Showing posts sorted by date for query Silang. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query Silang. Sort by relevance Show all posts

Friday, December 9, 2016

Ini Alasan Polri Enggan Beberkan Bukti Aliran Dana Para Tersangka Makar : Okezone News

JAKARTA - ‎Mabes Polri masih enggan membuka bukti-bukti aliran dana yang diberikan kepada para tersangka kasus dugaan perbuatan ‎makar dalam momentum Aksi Bela Islam Jilid III yang digelar di Lapangan Silang Monas, Jakarta, pada 2 Desember 2016.

‎Kabagpenum Divisi Humas Polri ‎Kombes Martinus Sitompul ‎mengatakan, bahwa selain sebagai bagian dari strategi penyidik dalam melakukan penyidikan. Polri juga dilarang membuka semua informasi para tersangka berdasarkan UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP).

BERITA REKOMENDASI


"‎Itu subtansi penyidikan. Kalau informasi-informasi seperti itu disampaikan penyidik-penyidik ini memiliki strategi dalam satu proses pengakan hukum. Kalau semua dibuka selain UU KIP Pasal 17 itu juga membatasi untuk tidak semua disampaikan ke publik penyidik memilik strategi juga," kata Martinus di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (9/12/2016).

‎Kata Martinus, apabila seluruh informasi penyidikan disampaikan ke publik, nantinya para tersangka akan mudah menangkis sangkaan dari kasus yang menjerat sebelas orang aktivis tersebut. Terlebih, tersangka Rachmawati Soekarnoputri telah membantah bahwa uang sebesar Rp300 juta yang diterimanya sebagai biaya operasional dari mobilisasi massa ke Gedung Parlemen saat Aksi Bela Islam Jilid III di Monas.

‎"Apabila disampaikan semua nanti akan menjadi sebuah bahan untuk meng-counter informasi-informasi tersebut. Contohnya, ada uang yang disampaikan, kemudian uangnya dinyatakan hanya untuk beli kue, kan ini harus terkonfirmasi dengan benar pada saat dilakukan pemeriksaan," paparnya.

Sekadar diketahui, polisi telah menetapkan sebelas orang aktivis sebagai tersangka dalam kasus dugaan perbuataan makar. Sementara itu, penyidik hanya melakukan penahanan terhadap tiga orang aktivis, Sri Bintang Pamungkas serta dua kakak beradik Rizal dan Jamran yang dijerat ‎dengan UU ITE dan juga Pasal 107 juncto Pasal 110 KUHP tentang Makar dan Pemufakatan Jahat.

Terbaru Polda Metro Jaya juga berhasil mencokok aktivis Hatta Taliwang dalam kasus yang sama di kediamannya pada Kamis 8 Desember dini hari. Polisi juga berhasil menyita sejumlah dokumen rahasia yang diduga sebagai bahan dari rencana aksi makar yang akan dilakukan para aktivis tersebut.

"

| Alasan | Polri | Enggan | Beberkan | Bukti | Aliran | Dana | Para | Tersangka | Makar | Okezone | News | JAKARTA< | strong> | ‎Mabes | masih | enggan | membuka | bukti | aliran | dana | yang | diberikan | kepada | para | tersangka | kasus | dugaan | perbuatan | ‎makar | dalam | momentum | Aksi | Bela | Islam | Jilid | digelar | Lapangan | Silang | Monas | Jakarta | pada | Desember | 2016 | p> ‎Kabagpenum | Divisi | Humas | ‎Kombes | Martinus | Sitompul | ‎mengat | bahwa | selain | sebagai | bagian | strategi | penyidik | melakukan | penyidikan | juga | dilarang | semua | informasi | berdasarkan | Keterbukaan | Informasi | Publik | (KIP) | p> BERITA | REKOMENDASI< | p> < | div> ‎Itu | subtansi | Kalau | seperti | disampaikan | memiliki | satu | proses | peng | hukum | dibuka | Pasal | membatasi | untuk | publik | memilik | kata | Mabes | Jumat | 2016) | p> ‎Kata | apabila | seluruh | nantinya | mudah | menangkis | sangkaan | menjerat | sebelas | orang | aktivis | tersebut | Terlebih | Rachmawati | Soekarnoputri | telah | membantah | uang | sebesar | Rp300 | juta | diterimanya | biaya | operasional | mobilisasi | massa | Gedung | Parlemen | saat | p> ‎Apabila | nanti | menjadi | sebuah | bahan | meng | counter | Contohnya | kemudian | uangnya | dinyat | hanya | beli | harus | terkonfirmasi | dengan | benar | dilakukan | pemeriksaan | paparnya | p> Sekadar | diketahui | polisi | menetapkan | perbuataan | makar | Sementara | penahanan | terhadap | tiga | Bintang | Pamungkas | serta | kakak | beradik | Rizal | Jamran | dijerat | ‎dengan | juncto | KUHP | tentang | Pemufakatan | Jahat | p> Terbaru | Polda | Metro | Jaya | berhasil | mencokok | Hatta | Taliwang | sama | kediamannya | Kamis | dini | hari | Polisi | menyita | sejumlah | dokumen | rahasia | diduga | rencana | aksi | p> |

Thursday, December 8, 2016

Tak Ingin Gulingkan Lurah Disebut Makar, Yusril Ihza Mahendra Berniat Uji Materi ke MK

WARTA KOTA, SENAYAN - Yusril Ihza Mahendra, penasihat hukum Rachmawati Soekarnoputri, berencana melakukan uji materi terhadap pasal-pasal yang mengatur tentang pidana makar.

Rachmawati sendiri telah ditetapkan sebagai tersangka dugaan upaya makar oleh kepolisian.

Yusril menilai, pasal-pasal makar yang ada saat ini terlalu luas, sehingga menimbulkan multitafsir. Hal itu terkait pasal 107 KUHP juncto pasal 110 KUHP, juncto pasal 87 KUHP tentang pemufakatan jahat dan makar.

"Itu kan dirumuskan sangat sulit. Jadi supaya ke depannya tak multitafsir, perlu ditafsirkan lebih dalam oleh MK (Mahkamah Konstitusi)," kata Yusril di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (8/12/2016).

Yusril menuturkan, pokok pertanyaan dalam uji materi terkait pengertian makar. Contohnya, pengertian bahwa makar adalah menggulingkan pemerintah.

"Nah, menggulingkan pemerintahan bisa jadi luas. Siapa yang mau menggulingkan siapa. Nanti mau gulingkan lurah bisa juga disebut makar," tutur Yusril.

Namun, Yusril belum memastikan kapan akan melakukan uji materi tentang pasal makar ke MK.

"Sudah ada pembicaraan seperti itu. Nanti tergantung mereka (aktivis yang dituduh makar). Kalau saya sih mau saja menguji itu di MK," ucap pakar hukum tata negara itu.

Sebelumnya diberitakan, sebelum berlangsungnya aksi 212 pada 2 Desember 2016, Polda Metro Jaya menangkap dan menetapkan status tersangka pada Eko, Adityawarman, Kivlan Zein, Firza Huzein, Rachmawati Soekarnoputri, Ratna Sarumpaet, dan Alvin Indra Alfaris atas dugaan makar.

Ketujuh tersangka itu tidak dilakukan penahanan, namun proses hukum mereka tetap berlanjut hingga ke meja hijau.

Menurut polisi, rencana pemufakatan yang mereka rancang adalah membelokkan massa dari silang Monas ke Gedung DPR, menduduki Gedung DPR, pemaksaan supaya dilakukan Sidang Istimewa, dan menuntut pergantian pemerintahan. (*)

"

| Ingin | Gulingkan | Lurah | Disebut | Makar, | Yusril | Ihza | Mahendra | Berniat | Materi | WARTA | KOTA | SENAYAN | strong> | Mahendra< | penasihat | hukum | Rachmawati | Soekarnoputri< | berencana | melakukan | materi | terhadap | pasal | yang | mengatur | tentang | pidana | makar< | p> Rachmawati | sendiri | telah | ditetapkan | sebagai | tersangka | dugaan | upaya | oleh | kepolisian | p> Yusril | menilai | saat | luas | menimbulkan | multitafsir | terkait | KUHP | juncto | pemufakatan | jahat | p> Itu | dirumuskan | sangat | sulit | Jadi | supaya | depannya | perlu | ditafsirkan | lebih | dalam | (Mahkamah | Konstitusi) | kata | Gedung | DPR< | Jakarta | Kamis | 2016) | menuturkan | pokok | pertanyaan | pengertian | Contohnya | bahwa | adalah | menggulingkan | pemerintah | p> Nah | pemerintahan | jadi | Siapa | siapa | Nanti | gulingkan | lurah | juga | disebut | tutur | p> Namun | memastikan | kapan | p> Sudah | pembicaraan | seperti | tergantung | (aktivis | dituduh | Kalau | saya | menguji | ucap | pakar | tata | negara | p> Senya | diberit | berlangsungnya | aksi | pada | Desember | 2016 | Polda | Metro | Jaya< | menangkap | menetapkan | status | Adityawarman | Kivlan | Zein | Firza | Huzein | Ratna | Sarumpaet | Alvin | Indra | Alfaris | atas | p> Ketujuh | dilakukan | penahanan | proses | tetap | berlanjut | meja | hijau | p> Menurut | polisi | rencana | rancang | membelokkan | massa | silang | Monas | menduduki | pemaksaan | Sidang | Istimewa | menuntut | pergantian | (*)< | strong>< | p> |

Yusril Berencana Uji Materi Pasal Makar ke Mahkamah Konstitusi

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penasehat hukum Rachmawati Soekarnoputri, Yusril Ihza Mahendra berencana melakukan uji materi pasal-pasal yang mengatur tentang pidana makar.

Rachmawati telah ditetapkan oleh kepolisian sebagai tersangka dugaan makar.

Yusril menilai pasal-pasal makar yang ada saat ini terlalu luas sehingga menimbulkan multitafsir.

Hal itu terkait pasal 107 KUHP juncto pasal 110 KUHP, juncto pasal 87 KUHP tentang permufakatan jahat dan makar.

"Itu kan dirumuskan sangat sulit. Jadi supaya ke depannya tak multi tafsir, perlu ditafsirkan lebih dalam oleh MK," kata Yusril di Gedung DPR, Jakarta, Kamis  (8/12/2016).

Yusril menuturkan pokok pertanyaan dalam uji materi yakni terkait pengertian makar.

Contohnya, pengertian bahwa makar adalah menggulingkan pemerintah.

"Nah menggulingkan pemerintahan bisa jadi luas, siapa yang mau menggulingkan siapa, nanti mau gulingkan lurah bisa juga disebut makar," kata Yusril.

Namun, Yusril belum memastikan kapan akan melakukan uji materi tentang pasal makar ke MK.

"Sudah ada pembicaraan seperti itu. Nanti tergantung mereka (aktivis yang dituduh makar), kalau saya sih mau saja menguji itu di MK," kata pakar hukum tata negara itu.

Untuk diketahui, sebelum berlangsungnya aksi 212 pada Jumat 2 Desember 2016, Polda Metro Jaya menangkap dan menetapkan status tersangka pada Eko, Adityawarman,  Kivlan Zein, Firza Huzein, Rachmawati Soekarnoputri, Ratna Sarumpaet dan Alvin Indra Alfaris atas dugaan makar.

Ketujuh tersangka itu tidak dilakukan penahanan namun proses hukum pada mereka tetap berlanjut hingga ke meja hijau.

Rencana pemufakatan yang mereka rancang yakni membelokkan massa dari Silang Monas ke DPR RI, menduduki kantor DPR RI, dan pemaksaan supaya dilakukan sidang istimewa dan menuntut pergantian pemerintahan.

"

| Yusril | Berencana | Materi | Pasal | Makar | Mahkamah | Konstitusi | Laporan | Wartawan | Tribunnews | Ferdinand | Was< | strong>< | p> TRIBUNNEWS | JAKARTA< | strong> |  Penasehat | hukum | Rachmawati | Soekarnoputri< | Ihza | Mahendra< | berencana | melakukan | materi | pasal | yang | mengatur | tentang | pidana | makar< | p> Rachmawati | telah | ditetapkan | oleh | kepolisian | sebagai | tersangka | dugaan | p> Yusril | menilai | saat | luas | menimbulkan | multitafsir | p> Hal | terkait pasal | KUHP juncto pasal | KUHP |  juncto pasal | permufakatan | jahat | p> Itu | dirumuskan | sangat | sulit | Jadi | supaya | depannya | multi | tafsir | perlu | ditafsirkan | lebih | dalam | kata | Gedung | Jakarta | Kamis |  (8 | 2016) | menuturkan | pokok | pertanyaan | yakni | terkait | pengertian | p> Contohnya | bahwa | adalah | menggulingkan | pemerintah | p> Nah | pemerintahan | jadi | siapa | nanti | gulingkan | lurah | juga | disebut | p> Namun | memastikan | kapan | p> Sudah | pembicaraan | seperti | Nanti | tergantung | (aktivis | dituduh | kalau | saya | menguji | pakar | tata | negara | p> Untuk | diketahui | berlangsungnya | aksi | pada | Jumat | Desember | 2016 | Polda | Metro | Jaya | menangkap | menetapkan | status | Adityawarman |  Kivlan | Zein | Firza | Huzein |  Rachmawati | Soekarnoputri | Ratna | Sarumpaet | Alvin | Indra | Alfaris | atas | p> Ketujuh | dilakukan | penahanan | proses | tetap | berlanjut | meja | hijau | p> Rencana | pemufakatan | rancang | membelokkan | massa | Silang | Monas | menduduki | kantor | pemaksaan | sidang | istimewa | menuntut | pergantian | p> |

Yusril Berencana Uji Materi Pasal Makar ke Mahkamah Konstitusi

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penasehat hukum Rachmawati Soekarnoputri, Yusril Ihza Mahendra berencana melakukan uji materi pasal-pasal yang mengatur tentang pidana makar.

Rachmawati telah ditetapkan oleh kepolisian sebagai tersangka dugaan makar.

Yusril menilai pasal-pasal makar yang ada saat ini terlalu luas sehingga menimbulkan multitafsir.

Hal itu terkait pasal 107 KUHP juncto pasal 110 KUHP, juncto pasal 87 KUHP tentang permufakatan jahat dan makar.

"Itu kan dirumuskan sangat sulit. Jadi supaya ke depannya tak multi tafsir, perlu ditafsirkan lebih dalam oleh MK," kata Yusril di Gedung DPR, Jakarta, Kamis  (8/12/2016).

Yusril menuturkan pokok pertanyaan dalam uji materi yakni terkait pengertian makar.

Contohnya, pengertian bahwa makar adalah menggulingkan pemerintah.

"Nah menggulingkan pemerintahan bisa jadi luas, siapa yang mau menggulingkan siapa, nanti mau gulingkan lurah bisa juga disebut makar," kata Yusril.

Namun, Yusril belum memastikan kapan akan melakukan uji materi tentang pasal makar ke MK.

"Sudah ada pembicaraan seperti itu. Nanti tergantung mereka (aktivis yang dituduh makar), kalau saya sih mau saja menguji itu di MK," kata pakar hukum tata negara itu.

Untuk diketahui, sebelum berlangsungnya aksi 212 pada Jumat 2 Desember 2016, Polda Metro Jaya menangkap dan menetapkan status tersangka pada Eko, Adityawarman,  Kivlan Zein, Firza Huzein, Rachmawati Soekarnoputri, Ratna Sarumpaet dan Alvin Indra Alfaris atas dugaan makar.

Ketujuh tersangka itu tidak dilakukan penahanan namun proses hukum pada mereka tetap berlanjut hingga ke meja hijau.

Rencana pemufakatan yang mereka rancang yakni membelokkan massa dari Silang Monas ke DPR RI, menduduki kantor DPR RI, dan pemaksaan supaya dilakukan sidang istimewa dan menuntut pergantian pemerintahan.

"

| Yusril | Berencana | Materi | Pasal | Makar | Mahkamah | Konstitusi | Laporan | Wartawan | Tribunnews | Ferdinand | Was< | strong>< | p> TRIBUNNEWS | JAKARTA< | strong> |  Penasehat | hukum | Rachmawati | Soekarnoputri< | Ihza | Mahendra< | berencana | melakukan | materi | pasal | yang | mengatur | tentang | pidana | makar< | p> Rachmawati | telah | ditetapkan | oleh | kepolisian | sebagai | tersangka | dugaan | p> Yusril | menilai | saat | luas | menimbulkan | multitafsir | p> Hal | terkait pasal | KUHP juncto pasal | KUHP |  juncto pasal | permufakatan | jahat | p> Itu | dirumuskan | sangat | sulit | Jadi | supaya | depannya | multi | tafsir | perlu | ditafsirkan | lebih | dalam | kata | Gedung | Jakarta | Kamis |  (8 | 2016) | menuturkan | pokok | pertanyaan | yakni | terkait | pengertian | p> Contohnya | bahwa | adalah | menggulingkan | pemerintah | p> Nah | pemerintahan | jadi | siapa | nanti | gulingkan | lurah | juga | disebut | p> Namun | memastikan | kapan | p> Sudah | pembicaraan | seperti | Nanti | tergantung | (aktivis | dituduh | kalau | saya | menguji | pakar | tata | negara | p> Untuk | diketahui | berlangsungnya | aksi | pada | Jumat | Desember | 2016 | Polda | Metro | Jaya | menangkap | menetapkan | status | Adityawarman |  Kivlan | Zein | Firza | Huzein |  Rachmawati | Soekarnoputri | Ratna | Sarumpaet | Alvin | Indra | Alfaris | atas | p> Ketujuh | dilakukan | penahanan | proses | tetap | berlanjut | meja | hijau | p> Rencana | pemufakatan | rancang | membelokkan | massa | Silang | Monas | menduduki | kantor | pemaksaan | sidang | istimewa | menuntut | pergantian | p> |

Wednesday, December 7, 2016

Polri: Makar Didanai | Republika Online

JAKARTA -- Penyidik Polda Metro Jaya menyatakan telah mendapatkan bukti transfer dana yang melengkapi dugaan pidana makar terhadap sejumlah aktivis dan purnawirawan TNI. Kendati demikian, pihak kepolisian enggan mengungkap pihak-pihak terkait pendanaan itu.

Kabagpenum Polri Kombes Martinus Sitompul mengatakan, salah satu bukti makar yang menjerat sejumlah tokoh pekan lalu adalah ditemukan juga bukti transfer antara para tersangka. Meski begitu, sejauh ini masih terus dialami lagi dari mana dan ke mana saja dana itu mengalir. "Bukti transfer itu bagian upaya Polri yang saat ini sudah ditemukan bukti transfer. Tentu ini menjadi bagian tambahan bukti," kata dia.

Selanjutnya, masih kata Martinus, masih akan digali bukti-bukti yang lainnya sehingga dapat memudahkan penyidik dalam mendapatkan satu konstruksi hukum yang mempersangkakan kedelapan orang tersebut sebagai tersangka permufakatan jahat yang akan menggulingkan pemerintahan yang sah.

Sedangkan, untuk bukti-bukti yang lain, tambah dia, adalah sejumlah berkas dokumen, video yang diunggah di media sosial, pemberitaan soal pernyataan ajakan makar, dan surat permintaan sidang istimewa ke DPR. "Kemudian adanya indikasi-indikasi yang mendukung terjadinya upaya perencanaan upaya permufakatan jahat dengan melakukan dan menempatkan mobil-mobil komando untuk mengajak orang atau mempersiapkan orang yang akan dibawa ke DPR," ujar dia.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Kombes Rikwanto mengiyakan adanya aliran dana khusus terkait makar. "Ada memang, (saya) belum (bisa) memberikan perincian, ya, karena masuk materi penyidikan," ujar Rikwanto, di Silang Monas, Jakarta Pusat, kemarin.

Rikwanto juga enggan membeberkan perihal jumlah nominal tersebut. Kendati demikian, kata dia, jumlahnya cukup banyak. Dia pun enggan menerangkan dari mana asal uang tersebut, apakah datang dari pihak swasta atau lainnya. Alasannya, informasi-informasi tersebut masuk ke dalam materi penyidikan dan hanya akan dibuka di pengadilan.

Di tahanan Mapolda Metro Jaya, aktivis Sri Bintang Pamungkas dijenguk istrinya, Erna Lina, kemarin. Selepas kunjungan itu, Erna meminta suaminya dibebaskan. "Saya sebagai istri rasanya tidak adil kalau tujuh dilepaskan dengan tuduhan yang sama tapi Pak Bintang masih ditahan," ujar Erna, kemarin.

Terkait dengan kondisi suaminya, menurut Erna, masih dalam keadaan sehat dan tetap melakukan kegiatannya di dalam tahanan. Bahkan, kata dia, suaminya tersebut masih menyempatkan diri membuat soal ujian untuk mahasiswanya. "Alhamdulillah sehat. Bapak tetap lakukan kegiatan biasa di tahanan, salah satunya buat soal untuk mahasiswanya," kata Erna.

Kuasa hukum Sri Bintang, Dahlia Zein, mengatakan, pihaknya masih terus berjuang untuk meminta penangguhan penahanan terhadap kliennya tersebut. Namun, kata dia, pihaknya tidak akan mengajukan proses praperadilan. "Bapak bilang tidak usah dan menolak. Karena, untuk apa praperadilan? Karena tidak sesuai dan tidak ada di KUHAP praperadilan itu," kata Zein.

Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) Miko Ginting berharap aparat kepolisian cermat dan hati-hati dalam menerapkan tuduhan makar. Menurut dia, makar bukan tindak pidana yang berdiri sendiri, melainkan unsur dari tindak pidana. "Apabila tidak ada serangan yang berat (anslaag) maka tuduhan makar tidak terpenuhi. Kepolisian sebaiknya cermat dan hati-hati dalam menerapkan tuduhan ini agar penegakan hukum berjalan tepat pada relnya," ujar Miko.

Pihak Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) juga mengecam tuduhan makar terhadap sejumlah tokoh yang ditangkap. Menurut dia, tindakan Polri itu dapat disebut sebagai perampasan hak atas kebebasan berpolitik. Sebab, yang dilakukan para tokoh itu adalah menyampaikan kebebasan berpendapat dan menyebarluaskan pendapat mereka, baik melalui media cetak maupun elektronik.

"Apa dengan sepucuk surat bisa menggulingkan Presiden Jokowi dan membubarkan pemerintahannya? Bukankah surat itu dilayangkan ke MPR?" ujar Badan Pengurus Nasional PBHI Suryadi Radjab. rep: Mabruroh, Fauziah Mursid  ed: Fitriyan Zamzami

"

| Polri: | Makar | Didanai | Republika | Online | JAKARTA | Penyidik | Polda | Metro | Jaya | menyat | telah | mendapatkan | bukti | transfer | dana | yang | melengkapi | dugaan | pidana | makar | terhadap | sejumlah | aktivis | purnawirawan | Kendati | demikian | pihak | kepolisian | enggan | mengungkap | terkait | pendanaan | p>Kabagpenum | Polri | Kombes | Martinus | Sitompul | mengat | salah | satu | menjerat | tokoh | pekan | adalah | ditemukan | juga | antara | para | tersangka | Meski | begitu | sejauh | masih | terus | dialami | lagi | mana | mengalir | Bukti | bagian | upaya | saat | Tentu | menjadi | tambahan | kata | p>Selanjutnya | digali | lainnya | dapat | memudahkan | penyidik | dalam | konstruksi | hukum | mempersangk | kedelapan | orang | tersebut | sebagai | permufakatan | jahat | menggulingkan | pemerintahan | p>Sedangkan | untuk | lain | tambah | berkas | dokumen | video | diunggah | media | sosial | pemberitaan | soal | pernyataan | surat | permintaan | sidang | istimewa | Kemudian | adanya | indikasi | mendukung | terjadinya | perencanaan | dengan | melakukan | menempatkan | mobil | komando | mengajak | atau | mempersiapkan | dibawa | ujar | p>Kepala | Biro | Penerangan | Masyarakat | (Karopenmas) | Rikwanto | mengiy | aliran | khusus | memang | (saya) | memberikan | perincian | karena | masuk | materi | penyidikan | Silang | Monas | Jakarta | Pusat | kemarin | p>Rikwanto | membeberkan | perihal | jumlah | nominal | jumlahnya | cukup | banyak | menerangkan | asal | uang | apakah | datang | swasta | Alasannya | informasi | hanya | dibuka | pengadilan | p>Di | tahanan | Mapolda | Bintang | Pamungkas | dijenguk | istrinya | Erna | Lina | Selepas | kunjungan | meminta | suaminya | dibebaskan | Saya | istri | rasanya | adil | kalau | tujuh | dilepaskan | tuduhan | sama | ditahan | p>Terkait | kondisi | menurut | keadaan | sehat | tetap | kegiatannya | Bahkan | menyempatkan | diri | membuat | ujian | mahasiswanya | Alhamdulillah | Bapak | lakukan | kegiatan | biasa | satunya | buat | p>Kuasa | Dahlia | Zein | pihaknya | berjuang | penangguhan | penahanan | kliennya | Namun | mengajukan | proses | praperadilan | bilang | usah | menolak | Karena | sesuai | KUHAP | p>Peneliti | Studi | Hukum | Kebij | Indonesia | (PSHK) | Miko | Ginting | berharap | aparat | cermat | hati | menerapkan | Menurut | bukan | tindak | berdiri | sendiri | melainkan | unsur | Apabila | serangan | berat | (anslaag) | maka | terpenuhi | Kepolisian | sebaiknya | agar | peneg | berjalan | tepat | pada | relnya | p>Pihak | Perhimpunan | Bantuan | Asasi | Manusia | (PBHI) | mengecam | ditangkap | tind | disebut | perampasan | atas | kebebasan | berpolitik | Sebab | dilakukan | menyampaikan | berpendapat | menyebarluaskan | pendapat | baik | cetak | maupun | elektronik | p>Apa | sepucuk | Presiden | Jokowi | membubarkan | pemerintahannya | Bukankah | dilayangkan | Badan | Pengurus | Nasional | PBHI | Suryadi | Radjab | rep: | Mabruroh | Fauziah | Mursid |  ed:< | strong> Fitriyan | Zamzami< | p> |

Tuesday, December 6, 2016

Polisi Pantau Pergerakan Terduga Makar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tujuh tersangka kasus dugaan tindak pidana makar sudah dibebaskan oleh Polda Metro Jaya. Saat ini hanya tinggal satu tersangka kasus makar yang masih ditahan di Markas Polda Metro, yaitu Sri Bintang Pamungkas

Kapolda Metro Jaya, Irjen M Iriawan meminta ketujuh tersangka tersebut tidak mengulangi perbuatannya. Ia pun menegaskan, selama menyandang status tersangka ketujuh orang itu akan terus dipantau pergerakannya.

Ia mengancam, jika mengulangi perbuatannya lagi pihaknya tak ragu-ragu untuk menangkapnya. "Kalau dia mencoba lagi, mengadakan percobaan, apa boleh buat (akan ditahan lagi)," ujar dia  kepada wartawan di Monas, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (6/12).

Tujuh tersangka yang sudah dibebaskan sepert eks Staf Ahli Panglima TNI Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha, mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zein dan aktivis perempuan Ratna Sarumpaet.

Mantan Kapolda Jawa Barat tersebut mengatakan, saat ini penyidik masih merampungkan berkas perkara untuk dilimpahkan ke kejaksaan. Pihaknya juga masih mengembangkan kasus dugaan makar tersebut.

“Sejauh ini masih dalam proses pemberkasan. Kalau ada (pelaku) kita cari lagi,” kata Mantan Kadiv Propam Mabes Polri tersebut.

Seperti diketahui, sebelumnya Polda Metro Jaya telah menangkap 10 orang terkait dugaan makar sebelum Aksi Bela Islam III digelar di Lapangan Silang Monas, Jumat (2/12).

Selain delapan orang kasus dugaan makar yang disebut atas, saat itu Polda Metro juga menangkap dua orang lainnya, yaitu Jamran dan Rizal Kobar. Dua orang ini diduga telah melakukan tindak pidana ITE.

Baca juga, Polisi Tetapkan Tujuh Orang Tersangka Permufakatan Makar.

"

| Polisi | Pantau | Perger | Terduga | Makar | REPUBLIKA | JAKARTA | Tujuh | tersangka | kasus | dugaan | tindak | pidana | makar | dibebaskan | oleh | Polda | Metro | Jaya | Saat | hanya | tinggal | satu | yang | masih | ditahan | Markas | yaitu | Bintang | Pamungkas< | p> Kapolda | Irjen | Iriawan | meminta | ketujuh | tersebut | mengulangi | perbuatannya | menegaskan | selama | menyandang | status | orang | terus | dipantau | pergernya | p> Ia | mengancam | jika | lagi | pihaknya | ragu | untuk | menangkapnya | Kalau | mencoba | mengad | percobaan | boleh | buat | lagi) | ujar | dia  | kepada | wartawan | Monas | Gambir | Jakarta | Pusat | Selasa | p> Tujuh | sepert | Staf | Ahli | Panglima | Brigjen | (Purn) | Adityawarman | Thaha | mantan | Kepala | Kostrad | Mayjen | Kivlan | Zein | aktivis | perempuan | Ratna | Sarumpaet | p>Mantan | Kapolda | Jawa | Barat | mengat | saat | penyidik | merampungkan | berkas | perkara | dilimpahkan | kejaksaan | Pihaknya | juga | mengembangkan | p>“Sejauh | dalam | proses | pemberkasan | (pelaku) | cari | kata | Mantan | Kadiv | Propam | Mabes | Polri | p>Seperti | diketahui | senya | telah | menangkap | terkait | Aksi | Bela | Islam | digelar | Lapangan | Silang | Jumat | p>Selain | delapan | disebut | atas | lainnya | Jamran | Rizal | Kobar | diduga | melakukan | p> Baca | Tetapkan | Orang | Tersangka | Permufakatan | p> |

Polisi Pantau Pergerakan Terduga Makar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tujuh tersangka kasus dugaan tindak pidana makar sudah dibebaskan oleh Polda Metro Jaya. Saat ini hanya tinggal satu tersangka kasus makar yang masih ditahan di Markas Polda Metro, yaitu Sri Bintang Pamungkas

Kapolda Metro Jaya, Irjen M Iriawan meminta ketujuh tersangka tersebut tidak mengulangi perbuatannya. Ia pun menegaskan, selama menyandang status tersangka ketujuh orang itu akan terus dipantau pergerakannya.

Ia mengancam, jika mengulangi perbuatannya lagi pihaknya tak ragu-ragu untuk menangkapnya. "Kalau dia mencoba lagi, mengadakan percobaan, apa boleh buat (akan ditahan lagi)," ujar dia  kepada wartawan di Monas, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (6/12).

Tujuh tersangka yang sudah dibebaskan sepert eks Staf Ahli Panglima TNI Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha, mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zein dan aktivis perempuan Ratna Sarumpaet.

Mantan Kapolda Jawa Barat tersebut mengatakan, saat ini penyidik masih merampungkan berkas perkara untuk dilimpahkan ke kejaksaan. Pihaknya juga masih mengembangkan kasus dugaan makar tersebut.

“Sejauh ini masih dalam proses pemberkasan. Kalau ada (pelaku) kita cari lagi,” kata Mantan Kadiv Propam Mabes Polri tersebut.

Seperti diketahui, sebelumnya Polda Metro Jaya telah menangkap 10 orang terkait dugaan makar sebelum Aksi Bela Islam III digelar di Lapangan Silang Monas, Jumat (2/12).

Selain delapan orang kasus dugaan makar yang disebut atas, saat itu Polda Metro juga menangkap dua orang lainnya, yaitu Jamran dan Rizal Kobar. Dua orang ini diduga telah melakukan tindak pidana ITE.

Baca juga, Polisi Tetapkan Tujuh Orang Tersangka Permufakatan Makar.

"

| Polisi | Pantau | Perger | Terduga | Makar | REPUBLIKA | JAKARTA | Tujuh | tersangka | kasus | dugaan | tindak | pidana | makar | dibebaskan | oleh | Polda | Metro | Jaya | Saat | hanya | tinggal | satu | yang | masih | ditahan | Markas | yaitu | Bintang | Pamungkas< | p> Kapolda | Irjen | Iriawan | meminta | ketujuh | tersebut | mengulangi | perbuatannya | menegaskan | selama | menyandang | status | orang | terus | dipantau | pergernya | p> Ia | mengancam | jika | lagi | pihaknya | ragu | untuk | menangkapnya | Kalau | mencoba | mengad | percobaan | boleh | buat | lagi) | ujar | dia  | kepada | wartawan | Monas | Gambir | Jakarta | Pusat | Selasa | p> Tujuh | sepert | Staf | Ahli | Panglima | Brigjen | (Purn) | Adityawarman | Thaha | mantan | Kepala | Kostrad | Mayjen | Kivlan | Zein | aktivis | perempuan | Ratna | Sarumpaet | p>Mantan | Kapolda | Jawa | Barat | mengat | saat | penyidik | merampungkan | berkas | perkara | dilimpahkan | kejaksaan | Pihaknya | juga | mengembangkan | p>“Sejauh | dalam | proses | pemberkasan | (pelaku) | cari | kata | Mantan | Kadiv | Propam | Mabes | Polri | p>Seperti | diketahui | senya | telah | menangkap | terkait | Aksi | Bela | Islam | digelar | Lapangan | Silang | Jumat | p>Selain | delapan | disebut | atas | lainnya | Jamran | Rizal | Kobar | diduga | melakukan | p> Baca | Tetapkan | Orang | Tersangka | Permufakatan | p> |

Monday, December 5, 2016

Demokrat Anggap Dugaan Makar Terlalu Jauh, PDI-P Serahkan ke Polisi

JAKARTA, KOMPAS.com - Penangkapan serta penetapan tersangka terhadap tujuh orang terkait perkara dugaan makar pada Jumat (2/12/2016) lalu masih menuai kontroversi.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan berpendapat, tuduhan makar itu berlebihan.

"Kami masih melihat bahwa terlalu jauh untuk melihat ke sana," ujar Syarief dalam acara "Satu Meja" yang ditayangkan Kompas TV, Senin (5/12/2016) malam.

Alasannya, Syarief berpendapat, seluruh rakyat Indonesia telah menyadari bahwa aksi makar adalah bentuk inkonstitusional dan perusakan tatanan demokrasi yang telah dibangun, khususnya pasca-reformasi.

Oleh sebab itu, mendukung pemerintah sah hingga habis periode dan berkompetisi lagi di dalam pemilihan presiden selanjutnya adalah hal yang mutlak dilakukan.

Jika muncul kritik dari masyarakat, hal itu memang diakomodasi di dalam undang-undang. Asalkan, penyampaian kritik itu tidak melanggar hak dan kewajiban warga negara lain.

Meski menganggap tuduhan makar terlalu jauh, Syarief mewanti-wanti agar aparat keamanan harus selalu siap mengantisipasi hal negatif yang mungkin terjadi.

"Namun bagaimana pun juga, dengan begitu banyak massa, tentunya kami mendorong aparat keamanan TNI- Polri waspada. Itu sah-sah saja, itu merupakan tugas dan tanggung jawab," ujar dia.

Syarief pun meminta Polri dapat membuktikan apakah tuduhan itu benar atau tidak.

Terlalu prematur

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Ahmad Basarah berpendapat berbeda.

Pertama, Basarah menilai, Polisi tidak mungkin gegabah dalam menangkap dan menetapkan tersangka terhadap tujuh orang dengan sangkaan makar.

"Tindakan polisi memanggil, menjemput dan mentersangkakan para pihak yang diduga melakukan upaya makar, pasti memiliki alat bukti yang cukup kuat untuk sampai ke tindakan hukum seperti itu," ujar Basarah.

Kedua, proses penyelidikan dan penyidikan perkara makar masih berjalan. Polisi tidak memiliki wewenang mengadili apa ketujuh tersangka itu benar-benar melakukan tindakan makar atau tidak.

Wewenang tersebut, lanjut Basarah, dimiliki oleh pengadilan.

"Oleh karena itu, tunggu dulu. Terlalu prematur menuduh Polri proporsional atau tidak proporsional dalam hal ini. Karena proses perkara ini masih berlangsung," ujar dia.

Basarah pun berpendapat alangkah baiknya publik mempercayakan pengungkapan kebenaran perkara itu kepada sistem hukum di Tanah Air.

Dari keputusan itu nantinya dapat disimpulkan apakah aksi polisi dianggap berlebihan atau tidak.

Namun, Basarah mengapresiasi kerja Polisi. Apalagi penangkapan ketujuh orang itu dilakukan sebelum aksi super damai di Silang Monas, 2 Desember 2016.

"Polisi melakukan tindakan preventif untuk menjaga kemurnian umat Islam yang ingin mengekspresikan perasaan keislamannya akibat ada dugaan kitab sucinya dinistakan oleh Pak Ahok (Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama)," ujar Basarah.

"Jadi ingin dipilah supaya tidak ada manipulasi. Apa yang kita saksikan peristiwa aksi super damai lebih ke kegiatan ibadah, doa, zikir di mana polisi berhasil memisahkan mana gerakan keagamaan dan mana gerakan politik," kata dia.

Pengamat politik UIN Komarudin Hidayat berpendapat sama dengan Basarah. Menurut dia, publik tengah menyoroti betul kinerja Polri, khususnya soal pengusutan perkara dugaan penodaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama.

Oleh sebab itu, ketika melaksanakan tugas yang terkait dengan perkara itu meski tidak langsung, Polri diyakini melakukannya dengan profesional.

"Polisi tidak akan main-main mempertaruhkan kepercayaannya ya. Karena polisi dapat pressure luar biasa dalam kasus Ahok ini. Oleh karena itu ketika polisi menangkap, saya yakin dia punya informasi dan pertimbangan tersendiri," ujar Komarudin.

Sebanyak tujuh orang yang ditangkap sebelum aksi doa bersama Jumat lalu telah ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan upaya makar.

Ketujuh orang itu adalah Rachmawati Soekarnoputri, Kivlan Zein, Ratna Sarumpaet, Adityawarman, Eko, Alvin, dan Firza Huzein.

Mereka disangka melanggar Pasal 107 juncto Pasal 110 juncto Pasal 87 KUHP.

(Baca juga: Kapolri Ungkap Alasan Penangkapan 11 Orang Tersangka Dugaan Makar Jelang Doa Bersama)

Upaya provokasi

Meski sudah mengantongi sejumlah alat bukti untuk menjerat tujuh tersangka itu, namun penyidik masih mencari bukti kuat lain.

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes (Pol) Martinus Sitompul mengatakan, salah satu petunjuk yang masih dikejar penyidik adalah keterkaitan antara tujuh tersangka itu dengan ajakan sejumlah orang untuk menduduki gedung MPR/DPR pada aksi super damai 2 Desember 2016.

"Ada upaya memprovokasi umat untuk dibawa ke Gedung MPR/DPR RI dan mendesak sidang istimewa menggulingkan pemerintah sah," ujar Martinus di kantornya, Senin (5/12/2016).

(Baca juga: Penegak Hukum Diminta Tak Sembarangan Terapkan Pasal Makar)

Sebelum shalat Jumat bersama di Lapangan Silang Monas, lanjut Martinus, ada sejumlah orang menggunakan mobil mengajak massa untuk bertolak ke Gedung MRP/DPR RI.

Martinus menegaskan, orang tersebut bukanlah bagian dari massa aksi doa bersama. Sebab, para pimpinan aksi itu sudah sepakat dengan polisi hanya menggelar shalat Jumat bersama di Lapangan Silang Monas tanpa harus berorasi di jalanan.

"Nah, kami menduga ajakan-ajakan ini dalam rangka bagian dari rencana itu (makar)," ujar Martinus.

Martinus enggan menjelaskan apa yang sudah didapatkan penyidik soal informasi itu.

"Intnya ada informasi A, B, C dan D yang sementara ini masih dalam tahap penyidikan. Yang jelas ada informasi seperti itu dan harus dikonstruksi menjadi sebuah sangkaan. Ini butuh waktu," ujar dia.

Kompas TV Kapolri Jelaskan Alasan Penangkapan Tersangka Makar

"

| Demokrat | Anggap | Dugaan | Makar | Jauh, | PDI-P | Serahkan | Polisi | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> | Penangkapan | serta | penetapan | tersangka | terhadap | tujuh | orang | terkait | perkara | dugaan | makar | pada | Jumat | 2016) | masih | menuai | kontroversi | p> Wakil | Ketua | Umum | Partai | Demokrat< | Syarief | Hasan | berpendapat | tuduhan | berlebihan | p> Kami | melihat | bahwa | jauh | untuk | sana | ujar | dalam | acara | Satu | Meja | yang | ditayangkan | Kompas | Senin | malam | p> Alasannya | seluruh | rakyat | Indonesia | telah | menya | aksi | adalah | bentuk | inkonstitusional | perus | tatanan | demokrasi | dibangun | khususnya | pasca | reformasi | p> Oleh | mendukung | pemerintah | habis | periode | berkompetisi | lagi | pemilihan | presiden | selanjutnya | mutlak | dilakukan | p> Jika | muncul | kritik | masyarakat | memang | diakomodasi | undang | Asalkan | penyampaian | melanggar | kewajiban | warga | negara | lain | p> Meski | menganggap | mewanti | wanti | agar | aparat | keamanan | harus | siap | mengantisipasi | negatif | mungkin | terjadi | p> Namun | bagaimana | juga | dengan | begitu | banyak | massa | tentunya | kami | mendorong | TNI< | Polri< | waspada | merup | tugas | tanggung | jawab | p> Syarief | meminta | dapat | membuktikan | apakah | benar | atau | p> Ter | prematur< | strong>< | p> Sementara | Wakil | Sekretaris | Jenderal | Perjuangan | Ahmad | Basarah | berbeda | p> Pertama | menilai | gegabah | menangkap | menetapkan | sangkaan | p> Tind | polisi | memanggil | menjemput | mentersangk | para | pihak | diduga | melakukan | upaya | pasti | memiliki | alat | bukti | cukup | kuat | sampai | tind | hukum | seperti | p> Kedua | proses | penyelidikan | penyidikan | berjalan | wewenang | mengadili | ketujuh | p> Wewenang | tersebut | lanjut | dimiliki | oleh | pengadilan | karena | tunggu | dulu | prematur | menuduh | proporsional | Karena | berlangsung | p> Basarah | alangkah | baiknya | publik | mempercay | pengungkapan | kebenaran | kepada | sistem | Tanah | p> Dari | keputusan | nantinya | disimpulkan | dianggap | mengapresiasi | kerja | Apalagi | penangkapan | super | damai | Silang | Monas | Desember< | 2016 | p> Polisi | preventif | menjaga | kemurnian | umat | Islam | ingin | mengekspresikan | perasaan | keislamannya | sucinya | dinist | Ahok | (Gubernur | nonaktif | Jakarta | Basuki | Tjahaja | Purnama< | p> Jadi | dipilah | supaya | manipulasi | saksikan | peristiwa | lebih | kegiatan | ibadah | zikir | mana | berhasil | memisahkan | keagamaan | politik | kata | p> Pengamat | Komarudin | Hidayat | sama | Menurut | tengah | menyoroti | betul | kinerja | soal | pengusutan | penodaan | agama | ketika | melaksan | meski | langsung | diyakini | melakukannya | profesional | main | mempertaruhkan | kepercayaannya | pressure< | luar | biasa | kasus | Oleh | saya | yakin | punya | informasi | pertimbangan | tersendiri | p> Sebanyak | ditangkap | bersama< | ditetapkan | sebagai | p> Ketujuh | Rachmawati< | Soekarnoputri | Kivlan | Zein< | Ratna | Sarumpaet< | Adityawarman | Alvin | Firza | Huzein | p> Mereka | disangka | Pasal | juncto | KUHP | p> (Baca | juga: Kapolri | Ungkap | Alasan | Orang | Tersangka | Jelang | Bersama< | a>)< | p> Upaya | provokasi< | mengantongi | sejumlah | menjerat | penyidik | mencari | p> Kepala | Bagian | Penerangan | Kombes | (Pol) | Martinus | Sitompul< | mengat | salah | satu | petunjuk | dikejar | keterkaitan | antara | menduduki | gedung | p> Ada | memprovokasi | dibawa | Gedung | mendesak | sidang | istimewa | menggulingkan | kantornya | juga: | Penegak | Hukum | Diminta | Sembarangan | Terapkan | Makar< | p> Se | shalat | bersama | Lapangan | menggun | mobil | mengajak | bertolak | p> Martinus | menegaskan | bukanlah | bagian | Sebab | pimpinan | sepakat | hanya | menggelar | tanpa | berorasi | jalanan | p> Nah | menduga | rangka | rencana | (makar) | enggan | menjelaskan | didapatkan | p> Intnya | sementara | tahap | Yang | jelas | dikonstruksi | menjadi | sebuah | butuh | waktu | p> Kompas | span> | Kapolri | Jelaskan | p> |