebersihan | kejujuran | Kalau | rusak | jangan | salahkan | kalau | percaya | p> Itu | pihak | Jangan | hanya | orang | tertentu | cepat | disalahkan | tapi | mungkin | uang | becking< | banyak | diperlakukan | sama | tandas | p> Sebanyak | ditangkap | dugaan makar< | mendompleng | aksi | damai | Desember | Polisi | menyatakan | mengendus | upaya | makar | tersebut | sejak | tiga | minggu | lalu | Mereka | diduga | menduduki | Gedung | p> Mereka | ingin | menguasai | gedung | Kadiv | Humas | Polri | Irjen | Rafli | Amar | Silang | Monas | 2016 | p> Sementara | Karopenmas | Kombes | Rikwanto | mengatakan | mereka | terkait | delapan | berinisial | Sedangkan | pelanggaran | p> Delapan | antaranya | dikenakan | tuduhan | Pasal | junto | KUHP | inisial | Mabes | p> Saat | diamankan | diperiksa | Mako | Brimob | Kelapa | Depok | Jawa | Barat | p> |

Thursday, December 8, 2016

Hatta Taliwang Ditangkal, Masinton Yakin Potensi Makar Kecil

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepolisian menangkap aktivis Hatta Taliwang.

Hatta diamankan karena diduga terlibat perencanaan makar kepada pemerintah pada Jumat (2/12/2016).

Anggota Komisi III DPR Masinton Pasaribu meyakini potensi orang yang dituduh polisi untuk melakukan makar kecil.

"Tapi sebagai pintu masuk untuk menelusuri pembiayaannya, aktor pendanaannya sah-sah saja dilakukan oleh polisi," kata Masinton di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (8/12/2016).

Masinton mengungkapkan alasan keyakinannya tersebut.

Ia menuturkan jaringan aktivis kepada grass root tidak cukup kuat.

Pengorganisasian massa juga lemah.

"Kedua, beberapa orang ini memang dari dulu sifatnya adalah oposan sejati, mau pemerintahannya siapa, dia teriak saja," kata Masinton.

Alasan lainnya, kata Masinton, aktivis tersebut tidak punya basis pengorganisasian massa yang mengakar dan solid.

Mereka, kata Masinton, cuma memanfaatkan situasi serta kerumunan lalu diklaim untuk melakukan makar.

"Itu kan kepemimpinannya harus punya akar yang kuat, dan punya jaringan yang kuat juga, nah yang saya bisa baca dari ini adalah bahwa mereka ini digunakan oleh aktor-aktor yang punya uang untuk menciptakan instabilitas, mengganggu stabilitas Pemerintahan Jokowi JK," ujar Politikus PDIP itu.

Oleh karenanya, Masinton meminta aparat menelusuri aktor penyandang dana tersebut. Kemudian, mencari sumber usaha apakah ilegal atau tidak.

"Akan menjadi berbahaya jika sumber-sumber usaha selama ini yang berdasar usaha ilegal, seperti penyelundupan, korupsi, pembalakan hutan, apa segala macam, digunakan untuk mengganggu stabilitas negara, ini akan berbahaya dan harus aset-asetnya dibekukan," kata Masinton.

"

| Hatta | Taliwang | Ditangkal, | Masinton | Yakin | Potensi | Makar | Kecil | TRIBUNNEWS | JAKARTA | strong> | Kepolisian | menangkap | aktivis | Taliwang< | p> Hatta | diamankan | karena | diduga | terlibat | perencanaan | makar | kepada | pemerintah | pada | Jumat | 2016) | p> Anggota | Komisi | DPR< | Pasaribu< | meyakini | potensi | orang | yang | dituduh | polisi | untuk | melakukan | kecil | p> Tapi | sebagai | pintu | masuk | menelusuri | pembiayaannya | aktor | pendanaannya | dilakukan | oleh | kata | Gedung | Jakarta | Kamis | p> Masinton | mengungkapkan | alasan | keyakinannya | tersebut | p> Ia | menuturkan | jaringan | grass | root | cukup | kuat | p> Pengorganisasian | massa | juga | lemah | p> Kedua | beberapa | memang | dulu | sifatnya | adalah | oposan | sejati | pemerintahannya | siapa | teriak | p> Alasan | lainnya | punya | basis | pengorganisasian | mengakar | solid | p> Mereka | cuma | memanfaatkan | situasi | serta | kerumunan | diklaim | p> Itu | kepemimpinannya | harus | akar | saya | baca | bahwa | digun | uang | mencipt | instabilitas | mengganggu | stabilitas | Pemerintahan | Jokowi | ujar | Politikus | PDIP | p> Oleh | karenanya | meminta | aparat | penyandang | dana | Kemudian | mencari | sumber | usaha | apakah | ilegal | atau | p>Akan | menjadi | berbahaya | jika | selama | berdasar | seperti | penyelundupan | korupsi | pembal | hutan | segala | macam | negara | aset | asetnya | dibekukan | p> |

Mantan Panglima TNI Bicara Penangkapan Kivlan Zein Cs yang Dituduh Makar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Djoko Santoso mengatakan masalah politik dan hukum janganlah menggunakan perasaan, melainkan harus konkret.

Pernyataan Panglima TNI di Era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut dilontarkan setelah ditanya wartawan mengenai perasaannya ada mantan Jenderal TNI yang ditangkap karena diduga terlibat makar.

‎Mereka yakni Kivlan Zein yang merupakan Purnawirawan TNI Angkatan Darat dengan pangkat terakhir mayor Jenderal serta Adityawarman, yang juga Purnawirawan TNI AD dengan pangkat Brigadir Jenderal.

"Jadi di permasalahan politik, dan hukum jangan main perasaan. Semuanya harus konkret ya," kata Djoko di kediamannya usai bertemu Anies Baswedan di kediamannya, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (8/12/2016).

‎

Baca: Polda Metro Jaya: Jangan Percaya Isu Petinggi TNI AD Marah Terkait Penangkapan Kivlan Zein

Mantan Jenderal Infanteri tersebut mengatakan mengenai adanya dugaan makar yang dilakukan sejumlah tokoh termasuk diantaranya dua purnawiraan TNI sebaiknya diserahkan kepada hukum yang berlaku.

"Serahkan saja kepada proses hukum yang berlaku, kita lihat bagaimana hasilnya. Mereka sudah diperiksa dan sebagian sudah dikeluarkan," katanya.

Mantan Pangdam Pattimura dan Pangdam Jaya tersebut mengaku tidak bisa menilai apakah yang dilakukan dua mantan jenderal tersebut tergolong makar.

Begitu mengenai apakah keduanya layak ditangkap atau tidak.

‎"Ya kembali saya tidak punya kewenangan untuk menilai, karena satu saya tidak punya kewenangan, yang kedua tidak punya informasi tentang itu. Salah kalau kita enggak tahu, enggak ada informasi dan bukan kapasitas saya," pungkasnya.

Sebelumnya beredar video di Youtube mengatasnamakan DragonTV berdurasi tiga menit‎ 30 detik mengenai penangkapan Kivlan Zen dan Adityawarman, sebelum aksi doa dan salat berjamaah di kawasan Monas 4 Desember lalu.

Dalam video itu disebutkan jika Jajaran perwira tinggi dan menengah TNI tersinggung atas penangkapan tersebut.

Video itu telah dibantah oleh Mabes TNI.

Menurut Kapuspen TNI Mayjen Wuryanto, berita yang disiarkan di saluran itu hoax.

Setelah ditelusuri saluran youtube tersebut tidak menginduk pada stasiun Dragon TV di Tiongkok.

"

| Mantan | Panglima | Bicara | Penangkapan | Kivlan | Zein | yang | Dituduh | Makar | TRIBUNNEWS | JAKARTA | strong> | Jenderal | (Purn) | Djoko | Santoso | mengat | masalah | politik | hukum | janganlah | menggun | perasaan | melainkan | harus | konkret | p> Pernyataan | Susilo | Bambang | Yudhoyono | (SBY) | tersebut | dilontarkan | setelah | ditanya | wartawan | mengenai | perasaannya | mantan | ditangkap | karena | diduga | terlibat | makar | p> ‎Mereka | yakni | merup | Purnawirawan | Angkatan | Darat | dengan | pangkat | terakhir | mayor | serta | Adityawarman | juga | Brigadir | p> Jadi | permasalahan | jangan | main | Semuanya | kata | kediamannya | usai | bertemu | Anies | Baswedan | Cipayung | Jakarta | Timur | Kamis | 2016) | p> ‎< | p> Baca: | Polda | Metro | Jaya: | Jangan | Percaya | Petinggi | Marah | Terkait | Zein< | strong>< | h4> Mantan | Infanteri | adanya | dugaan | dilakukan | sejumlah | tokoh | termasuk | diantaranya | purnawiraan | sebaiknya | diserahkan | kepada | berlaku | p> Serahkan | proses | lihat | bagaimana | hasilnya | Mereka | diperiksa | sebagian | dikeluarkan | katanya | p> Mantan | Pangdam | Pattimura | Jaya | mengaku | menilai | apakah | jenderal | tergolong | p> Begitu | keduanya | layak | atau | p> ‎Ya | kembali | saya | punya | kewenangan | untuk | satu | kedua | informasi | tentang | Salah | kalau | enggak | tahu | bukan | kapasitas | pungkasnya | p> Senya | beredar | video | Youtube< | mengatasnam | DragonTV | berdurasi | tiga | menit‎ | detik | penangkapan | aksi | salat | berjamaah | kawasan | Monas | Desember | p> Dalam | disebutkan | jika | Jajaran | perwira | tinggi | menengah | tersinggung | atas | p> Video | telah | dibantah | oleh | Mabes | p> Menurut | Kapuspen | Mayjen | Wuryanto | berita | disiarkan | saluran | hoax | p> Setelah | ditelusuri | youtube | menginduk | pada | stasiun | Dragon | Tiongkok | p> |

Tuesday, December 6, 2016

Menko Wiranto: Polisi Punya Cara Gali Informasi Aliran Dana Makar

Liputan6.com, Jakarta - Polri terus mendalami kasus dugaan percobaan makar saat aksi damai 2 Desember. Kali ini, polisi menemukan adanya aliran dana yang diduga untuk melancarkan rencana makar ini.

Menko Polhukam Wiranto mengatakan aparat tentu tidak bisa membuka data aliran dana itu ke publik. Sebab, dalam proses penyidikan sebuah kasus, tidak bisa segala data diungkap, termasuk makar.

"Ada beberapa informasi yang kemudian belum layak untuk disampaikan ke publik ya enggak usah disampaikan. Tidak selamanya semua temuan kemudian disampaikan ke masyarakat," Wiranto menjelaskan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 6 Desember 2016.

Wiranto percaya polisi punya cara sendiri dalam mengungkap berbagai kasus, termasuk kasus dugaan makar yang tengah didalami Polri.

"Ada cara-cara kepolisian untuk kemudian menghubungkan satu laporan ke laporan yang lain. Satu informasi ke informasi yang lain. Itu memang cara-cara kepolisian untuk bagaimana bisa menggali bukti-bukti lebih jauh lagi," pungkas Wiranto.

"

| Menko | Wiranto: | Polisi | Punya | Cara | Gali | Informasi | Aliran | Dana | Makar | Liputan6 | Jakarta | strong> | Polri | terus | mendalami | kasus | dugaan | percobaan | makar< | saat | aksi | damai | Desember | Kali | polisi | menemukan | adanya | aliran | dana | yang | diduga | untuk | melancarkan | rencana | makar | p> Menko | Polhukam | Wiranto | mengat | aparat | tentu | membuka | data | publik | Sebab | dalam | proses | penyidikan | sebuah | segala | diungkap | termasuk | p> Ada | beberapa | informasi | kemudian | layak | disampaikan | enggak | usah | Tidak | selamanya | semua | temuan | masyarakat | menjelaskan | Istana | Kepresidenan | Selasa | 2016 | p> Wiranto | percaya | punya | cara | sendiri | mengungkap | berbagai | tengah | didalami | p> Ada | kepolisian | menghubungkan | satu | laporan | lain | Satu | memang | bagaimana | menggali | bukti | lebih | jauh | lagi | pungkas | p> |

Menko Wiranto: Polisi Punya Cara Gali Informasi Aliran Dana Makar

Liputan6.com, Jakarta - Polri terus mendalami kasus dugaan percobaan makar saat aksi damai 2 Desember. Kali ini, polisi menemukan adanya aliran dana yang diduga untuk melancarkan rencana makar ini.

Menko Polhukam Wiranto mengatakan aparat tentu tidak bisa membuka data aliran dana itu ke publik. Sebab, dalam proses penyidikan sebuah kasus, tidak bisa segala data diungkap, termasuk makar.

"Ada beberapa informasi yang kemudian belum layak untuk disampaikan ke publik ya enggak usah disampaikan. Tidak selamanya semua temuan kemudian disampaikan ke masyarakat," Wiranto menjelaskan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 6 Desember 2016.

Wiranto percaya polisi punya cara sendiri dalam mengungkap berbagai kasus, termasuk kasus dugaan makar yang tengah didalami Polri.

"Ada cara-cara kepolisian untuk kemudian menghubungkan satu laporan ke laporan yang lain. Satu informasi ke informasi yang lain. Itu memang cara-cara kepolisian untuk bagaimana bisa menggali bukti-bukti lebih jauh lagi," pungkas Wiranto.

"

| Menko | Wiranto: | Polisi | Punya | Cara | Gali | Informasi | Aliran | Dana | Makar | Liputan6 | Jakarta | strong> | Polri | terus | mendalami | kasus | dugaan | percobaan | makar< | saat | aksi | damai | Desember | Kali | polisi | menemukan | adanya | aliran | dana | yang | diduga | untuk | melancarkan | rencana | makar | p> Menko | Polhukam | Wiranto | mengat | aparat | tentu | membuka | data | publik | Sebab | dalam | proses | penyidikan | sebuah | segala | diungkap | termasuk | p> Ada | beberapa | informasi | kemudian | layak | disampaikan | enggak | usah | Tidak | selamanya | semua | temuan | masyarakat | menjelaskan | Istana | Kepresidenan | Selasa | 2016 | p> Wiranto | percaya | punya | cara | sendiri | mengungkap | berbagai | tengah | didalami | p> Ada | kepolisian | menghubungkan | satu | laporan | lain | Satu | memang | bagaimana | menggali | bukti | lebih | jauh | lagi | pungkas | p> |

Wednesday, December 7, 2016

Menko Wiranto: Polisi Punya Cara Gali Informasi Aliran Dana Makar

Liputan6.com, Jakarta - Polri terus mendalami kasus dugaan percobaan makar saat aksi damai 2 Desember. Kali ini, polisi menemukan adanya aliran dana yang diduga untuk melancarkan rencana makar ini.

Menko Polhukam Wiranto mengatakan aparat tentu tidak bisa membuka data aliran dana itu ke publik. Sebab, dalam proses penyidikan sebuah kasus, tidak bisa segala data diungkap, termasuk makar.

"Ada beberapa informasi yang kemudian belum layak untuk disampaikan ke publik ya enggak usah disampaikan. Tidak selamanya semua temuan kemudian disampaikan ke masyarakat," Wiranto menjelaskan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 6 Desember 2016.

Wiranto percaya polisi punya cara sendiri dalam mengungkap berbagai kasus, termasuk kasus dugaan makar yang tengah didalami Polri.

"Ada cara-cara kepolisian untuk kemudian menghubungkan satu laporan ke laporan yang lain. Satu informasi ke informasi yang lain. Itu memang cara-cara kepolisian untuk bagaimana bisa menggali bukti-bukti lebih jauh lagi," pungkas Wiranto.

"

| Menko | Wiranto: | Polisi | Punya | Cara | Gali | Informasi | Aliran | Dana | Makar | Liputan6 | Jakarta | strong> | Polri | terus | mendalami | kasus | dugaan | percobaan | makar< | saat | aksi | damai | Desember | Kali | polisi | menemukan | adanya | aliran | dana | yang | diduga | untuk | melancarkan | rencana | makar | p> Menko | Polhukam | Wiranto | mengat | aparat | tentu | membuka | data | publik | Sebab | dalam | proses | penyidikan | sebuah | segala | diungkap | termasuk | p> Ada | beberapa | informasi | kemudian | layak | disampaikan | enggak | usah | Tidak | selamanya | semua | temuan | masyarakat | menjelaskan | Istana | Kepresidenan | Selasa | 2016 | p> Wiranto | percaya | punya | cara | sendiri | mengungkap | berbagai | tengah | didalami | p> Ada | kepolisian | menghubungkan | satu | laporan | lain | Satu | memang | bagaimana | menggali | bukti | lebih | jauh | lagi | pungkas | p> |

Friday, December 2, 2016

Di luar aksi 212, Polri tangkap 10 tokoh terkait 'perencanaan percobaan makar'

Aksi demonstrasi 4 November 2016Image copyright AFP Image caption Polisi menyatakan bahwa mereka yang hari ini ditangkap diduga "memanfaatkan aktivitas agenda hari ini selain berdoa"

Usai aksi 212, juru bicara Mabes Polri Boy Rafli Amar mengukuhkan bahwa Polda Metro Jaya sudah melakukan penangkapan terhadap 10 orang atas dugaan "perencanaan percobaan makar" serta "pemanfaatan terhadap kondisi yang ada hari ini."

Menurut Boy, kesepakatan polisi dengan Gerakan Nasional pengawal Fatwa (GNPF) MUI terkait aksi hari ini adalah "murni untuk tujuan ibadah" namun mereka yang ditahan diduga "memanfaatkan aktivitas agenda hari ini selain berdoa."

Boy mengatakan bahwa penyidik Polda Metro Jaya sudah menemukan indikasi sejak lama. "Ini bukan proses 1-2 hari. Ini proses lama, lewat penelusuran, pemantauan, monitoring oleh tim sudah dalam kurun waktu 3-4 minggu terakhir, semua aktivitas dicermati," kata Boy.

Polisi punya batas waktu 1x24 jam untuk menentukan apakah akan dilakukan penahanan terhadap 10 orang tersebut.

Boy tak menyebut nama-nama mereka yang ditahan, tapi menyatakan bahwa identitas mereka "seperti yang sudah rekan-rekan ketahui".

Informasi yang beredar menyatakan bahwa orang-orang yang ditangkap adalah pemusik dan calon wakil bupati Bekasi, Ahmad Dhani, Mayjen (Purn) Kivlan Zein, pendiri Universitas Bung Karno yang juga puteri Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputeri, seniman dan bekas pegiat Ratna Sarumpaet, politikus tahun 1990an Sri Bintang Pamungkas, Eko, Adityawarman, Firza Huzein, dan Jamran.

Terkait aksi unjuk rasa 212, polisi menurut Boy, sebelum pukul 17.00, aktivitas massa di sekitar Silang Monas seharusnya sudah selesai.

"

| luar | aksi | 212, | Polri | tangkap | tokoh | terkait | perencanaan | percobaan | makar | Image | copyright< | span> | AFP< | caption< | Polisi | menyatakan | bahwa | mereka | yang | hari | ditangkap | diduga | memanfaatkan | aktivitas | agenda | selain | berdoa | Usai | juru | bicara | Mabes | Rafli | Amar | mengukuhkan | Polda | Metro | Jaya | sudah | melakukan | penangkapan | terhadap | orang | atas | dugaan | serta | pemanfaatan | kondisi | p>Menurut | kesepakatan | polisi | dengan | Gerakan | Nasional | pengawal | Fatwa | (GNPF) | adalah | murni | untuk | tujuan | ibadah | namun | ditahan | berdoa | p>Boy | mengatakan | penyidik | menemukan | indikasi | sejak | lama | bukan | proses | lewat | penelusuran | pemantauan | monitoring | oleh | dalam | kurun | waktu | minggu | terakhir | semua | dicermati | kata | p>Benarkah | Ahmad | Dhani | Ratna | Sarumpaet | Rachmawati | lainnya | jelang | li> Polisi | penyebar | ajakan | rush | money< | li> < | ul>Polisi | punya | batas | 1x24 | menentukan | apakah | akan | dilakukan | penahanan | tersebut | menyebut | nama | tapi | identitas | seperti | rekan | ketahui | p>Informasi | beredar | pemusik | calon | wakil | bupati | Bekasi | Mayjen | (Purn) | Kivlan | Zein | pendiri | Universitas | Bung | Karno | juga | puteri | Soekarnoputeri | seniman | bekas | pegiat | politikus | tahun | 1990an | Bintang | Pamungkas | Adityawarman | Firza | Huzein | Jamran | p>Terkait | unjuk | rasa | menurut | sebelum | pukul | massa | sekitar | Silang | Monas | seharusnya | selesai |

Monday, December 5, 2016

Dituduh makar, Rachmawati dan Ratna Sarumpaet 'membantah'

Rachmawati Soekarnoputri, yusril ihza mahendraImage copyright Twitter Yusril Ihza Mahendra Image caption Rachmawati Soekarnoputri (kiri) dan Yusril Ihza Mahendra.

Rachmawati Soekarnoputri dan Ratna Sarumpaet menolak tuduhan kepolisian yang menyebut mereka melakukan permufakatan makar untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Melalui kuasa hukumnya, keduanya menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah sebatas kritikan terhadap pemerintah.

"Kalau sampai pelaksanaan makar, masih jauh. Dan bahwa mereka mengadakan rapat-rapat, pertemuan, mengkritik pemerintah, itu normal-normal saja," kata Yusril Ihza Mahendra, Minggu (04/12) siang, yang mengaku baru ditunjuk sebagai kuasa hukum Rachmawati dan Ratna Sarumpaet.

Rachmawati dan Ratna Sarumpaet beserta sejumlah orang lainnya ditangkap oleh aparat kepolisian sebelum aksi doa bersama 2 Desember di kawasan Monumen Nasional, Jakarta.

Mereka adalah antara lain Kivlan Zen, Adityawarman, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko, Alvin, Rachmawati Soekarnoputri, Ahmad Dhani, Sri Bintang Pamungkas, Jamran serta Rizal.

Menurut polisi, Jamran dan Rizal dijerat Undang-undang ITE karena dianggap menyebarluaskan ujaran kebencian terhadap isu-isu sara, sementara lainnya dijerat pasal permufakatan makar yaitu pasal 87 dan pasal 107 KUHP.

Polisi sejauh ini masih menahan Sri Bintang Pamungkas, Jamran dan Rizal, sementara lainnya dikeluarkan dari tahanan. Semuanya menolak tuduhan yang dilontarkan kepolisian.

Sidang istimewa

Sebelumnya, Kadiv Humas Mabes Polri Boy Rafli Amar, Sabtu (03/12) menyatakan sebagian mereka disangka melakukan 'permufakatan makar' karena hendak melakukan sidang istimewa untuk menuntut pergantian pemerintahan.

Temuan polisi menyebutkan mereka diduga terkait upaya pemanfaatan massa aksi doa bersama 2 Desember lalu untuk menduduki gedung DPR/MPR.

Namun demikian, menurut Yusril Ihza Mahendra, tuduhan yang diarahkan kepolisian kepada kliennya lebih merupakan upaya pencegahan dari kemungkinan pemanfaatan massa doa bersama pada Jumat (02/12) pagi.

"Lalu mengambil langkah preventif sejumlah tokoh ditangkap, walaupun mereka tidak ditangkapi belum tentu terjadi apa-apa juga," ungkap Yusril kepada wartawan.

Kepolisian sejauh ini belum menjelaskan peran masing-masing orang yang ditangkap tersebut dengan alasan menunggu proses pengadilan.

Menurut Boy Rafli, pihaknya memiliki apa yang disebutnya sebagai barang bukti berupa tulisan tangan, monitoring percakapan, dan bukti elektronik yang menunjukkan adanya permufakatan makar tersebut.

"

| Dituduh | makar, | Rachmawati | Ratna | Sarumpaet | membantah | Image | copyright< | span> | Twitter | Yusril | Ihza | Mahendra< | caption< | Soekarnoputri | (kiri) | Mahendra | menolak | tuduhan | kepolisian | yang | menyebut | melakukan | permufakatan | makar | untuk | menggulingkan | pemerintahan | Presiden | Joko | Widodo | p>Mei | kuasa | hukumnya | keduanya | menyat | bahwa | lakukan | hanyalah | sebatas | kritikan | terhadap | pemerintah | p>Kalau | sampai | pelaksanaan | masih | jauh | mengad | rapat | pertemuan | mengkritik | normal | kata | Minggu | siang | mengaku | baru | ditunjuk | sebagai | hukum | p>Rachmawati | beserta | sejumlah | orang | lainnya | ditangkap | oleh | aparat | aksi | bersama | Desember | kawasan | Monumen | Nasional | Jakarta | p>Mereka | adalah | antara | lain | Kivlan | Adityawarman | Firza | Husein | Alvin | Ahmad | Dhani | Bintang | Pamungkas | Jamran | serta | Rizal | p>Menurut | polisi | dijerat | Undang | undang | karena | dianggap | menyebarluaskan | ujaran | kebencian | sara | sementara | pasal | yaitu | KUHP | p> Kepolisian | punya | bukti | cukup | penangkapan | terduga | pada | 212< | li> Benarkah | jelang | li> < | ul>Polisi | sejauh | menahan | dikeluarkan | tahanan | Semuanya | dilontarkan | p>Sidang | istimewa< | h2>Senya | Kadiv | Humas | Mabes | Polri | Rafli | Amar | Sabtu | sebagian | disangka | hendak | sidang | istimewa | menuntut | pergantian | p>Temuan | menyebutkan | diduga | terkait | upaya | pemanfaatan | massa | menduduki | gedung | p>Namun | demikian | menurut | diarahkan | kepada | kliennya | lebih | merup | pencegahan | kemungkinan | Jumat | pagi | p>Lalu | mengambil | langkah | preventif | tokoh | walaupun | ditangkapi | tentu | terjadi | juga | ungkap | wartawan | p>Kepolisian | menjelaskan | peran | masing | tersebut | dengan | alasan | menunggu | proses | pengadilan | pihaknya | memiliki | disebutnya | barang | berupa | tulisan | tangan | monitoring | percakapan | elektronik | menunjukkan | adanya |