Showing posts sorted by relevance for query warga. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query warga. Sort by date Show all posts

Thursday, December 8, 2016

Komisioner Komnas HAM: Makar Hak Konstitusional Rakyat

Jakarta, CNN Indonesia -- Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai menilai upaya mengganti presiden di tengah masa jabatan merupakan hak konstitusional warga negara. Namun hal itu harus sesuai dengan undang-undang.

Pernyataan itu disampaikan Pigai menyikapi penangkapan sejumlah aktivis yang dituding melakukan makar, termasuk Direktur Institut Soekarno-Hatta, Hatta Taliwang, yang ditangkap pada dini hari tadi.

"Kritikan rakyat itu merupakan hak konstitusional warga negara, termasuk perbuatan atau tindakan mengganti presiden di tengah jalan asal konstitusional melalui parlemen," kata Pigai dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, di Jakarta kemarin.

Dia menilai penangkapan Hatta Taliwang dan sejumlah tokoh yang dituduh makar membuktikan watak pemerintahan represif. Sepanjang tindakan makar sesuai dengan konstitusi, menurutnya, hal itu bukan persoalan.

"Penangkapan terhadap Ibu Rachma dkk, termasuk Pak Hatta Taliwang, menujukkan tindakan represif pemerintah. Jangan sampai terjadi penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power)," katanya.

Pigai mengatakan, makar atau kudeta yang tidak dibenarkan adalah makar yang bersifat inkonstitusional. Hal itu berarti tindakan makar tersebut menimbulkan instabilitas nasional, pelanggaran HAM, menghilangkan demokrasi, dan kedigdayaan sipil.

Dia menjelaskan, dalam human rights and elections disebutkan, di tengah kondisi tertentu atau situasi terpaksa, presiden memiliki kemampuan untuk mengeluarkan pernyataan darurat atau state in emergency.

Demikian pula dengan rakyat. Mereka juga memiliki kesempatan untuk melakukan pengambilalihan kekuasaan, apakah melalui people power ataupun kudeta, baik oleh militer atau sipil. Dia menyebut tindakan makar pernah dipraktikkan di Indonesia dan di negara-negara lain.

"Keduanya dilakukan hanya semata-mata demi pemulihan stabilitas sosial dan integritas nasional," kata Pigai.

Komisioner asal Papua itu mengatakan, kekuasaan presiden tidak tak terbatas. Dalam arti, kekuasaan presiden dibatasi oleh konstitusi negara.

Presiden adalah pemangku kewajiban (obligation) atas perlindungan dan pemenuhan HAM. Sementara kedudukan rakyat sebagai pemilik hak (Right holder). Oleh karena itu, rakyat berhak menilai dan mengkritisinya.

Sementara itu, anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDIP Junimart Girsang berharap proses penyidikan kasus makar ini dilakukan secara transparan.

Dia meminta polisi mempublikasikan bukti makar yang dituduhkan kepada sejumlah orang yang telah ditangkap.

"Kami harapkan sekali lagi, polisi sebaiknya transparan dalam penyidikan. Sampaikanlah kepada masyarakat, agar tidak muncul isu-isu yang tidak kondusif," kata Junimart.

Dia yakin polisi masih memiliki bukti lain terkait dugaan makar tersebut. Namun Junimart belum mengetahui secara pasti dalam bentuk apa bukti tersebut.

"Kami tak tahu apakah mereka (polisi) masih punya bukti lain. Bukti percakapan langsung misalnya, saya yakin itu ada," kata Junimart.

Kemarin polisi kembali menangkap satu orang yang diduga terkait kasus makar. Kali ini yang ditangkap adalah Direktur Institut Soekarno-Hatta, Hatta Taliwang. Dia ditangkap di rumahnya pada pukul 01.30 WIB. (pmg/obs)

"

| Komisioner | Komnas | HAM: | Makar | Konstitusional | Rakyat | Jakarta< | span> | Indonesia< | span>< | strong> | Natalius | Pigai | menilai | upaya | mengganti | presiden | tengah | masa | jabatan | merup | konstitusional | warga | negara | Namun | harus | sesuai | dengan | undang | Pernyataan | disampaikan | menyikapi | penangkapan | sejumlah | aktivis | yang | dituding | melakukan | makar | termasuk | Direktur | Institut | Soekarno | Hatta | Taliwang | ditangkap | pada | dini | hari | tadi | p>Kritikan | rakyat | perbuatan | atau | tind | jalan | asal | parlemen | kata | dalam | keterangan | tertulis | diterima | CNNIndonesia | com< | Jakarta kemarin | p>Dia | tokoh | dituduh | membuktikan | watak | pemerintahan | represif | Sepanjang | konstitusi | menurutnya | bukan | persoalan | p>Penangkapan | terhadap | Rachma | menujukkan | pemerintah | Jangan | sampai | terjadi | penyalahgunaan | kekuasaan | (abuse | power< | em>) | katanya | p> Pigai | mengat | kudeta | dibenarkan | adalah | bersifat | inkonstitusional | berarti | tersebut | menimbulkan | instabilitas | nasional | pelanggaran | menghilangkan | demokrasi | kedigdayaan | sipil | menjelaskan | human | rights | elections< | disebutkan | kondisi | tertentu | situasi | terpaksa | memiliki | kemampuan | untuk | mengeluarkan | pernyataan | darurat | state | emergency | em>< | p>Demikian | pula | Mereka | juga | kesempatan | pengambilalihan | apakah | people | ataupun | baik | oleh | militer | menyebut | pernah | dipraktikkan | Indonesia | lain | p>Keduanya | dilakukan | hanya | semata | mata | demi | pemulihan | stabilitas | sosial | integritas | p>Komisioner | Papua | terbatas | Dalam | arti | dibatasi | p>Presiden | pemangku | kewajiban | (obligation< | atas | perlindungan | pemenuhan | Sementara | kedudukan | sebagai | pemilik | (Right | holder< | Oleh | karena | berhak | mengkritisinya | p>Sementara | anggota | Komisi | Fraksi | PDIP | Junimart | Girsang | berharap | proses | penyidikan | kasus | secara | transparan | meminta | polisi | mempublikasikan | bukti | dituduhkan | kepada | orang | telah | p>Kami | harapkan | sekali | lagi | sebaiknya | Sampaikanlah | masyarakat | agar | muncul | kondusif | yakin | masih | terkait | dugaan | mengetahui | pasti | bentuk | tak tahu | (polisi) | punya | Bukti | percakapan | langsung | misalnya | saya | p>Kemarin | kembali | menangkap | satu | diduga | Kali | rumahnya | pukul | (pmg | obs)< | strong> < |

Sunday, December 4, 2016

Beda pemufakatan makar dan penyampaian kritik

Politisi Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar Jumat (2/12/2016).
Politisi Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar Jumat (2/12/2016). © Indrianto Eko Suwarso /Antara Foto

Belakangan kata makar sontak populer. Publik menyoroti kata itu karena keluar dari pihak polisi dan tentara nasional terkait adanya potensi makar di demonstrasi Jumat lalu (2/12/2016).

Nyatanya demonstrasi yang dikenal "212" itu jauh dari usaha makar. Malah Presiden Joko Widodo salat bersama dan juga berpidato di Monumen Nasional--tempat aksi digelar.

"Terima kasih atas doa dan zikir yang telah dipanjatkan untuk keselamatan bangsa dan negara kita. Allahu Akbar," demikian penggalan pidato Jokowi ketika itu.

Tapi dugaan makar yang diduga akan menunggangi aksi itu ternyata terbongkar. Di beberapa tempat yang berbeda ada 11 nama yang ditangkap polisi.

Dari 11 orang itu polisi menetapkan 10 nama yang jadi tersangka. Yakni Kivlan Zein, Adityawarman Thahar, Ratna Sarumpaet, Firza Huzein, Eko Santjojo, Alvin Indra, Rachmawati Soekarnoputri, Sri Bintang Pamungkas, dan kakak beradik Rizal dan Jamran.

Dikutip dari CNN Indonesia, dari 10 nama itu ada delapan yang dijerat Pasal 107 juncto Pasal 110 juncto Pasal 87 KUHP mengenai pemufakatan jahat untuk melakukan makar. Ahmad Dhani sendiri dijerat Pasal 207 KUHP mengenai penghinaan terhadap Presiden.

Penangkapan itu kemudian menuai tanda tanya. Yang paling nyaring adalah dari Partai Gerindra. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono mengatakan tudingan makar kepada para tokoh dan aktivis itu membahayakan perkembangan demokrasi.

"Pada kesempatan ini saya minta kepada kepolisian untuk membebaskan semua, termasuk Sri Bintang Pamungkas," kata Ferry.

Ferry beranggapan sulit baginya menuding tokoh-tokoh yang ditangkap itu berbuat makar. Menurutnya makar merupakan sebuah upaya penggulingan pemerintahan yang sah dengan mengerahkan kekuatan besar. Tapi dalam pandangan Ferry mereka hanya menyampaikan pendapat di muka publik, dan itu merupakan bagian dari kritik.

"Saya takut persepsi ini dibangun sedemikian rupa, dan tidak bisa memilah mana sikap kritis dan pembungkaman," tuturnya.

Tapi polisi punya persepsi berbeda. Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, mengatakan perbuatan makar beda jauh dengan penyampaian kritik.

"Pandangan kritis yang disampaikan lewat kritik itu lumrah, tetapi rambu hukum harus dipegang. Kalau makar dengan pemufakatan jahat, ini adalah barang yang berbeda dengan kritik," ujar Boy dalam jumpa pers di Gedung Divisi Humas Polri Jakarta, Sabtu (3/12/2016).

Bagi Boy kritik tidak boleh disampaikan dengan ujaran kebencian, penistaan, kata-kata bohong dan penghasutan. Ia berharap kritik itu tetap sesuai dengan tatanan hukum dan aturan yang berlaku, baik penyampaian melalui verbal, non verbal atau media elektronik.

"Jadi, kami ini bukannya terlalu reaktif. Kami hanya bermain pada tatanan hukum dan kami lakukan pada tindakan nyata," katanya.

Lebih jauh, menurut Boy, penentuan tindak pidana makar dalam bentuk pemufakatan tidak perlu menunggu apa yang direncanakan terjadi. Dalam arti, penyidik tidak perlu menunggu pemberontakan terealisasi untuk menangkap mereka.

Dalam kasus ini, penyidik Polri menemukan bukti para tersangka berupaya memanfaatkan ruang kebebasan untuk melahirkan gagasan berbau hasutan yang bisa disalahartikan.

Semua tersangka diduga berencana untuk memanfaatkan massa yang mengikuti doa bersama untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. "Situasinya multikompleks. Tidak bisa kami katakan ini murni ibadah. Polisi selalu berpikir ada kecurigaan," kata Boy menambahkan.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, makar memiliki arti: 1. akal busuk; tipu muslihat; 2. perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang dan sebagainya; 3. perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah.

Dalam sejarahnya undang-undang terkait makar lahir dari usaha pihak berkuasa untuk melawan setiap pihak yang mencoba melawan untuk menggulingkannya. Dalam Undang-undang KUHP yang dilahirkan Belanda dan diadopsi Indonesia disebutkan makar itu usaha atau kegiatan untuk menumbangkan pemerintah yang sah.

Dalam Pasal 107 KUHP makar diidentikkan dengan empat hal: makar terhadap pemerintah, ideologi, wilayah dan makar terhadap kepala negara.

Jenis hukuman untuk pelaku makar beraneka ragam, ada yang cuma 2,5 tahun saja, ada juga yang sampai 20 tahun, bahkan hukuman mati, seperti yang dikatakan Kepala Polda Metro Jaya, Irjen Pol Mochamad Iriawan.

Indonesia pernah beberapa kali terancam makar yang dilakukan warga negaranya.

Kasus makar pertama dilakukan oleh seorang perwira muda bernama Daniel Maukar. Dia melakukan serangan ke Istana Negara dengan pesawat tempur MiG-17 Fresco di era kepemimpinan Sukarno.

Akibatnya Daniel diadili atas tindakan makar dan dijatuhi hukuman mati, namun diampuni dan hanya menjalani delapan tahun masa tahanan sebelum akhirnya bebas.

Kasus makar yang lain dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka, Republik Maluku Selatan dan juga Organisasi Papua Merdeka, karena dianggap melawan kedaulatan NKRI.

Sebagai catatan, tidak cuma perbuatan makar yang berujung bui. Kritik pun juga bisa. Misalnya kritikan soal banjir yang dilayangkan Abdul Hamid (62), warga Samarinda, Kalimantan Timur, kepada Wali Kota Syaharie Jaang.

Hamid dipolisikan beberapa waktu lalu dengan Undang-undang No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Nasib yang sama juga dialami Fadli Rahim (33), pegawai negeri sipil lingkup Pemerintah Gowa, yang dipenjara karena mengkritik sistem pemerintahan Bupati Gowa Ichsan Limpo melalui media sosial Line.

"

| Beda | pemufakatan | makar | penyampaian | kritik | UNTUK | INFORMASI | LEBIH | LENGKAP | IKUTI | KAMI | MEDIA | SOSIAL< | span>< | div> < | div> Politisi | Rachmawati | Soekarnoputri | meninggalkan | gedung | Markas | Komando | Brimob | Kelapa | Depok | usai | menjalani | pemeriksaan | terkait | kasus | dugaan | Jumat | 2016) | Indrianto | Suwarso | Antara | Foto Belgan | kata | sontak | populer | Publik | menyoroti | karena | keluar | pihak | polisi< | tentara | nasional | adanya | potensi | demonstrasi | p> Nyatanya | yang | dikenal | 212< | jauh | usaha | Malah | Presiden | Joko | Widodo | salat | bersama | juga | berpidato | Monumen | Nasional | tempat | aksi | digelar | p> Terima | kasih | atas | zikir | telah | dipanjatkan | untuk | keselamatan | bangsa | negara | Allahu | Akbar | demikian | penggalan | pidato | Jokowi | ketika | p> Tapi | diduga | menunggangi | ternyata | terbongkar | beberapa | berbeda | nama | ditangkap | polisi | p> Dari | orang | menetapkan | jadi | tersangka | Yakni | Kivlan | Zein | Adityawarman | Thahar | Ratna | Sarumpaet | Firza | Huzein | Santjojo | Alvin | Indra | Bintang | Pamungkas | kakak | beradik | Rizal | Jamran | p> Dikutip | Indonesia | nama< | delapan | dijerat | Pasal | juncto | KUHP | mengenai | jahat | melakukan | Ahmad | Dhani | sendiri | penghinaan | terhadap | p> Penangkapan | kemudian | menuai | tanda | tanya | Yang | paling | nyaring | adalah | Partai | Gerindra | Wakil | Ketua | Umum | Ferry | Juliantono | mengat | tudingan | kepada | para | tokoh | aktivis | membahay | perkembangan | demokrasi | p> Pada | kesempatan | saya | minta | kepolisian | membebaskan | semua | termasuk | Ferry< | p> Ferry | beranggapan | sulit | baginya | menuding | berbuat | Menurutnya | merup | sebuah | upaya | penggulingan | pemerintahan | dengan | mengerahkan | kekuatan | besar< | Tapi | dalam | pandangan | hanya | menyampaikan | pendapat | muka | publik | bagian | p> Saya | takut | persepsi | dibangun | sedemikian | rupa | memilah | mana | sikap | kritis | pembungkaman | tuturnya< | punya | Kepala | Divisi | Humas | Polri< | Inspektur | Jenderal | Rafli | Amar | perbuatan | beda | p> Pandangan | disampaikan | lewat | lumrah | rambu | hukum | harus | dipegang | Kalau | makar< | barang | ujar | Boy< | jumpa | pers | Gedung | Jakarta | Sabtu | p> Bagi | boleh | ujaran | kebencian | penistaan | bohong | penghasutan | berharap | tetap | sesuai | tatanan | aturan | berlaku | baik | verbal | atau | media | elektronik | p> Jadi | kami | bukannya | reaktif< | Kami | bermain | pada | lakukan | tind | nyata | katanya | p> Lebih | menurut | penentuan | tindak | pidana | bentuk | perlu | menunggu | direncan | terjadi | Dalam | arti | penyidik | pemberont | terealisasi | menangkap | p> Dalam | menemukan | bukti | berupaya | memanfaatkan | ruang | kebebasan | melahirkan | gagasan | berbau | hasutan< | disalahartikan | p> Semua | berencana | massa | mengikuti | menggulingkan | Situasinya | multikompleks | Tidak | murni | ibadah | Polisi | berpikir | kecurigaan | menambahkan | p> Menurut | besar | Bahasa | memiliki | arti: | akal | busuk; | tipu | muslihat; | (usaha) | maksud | hendak | menyerang | (membunuh) | sebagainya; | menjatuhkan | pemerintah | sejarahnya | undang | lahir | berkuasa | melawan | setiap | mencoba | menggulingkannya | Undang | dilahirkan | Belanda | diadopsi | disebutkan | kegiatan | menumbangkan | diidentikkan | empat | hal: | ideologi | wilayah | kepala | p> Jenis | hukuman< | pelaku | beraneka | ragam | cuma | tahun | sampai | bahkan | hukuman | mati | seperti | dikat | Polda | Metro | Jaya | Irjen | Mochamad | Iriawan< | p> Indonesia | pernah | kali | terancam | dilakukan | warga | negaranya | p> Kasus | pertama | oleh | seorang | perwira | muda | bernama | Daniel | Maukar< | serangan | Istana | Negara | pesawat | tempur | Fresco | kepemimpinan | Sukarno | p> Akibatnya | diadili | dijatuhi | diampuni | masa | tahanan | akhirnya | bebas | lain | Aceh | Merdeka | Republik | Maluku | Selatan | Organisasi | Papua | dianggap | kedaulatan | NKRI | p> Sebagai | catatan | berujung | Kritik | Misalnya | kritikan | soal | banjir | dilayangkan | Abdul | Hamid | (62) | Samarinda | Kalimantan | Timur | Wali | Kota | Syaharie | Jaang | p> Hamid< | dipolisikan | waktu | 2008 | tentang | Informasi | Transaksi | Elektronik | (ITE) | Nasib | sama | dialami | Fadli | Rahim | (33) | pegawai | negeri | sipil | lingkup | Pemerintah | a>Gowa< | dipenjara | mengkritik | sistem | Bupati | Gowa | Ichsan | Limpo | sosial | Line | p> < | div> |

Beda pemufakatan makar dan penyampaian kritik

Politisi Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar Jumat (2/12/2016).
Politisi Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar Jumat (2/12/2016). © Indrianto Eko Suwarso /Antara Foto

Belakangan kata makar sontak populer. Publik menyoroti kata itu karena keluar dari pihak polisi dan tentara nasional terkait adanya potensi makar di demonstrasi Jumat lalu (2/12/2016).

Nyatanya demonstrasi yang dikenal "212" itu jauh dari usaha makar. Malah Presiden Joko Widodo salat bersama dan juga berpidato di Monumen Nasional--tempat aksi digelar.

"Terima kasih atas doa dan zikir yang telah dipanjatkan untuk keselamatan bangsa dan negara kita. Allahu Akbar," demikian penggalan pidato Jokowi ketika itu.

Tapi dugaan makar yang diduga akan menunggangi aksi itu ternyata terbongkar. Di beberapa tempat yang berbeda ada 11 nama yang ditangkap polisi.

Dari 11 orang itu polisi menetapkan 10 nama yang jadi tersangka. Yakni Kivlan Zein, Adityawarman Thahar, Ratna Sarumpaet, Firza Huzein, Eko Santjojo, Alvin Indra, Rachmawati Soekarnoputri, Sri Bintang Pamungkas, dan kakak beradik Rizal dan Jamran.

Dikutip dari CNN Indonesia, dari 10 nama itu ada delapan yang dijerat Pasal 107 juncto Pasal 110 juncto Pasal 87 KUHP mengenai pemufakatan jahat untuk melakukan makar. Ahmad Dhani sendiri dijerat Pasal 207 KUHP mengenai penghinaan terhadap Presiden.

Penangkapan itu kemudian menuai tanda tanya. Yang paling nyaring adalah dari Partai Gerindra. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono mengatakan tudingan makar kepada para tokoh dan aktivis itu membahayakan perkembangan demokrasi.

"Pada kesempatan ini saya minta kepada kepolisian untuk membebaskan semua, termasuk Sri Bintang Pamungkas," kata Ferry.

Ferry beranggapan sulit baginya menuding tokoh-tokoh yang ditangkap itu berbuat makar. Menurutnya makar merupakan sebuah upaya penggulingan pemerintahan yang sah dengan mengerahkan kekuatan besar. Tapi dalam pandangan Ferry mereka hanya menyampaikan pendapat di muka publik, dan itu merupakan bagian dari kritik.

"Saya takut persepsi ini dibangun sedemikian rupa, dan tidak bisa memilah mana sikap kritis dan pembungkaman," tuturnya.

Tapi polisi punya persepsi berbeda. Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, mengatakan perbuatan makar beda jauh dengan penyampaian kritik.

"Pandangan kritis yang disampaikan lewat kritik itu lumrah, tetapi rambu hukum harus dipegang. Kalau makar dengan pemufakatan jahat, ini adalah barang yang berbeda dengan kritik," ujar Boy dalam jumpa pers di Gedung Divisi Humas Polri Jakarta, Sabtu (3/12/2016).

Bagi Boy kritik tidak boleh disampaikan dengan ujaran kebencian, penistaan, kata-kata bohong dan penghasutan. Ia berharap kritik itu tetap sesuai dengan tatanan hukum dan aturan yang berlaku, baik penyampaian melalui verbal, non verbal atau media elektronik.

"Jadi, kami ini bukannya terlalu reaktif. Kami hanya bermain pada tatanan hukum dan kami lakukan pada tindakan nyata," katanya.

Lebih jauh, menurut Boy, penentuan tindak pidana makar dalam bentuk pemufakatan tidak perlu menunggu apa yang direncanakan terjadi. Dalam arti, penyidik tidak perlu menunggu pemberontakan terealisasi untuk menangkap mereka.

Dalam kasus ini, penyidik Polri menemukan bukti para tersangka berupaya memanfaatkan ruang kebebasan untuk melahirkan gagasan berbau hasutan yang bisa disalahartikan.

Semua tersangka diduga berencana untuk memanfaatkan massa yang mengikuti doa bersama untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. "Situasinya multikompleks. Tidak bisa kami katakan ini murni ibadah. Polisi selalu berpikir ada kecurigaan," kata Boy menambahkan.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, makar memiliki arti: 1. akal busuk; tipu muslihat; 2. perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang dan sebagainya; 3. perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah.

Dalam sejarahnya undang-undang terkait makar lahir dari usaha pihak berkuasa untuk melawan setiap pihak yang mencoba melawan untuk menggulingkannya. Dalam Undang-undang KUHP yang dilahirkan Belanda dan diadopsi Indonesia disebutkan makar itu usaha atau kegiatan untuk menumbangkan pemerintah yang sah.

Dalam Pasal 107 KUHP makar diidentikkan dengan empat hal: makar terhadap pemerintah, ideologi, wilayah dan makar terhadap kepala negara.

Jenis hukuman untuk pelaku makar beraneka ragam, ada yang cuma 2,5 tahun saja, ada juga yang sampai 20 tahun, bahkan hukuman mati, seperti yang dikatakan Kepala Polda Metro Jaya, Irjen Pol Mochamad Iriawan.

Indonesia pernah beberapa kali terancam makar yang dilakukan warga negaranya.

Kasus makar pertama dilakukan oleh seorang perwira muda bernama Daniel Maukar. Dia melakukan serangan ke Istana Negara dengan pesawat tempur MiG-17 Fresco di era kepemimpinan Sukarno.

Akibatnya Daniel diadili atas tindakan makar dan dijatuhi hukuman mati, namun diampuni dan hanya menjalani delapan tahun masa tahanan sebelum akhirnya bebas.

Kasus makar yang lain dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka, Republik Maluku Selatan dan juga Organisasi Papua Merdeka, karena dianggap melawan kedaulatan NKRI.

Sebagai catatan, tidak cuma perbuatan makar yang berujung bui. Kritik pun juga bisa. Misalnya kritikan soal banjir yang dilayangkan Abdul Hamid (62), warga Samarinda, Kalimantan Timur, kepada Wali Kota Syaharie Jaang.

Hamid dipolisikan beberapa waktu lalu dengan Undang-undang No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Nasib yang sama juga dialami Fadli Rahim (33), pegawai negeri sipil lingkup Pemerintah Gowa, yang dipenjara karena mengkritik sistem pemerintahan Bupati Gowa Ichsan Limpo melalui media sosial Line.

"

| Beda | pemufakatan | makar | penyampaian | kritik | UNTUK | INFORMASI | LEBIH | LENGKAP | IKUTI | KAMI | MEDIA | SOSIAL< | span>< | div> < | div> Politisi | Rachmawati | Soekarnoputri | meninggalkan | gedung | Markas | Komando | Brimob | Kelapa | Depok | usai | menjalani | pemeriksaan | terkait | kasus | dugaan | Jumat | 2016) | Indrianto | Suwarso | Antara | Foto Belgan | kata | sontak | populer | Publik | menyoroti | karena | keluar | pihak | polisi< | tentara | nasional | adanya | potensi | demonstrasi | p> Nyatanya | yang | dikenal | 212< | jauh | usaha | Malah | Presiden | Joko | Widodo | salat | bersama | juga | berpidato | Monumen | Nasional | tempat | aksi | digelar | p> Terima | kasih | atas | zikir | telah | dipanjatkan | untuk | keselamatan | bangsa | negara | Allahu | Akbar | demikian | penggalan | pidato | Jokowi | ketika | p> Tapi | diduga | menunggangi | ternyata | terbongkar | beberapa | berbeda | nama | ditangkap | polisi | p> Dari | orang | menetapkan | jadi | tersangka | Yakni | Kivlan | Zein | Adityawarman | Thahar | Ratna | Sarumpaet | Firza | Huzein | Santjojo | Alvin | Indra | Bintang | Pamungkas | kakak | beradik | Rizal | Jamran | p> Dikutip | Indonesia | nama< | delapan | dijerat | Pasal | juncto | KUHP | mengenai | jahat | melakukan | Ahmad | Dhani | sendiri | penghinaan | terhadap | p> Penangkapan | kemudian | menuai | tanda | tanya | Yang | paling | nyaring | adalah | Partai | Gerindra | Wakil | Ketua | Umum | Ferry | Juliantono | mengat | tudingan | kepada | para | tokoh | aktivis | membahay | perkembangan | demokrasi | p> Pada | kesempatan | saya | minta | kepolisian | membebaskan | semua | termasuk | Ferry< | p> Ferry | beranggapan | sulit | baginya | menuding | berbuat | Menurutnya | merup | sebuah | upaya | penggulingan | pemerintahan | dengan | mengerahkan | kekuatan | besar< | Tapi | dalam | pandangan | hanya | menyampaikan | pendapat | muka | publik | bagian | p> Saya | takut | persepsi | dibangun | sedemikian | rupa | memilah | mana | sikap | kritis | pembungkaman | tuturnya< | punya | Kepala | Divisi | Humas | Polri< | Inspektur | Jenderal | Rafli | Amar | perbuatan | beda | p> Pandangan | disampaikan | lewat | lumrah | rambu | hukum | harus | dipegang | Kalau | makar< | barang | ujar | Boy< | jumpa | pers | Gedung | Jakarta | Sabtu | p> Bagi | boleh | ujaran | kebencian | penistaan | bohong | penghasutan | berharap | tetap | sesuai | tatanan | aturan | berlaku | baik | verbal | atau | media | elektronik | p> Jadi | kami | bukannya | reaktif< | Kami | bermain | pada | lakukan | tind | nyata | katanya | p> Lebih | menurut | penentuan | tindak | pidana | bentuk | perlu | menunggu | direncan | terjadi | Dalam | arti | penyidik | pemberont | terealisasi | menangkap | p> Dalam | menemukan | bukti | berupaya | memanfaatkan | ruang | kebebasan | melahirkan | gagasan | berbau | hasutan< | disalahartikan | p> Semua | berencana | massa | mengikuti | menggulingkan | Situasinya | multikompleks | Tidak | murni | ibadah | Polisi | berpikir | kecurigaan | menambahkan | p> Menurut | besar | Bahasa | memiliki | arti: | akal | busuk; | tipu | muslihat; | (usaha) | maksud | hendak | menyerang | (membunuh) | sebagainya; | menjatuhkan | pemerintah | sejarahnya | undang | lahir | berkuasa | melawan | setiap | mencoba | menggulingkannya | Undang | dilahirkan | Belanda | diadopsi | disebutkan | kegiatan | menumbangkan | diidentikkan | empat | hal: | ideologi | wilayah | kepala | p> Jenis | hukuman< | pelaku | beraneka | ragam | cuma | tahun | sampai | bahkan | hukuman | mati | seperti | dikat | Polda | Metro | Jaya | Irjen | Mochamad | Iriawan< | p> Indonesia | pernah | kali | terancam | dilakukan | warga | negaranya | p> Kasus | pertama | oleh | seorang | perwira | muda | bernama | Daniel | Maukar< | serangan | Istana | Negara | pesawat | tempur | Fresco | kepemimpinan | Sukarno | p> Akibatnya | diadili | dijatuhi | diampuni | masa | tahanan | akhirnya | bebas | lain | Aceh | Merdeka | Republik | Maluku | Selatan | Organisasi | Papua | dianggap | kedaulatan | NKRI | p> Sebagai | catatan | berujung | Kritik | Misalnya | kritikan | soal | banjir | dilayangkan | Abdul | Hamid | (62) | Samarinda | Kalimantan | Timur | Wali | Kota | Syaharie | Jaang | p> Hamid< | dipolisikan | waktu | 2008 | tentang | Informasi | Transaksi | Elektronik | (ITE) | Nasib | sama | dialami | Fadli | Rahim | (33) | pegawai | negeri | sipil | lingkup | Pemerintah | a>Gowa< | dipenjara | mengkritik | sistem | Bupati | Gowa | Ichsan | Limpo | sosial | Line | p> < | div> |

Wednesday, December 7, 2016

Komisi III DPR Dukung Langkah Polri Soal Dugaan Makar 2 Desember

Bintang.com, Jakarta Anggota Komisi III DPR Aziz Syamsudin mendukung langkah kepolisian mengamankan 11 tokoh dan aktivis terkait dugaan makar. Ia bahkan mengapresiasi respons cepat Polri, khususnya Polda Metro Jaya dalam mengantisipasi terjadinya sesuatu yang dianggap bisa mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Saya masih menaruh apresiasi yang tinggi pada penegak hukum dalam melakukan tugas dan kewenangannya secara profesional berdasarkan ketentuan dan aturan perundang-undangan,” kata Aziz saat dihubungi Rabu (7/12/2016).

Politisi Partai Golkar ini menilai, polisi tentunya punya alasan untuk menangkap dan menetapkan delapan dari 11 tokoh dan aktivis sebagai tersangka. “Tentu penegak hukum punya alasan, punya petunjuk dan punya bukti dalam menetapkan seseorang sebagai tersangka,” tegasnya.

Aziz juga menaruh hormat terkait sikap TNI yang tetap solid, meski ada dua purnawirawan yang ikut ditangkap. “TNI dalam fungsi dan tugasnya yang diatur dalam undang-undang kan (memang) untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Apresiasi yang tinggi pada Polda Metro Jaya turut disampaikan Praktisi Hukum M Zakir Rasyidin. “Sebab kita tahu makar tidak hanya berbahaya dalam konteks politik, namun juga dalam aspek ekonomi maupun sosial budaya. Sehingga siapapun yang mau mencoba melakukan makar, maka sudah menjadi tugas kepolisian untuk menegakkan aturannya,” jelas Zakir.

Pasukan Asmaul Husna sebenarnya sudah ada sejak 2008 lalu. (Bintang.com/Nurwahyunan)

Apresiasi serupa juga dialamatkan Zakir kepada TNI. “TNI tetap Konsekuen terhadap tangungjawabnya dalam mempertahankan negara. Pernyataan Pangdam Jaya saya kira sudah menjadi kesimpulan bahwa isu keberatan TNI terkait penangkapan para purnawirawan TNI tidak benar,” tegasnya.

Menurutnya, Indonesia menganut prinsip Hukum Equality Before The Law. “Artinya semua warga negara sama kedudukannya di hadapan Hukum, sehingga tidak ada satupun yang kebal hukum. Ketika dianggap melanggar hukum, itu sudah menjadi tugas polisi untuk memprosesnya,” pungkas Zakir.

Kapolda Metro Jaya Mochammad Iriawan dan Pangdam Jaya Teddy Lhaksmana | foto : istimewa

Seperti diketahui  Jumat, 2 Desember 2016, publik dikejutkan dengan penangkapan 11 orang terkait dugaan makar. Mereka ditangkap polisi dalam rentang waktu pukul 03 . 00 WIB hingga 06.00 WIB.

Mereka yang ditangkap yaitu Sri Bintang Pamungkas, Rachmawati Soekarnoputri , Ratna Sarumpaet, Kivlan Zein, Adityawarman Thahar, Firza Huzein, Eko Santjojo, dan Alvin Indra. Kedelapan orang itu ditetapkan sebagai tersangka. Mereka dijerat Pasal 107 Juncto Pasal 110 Juncto Pasal 87 KUHP tentang perbuatan makar dan pemufakatan Jahat untuk melakukan makar.

Polisi juga menangkap dan menetapkan tersangka pada Rizal Kobar dan Jamran. Keduanya dijerat Pasal 107 Juncto Pasal 110 Juncto Pasal 87 KUHP & Pasal 28 UU Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Terakhir, Ahmad Dhani. Dia dijerat Pasal 207 KUHP tentang Penghinaan terhadap Penguasa.

"

| Komisi | Dukung | Langkah | Polri | Soal | Dugaan | Makar | Desember | Bintang | Jakarta< | strong> | Anggota | DPR< | a> Aziz | Syamsudin | mendukung | langkah | kepolisian | mengamankan | tokoh | aktivis | terkait | dugaan | makar | bahkan | mengapresiasi | respons | cepat | khususnya | Polda | Metro | Jaya | dalam | mengantisipasi | terjadinya | sesuatu | yang | dianggap | mengganggu | keamanan | ketertiban | masyarakat | p> “Saya | masih | menaruh | apresiasi | tinggi | pada | penegak | hukum | melakukan | tugas | kewenangannya | secara | profesional | berdasarkan | ketentuan | aturan | perundang | undangan | kata | Aziz | saat | dihubungi | Rabu | 2016) | p> Politisi | Partai | Golkar | menilai | polisi | tentunya | punya | alasan | untuk | menangkap | menetapkan | delapan | sebagai | tersangka | “Tentu | petunjuk | bukti | seseorang | tegasnya | p> Aziz | juga | hormat | sikap | tetap | solid | meski | purnawirawan | ikut | ditangkap | “TNI | fungsi | tugasnya | diatur | undang | (memang) | menjaga | keutuhan | Negara | Kesatuan | Republik | Indonesia | katanya | p> Apresiasi | turut | disampaikan | Praktisi | Hukum | Zakir | Rasyidin | “Sebab | tahu | hanya | berbahaya | konteks | politik | aspek | ekonomi | maupun | sosial | budaya | siapapun | mencoba | maka | menjadi | menegakkan | aturannya | jelas | p> < | serupa | dialamatkan | kepada | Konsekuen | terhadap | tangungjawabnya | mempertahankan | negara | Pernyataan | Pangdam | saya | kira | kesimpulan | bahwa | keberatan | penangkapan | para | benar | p> Menurutnya | menganut | prinsip | Equality | Before | “Artinya | semua | warga | sama | kedudukannya | hadapan | satupun | kebal | Ketika | melanggar | memprosesnya | pungkas | p> Seperti | diketahui |  Jumat | 2016 | publik | dikejutkan | dengan | orang | Mereka | rentang | waktu | pukul | p> Mereka | yaitu | Pamungkas | Rachmawati | Soekarnoputri | Ratna | Sarumpaet | Kivlan | Zein | Adityawarman | Thahar | Firza | Huzein | Santjojo | Alvin | Indra | Kedelapan | ditetapkan | dijerat | Pasal | Juncto | KUHP | tentang | perbuatan | makar< | a> dan | pemufakatan | Jahat | p> Polisi | Rizal | Kobar | Jamran | Keduanya | & | Nomor | 2008 | Informasi | Transaksi | Elektronik | Terakhir | Ahmad | Dhani | Penghinaan | Penguasa | p> |

Friday, December 9, 2016

Makar Ideologis

Komaruddin Hidayat. Foto/Istimewa

Komaruddin Hidayat
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
@komar_hidayat

MENGAPA sosok presiden atau wakil presiden kemanapun pergi mesti ada pengawalnya? Jawabannya, khawatir ada bahaya mengancam. Jangan-jangan ada orang jahat yang mau membunuh atau menyakiti.

Jadi, siapapun yang menjadi pemimpin mesti menyadari tidak semua orang senang kepada dirinya. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar juga tantangan yang menghadang.

Ini analog dengan eksistensi Negara Repubik Indonesia. Ada-ada saja orang yang tidak senang pada Indonesia, baik dari dalam  maupun  luar negeri. Artinya, negara  mesti dikawal sebagaimana mengawal presiden karena sangat mungkin ada kekuatan yang mengancam. Dan itulah sebabnya hampir semua negara memiliki pasukan tempur dan intelijen negara. 

Salah satu ancaman yang tertuju pada sosok negara dan pemerintah Indonesia saat ini adalah menyangkut posisi ideologi dan hukum. Ada ustaz yang berpidato, sebagai umat beragama hanya pantas tunduk pada hukum agama. Hukum Allah.

Pernyataan itu betul dalam konteks pribadi  dan komunalisme keagamaan. Tapi sebagai warga negara, maka hukum yang tertinggi adalah undang-undang produk DPR bersama pemerintah.

Seseorang bisa saja tidak senang pada presidennya atau sistem politik negaranya. Tetapi ketika ketidaksenangannya disampaikan terbuka dan menghasut orang lain untuk ikut membenci negara, atau menggoyangnya, maka dia telah melakukan makar ideologis.

Mengkritik pemerintah itu bagus dan dilindungi undang-undang. Itu satu paket dengan sistem demorasi.

Dalam hal ini ada sekelompok orang yang aneh. Mereka memandang sistem demokrasi itu thaghut. Syaitan yang mesti dilawan, jangan diikuti. Tetapi anehnya mereka sangat menikmati iklim demokrasi dalam menjual gagasannya. Tanpa iklim demokrasi geeakan mereka akan tertindas.

Mereka betah tinggal di negara yang mereka musuhi. Kalau tidak senang mestinya hijrah saja. Begitupun dengan Indonesia. Ada yang agendanya ingin mengagamakan Indonesia menurut versi dan tafsiran mereka sendiri.

dibaca 3.606x

"

| Makar | Ideologis | Komaruddin | Hidayat | Foto | Istimewa < | p>Komaruddin | Hidayat< | strong>Guru | Besar | Universitas | Islam | Negeri | (UIN) | Syarif | Hidayatullah@komar_hidayatMENGAPA< | strong> | sosok | presiden | atau | wakil | kemanapun | pergi | mesti | pengawalnya | Jawabannya | khawatir | bahaya | mengancam | Jangan | jangan | orang | jahat | yang | membunuh | menyakiti | p>Jadi | siapapun | menjadi | pemimpin | menya | semua | senang | kepada | dirinya | Semakin | tinggi | jabatan | seseorang | semakin | besar | juga | tantangan | menghadang | p>Ini | analog | dengan | eksistensi | Negara | Repubik | Indonesia | pada | baik | dalam  | maupun  | luar | negeri | Artinya | negara  | dikawal | sebagaimana | mengawal | karena | sangat | mungkin | kekuatan | itulah | hampir | negara | memiliki | pasukan | tempur | intelijen | p>Salah | satu | ancaman | tertuju | pemerintah | saat | adalah | menyangkut | posisi | ideologi | hukum | ustaz | berpidato | sebagai | umat | beragama | hanya | pantas | tunduk | agama | Hukum | Allah | p>Pernyataan | betul | dalam | konteks | pribadi  | komunalisme | keagamaan | Tapi | warga | maka | tertinggi | undang | produk | bersama | p>Seseorang | presidennya | sistem | politik | negaranya | ketika | kesenangannya | disampaikan | terbuka | menghasut | lain | untuk | ikut | membenci | menggoyangnya | telah | melakukan | makar | ideologis | p>Mengkritik | bagus | dilindungi | paket | demorasi | p>Dalam | sekelompok | aneh | Mereka | memandang | demokrasi | thaghut | Syaitan | dilawan | diikuti | anehnya | menikmati | iklim | menjual | gagasannya | Tanpa | tertindas | p>Mereka | betah | tinggal | musuhi | Kalau | mestinya | hijrah | Begitupun | agendanya | ingin | mengagam | menurut | versi | tafsiran | sendiri | p>dibaca | 606x< | span>< | div> |