Showing posts sorted by relevance for query Yang. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Yang. Sort by date Show all posts

Sunday, December 4, 2016

Beda pemufakatan makar dan penyampaian kritik

Politisi Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar Jumat (2/12/2016).
Politisi Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar Jumat (2/12/2016). © Indrianto Eko Suwarso /Antara Foto

Belakangan kata makar sontak populer. Publik menyoroti kata itu karena keluar dari pihak polisi dan tentara nasional terkait adanya potensi makar di demonstrasi Jumat lalu (2/12/2016).

Nyatanya demonstrasi yang dikenal "212" itu jauh dari usaha makar. Malah Presiden Joko Widodo salat bersama dan juga berpidato di Monumen Nasional--tempat aksi digelar.

"Terima kasih atas doa dan zikir yang telah dipanjatkan untuk keselamatan bangsa dan negara kita. Allahu Akbar," demikian penggalan pidato Jokowi ketika itu.

Tapi dugaan makar yang diduga akan menunggangi aksi itu ternyata terbongkar. Di beberapa tempat yang berbeda ada 11 nama yang ditangkap polisi.

Dari 11 orang itu polisi menetapkan 10 nama yang jadi tersangka. Yakni Kivlan Zein, Adityawarman Thahar, Ratna Sarumpaet, Firza Huzein, Eko Santjojo, Alvin Indra, Rachmawati Soekarnoputri, Sri Bintang Pamungkas, dan kakak beradik Rizal dan Jamran.

Dikutip dari CNN Indonesia, dari 10 nama itu ada delapan yang dijerat Pasal 107 juncto Pasal 110 juncto Pasal 87 KUHP mengenai pemufakatan jahat untuk melakukan makar. Ahmad Dhani sendiri dijerat Pasal 207 KUHP mengenai penghinaan terhadap Presiden.

Penangkapan itu kemudian menuai tanda tanya. Yang paling nyaring adalah dari Partai Gerindra. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono mengatakan tudingan makar kepada para tokoh dan aktivis itu membahayakan perkembangan demokrasi.

"Pada kesempatan ini saya minta kepada kepolisian untuk membebaskan semua, termasuk Sri Bintang Pamungkas," kata Ferry.

Ferry beranggapan sulit baginya menuding tokoh-tokoh yang ditangkap itu berbuat makar. Menurutnya makar merupakan sebuah upaya penggulingan pemerintahan yang sah dengan mengerahkan kekuatan besar. Tapi dalam pandangan Ferry mereka hanya menyampaikan pendapat di muka publik, dan itu merupakan bagian dari kritik.

"Saya takut persepsi ini dibangun sedemikian rupa, dan tidak bisa memilah mana sikap kritis dan pembungkaman," tuturnya.

Tapi polisi punya persepsi berbeda. Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, mengatakan perbuatan makar beda jauh dengan penyampaian kritik.

"Pandangan kritis yang disampaikan lewat kritik itu lumrah, tetapi rambu hukum harus dipegang. Kalau makar dengan pemufakatan jahat, ini adalah barang yang berbeda dengan kritik," ujar Boy dalam jumpa pers di Gedung Divisi Humas Polri Jakarta, Sabtu (3/12/2016).

Bagi Boy kritik tidak boleh disampaikan dengan ujaran kebencian, penistaan, kata-kata bohong dan penghasutan. Ia berharap kritik itu tetap sesuai dengan tatanan hukum dan aturan yang berlaku, baik penyampaian melalui verbal, non verbal atau media elektronik.

"Jadi, kami ini bukannya terlalu reaktif. Kami hanya bermain pada tatanan hukum dan kami lakukan pada tindakan nyata," katanya.

Lebih jauh, menurut Boy, penentuan tindak pidana makar dalam bentuk pemufakatan tidak perlu menunggu apa yang direncanakan terjadi. Dalam arti, penyidik tidak perlu menunggu pemberontakan terealisasi untuk menangkap mereka.

Dalam kasus ini, penyidik Polri menemukan bukti para tersangka berupaya memanfaatkan ruang kebebasan untuk melahirkan gagasan berbau hasutan yang bisa disalahartikan.

Semua tersangka diduga berencana untuk memanfaatkan massa yang mengikuti doa bersama untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. "Situasinya multikompleks. Tidak bisa kami katakan ini murni ibadah. Polisi selalu berpikir ada kecurigaan," kata Boy menambahkan.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, makar memiliki arti: 1. akal busuk; tipu muslihat; 2. perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang dan sebagainya; 3. perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah.

Dalam sejarahnya undang-undang terkait makar lahir dari usaha pihak berkuasa untuk melawan setiap pihak yang mencoba melawan untuk menggulingkannya. Dalam Undang-undang KUHP yang dilahirkan Belanda dan diadopsi Indonesia disebutkan makar itu usaha atau kegiatan untuk menumbangkan pemerintah yang sah.

Dalam Pasal 107 KUHP makar diidentikkan dengan empat hal: makar terhadap pemerintah, ideologi, wilayah dan makar terhadap kepala negara.

Jenis hukuman untuk pelaku makar beraneka ragam, ada yang cuma 2,5 tahun saja, ada juga yang sampai 20 tahun, bahkan hukuman mati, seperti yang dikatakan Kepala Polda Metro Jaya, Irjen Pol Mochamad Iriawan.

Indonesia pernah beberapa kali terancam makar yang dilakukan warga negaranya.

Kasus makar pertama dilakukan oleh seorang perwira muda bernama Daniel Maukar. Dia melakukan serangan ke Istana Negara dengan pesawat tempur MiG-17 Fresco di era kepemimpinan Sukarno.

Akibatnya Daniel diadili atas tindakan makar dan dijatuhi hukuman mati, namun diampuni dan hanya menjalani delapan tahun masa tahanan sebelum akhirnya bebas.

Kasus makar yang lain dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka, Republik Maluku Selatan dan juga Organisasi Papua Merdeka, karena dianggap melawan kedaulatan NKRI.

Sebagai catatan, tidak cuma perbuatan makar yang berujung bui. Kritik pun juga bisa. Misalnya kritikan soal banjir yang dilayangkan Abdul Hamid (62), warga Samarinda, Kalimantan Timur, kepada Wali Kota Syaharie Jaang.

Hamid dipolisikan beberapa waktu lalu dengan Undang-undang No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Nasib yang sama juga dialami Fadli Rahim (33), pegawai negeri sipil lingkup Pemerintah Gowa, yang dipenjara karena mengkritik sistem pemerintahan Bupati Gowa Ichsan Limpo melalui media sosial Line.

"

| Beda | pemufakatan | makar | penyampaian | kritik | UNTUK | INFORMASI | LEBIH | LENGKAP | IKUTI | KAMI | MEDIA | SOSIAL< | span>< | div> < | div> Politisi | Rachmawati | Soekarnoputri | meninggalkan | gedung | Markas | Komando | Brimob | Kelapa | Depok | usai | menjalani | pemeriksaan | terkait | kasus | dugaan | Jumat | 2016) | Indrianto | Suwarso | Antara | Foto Belgan | kata | sontak | populer | Publik | menyoroti | karena | keluar | pihak | polisi< | tentara | nasional | adanya | potensi | demonstrasi | p> Nyatanya | yang | dikenal | 212< | jauh | usaha | Malah | Presiden | Joko | Widodo | salat | bersama | juga | berpidato | Monumen | Nasional | tempat | aksi | digelar | p> Terima | kasih | atas | zikir | telah | dipanjatkan | untuk | keselamatan | bangsa | negara | Allahu | Akbar | demikian | penggalan | pidato | Jokowi | ketika | p> Tapi | diduga | menunggangi | ternyata | terbongkar | beberapa | berbeda | nama | ditangkap | polisi | p> Dari | orang | menetapkan | jadi | tersangka | Yakni | Kivlan | Zein | Adityawarman | Thahar | Ratna | Sarumpaet | Firza | Huzein | Santjojo | Alvin | Indra | Bintang | Pamungkas | kakak | beradik | Rizal | Jamran | p> Dikutip | Indonesia | nama< | delapan | dijerat | Pasal | juncto | KUHP | mengenai | jahat | melakukan | Ahmad | Dhani | sendiri | penghinaan | terhadap | p> Penangkapan | kemudian | menuai | tanda | tanya | Yang | paling | nyaring | adalah | Partai | Gerindra | Wakil | Ketua | Umum | Ferry | Juliantono | mengat | tudingan | kepada | para | tokoh | aktivis | membahay | perkembangan | demokrasi | p> Pada | kesempatan | saya | minta | kepolisian | membebaskan | semua | termasuk | Ferry< | p> Ferry | beranggapan | sulit | baginya | menuding | berbuat | Menurutnya | merup | sebuah | upaya | penggulingan | pemerintahan | dengan | mengerahkan | kekuatan | besar< | Tapi | dalam | pandangan | hanya | menyampaikan | pendapat | muka | publik | bagian | p> Saya | takut | persepsi | dibangun | sedemikian | rupa | memilah | mana | sikap | kritis | pembungkaman | tuturnya< | punya | Kepala | Divisi | Humas | Polri< | Inspektur | Jenderal | Rafli | Amar | perbuatan | beda | p> Pandangan | disampaikan | lewat | lumrah | rambu | hukum | harus | dipegang | Kalau | makar< | barang | ujar | Boy< | jumpa | pers | Gedung | Jakarta | Sabtu | p> Bagi | boleh | ujaran | kebencian | penistaan | bohong | penghasutan | berharap | tetap | sesuai | tatanan | aturan | berlaku | baik | verbal | atau | media | elektronik | p> Jadi | kami | bukannya | reaktif< | Kami | bermain | pada | lakukan | tind | nyata | katanya | p> Lebih | menurut | penentuan | tindak | pidana | bentuk | perlu | menunggu | direncan | terjadi | Dalam | arti | penyidik | pemberont | terealisasi | menangkap | p> Dalam | menemukan | bukti | berupaya | memanfaatkan | ruang | kebebasan | melahirkan | gagasan | berbau | hasutan< | disalahartikan | p> Semua | berencana | massa | mengikuti | menggulingkan | Situasinya | multikompleks | Tidak | murni | ibadah | Polisi | berpikir | kecurigaan | menambahkan | p> Menurut | besar | Bahasa | memiliki | arti: | akal | busuk; | tipu | muslihat; | (usaha) | maksud | hendak | menyerang | (membunuh) | sebagainya; | menjatuhkan | pemerintah | sejarahnya | undang | lahir | berkuasa | melawan | setiap | mencoba | menggulingkannya | Undang | dilahirkan | Belanda | diadopsi | disebutkan | kegiatan | menumbangkan | diidentikkan | empat | hal: | ideologi | wilayah | kepala | p> Jenis | hukuman< | pelaku | beraneka | ragam | cuma | tahun | sampai | bahkan | hukuman | mati | seperti | dikat | Polda | Metro | Jaya | Irjen | Mochamad | Iriawan< | p> Indonesia | pernah | kali | terancam | dilakukan | warga | negaranya | p> Kasus | pertama | oleh | seorang | perwira | muda | bernama | Daniel | Maukar< | serangan | Istana | Negara | pesawat | tempur | Fresco | kepemimpinan | Sukarno | p> Akibatnya | diadili | dijatuhi | diampuni | masa | tahanan | akhirnya | bebas | lain | Aceh | Merdeka | Republik | Maluku | Selatan | Organisasi | Papua | dianggap | kedaulatan | NKRI | p> Sebagai | catatan | berujung | Kritik | Misalnya | kritikan | soal | banjir | dilayangkan | Abdul | Hamid | (62) | Samarinda | Kalimantan | Timur | Wali | Kota | Syaharie | Jaang | p> Hamid< | dipolisikan | waktu | 2008 | tentang | Informasi | Transaksi | Elektronik | (ITE) | Nasib | sama | dialami | Fadli | Rahim | (33) | pegawai | negeri | sipil | lingkup | Pemerintah | a>Gowa< | dipenjara | mengkritik | sistem | Bupati | Gowa | Ichsan | Limpo | sosial | Line | p> < | div> |

Beda pemufakatan makar dan penyampaian kritik

Politisi Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar Jumat (2/12/2016).
Politisi Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar Jumat (2/12/2016). © Indrianto Eko Suwarso /Antara Foto

Belakangan kata makar sontak populer. Publik menyoroti kata itu karena keluar dari pihak polisi dan tentara nasional terkait adanya potensi makar di demonstrasi Jumat lalu (2/12/2016).

Nyatanya demonstrasi yang dikenal "212" itu jauh dari usaha makar. Malah Presiden Joko Widodo salat bersama dan juga berpidato di Monumen Nasional--tempat aksi digelar.

"Terima kasih atas doa dan zikir yang telah dipanjatkan untuk keselamatan bangsa dan negara kita. Allahu Akbar," demikian penggalan pidato Jokowi ketika itu.

Tapi dugaan makar yang diduga akan menunggangi aksi itu ternyata terbongkar. Di beberapa tempat yang berbeda ada 11 nama yang ditangkap polisi.

Dari 11 orang itu polisi menetapkan 10 nama yang jadi tersangka. Yakni Kivlan Zein, Adityawarman Thahar, Ratna Sarumpaet, Firza Huzein, Eko Santjojo, Alvin Indra, Rachmawati Soekarnoputri, Sri Bintang Pamungkas, dan kakak beradik Rizal dan Jamran.

Dikutip dari CNN Indonesia, dari 10 nama itu ada delapan yang dijerat Pasal 107 juncto Pasal 110 juncto Pasal 87 KUHP mengenai pemufakatan jahat untuk melakukan makar. Ahmad Dhani sendiri dijerat Pasal 207 KUHP mengenai penghinaan terhadap Presiden.

Penangkapan itu kemudian menuai tanda tanya. Yang paling nyaring adalah dari Partai Gerindra. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono mengatakan tudingan makar kepada para tokoh dan aktivis itu membahayakan perkembangan demokrasi.

"Pada kesempatan ini saya minta kepada kepolisian untuk membebaskan semua, termasuk Sri Bintang Pamungkas," kata Ferry.

Ferry beranggapan sulit baginya menuding tokoh-tokoh yang ditangkap itu berbuat makar. Menurutnya makar merupakan sebuah upaya penggulingan pemerintahan yang sah dengan mengerahkan kekuatan besar. Tapi dalam pandangan Ferry mereka hanya menyampaikan pendapat di muka publik, dan itu merupakan bagian dari kritik.

"Saya takut persepsi ini dibangun sedemikian rupa, dan tidak bisa memilah mana sikap kritis dan pembungkaman," tuturnya.

Tapi polisi punya persepsi berbeda. Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, mengatakan perbuatan makar beda jauh dengan penyampaian kritik.

"Pandangan kritis yang disampaikan lewat kritik itu lumrah, tetapi rambu hukum harus dipegang. Kalau makar dengan pemufakatan jahat, ini adalah barang yang berbeda dengan kritik," ujar Boy dalam jumpa pers di Gedung Divisi Humas Polri Jakarta, Sabtu (3/12/2016).

Bagi Boy kritik tidak boleh disampaikan dengan ujaran kebencian, penistaan, kata-kata bohong dan penghasutan. Ia berharap kritik itu tetap sesuai dengan tatanan hukum dan aturan yang berlaku, baik penyampaian melalui verbal, non verbal atau media elektronik.

"Jadi, kami ini bukannya terlalu reaktif. Kami hanya bermain pada tatanan hukum dan kami lakukan pada tindakan nyata," katanya.

Lebih jauh, menurut Boy, penentuan tindak pidana makar dalam bentuk pemufakatan tidak perlu menunggu apa yang direncanakan terjadi. Dalam arti, penyidik tidak perlu menunggu pemberontakan terealisasi untuk menangkap mereka.

Dalam kasus ini, penyidik Polri menemukan bukti para tersangka berupaya memanfaatkan ruang kebebasan untuk melahirkan gagasan berbau hasutan yang bisa disalahartikan.

Semua tersangka diduga berencana untuk memanfaatkan massa yang mengikuti doa bersama untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. "Situasinya multikompleks. Tidak bisa kami katakan ini murni ibadah. Polisi selalu berpikir ada kecurigaan," kata Boy menambahkan.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, makar memiliki arti: 1. akal busuk; tipu muslihat; 2. perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang dan sebagainya; 3. perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah.

Dalam sejarahnya undang-undang terkait makar lahir dari usaha pihak berkuasa untuk melawan setiap pihak yang mencoba melawan untuk menggulingkannya. Dalam Undang-undang KUHP yang dilahirkan Belanda dan diadopsi Indonesia disebutkan makar itu usaha atau kegiatan untuk menumbangkan pemerintah yang sah.

Dalam Pasal 107 KUHP makar diidentikkan dengan empat hal: makar terhadap pemerintah, ideologi, wilayah dan makar terhadap kepala negara.

Jenis hukuman untuk pelaku makar beraneka ragam, ada yang cuma 2,5 tahun saja, ada juga yang sampai 20 tahun, bahkan hukuman mati, seperti yang dikatakan Kepala Polda Metro Jaya, Irjen Pol Mochamad Iriawan.

Indonesia pernah beberapa kali terancam makar yang dilakukan warga negaranya.

Kasus makar pertama dilakukan oleh seorang perwira muda bernama Daniel Maukar. Dia melakukan serangan ke Istana Negara dengan pesawat tempur MiG-17 Fresco di era kepemimpinan Sukarno.

Akibatnya Daniel diadili atas tindakan makar dan dijatuhi hukuman mati, namun diampuni dan hanya menjalani delapan tahun masa tahanan sebelum akhirnya bebas.

Kasus makar yang lain dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka, Republik Maluku Selatan dan juga Organisasi Papua Merdeka, karena dianggap melawan kedaulatan NKRI.

Sebagai catatan, tidak cuma perbuatan makar yang berujung bui. Kritik pun juga bisa. Misalnya kritikan soal banjir yang dilayangkan Abdul Hamid (62), warga Samarinda, Kalimantan Timur, kepada Wali Kota Syaharie Jaang.

Hamid dipolisikan beberapa waktu lalu dengan Undang-undang No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Nasib yang sama juga dialami Fadli Rahim (33), pegawai negeri sipil lingkup Pemerintah Gowa, yang dipenjara karena mengkritik sistem pemerintahan Bupati Gowa Ichsan Limpo melalui media sosial Line.

"

| Beda | pemufakatan | makar | penyampaian | kritik | UNTUK | INFORMASI | LEBIH | LENGKAP | IKUTI | KAMI | MEDIA | SOSIAL< | span>< | div> < | div> Politisi | Rachmawati | Soekarnoputri | meninggalkan | gedung | Markas | Komando | Brimob | Kelapa | Depok | usai | menjalani | pemeriksaan | terkait | kasus | dugaan | Jumat | 2016) | Indrianto | Suwarso | Antara | Foto Belgan | kata | sontak | populer | Publik | menyoroti | karena | keluar | pihak | polisi< | tentara | nasional | adanya | potensi | demonstrasi | p> Nyatanya | yang | dikenal | 212< | jauh | usaha | Malah | Presiden | Joko | Widodo | salat | bersama | juga | berpidato | Monumen | Nasional | tempat | aksi | digelar | p> Terima | kasih | atas | zikir | telah | dipanjatkan | untuk | keselamatan | bangsa | negara | Allahu | Akbar | demikian | penggalan | pidato | Jokowi | ketika | p> Tapi | diduga | menunggangi | ternyata | terbongkar | beberapa | berbeda | nama | ditangkap | polisi | p> Dari | orang | menetapkan | jadi | tersangka | Yakni | Kivlan | Zein | Adityawarman | Thahar | Ratna | Sarumpaet | Firza | Huzein | Santjojo | Alvin | Indra | Bintang | Pamungkas | kakak | beradik | Rizal | Jamran | p> Dikutip | Indonesia | nama< | delapan | dijerat | Pasal | juncto | KUHP | mengenai | jahat | melakukan | Ahmad | Dhani | sendiri | penghinaan | terhadap | p> Penangkapan | kemudian | menuai | tanda | tanya | Yang | paling | nyaring | adalah | Partai | Gerindra | Wakil | Ketua | Umum | Ferry | Juliantono | mengat | tudingan | kepada | para | tokoh | aktivis | membahay | perkembangan | demokrasi | p> Pada | kesempatan | saya | minta | kepolisian | membebaskan | semua | termasuk | Ferry< | p> Ferry | beranggapan | sulit | baginya | menuding | berbuat | Menurutnya | merup | sebuah | upaya | penggulingan | pemerintahan | dengan | mengerahkan | kekuatan | besar< | Tapi | dalam | pandangan | hanya | menyampaikan | pendapat | muka | publik | bagian | p> Saya | takut | persepsi | dibangun | sedemikian | rupa | memilah | mana | sikap | kritis | pembungkaman | tuturnya< | punya | Kepala | Divisi | Humas | Polri< | Inspektur | Jenderal | Rafli | Amar | perbuatan | beda | p> Pandangan | disampaikan | lewat | lumrah | rambu | hukum | harus | dipegang | Kalau | makar< | barang | ujar | Boy< | jumpa | pers | Gedung | Jakarta | Sabtu | p> Bagi | boleh | ujaran | kebencian | penistaan | bohong | penghasutan | berharap | tetap | sesuai | tatanan | aturan | berlaku | baik | verbal | atau | media | elektronik | p> Jadi | kami | bukannya | reaktif< | Kami | bermain | pada | lakukan | tind | nyata | katanya | p> Lebih | menurut | penentuan | tindak | pidana | bentuk | perlu | menunggu | direncan | terjadi | Dalam | arti | penyidik | pemberont | terealisasi | menangkap | p> Dalam | menemukan | bukti | berupaya | memanfaatkan | ruang | kebebasan | melahirkan | gagasan | berbau | hasutan< | disalahartikan | p> Semua | berencana | massa | mengikuti | menggulingkan | Situasinya | multikompleks | Tidak | murni | ibadah | Polisi | berpikir | kecurigaan | menambahkan | p> Menurut | besar | Bahasa | memiliki | arti: | akal | busuk; | tipu | muslihat; | (usaha) | maksud | hendak | menyerang | (membunuh) | sebagainya; | menjatuhkan | pemerintah | sejarahnya | undang | lahir | berkuasa | melawan | setiap | mencoba | menggulingkannya | Undang | dilahirkan | Belanda | diadopsi | disebutkan | kegiatan | menumbangkan | diidentikkan | empat | hal: | ideologi | wilayah | kepala | p> Jenis | hukuman< | pelaku | beraneka | ragam | cuma | tahun | sampai | bahkan | hukuman | mati | seperti | dikat | Polda | Metro | Jaya | Irjen | Mochamad | Iriawan< | p> Indonesia | pernah | kali | terancam | dilakukan | warga | negaranya | p> Kasus | pertama | oleh | seorang | perwira | muda | bernama | Daniel | Maukar< | serangan | Istana | Negara | pesawat | tempur | Fresco | kepemimpinan | Sukarno | p> Akibatnya | diadili | dijatuhi | diampuni | masa | tahanan | akhirnya | bebas | lain | Aceh | Merdeka | Republik | Maluku | Selatan | Organisasi | Papua | dianggap | kedaulatan | NKRI | p> Sebagai | catatan | berujung | Kritik | Misalnya | kritikan | soal | banjir | dilayangkan | Abdul | Hamid | (62) | Samarinda | Kalimantan | Timur | Wali | Kota | Syaharie | Jaang | p> Hamid< | dipolisikan | waktu | 2008 | tentang | Informasi | Transaksi | Elektronik | (ITE) | Nasib | sama | dialami | Fadli | Rahim | (33) | pegawai | negeri | sipil | lingkup | Pemerintah | a>Gowa< | dipenjara | mengkritik | sistem | Bupati | Gowa | Ichsan | Limpo | sosial | Line | p> < | div> |

Monday, December 5, 2016

Tanggapan beragam anggota DPR atas 'indikasi makar'

jakarta, protesImage copyright AP/Tatan Syuflana Image caption Kepolisian berpendapat ada indikasi unjuk rasa 212 di Jakarta awalnya akan diarahkan untuk menduduki Gedung DPR/MPR.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan bahwa ada petunjuk pengerahan massa ke DPR/MPR sebagai upaya untuk mengganti pemerintah Indonesia yang sah.

"Meng-hijack (membajak), mengambil massa GNPF (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa) MUI, kemudian dibawa ke DPR untuk menduduki DPR, melaksanakan Sidang Istimewa, dan setelah itu ujung-ujungnya pemakzulan atau menjatuhkan pemerintah yang sah," jelas Kapolri Tito Karnavian dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, Senin (05/12).

Pengerahan massa itu, diduga, akan dilakukan pada unjuk rasa 212 atau Jumat (02/12) pekan lalu, sehingga polisi merasa lebih perlu menangkap 11 orang pada Jumat subuh sebelum aksi berlangsung.

Mereka yang ditangkap antara lain adalah aktivis politik Ratna Sarumpaet, calon Wakil Bupati Bekasi Ahmad Dhani, putri presiden pertama Presiden Soekarno, Rachmawati Soerkarnoputri, pegiat politik oposisi, Sri Bintang Pamungkas.

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia, Trimedya Panjaitan, mengatakan cukup puas dengan penjelasan dari Kapolri.

"Beberapa nama yang kemudian ditetapkan tersangka oleh Kapolri, itulah yang menurut mereka sebagai indikasi yang kuat. Dan mereka sudah memenuhi dua alat bukti, sesuai dengan Pasal 184 KUHAP, sebelum menyatakan seseorang menjadi tersangka," jelasnya.

Image copyright Reuters Image caption Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan ada upaya untuk memaksakan Sidang Istimewa untuk menjatuhkan pemerintah yang sah.

Pandangan serupa disampaikan oleh Hasrul Azwar, dari Fraksi Persatuan Pembangunan, yang juga menerima penjelasan Jenderal Tito Karnavian tentang potensi dari mereka yang ditahan untuk menggerakkan massa menduduki DPR.

"Dan itu adalah perbuatan yang inkonstitusional, yang melawan hukum. Untuk itu perlu mengambil tindakan yang repsesif, dengan menangkap mereka pada waktu subuh secara serentak."

Namun Benny K Harman -salah seorang Wakil Ketua Komisi III, yang memimpin rapat kerja dengan Kapolri- berpendapat penjelasan tentang indikasi makar tidak memuaskan.

"Itu penjelasan itu sangat tidak kuat alasannya. Kayaknya ini hanya stretegi saja. Penangkapan itu dulu dilakukan untuk disahkan, kenapa tokoh-tokoh dari massa yang jutaan jumlahnya, supaya tidak terprovokasi. Begitu, sehingga mereka dipandang perlu untuk diamankan."

Pernyataan pendapat atau makar?

Benny Harman dari Partai Demokrat -yang merupakan kubu 'oposisi pemerintah'- menambahkan bahwa penangkapan subuh menjelang aksi Jumat (02/12) berbau politis.

"Lebih banyak politisnya karena di negara kita kan demonstari adalah hak untuk menyatakan pendapat dan itu dijamin oleh undang-undang."

Image copyright AFP/GOH CHAI HIN Image caption Unjuk rasa 212 digelar oleh sekelompok umat Islam yang menuntut Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, ditahan karena dituduh melakukan penistaan agama Islam.

"Makar itu kalau ada rencana yang sistematis, kemudian ada kekuatan bersenjata. Kalau itu tidak terpenuhi maka bukan makar, bukan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Itu untuk menyampaikan pendapat," jelasnya.

Bagi Trimedya Panjaitan -dari PDI yang mendukung pemerintahan saat ini- penangkapan dan tuduhan makar atas 11 orang itu semata-mata sebagai sebuah proses hukum.

"Ini kan pendapat dari pihak kepolisian, pendapat dari aparat penegak hukum. Kita mengingatkan jangan sampai ada intervensi dari kekuasaan, tadi Kapolri Pak Tito sudah jelas mengatakan ini murni dari hasil intelijen."

Trimedya menyadari ada sekelompok pihak yang mungkin tidak sependapat dengan penjelasan Kapolri, yang melihatnya sebagai hal yang agak berlebihan.

"Itu kan pendapat mereka. Ya bagi kita ini lah demokrasi, dua-duanya berbeda pendapat, ada masyarakat civil society (masyarakat madani) yang tentunya akan berpendapat seperti itu."

Sedang buat Hasrul Azwar, kepolisian jelas tidak akan bertindak secara gegabah.

"Apalagi Polri sudah berkoordinasi dengan TNI Angkatan Darat. Dengan Pangdam Jakarta Raya, sudah berkoordinasi ketika mereka memberitahukan ada dua purnawairan TNI yang akan ditangkap. Jadi saya kira Polri tidak akan sembarangan melakukan gelombang penangkatan itu. Tentu sudah ada data akurat."

Kepolsian, pada Jumat (02/12), juga menangkap mantan Staf Ahli Panglima TNI, Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha, dan mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zein atas dugaan pemufakatan makar.

"

| Tanggapan | beragam | anggota | atas | indikasi | makar | Image | copyright< | span> | Tatan | Syuflana< | caption< | Kepolisian | berpendapat | unjuk | rasa | Jakarta | awalnya | diarahkan | untuk | menduduki | Gedung | Kapolri | Jenderal | Tito | Karnavian | menjelaskan | bahwa | petunjuk | pengerahan | massa | sebagai | upaya | mengganti | pemerintah | Indonesia | yang | p>Meng | hijack< | (membajak) | mengambil | GNPF | (Ger | Nasional | Pengawal | Fatwa) | kemudian | dibawa | melaksan | Sidang | Istimewa | setelah | ujung | ujungnya | pemakzulan | atau | menjatuhkan | jelas | dalam | rapat | kerja | dengan | Komisi | Senin | p>Pengerahan | diduga | dilakukan | pada | Jumat | pekan | polisi | merasa | lebih | perlu | menangkap | orang | subuh | aksi | berlangsung | p>Mereka | ditangkap | antara | lain | adalah | aktivis | politik | Ratna | Sarumpaet | calon | Wakil | Bupati | Bekasi | Ahmad | Dhani | putri | presiden | pertama | Presiden | Soekarno | Rachmawati | Soerkarnoputri | pegiat | oposisi | Bintang | Pamungkas | p>Anggota | Fraksi | Partai | Demokrasi | Trimedya | Panjaitan | mengat | cukup | puas | penjelasan | p>Beberapa | nama | ditetapkan | tersangka | oleh | itulah | menurut | kuat | memenuhi | alat | bukti | sesuai | Pasal | KUHAP | menyat | seseorang | menjadi | jelasnya | Reuters< | memaks | Pandangan | serupa | disampaikan | Hasrul | Azwar | Persatuan | Pembangunan | juga | menerima | tentang | potensi | ditahan | menggerakkan | p>Dan | perbuatan | inkonstitusional | melawan | hukum | Untuk | tind | repsesif | waktu | secara | serentak | p>Namun | Benny | Harman | salah | seorang | Ketua | memimpin | memuaskan | p>Itu | sangat | alasannya | Kayaknya | hanya | stretegi | Penangkapan | dulu | disahkan | kenapa | tokoh | jutaan | jumlahnya | supaya | terprovokasi | Begitu | dipandang | diamankan | p>Pernyataan | pendapat | maka< | strong>r< | strong> | strong>< | p>Benny | Demokrat | merup | kubu | menambahkan | penangkapan | menjelang | berbau | politis | p>Lebih | banyak | politisnya | karena | negara | demonstari | dijamin | undang | CHAI | HIN< | Unjuk | digelar | sekelompok | umat | Islam | menuntut | Gubernur | nonaktif | Basuki | Tjahaja | Purnama | dituduh | melakukan | penistaan | agama | Makar | kalau | rencana | sistematis | kekuatan | bersenjata | Kalau | terpenuhi | maka | bukan | menggulingkan | pemerintahan | menyampaikan | p>Bagi | mendukung | saat | tuduhan | semata | mata | sebuah | proses | p>Ini | pihak | kepolisian | aparat | penegak | Kita | mengingatkan | jangan | sampai | intervensi | kekuasaan | tadi | murni | hasil | intelijen | p>Trimedya | menya | mungkin | sependapat | melihatnya | agak | berlebihan | bagi | demokrasi | duanya | berbeda | masyarakat | civil | society | (masyarakat | madani) | tentunya | seperti | p>Sedang | buat | bertindak | gegabah | p>Apalagi | Polri | berkoordinasi | Angkatan | Darat | Dengan | Pangdam | Raya | ketika | memberitahukan | purnawairan | Jadi | saya | kira | sembarangan | gelombang | penangkatan | Tentu | data | akurat | p>Kepolsian | mantan | Staf | Ahli | Panglima | Brigjen | (Purn) | Adityawarman | Thaha | Kepala | Kostrad | Mayjen | Kivlan | Zein | dugaan | pemufakatan |

Wednesday, December 7, 2016

Tanggapan beragam anggota DPR atas 'indikasi makar'

jakarta, protesImage copyright AP/Tatan Syuflana Image caption Kepolisian berpendapat ada indikasi unjuk rasa 212 di Jakarta awalnya akan diarahkan untuk menduduki Gedung DPR/MPR.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan bahwa ada petunjuk pengerahan massa ke DPR/MPR sebagai upaya untuk mengganti pemerintah Indonesia yang sah.

"Meng-hijack (membajak), mengambil massa GNPF (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa) MUI, kemudian dibawa ke DPR untuk menduduki DPR, melaksanakan Sidang Istimewa, dan setelah itu ujung-ujungnya pemakzulan atau menjatuhkan pemerintah yang sah," jelas Kapolri Tito Karnavian dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, Senin (05/12).

Pengerahan massa itu, diduga, akan dilakukan pada unjuk rasa 212 atau Jumat (02/12) pekan lalu, sehingga polisi merasa lebih perlu menangkap 11 orang pada Jumat subuh sebelum aksi berlangsung.

Mereka yang ditangkap antara lain adalah aktivis politik Ratna Sarumpaet, calon Wakil Bupati Bekasi Ahmad Dhani, putri presiden pertama Presiden Soekarno, Rachmawati Soerkarnoputri, pegiat politik oposisi, Sri Bintang Pamungkas.

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia, Trimedya Panjaitan, mengatakan cukup puas dengan penjelasan dari Kapolri.

"Beberapa nama yang kemudian ditetapkan tersangka oleh Kapolri, itulah yang menurut mereka sebagai indikasi yang kuat. Dan mereka sudah memenuhi dua alat bukti, sesuai dengan Pasal 184 KUHAP, sebelum menyatakan seseorang menjadi tersangka," jelasnya.

Image copyright Reuters Image caption Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan ada upaya untuk memaksakan Sidang Istimewa untuk menjatuhkan pemerintah yang sah.

Pandangan serupa disampaikan oleh Hasrul Azwar, dari Fraksi Persatuan Pembangunan, yang juga menerima penjelasan Jenderal Tito Karnavian tentang potensi dari mereka yang ditahan untuk menggerakkan massa menduduki DPR.

"Dan itu adalah perbuatan yang inkonstitusional, yang melawan hukum. Untuk itu perlu mengambil tindakan yang repsesif, dengan menangkap mereka pada waktu subuh secara serentak."

Namun Benny K Harman -salah seorang Wakil Ketua Komisi III, yang memimpin rapat kerja dengan Kapolri- berpendapat penjelasan tentang indikasi makar tidak memuaskan.

"Itu penjelasan itu sangat tidak kuat alasannya. Kayaknya ini hanya stretegi saja. Penangkapan itu dulu dilakukan untuk disahkan, kenapa tokoh-tokoh dari massa yang jutaan jumlahnya, supaya tidak terprovokasi. Begitu, sehingga mereka dipandang perlu untuk diamankan."

Pernyataan pendapat atau makar?

Benny Harman dari Partai Demokrat -yang merupakan kubu 'oposisi pemerintah'- menambahkan bahwa penangkapan subuh menjelang aksi Jumat (02/12) berbau politis.

"Lebih banyak politisnya karena di negara kita kan demonstari adalah hak untuk menyatakan pendapat dan itu dijamin oleh undang-undang."

Image copyright AFP/GOH CHAI HIN Image caption Unjuk rasa 212 digelar oleh sekelompok umat Islam yang menuntut Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, ditahan karena dituduh melakukan penistaan agama Islam.

"Makar itu kalau ada rencana yang sistematis, kemudian ada kekuatan bersenjata. Kalau itu tidak terpenuhi maka bukan makar, bukan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Itu untuk menyampaikan pendapat," jelasnya.

Bagi Trimedya Panjaitan -dari PDI yang mendukung pemerintahan saat ini- penangkapan dan tuduhan makar atas 11 orang itu semata-mata sebagai sebuah proses hukum.

"Ini kan pendapat dari pihak kepolisian, pendapat dari aparat penegak hukum. Kita mengingatkan jangan sampai ada intervensi dari kekuasaan, tadi Kapolri Pak Tito sudah jelas mengatakan ini murni dari hasil intelijen."

Trimedya menyadari ada sekelompok pihak yang mungkin tidak sependapat dengan penjelasan Kapolri, yang melihatnya sebagai hal yang agak berlebihan.

"Itu kan pendapat mereka. Ya bagi kita ini lah demokrasi, dua-duanya berbeda pendapat, ada masyarakat civil society (masyarakat madani) yang tentunya akan berpendapat seperti itu."

Sedang buat Hasrul Azwar, kepolisian jelas tidak akan bertindak secara gegabah.

"Apalagi Polri sudah berkoordinasi dengan TNI Angkatan Darat. Dengan Pangdam Jakarta Raya, sudah berkoordinasi ketika mereka memberitahukan ada dua purnawairan TNI yang akan ditangkap. Jadi saya kira Polri tidak akan sembarangan melakukan gelombang penangkatan itu. Tentu sudah ada data akurat."

Kepolsian, pada Jumat (02/12), juga menangkap mantan Staf Ahli Panglima TNI, Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha, dan mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zein atas dugaan pemufakatan makar.

"

| Tanggapan | beragam | anggota | atas | indikasi | makar | Image | copyright< | span> | Tatan | Syuflana< | caption< | Kepolisian | berpendapat | unjuk | rasa | Jakarta | awalnya | diarahkan | untuk | menduduki | Gedung | Kapolri | Jenderal | Tito | Karnavian | menjelaskan | bahwa | petunjuk | pengerahan | massa | sebagai | upaya | mengganti | pemerintah | Indonesia | yang | p>Meng | hijack< | (membajak) | mengambil | GNPF | (Ger | Nasional | Pengawal | Fatwa) | kemudian | dibawa | melaksan | Sidang | Istimewa | setelah | ujung | ujungnya | pemakzulan | atau | menjatuhkan | jelas | dalam | rapat | kerja | dengan | Komisi | Senin | p>Pengerahan | diduga | dilakukan | pada | Jumat | pekan | polisi | merasa | lebih | perlu | menangkap | orang | subuh | aksi | berlangsung | p>Mereka | ditangkap | antara | lain | adalah | aktivis | politik | Ratna | Sarumpaet | calon | Wakil | Bupati | Bekasi | Ahmad | Dhani | putri | presiden | pertama | Presiden | Soekarno | Rachmawati | Soerkarnoputri | pegiat | oposisi | Bintang | Pamungkas | p>Anggota | Fraksi | Partai | Demokrasi | Trimedya | Panjaitan | mengat | cukup | puas | penjelasan | p>Beberapa | nama | ditetapkan | tersangka | oleh | itulah | menurut | kuat | memenuhi | alat | bukti | sesuai | Pasal | KUHAP | menyat | seseorang | menjadi | jelasnya | Reuters< | memaks | Pandangan | serupa | disampaikan | Hasrul | Azwar | Persatuan | Pembangunan | juga | menerima | tentang | potensi | ditahan | menggerakkan | p>Dan | perbuatan | inkonstitusional | melawan | hukum | Untuk | tind | repsesif | waktu | secara | serentak | p>Namun | Benny | Harman | salah | seorang | Ketua | memimpin | memuaskan | p>Itu | sangat | alasannya | Kayaknya | hanya | stretegi | Penangkapan | dulu | disahkan | kenapa | tokoh | jutaan | jumlahnya | supaya | terprovokasi | Begitu | dipandang | diamankan | p>Pernyataan | pendapat | maka< | strong>r< | strong> | strong>< | p>Benny | Demokrat | merup | kubu | menambahkan | penangkapan | menjelang | berbau | politis | p>Lebih | banyak | politisnya | karena | negara | demonstari | dijamin | undang | CHAI | HIN< | Unjuk | digelar | sekelompok | umat | Islam | menuntut | Gubernur | nonaktif | Basuki | Tjahaja | Purnama | dituduh | melakukan | penistaan | agama | Makar | kalau | rencana | sistematis | kekuatan | bersenjata | Kalau | terpenuhi | maka | bukan | menggulingkan | pemerintahan | menyampaikan | p>Bagi | mendukung | saat | tuduhan | semata | mata | sebuah | proses | p>Ini | pihak | kepolisian | aparat | penegak | Kita | mengingatkan | jangan | sampai | intervensi | kekuasaan | tadi | murni | hasil | intelijen | p>Trimedya | menya | mungkin | sependapat | melihatnya | agak | berlebihan | bagi | demokrasi | duanya | berbeda | masyarakat | civil | society | (masyarakat | madani) | tentunya | seperti | p>Sedang | buat | bertindak | gegabah | p>Apalagi | Polri | berkoordinasi | Angkatan | Darat | Dengan | Pangdam | Raya | ketika | memberitahukan | purnawairan | Jadi | saya | kira | sembarangan | gelombang | penangkatan | Tentu | data | akurat | p>Kepolsian | mantan | Staf | Ahli | Panglima | Brigjen | (Purn) | Adityawarman | Thaha | Kepala | Kostrad | Mayjen | Kivlan | Zein | dugaan | pemufakatan |