Showing posts sorted by relevance for query merusak. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query merusak. Sort by date Show all posts

Sunday, December 4, 2016

Diduga Makar, Tiga Orang Masih Ditahan, Tujuh Dibebaskan

Sementara tiga lainnya yang masih ditahan adalah Sri Bintang Pamungkas yang juga dijerat dengan tuduhan makar dan dua lainnya, Jamran dan Rizal Kobar, dijerat UU Informasi & Transaksi Elektronik ITE.

Polisi: Makar Bisa Berbentuk Permufakatan Jahat

Dalam keterangan pers di Mabes Polri Jakarta, Kadiv Humas Irjen Pol. Boy Rafli Amar mengatakan ada tujuh orang yang dipersangkakan melakukan upaya melanggar pasal 107 junto pasal 110 KUHP. Dugaan ini berkaitan dengan rencana pemanfaatan massa untuk menduduki kantor DPR, pemaksaan agar bisa dilakukan Sidang Istimewa dan menuntut pergantian pemerintah dan sebagainya”. Ditambahkannya, “makar di sini merupakan tindakan permufakatan jahat. Dalam pemahaman penyidik Polri, makar merupakan permufakatan atau bisa juga dikategorikan sebagai perbuatan delik formil, artinya tidak perlu terjadi dulu perbuatan makar tersebut.”

Polisi, menurut Boy Rafli Amar, telah bertindak hati-hati dengan mengumpulkan informasi dan barang bukti selama tiga minggu terakhir ini. Penangkapan yang dilakukan menjelang unjuk rasa besar-besaran hari Jum'at (2/12) yang dipusatkan di Lapangan Monumen Nasional, “merupakan upaya polisi menjaga kemurnian ibadah di silang Monas dan mengeliminir berbagai indikasi kerawanan yang mungkin terjadi, seperti pemanfaatan massa secara sedemikian rupa,” tambahnya.​

Aksi damai 2 Desember 2016.

Aksi damai 2 Desember 2016.

Sejumlah Besar Massa Gelar Aksi Damai di Monas

Sejumlah besar massa dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bogor, Jawa Barat dan Kalimantan, meramaikan unjuk rasa yang disebut sebagai “Aksi Bela Islam III”. Aksi damai itu dihadiri oleh Kapolri Jendral Polisi Tito Karnavian, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dan sejumlah pemimpin organisasi massa. Wartawan VOA di Jakarta Fathiyah Wardah melaporkan, massa yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain dari Jakarta, Bogor, Jawa Barat dan Kalimantan, duduk dengan tertib sambil mengucapkan bersalawat dan berzikir. Di luar dugaan Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menkopolhukam Wiranto, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin dan beberapa menteri ikut mendatangi lokasi untuk melaksanakan sholat Jum'at bersama.

Dalam khutbah Jum'at, salah seorang pemimpin Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) Habib Riziew Shihab mengatakan aksi yang dilakukan ribuan umat Islam ini bukan ingin merusak negara kesatuan Republik Indonesia tetapi untuk menuntut keadilan.

"Hari ini jutaan umat Islam datang ke Jakarta bukan untuk merusak NKRI,bukan untuk melawan Pancasila dan menodai UUD 1945 dan bukan juga untuk menghancurkan kebhinekaan kita tetapi saya sampaikan kepada ulama, umaro khususnya bapak presiden, mereka datang untuk membela Al Quran, agama dan menegakan hukum karena justru mereka cinta kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dan bersemboyan Bhineka Tunggal Ika," ujarnya.

Presiden Joko Widodo Sampaikan Terima Kasih kepada Peserta Aksi

Ketika didaulat menyampaikan pidato, Presiden Joko Widodo menyampaikan terima kasih kepada peserta aksi damai itu.

“Terima kasih atas doa dan dzikir yang dipanjatkan bagi negara kita. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Saya ingin memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya karena seluruh jemaah hadir tertib dalam ketertiban sehingga acaranya bisa berjalan baik," katanya.

Pernyataan Presiden Joko Widodo ini ditanggapi peserta aksi dengan meminta supaya gubernur non aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama, atau yang dikenal sebagai Ahok, ditangkap. Presiden tidak memberi tanggapan atas permintaan itu, tetapi sebelumnya Kapolri Jendral Polisi Tito Karnavian memastikan bahwa proses hukum terhadap Ahok akan terus berlanjut. Proses kasus itu kini berada di tangan Kejaksaan Agung.

"Kemaren sudah diserahkan tersangkanya, saudara Basuki Tjahaja Purnama. Apa yang kami lakukan sudah maksimal, kenapa? Bayangkan berapa kali juga diperiksa KPK tidak bisa jadi tersangka tetapi ketika ditangani oleh Polri bisa jadi tersangka. Untuk itu saya mohon dukungan dari saudara-saudara semua agar proses hukumnya terus berjalan. Dan Polri bersama saudara-saudara sekalian terus mengawal kasus ini," jelasnya.

Kasus Ahok Kini Ditangani Kejaksaan Agung

Pada 16 November lalu, Badan Reserse Kriminal Mabes Polri telah menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama. Penyidik menjeratnya dengan pasal 156 KUHP dengan ancaman hukuman paling lama 4 tahun dan pasal 156a KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun. Tim jaksa penuntut umum menyatakan berkas perkara Ahok lengkap dan akan segera diadili. [em/fw]

"

| Diduga | Makar, | Tiga | Orang | Masih | Ditahan, | Tujuh | Dibebaskan | Sementara | tiga | lainnya | yang | masih | ditahan | adalah | Bintang | Pamungkas | juga | dijerat | dengan | tuduhan | makar | Jamran | Rizal | Kobar | Informasi | & | Transaksi | Elektronik | p> Polisi: | Makar | Bisa | Berbentuk | Permufakatan | Jahat< | strong>< | p> Dalam | keterangan | pers | Mabes | Polri | Jakarta | Kadiv | Humas | Irjen | Rafli | Amar | mengat | tujuh | orang | dipersangk | melakukan | upaya | melanggar | pasal | junto | KUHP | Dugaan | berkaitan | rencana | pemanfaatan | massa | untuk | menduduki | kantor | pemaksaan | agar | dilakukan | Sidang | Istimewa | menuntut | pergantian | pemerintah | sebagainya” | Ditambahkannya | “makar | sini | merup | tind | permufakatan | jahat | Dalam | pemahaman | penyidik | atau | dikategorikan | sebagai | perbuatan | delik | formil | artinya | perlu | terjadi | dulu | tersebut | ”< | p> Polisi | menurut | telah | bertindak | hati | mengumpulkan | informasi | barang | bukti | selama | minggu | terakhir | Penangkapan | menjelang | unjuk | rasa | besar | besaran | hari | Jumat | dipusatkan | Lapangan | Monumen | Nasional | “merup | polisi | menjaga | kemurnian | ibadah | silang | Monas | mengeliminir | berbagai | indikasi | kerawanan | mungkin | seperti | secara | sedemikian | rupa | tambahnya | ​< | p> Aksi | damai | Desember | 2016 | p> Sejumlah | Besar | Massa | Gelar | Aksi | Damai | Monas< | daerah | Bogor | Jawa | Barat | Kalimantan | meramaikan | disebut | “Aksi | Bela | Islam | III” | dihadiri | oleh | Kapolri | Jendral | Polisi | Tito | Karnavian | Wakil | Ketua | Hidayat | Wahid | sejumlah | pemimpin | organisasi | Wartawan | Fathiyah | Wardah | melaporkan | datang | Indonesia | antara | lain | duduk | tertib | sambil | mengucapkan | bersalawat | berzikir | luar | dugaan | Presiden | Joko | Widodo | Jusuf | Kalla | Menkopolhukam | Wiranto | Menteri | Agama | Lukman | Hakim | Saifudin | beberapa | menteri | ikut | mendatangi | lokasi | melaksan | sholat | bersama | khutbah | salah | seorang | Pengawal | Fatwa | Majelis | Ulama | (GNPF | MUI) | Habib | Riziew | Shihab | aksi | ribuan | umat | bukan | ingin | merusak | negara | kesatuan | Republik | keadilan | p> Hari | jutaan | NKRI | melawan | Pancasila | menodai | 1945 | menghancurkan | kebhinekaan | saya | sampaikan | kepada | ulama | umaro | khususnya | bapak | presiden | membela | Quran | agama | meneg | hukum | karena | justru | cinta | berdasarkan | bersemboyan | Bhineka | Tunggal | ujarnya | p> Presiden | Sampaikan | Terima | Kasih | Peserta | Aksi< | p> Ketika | didaulat | menyampaikan | pidato | terima | kasih | peserta | p> “Terima | atas | dzikir | dipanjatkan | bagi | Allahu | Akbar | Saya | memberikan | penghargaan | setinggi | tingginya | seluruh | jemaah | hadir | dalam | ketertiban | acaranya | berjalan | baik | katanya | p> Pernyataan | ditanggapi | meminta | supaya | gubernur | aktif | Basuki | Tjahaya | Purnama | dikenal | Ahok | ditangkap | memberi | tanggapan | permintaan | senya | memastikan | bahwa | proses | terhadap | terus | berlanjut | Proses | kasus | kini | berada | tangan | Kejaksaan | Agung | p> Kemaren | diserahkan | tersangkanya | saudara | Tjahaja | kami | lakukan | maksimal | kenapa | Bayangkan | berapa | kali | diperiksa | jadi | tersangka | ketika | ditangani | Untuk | mohon | dukungan | semua | hukumnya | sekalian | mengawal | jelasnya | p> Kasus | Kini | Ditangani | Agung< | p> Pada | November | Badan | Reserse | Kriminal | menetapkan | penistaan | Penyidik | menjeratnya | ancaman | hukuman | paling | lama | tahun | 156a | jaksa | penuntut | umum | menyat | berkas | perkara | lengkap | segera | diadili | fw]< | em>< | p> |

Tuesday, December 6, 2016

Bisakah Disebut Makar Tanpa Ada Pemberontakan? Ini Penjelasannya

JAKARTA, KOMPAS.com â€" Polri secara resmi mengumumkan penetapan 11 tersangka yang diduga berupaya merusak situasi keamanan ketika aksi doa bersama dilakukan pada Jumat (2/12/2016).

Dari 11 orang yang ditangkap, tujuh di antaranya ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan melakukan permufakatan makar.

Ketujuh orang tersebut adalah Rachmawati Soekarnoputri, Kivlan Zein, Ratna Sarumpaet, Adityawarman, Eko, Alvin, dan Firza Huzein. Mereka disangka melanggar Pasal 107 jo Pasal 110 jo Pasal 87 KUHP.

Dalam jumpa pers, Sabtu (3/12/2016), Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar menjelaskan bahwa para tersangka berupaya memanfaatkan aksi doa bersama yang diikuti massa dalam jumlah besar.

Ketujuh tersangka memiliki tujuan yang sama, yakni menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pasca-penetapan tersangka, berbagai pendapat kemudian muncul ke publik. Masyarakat pun bertanya-tanya mengenai perbuatan makar yang dituduhkan kepada para tersangka.

Tak mengherankan jika tuduhan makar tersebut menimbulkan pertanyaan. Sebab, di beberapa negara yang pernah terjadi penggulingan kekuasaan, kudeta dilakukan dengan adanya aksi pemberontakan. Bahkan, bisa jadi diikuti dengan adanya konflik senjata.

Tak tunggu pemberontakan

Perbuatan makar ternyata dapat dipidana tanpa harus ada tindakan pemberontakan secara fisik. Penegak hukum dapat melakukan antisipasi pemberontakan dengan menangkap para pelaku yang diduga merencanakan upaya makar.

Ahli hukum pidana dari Universitas Indonesia, Ganjar Laksamana, menjelaskan bahwa secara hukum, makar adalah suatu percobaan kejahatan.

Secara konstruksi hukum, makar dijadikan kejahatan yang berdiri sendiri dan dianggap selesai meski masih pada tahap percobaan.

"Sebab, bila makar harus sampai selesai, pelakunya menjadi penguasa baru. Nah, mana mungkin seorang penguasa baru diminta pertanggungjawaban hukum?" ujar Ganjar kepada Kompas.com, Senin (5/12/2016).

Ganjar mengatakan, percobaan kejahatan seperti yang diatur dalam Pasal 53 KUHP harus memenuhi tiga syarat.

Pertama, harus ada niat pelaku. Kedua, harus ada perbuatan permulaan pelaksanaan. Kemudian, yang ketiga, tidak selesainya kejahatan bukan diakibatkan kehendak pelaku itu sendiri.

"Permufakatan jahat itu ada bila di antara pihak yang bermufakat telah terdapat kesamaan niat, perencanaan bersama yang ditandai dengan adanya pertemuan-pertemuan, dan adanya pembagian tugas yang jelas," kata Ganjar.

Penjelasan tersebut sesuai dengan keterangan yang disampaikan penyidik Polri.

Selain disangka melanggar Pasal 107 dan 87 KUHP, ketujuh orang yang sebelumnya diperiksa juga disangka melanggar Pasal 110 KUHP.

Pasal tersebut menjelaskan, permufakatan jahat untuk melakukan kejahatan makar, menurut Pasal 104, Pasal 106, Pasal 107, dan Pasal 108, diancam berdasarkan ancaman pidana dalam pasal-pasal tersebut.

"Permufakatan jahat adalah kejahatan yang bahkan belum dimulai," kata Ganjar.

Makar bukan kritik?

Aparat penegak hukum diminta berhati-hati dalam menerapkan pasal makar dalam memidanakan seseorang.

Direktur Eksekutif Imparsial Al Araf mengatakan, penegak hukum harus berhati-hati karena pasal tersebut multitafsir. Menurut Al Araf, penegak hukum harus dapat membedakan antara makar dan kritik.

"Jangan sampai makar diidentikkan dengan kebebasan berekspresi dan kebebasan menyampaikan pendapat," ujar Araf.

(Baca: Penegak Hukum Diminta Tak Sembarangan Terapkan Pasal Makar)

Boy Rafli menegaskan, permufakatan makar yang disangkakan kepada para tersangka berbeda jauh dari penyampaian kritik kepada pemerintah.

"Pandangan kritis yang disampaikan lewat kritik itu lumrah, tetapi tetap rambu hukum harus dipegang. Kalau makar dengan permufakatan jahat, ini adalah barang yang berbeda dengan kritik," kata Boy.

Boy mengatakan, masyarakat perlu mengingat bahwa ujaran kebencian, penistaan, kata-kata bohong, dan penghasutan tidak boleh digunakan dalam penyampaian kritik.

(Baca: Permufakatan Makar Beda dengan Penyampaian Kritik, Ini Penjelasan Polri)

Penyampaian aspirasi, baik melalui verbal maupun non-verbal, seperti dalam medium elektronik, harus sesuai dengan tatanan hukum dan aturan yang berlaku.

Menurut Boy, pelaksana demokrasi harus sadar bahwa kebebasan tidak bisa bersifat absolut. Setiap warga negara diatur oleh hukum sehingga tidak diperkenankan melakukan perbuatan yang inkonstitusional.

"Jadi, kami ini bukannya terlalu reaktif. Kami hanya bermain pada tatanan hukum dan kami lakukan pada tindakan nyata," kata Boy.

Menurut Boy, tujuh tersangka yang ditangkap karena dugaan permufakatan makar berencana mengarahkan massa untuk menggelar sidang istimewa di Gedung DPR/MPR RI. Tujuannya sama, yakni untuk menggulingkan pemerintahan yang sah.

Kompas TV Kapolri: Tersangka Makar Akan Memanfaatkan Kegiatan 2 Desember

"

| Bisakah | Disebut | Makar | Tanpa | Pemberont? | Penjelasannya | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> â€" | Polri< | secara | resmi | mengumumkan | penetapan | tersangka | yang | diduga | berupaya | merusak | situasi | keamanan | ketika | aksi | bersama< | dilakukan | pada | Jumat | 2016) | p> Dari | orang | ditangkap | tujuh | antaranya | ditetapkan | sebagai | atas | dugaan | melakukan | permufakatan | makar | p> Ketujuh | tersebut | adalah | Rachmawati< | Soekarnoputri | Kivlan | Zein< | Ratna | Sarumpaet< | Adityawarman | Alvin | Firza | Huzein |  Mereka | disangka | melanggar | Pasal | KUHP | p> Dalam | jumpa | pers | Sabtu | Kepala | Divisi | Humas | Inspektur | Jenderal | Rafli | Amar< | menjelaskan | bahwa | para | memanfaatkan | diikuti | massa | dalam | jumlah | besar | memiliki | tujuan | sama | yakni | menggulingkan | pemerintahan | p> Pasca | berbagai | pendapat | kemudian | muncul | publik | Masyarakat | bertanya | tanya | mengenai | perbuatan | dituduhkan | kepada | p> Tak | mengherankan | jika | tuduhan | menimbulkan | pertanyaan | Sebab | beberapa | negara | pernah | terjadi | penggulingan | kekuasaan | kudeta | dengan | adanya | pemberont | Bahkan | jadi | konflik | senjata | tunggu | pemberont< | strong>< | p> Perbuatan | ternyata | dapat | dipidana | tanpa | harus | tind | fisik | Penegak | hukum | antisipasi | menangkap | pelaku | merencan | upaya | p> Ahli | pidana | Universitas | Indonesia | Ganjar | Laksamana | suatu | percobaan | kejahatan | p> Secara | konstruksi | dijadikan | berdiri | sendiri | dianggap | selesai | meski | masih | tahap | p> Sebab | bila | sampai | pelakunya | menjadi | penguasa | baru | mana | mungkin | seorang | diminta | pertanggungjawaban | ujar | Kompas | Senin | p> Ganjar | mengat | seperti | diatur | memenuhi | tiga | syarat | p> Pertama | niat | Kedua | permulaan | pelaksanaan | Kemudian | ketiga | selesainya | bukan | dikan | kehendak | p> Permufakatan | jahat | antara | pihak | bermufakat | telah | terdapat | kesamaan | perencanaan | bersama | ditandai | pertemuan | pembagian | tugas | jelas | kata | p> Penjelasan | sesuai | keterangan | disampaikan | penyidik | p> Selain | ketujuh | senya | diperiksa | juga | p> Pasal | untuk | menurut | diancam | berdasarkan | ancaman | pasal | bahkan | dimulai | p> Makar | kritik | p> Aparat | penegak | berhati | hati | menerapkan | memidan | seseorang | p> Direktur | Eksekutif | Imparsial | Araf | karena | multitafsir | Menurut | membed | p> Jangan | diidentikkan | kebebasan | berekspresi | menyampaikan | p> (Baca: | Hukum | Diminta | Sembarangan | Terapkan | Makar< | a>)< | p> Boy | menegaskan | disangk | berbeda | jauh | penyampaian | pemerintah | p> Pandangan | kritis | lewat | lumrah | tetap | rambu | dipegang | Kalau | barang | masyarakat | perlu | mengingat | ujaran | kebencian | penistaan | bohong | penghasutan | boleh | digun | Permufakatan | Beda | Penyampaian | Kritik | Penjelasan | p> Penyampaian | aspirasi | baik | verbal | maupun | medium | elektronik | tatanan | aturan | berlaku | p> Menurut | pelaksana | demokrasi | sadar | bersifat | absolut | Setiap | warga | oleh | diperkenankan | inkonstitusional | p> Jadi | kami | bukannya | reaktif | Kami | hanya | bermain | lakukan | nyata | berencana | mengarahkan | menggelar | sidang | istimewa | Gedung | Tujuannya | p> Kompas | span> | Kapolri: | Tersangka | Akan | Memanfaatkan | Kegiatan | Desember< | p> |

Monday, December 5, 2016

Bisakah Disebut Makar Tanpa Ada Pemberontakan? Ini Penjelasannya

JAKARTA, KOMPAS.com - Polri secara resmi mengumumkan penetapan sebelas tersangka yang diduga berupaya merusak situasi keamanan ketika aksi doa bersama dilakukan pada Jumat (2/12/2016).

Dari sebelas yang ditangkap, tujuh di antaranya ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan melakukan permufakatan makar.

Ketujuh orang tersebut adalah Rachmawati Soekarnoputri, Kivlan Zein, Ratna Sarumpaet, Adityawarman, Eko, Alvin dan Firza Huzein. Mereka disangka melanggar Pasal 107 jo Pasal 110 jo Pasal 87 KUHP.

Dalam jumpa pers Sabtu (3/12/2016), Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar menjelaskan bahwa para tersangka berupaya memanfaatkan aksi doa bersama yang diikuti massa dalam jumlah besar.

Ketujuh tersangka memiliki tujuan yang sama, yakni menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pasca-penetapan tersangka, berbagai pendapat kemudian muncul ke publik. Masyarakat pun bertanya-tanya mengenai perbuatan makar yang dituduhkan kepada para tersangka.

Tak mengherankan jika tuduhan makar tersebut menimbulkan pertanyaan. Sebab, di beberapa negara yang pernah terjadi penggulingan kekuasaan, kudeta dilakukan dengan adanya aksi pemberontakan. Bahkan, bisa jadi diikuti dengan adanya konflik senjata.

Tak tunggu pemberontakan

Perbuatan makar ternyata dapat dipidana tanpa harus ada tindakan pemberontakan secara fisik. Penegak hukum dapat melakukan antisipasi pemberontakan dengan menangkap para pelaku yang diduga merencanakan upaya makar.

Ahli hukum pidana dari Universitas Indonesia Ganjar Laksamana menjelaskan bahwa secara hukum, makar adalah suatu percobaan kejahatan.

Secara konstruksi hukum, makar dijadikan kejahatan yang berdiri sendiri dan dianggap selesai, meski masih pada tahap percobaan.

"Karena, bila makar harus sampai selesai, pelakunya menjadi penguasa baru. Nah, mana mungkin seorang penguasa baru diminta pertanggungjawaban hukum?" ujar Ganjar kepada Kompas.com, Senin (5/12/2016).

Ganjar mengatakan, percobaan kejahatan seperti yang diatur dalam Pasal 53 KUHP harus memenuhi tiga syarat.

Pertama, harus ada niat pelaku. Kedua, harus ada perbuatan permulaan pelaksanaan. Kemudian, yang ketiga, tidak selesainya kejahatan bukan diakibatkan kehendak pelaku itu sendiri.

"Permufakatan jahat itu ada, bila di antara pihak yang bermufakat telah terdapat kesamaan niat, perencanaan bersama yang ditandai dengan adanya pertemuan-pertemuan, dan adanya pembagian tugas yang jelas," kata Ganjar.

Penjelasan tersebut sesuai dengan keterangan yang disampaikan penyidik Polri.

Selain disangka melanggar Pasal 107 dan 87 KUHP, ketujuh orang yang sebelumnya diperiksa juga disangka melanggar Pasal 110 KUHP.

Pasal tersebut menjelaskan, permufakatan jahat untuk melakukan kejahatan makar menurut Pasal 104, Pasal 106, Pasal 107 dan Pasal 108, diancam berdasarkan ancaman pidana dalam pasal-pasal tersebut.

"Permufakatan jahat adalah kejahatan yang bahkan belum dimulai," kata Ganjar.

Makar bukan kritik?

Aparat penegak hukum diminta berhati-hati dalam menerapkan pasal makar dalam memidanakan seseorang.

Direktur Eksekutif Imparsial, Al Araf mengatakan, penegak hukum harus berhati-hati karena pasal tersebut multi tafsir. Menurut Al Araf, penegak hukum harus dapat membedakan antara makar dan kritik.

"Jangan sampai makar diidentikkan dengan kebebasan berekspresi dan kebebasan menyampaikan pendapat," ujar Araf.

(Baca: Penegak Hukum Diminta Tak Sembarangan Terapkan Pasal Makar)

Boy Rafli menegaskan, permufakatan makar yang disangkakan kepada para tersangka berbeda jauh dengan penyampaian kritik kepada pemerintah.

"Pandangan kritis yang disampaikan lewat kritik itu lumrah, tetapi tetap rambu hukum harus dipegang. Kalau makar dengan permufakatan jahat, ini adalah barang yang berbeda dengan kritik," kata Boy.

Boy mengatakan, masyarakat perlu mengingat bahwa ujaran kebencian, penistaan, kata-kata bohong, dan penghasutan tidak boleh digunakan dalam penyampaian kritik.

(Baca: Permufakatan Makar Beda dengan Penyampaian Kritik, Ini Penjelasan Polri)

Penyampaian aspirasi, baik melalui verbal maupun non-verbal, seperti dalam medium elektronik, harus sesuai dengan tatanan hukum dan aturan yang berlaku.

Menurut Boy, pelaksana demokrasi harus sadar bahwa kebebasan tidak bisa bersifat absolut. Setiap warga negara diatur oleh hukum sehingga tidak diperkenankan melakukan perbuatan yang inkonstitusional.

"Jadi, kami ini bukannya terlalu reaktif. Kami hanya bermain pada tatanan hukum dan kami lakukan pada tindakan nyata," kata Boy.

Menurut Boy, tujuh tersangka yang ditangkap karena dugaan permufakatan makar berencana mengarahkan massa untuk menggelar sidang istimewa di Gedung DPR/MPR RI. Tujuannya sama, yakni untuk menggulingkan pemerintahan yang sah.

Kompas TV Kapolri: Tersangka Makar Akan Memanfaatkan Kegiatan 2 Desember

"

| Bisakah | Disebut | Makar | Tanpa | Pemberont? | Penjelasannya | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> | Polri< | secara | resmi | mengumumkan | penetapan | sebelas | tersangka | yang | diduga | berupaya | merusak | situasi | keamanan | ketika | aksi | bersama< | dilakukan | pada | Jumat | 2016) | p> Dari | ditangkap | tujuh | antaranya | ditetapkan | sebagai | atas | dugaan | melakukan | permufakatan | makar | p> Ketujuh | orang | tersebut | adalah | Rachmawati< | Soekarnoputri | Kivlan | Zein< | Ratna | Sarumpaet< | Adityawarman | Alvin | Firza | Huzein |  Mereka | disangka | melanggar | Pasal | KUHP | p> Dalam | jumpa | pers | Sabtu | Kepala | Divisi | Humas | Inspektur | Jenderal | Rafli | Amar< | menjelaskan | bahwa | para | memanfaatkan | diikuti | massa | dalam | jumlah | besar | memiliki | tujuan | sama | yakni | menggulingkan | pemerintahan | p> Pasca | berbagai | pendapat | kemudian | muncul | publik | Masyarakat | bertanya | tanya | mengenai | perbuatan | dituduhkan | kepada | p> Tak | mengherankan | jika | tuduhan | menimbulkan | pertanyaan | Sebab | beberapa | negara | pernah | terjadi | penggulingan | kekuasaan | kudeta | dengan | adanya | pemberont | Bahkan | jadi | konflik | senjata | tunggu | pemberont< | strong>< | p> Perbuatan | ternyata | dapat | dipidana | tanpa | harus | tind | fisik | Penegak | hukum | antisipasi | menangkap | pelaku | merencan | upaya | p> Ahli | pidana | Universitas | Indonesia | Ganjar | Laksamana | suatu | percobaan | kejahatan | p> Secara | konstruksi | dijadikan | berdiri | sendiri | dianggap | selesai | meski | masih | tahap | p> Karena | bila | sampai | pelakunya | menjadi | penguasa | baru | mana | mungkin | seorang | diminta | pertanggungjawaban | ujar | Kompas | Senin | p> Ganjar | mengat | seperti | diatur | memenuhi | tiga | syarat | p> Pertama | niat | Kedua | permulaan | pelaksanaan | Kemudian | ketiga | selesainya | bukan | dikan | kehendak | p> Permufakatan | jahat | antara | pihak | bermufakat | telah | terdapat | kesamaan | perencanaan | bersama | ditandai | pertemuan | pembagian | tugas | jelas | kata | p> Penjelasan | sesuai | keterangan | disampaikan | penyidik | p> Selain | ketujuh | senya | diperiksa | juga | p> Pasal | untuk | menurut | diancam | berdasarkan | ancaman | pasal | bahkan | dimulai | p> Makar | kritik | p> Aparat | penegak | berhati | hati | menerapkan | memidan | seseorang | p> Direktur | Eksekutif | Imparsial | Araf | karena | multi | tafsir | Menurut | membed | p> Jangan | diidentikkan | kebebasan | berekspresi | menyampaikan | p> (Baca: | Hukum | Diminta | Sembarangan | Terapkan | Makar< | a>)< | p> Boy | menegaskan | disangk | berbeda | jauh | penyampaian | pemerintah | p> Pandangan | kritis | lewat | lumrah | tetap | rambu | dipegang | Kalau | barang | masyarakat | perlu | mengingat | ujaran | kebencian | penistaan | bohong | penghasutan | boleh | digun | Permufakatan | Beda | Penyampaian | Kritik | Penjelasan | p> Penyampaian | aspirasi | baik | verbal | maupun | medium | elektronik | tatanan | aturan | berlaku | p> Menurut | pelaksana | demokrasi | sadar | bersifat | absolut | Setiap | warga | oleh | diperkenankan | inkonstitusional | p> Jadi | kami | bukannya | reaktif | Kami | hanya | bermain | lakukan | nyata | berencana | mengarahkan | menggelar | sidang | istimewa | Gedung | Tujuannya | p> Kompas | span> | Kapolri: | Tersangka | Akan | Memanfaatkan | Kegiatan | Desember< | p> |