Showing posts sorted by relevance for query sebaiknya. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query sebaiknya. Sort by date Show all posts

Sunday, December 4, 2016

Peninggalan Belanda, UU Terkait Makar Sebaiknya Diuji Materi di MK : Okezone News

JAKARTA - Peraturan perundang-undangan terkait kemanan negara yang mengatur soal makar sebaiknya ditinjau kembali melalui uji materi (judicial review) di Mahkamah Konstitusi (MK). Demikian disarankan ahli pidana Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Prof Hibnu Nugroho.

"Pandangan saya karena ini delik keamanan negara rumusannya harus terkonsep dan terstruktur, sehingga kalau tidak jelas lebih baik uji materi ke MK, apakah ini masuk kualifikasi delik melanggar HAM atau bertentangan dengan UUD 1945 apa tidak," katanya saat dihubungi Okezone, Minggu (4/12/2016).

BERITA REKOMENDASI


Kendati pasal makar masuk ke dalam delik formil, namun konsep, rancangan dan batasan penjelasan aturan ini mesti jelas dan terukur sehingga tidak menimbulkan multitafsir.

"Biar ada batasan yang cukup, memang UU ini delik formil. Delik formil itu delik yang tidak perlu melibatkan akibat, jadi (baru) usaha (makar) pun bisa (ditindak). Tapi usaha yang bagaimana? Inilah yang harus terukur," terang dia.

Saat ditanya mengenai kemungkinan peraturan terkait makar ini diuji materi ke MK, Hibnu menjawab bahwa aturan hukum tersebut merupakan peninggalan zaman belanda. "Ya, paling tidak karena ini konstruksi hukum. Itu kan UU peninggalan Belanda Keamanan Negara itu," pungkasnya.

Sebelumnya, pada 2 Desember 2016, delapan orang ditangkap atas dugaan pemufakatan makar yakni eks Staf Ahli Panglima TNI Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha, mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zein, dan Ketua Solidaritas Sahabat Cendana Firza Huzein. 

Selanjutnya, adalah seniman dan aktivis politik Ratna Sarumpaet, pentolan Dewa 19 sekaligus calon Wakil Bupati Bekasi Ahmad Dhani, putri Presiden pertama Presiden Soekarno, Rachmawati Soerkarnoputri, Sri Bintang Pamungkas dan Eko. 

Sementara juga ada dua orang yang ditangkap dan dijerat Pasal 28 Undang-Undang ITE yakni Jamran dan Rizal Kobar.

Hingga kini polisi masih menahan tiga orang, mereka adalah Sri Bintang Pamungkas, Jamran, dan Rizal Kobar. Delapan tersangka lainnya sudah dilepas usai menjalani pemeriksaan 1x24 jam.

"

| Peninggalan | Belanda, | Terkait | Makar | Sebaiknya | Diuji | Materi | Okezone | News | JAKARTA | strong> | Peraturan | perundang | undangan | terkait | kemanan | negara | yang | mengatur | soal | makar | sebaiknya | ditinjau | kembali | materi | (judicial | review< | em>) | Mahkamah | Konstitusi | (MK) | Demikian | disarankan | ahli | pidana | Universitas | Jenderal | Soedirman | (Unsoed) | Prof | Hibnu | Nugroho | p> Pandangan | saya | karena | delik | keamanan | rumusannya | harus | terkonsep | terstruktur | kalau | jelas | lebih | baik | apakah | masuk | kualifikasi | melanggar | atau | bertentangan | dengan | 1945 | katanya | saat | dihubungi | Okezone< | Minggu | 2016) | p> BERITA | REKOMENDASI< | p> < | div> Kendati | pasal | dalam | formil | konsep | rancangan | batasan | penjelasan | aturan | mesti | terukur | menimbulkan | multitafsir | p> Biar | cukup | memang | Delik | perlu | melibatkan | jadi | (baru) | usaha | (makar) | (ditindak) | Tapi | bagaimana | Inilah | terang | p> Saat | ditanya | mengenai | kemungkinan | peraturan | diuji | menjawab | bahwa | hukum | tersebut | merup | peninggalan | zaman | belanda | paling | konstruksi | Belanda | Keamanan | Negara | pungkasnya | p> Senya | pada | Desember | 2016 | delapan | orang | ditangkap | atas | dugaan | pemufakatan | yakni | Staf | Ahli | Panglima | Brigjen | (Purn) | Adityawarman | Thaha | mantan | Kepala | Kostrad | Mayjen | Kivlan | Zein | Ketua | Solitas | Sahabat | Cendana | Firza | Huzein | p> Selanjutnya | adalah | seniman | aktivis | politik | Ratna | Sarumpaet | pentolan | Dewa | sekaligus | calon | Wakil | Bupati | Bekasi | Ahmad | Dhani | putri | Presiden | pertama | Soekarno | Rachmawati | Soerkarnoputri | Bintang | Pamungkas | p> Sementara | juga | dijerat | Pasal | Undang | Jamran | Rizal | Kobar | p> Hingga | kini | polisi | masih | menahan | tiga | Delapan | tersangka | lainnya | dilepas | usai | menjalani | pemeriksaan | 1x24 | p> |

Friday, December 2, 2016

Fadli Zon Pertanyakan Alasan Polri Tetapkan Tersangka Makar

Liputan6.com, Jakarta - Aktivis Sri Bintang Pamungkas ditangkap penyidik Polda Metro Jaya atas dugaan makar. Dia dan delapan orang lainnya di antaranya Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Rahmawati Soekarnoputri, dan Kivlan Zein telah ditetapkan sebagai tersangka.

Terkait penangkapan itu, Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengaku heran dan menganggap tidak ada niat untuk bertindak makar terhadap pemerintah yang sah saat ini.

"Saya tak yakin mereka berniat apalagi berbuat makar. Setahu saya, sebagian besar yang kenal, mereka orang-orang yang peduli Merah Putih, kepentingan bangsa. Sebaiknya segera dilepaskan, jika tak ada bukti kuat," ujar Fadli Zon dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Jumat (2/12/2016).

Menurut Fadli, delapan orang yang telah berstatus tersangka tindakan makar itu selama ini dikenal sebagai figur oleh publik. Karena itu menurut dia, penangkapan tersebut menjadi ajang pertaruhan kredibilitas Polri sebagai lembaga penegak hukum. 

"Selain mempertaruhkan kredibilitas, penangkapan ini juga telah menarik mundur iklim demokrasi kita. Penangkapan itu telah membungkam kritik dan menindas kebebasan berpendapat di muka umum," ucap politisi Partai Gerindra itu.

Fadli pun mempertanyakan bukti bahwa adanya upaya makar yang disampaikan Polri. Terlebih beberapa yang telah ditetapkan tersangka bukan tergolong tokoh yang mempunyai basis massa besar.  

"Dimana reasoning-nya tuduhan makar terhadap delapan orang itu, yang tidak mengerahkan massa, tidak melakukan gerakan bersenjata ataupun kekuatan yang dapat dikategorikan makar, kata Fadli.

"Ibu Rachmawati itu puteri seorang Proklamator. Dan ia kini bahkan memiliki keterbatasan fisik, bagaimana bisa ia dituduh menggerakkan makar. Ini benar-benar kelihatan mengada-ada," Fadli menandaskan.

Sebelumnya, Polri menangkap 10 orang. Sebanyak delapan di antaranya diduga terkait rencana aksi makar jelang demo 2 Desember. Karopenmas Mabes Polri Kombes Rikwanto mengatakan, mereka yang diamankan terkait dugaan makar adalah AD, kemudian E, AD lagi, KZ, RS, RA,SB, dan RK.

"Delapan di antaranya dikenakan tuduhan Pasal 107 junto Pasal 110 KUHP junto Pasal 87 KUHP. Sedangkan 2 orang dengan inisial JA dengan RK, dikenakan Pasal UU ITE, Pasal 28," kata Rikwanto di Mabes Polri, Jumat (2/12/2016).

Rikwanto mengatakan, mereka saat ini sudah diamankan dan dilakukan pemeriksaan di Mako Brimob Kelapa Dua. "Penyidik Polda Metro Jaya mengamankan di sana untuk dilakukan pemeriksaan," kata dia.

"

| Fadli | Pertanyakan | Alasan | Polri | Tetapkan | Tersangka | Makar | Liputan6 | Jakarta | strong> | Aktivis | Bintang | Pamungkas | ditangkap | penyidik | Polda | Metro | Jaya | atas | dugaan | makar< | delapan | orang | lainnya | antaranya | Ahmad | Dhani | Ratna | Sarumpaet | Rahmawati | Soekarnoputri | Kivlan | Zein | telah | ditetapkan | sebagai | tersangka | p> Terkait | penangkapan | Wakil | Ketua | mengaku | heran | menganggap | tidak | niat | untuk | bertindak | makar | terhadap | pemerintah | yang | saat | p>Saya | yakin | mereka | berniat | apalagi | berbuat | Setahu | saya | sebagian | besar | kenal | peduli | Merah | Putih | kepentingan | bangsa | Sebaiknya | segera | dilepaskan | jika | bukti | kuat | ujar | dalam | keterangan | tertulis | diterima | Jumat | 2016) | p> Menurut | berstatus | tindakan | selama | dikenal | figur | oleh | publik | Karena | menurut | tersebut | menjadi | ajang | pertaruhan | kredibilitas | lembaga | penegak | hukum | p> Selain | mempertaruhkan | juga | menarik | mundur | iklim | demokrasi | kita | Penangkapan | membungkam | kritik | menindas | kebebasan | berpendapat | muka | umum | ucap | politisi | Partai | Gerindra | p> Fadli | mempertanyakan | bahwa | adanya | upaya | disampaikan | Terlebih | beberapa | bukan | tergolong | tokoh | mempunyai | basis | massa | p>Dimana | reasoning | tuduhan | mengerahkan | melakukan | gerakan | bersenjata | ataupun | kekuatan | dapat | dikategorikan | kata | p> Ibu | Rachmawati | puteri | seorang | Proklamator | kini | bahkan | memiliki | keterbatasan | fisik | bagaimana | bisa | dituduh | menggerakkan | benar | kelihatan | mengada | menandaskan | p> Sebelumnya | menangkap | Sebanyak | diduga | terkait | rencana | aksi | jelang | demo | Desember | Karopenmas | Mabes | Kombes | Rikwanto | mengatakan | diamankan | adalah | kemudian | lagi | p>Delapan | dikenakan | Pasal | junto | KUHP | Sedangkan | dengan | inisial | p>Rikwanto | sudah | dilakukan | pemeriksaan | Mako | Brimob | Kelapa | Penyidik | mengamankan | sana | p> |

Thursday, December 8, 2016

Komisioner Komnas HAM: Makar Hak Konstitusional Rakyat

Jakarta, CNN Indonesia -- Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai menilai upaya mengganti presiden di tengah masa jabatan merupakan hak konstitusional warga negara. Namun hal itu harus sesuai dengan undang-undang.

Pernyataan itu disampaikan Pigai menyikapi penangkapan sejumlah aktivis yang dituding melakukan makar, termasuk Direktur Institut Soekarno-Hatta, Hatta Taliwang, yang ditangkap pada dini hari tadi.

"Kritikan rakyat itu merupakan hak konstitusional warga negara, termasuk perbuatan atau tindakan mengganti presiden di tengah jalan asal konstitusional melalui parlemen," kata Pigai dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, di Jakarta kemarin.

Dia menilai penangkapan Hatta Taliwang dan sejumlah tokoh yang dituduh makar membuktikan watak pemerintahan represif. Sepanjang tindakan makar sesuai dengan konstitusi, menurutnya, hal itu bukan persoalan.

"Penangkapan terhadap Ibu Rachma dkk, termasuk Pak Hatta Taliwang, menujukkan tindakan represif pemerintah. Jangan sampai terjadi penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power)," katanya.

Pigai mengatakan, makar atau kudeta yang tidak dibenarkan adalah makar yang bersifat inkonstitusional. Hal itu berarti tindakan makar tersebut menimbulkan instabilitas nasional, pelanggaran HAM, menghilangkan demokrasi, dan kedigdayaan sipil.

Dia menjelaskan, dalam human rights and elections disebutkan, di tengah kondisi tertentu atau situasi terpaksa, presiden memiliki kemampuan untuk mengeluarkan pernyataan darurat atau state in emergency.

Demikian pula dengan rakyat. Mereka juga memiliki kesempatan untuk melakukan pengambilalihan kekuasaan, apakah melalui people power ataupun kudeta, baik oleh militer atau sipil. Dia menyebut tindakan makar pernah dipraktikkan di Indonesia dan di negara-negara lain.

"Keduanya dilakukan hanya semata-mata demi pemulihan stabilitas sosial dan integritas nasional," kata Pigai.

Komisioner asal Papua itu mengatakan, kekuasaan presiden tidak tak terbatas. Dalam arti, kekuasaan presiden dibatasi oleh konstitusi negara.

Presiden adalah pemangku kewajiban (obligation) atas perlindungan dan pemenuhan HAM. Sementara kedudukan rakyat sebagai pemilik hak (Right holder). Oleh karena itu, rakyat berhak menilai dan mengkritisinya.

Sementara itu, anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDIP Junimart Girsang berharap proses penyidikan kasus makar ini dilakukan secara transparan.

Dia meminta polisi mempublikasikan bukti makar yang dituduhkan kepada sejumlah orang yang telah ditangkap.

"Kami harapkan sekali lagi, polisi sebaiknya transparan dalam penyidikan. Sampaikanlah kepada masyarakat, agar tidak muncul isu-isu yang tidak kondusif," kata Junimart.

Dia yakin polisi masih memiliki bukti lain terkait dugaan makar tersebut. Namun Junimart belum mengetahui secara pasti dalam bentuk apa bukti tersebut.

"Kami tak tahu apakah mereka (polisi) masih punya bukti lain. Bukti percakapan langsung misalnya, saya yakin itu ada," kata Junimart.

Kemarin polisi kembali menangkap satu orang yang diduga terkait kasus makar. Kali ini yang ditangkap adalah Direktur Institut Soekarno-Hatta, Hatta Taliwang. Dia ditangkap di rumahnya pada pukul 01.30 WIB. (pmg/obs)

"

| Komisioner | Komnas | HAM: | Makar | Konstitusional | Rakyat | Jakarta< | span> | Indonesia< | span>< | strong> | Natalius | Pigai | menilai | upaya | mengganti | presiden | tengah | masa | jabatan | merup | konstitusional | warga | negara | Namun | harus | sesuai | dengan | undang | Pernyataan | disampaikan | menyikapi | penangkapan | sejumlah | aktivis | yang | dituding | melakukan | makar | termasuk | Direktur | Institut | Soekarno | Hatta | Taliwang | ditangkap | pada | dini | hari | tadi | p>Kritikan | rakyat | perbuatan | atau | tind | jalan | asal | parlemen | kata | dalam | keterangan | tertulis | diterima | CNNIndonesia | com< | Jakarta kemarin | p>Dia | tokoh | dituduh | membuktikan | watak | pemerintahan | represif | Sepanjang | konstitusi | menurutnya | bukan | persoalan | p>Penangkapan | terhadap | Rachma | menujukkan | pemerintah | Jangan | sampai | terjadi | penyalahgunaan | kekuasaan | (abuse | power< | em>) | katanya | p> Pigai | mengat | kudeta | dibenarkan | adalah | bersifat | inkonstitusional | berarti | tersebut | menimbulkan | instabilitas | nasional | pelanggaran | menghilangkan | demokrasi | kedigdayaan | sipil | menjelaskan | human | rights | elections< | disebutkan | kondisi | tertentu | situasi | terpaksa | memiliki | kemampuan | untuk | mengeluarkan | pernyataan | darurat | state | emergency | em>< | p>Demikian | pula | Mereka | juga | kesempatan | pengambilalihan | apakah | people | ataupun | baik | oleh | militer | menyebut | pernah | dipraktikkan | Indonesia | lain | p>Keduanya | dilakukan | hanya | semata | mata | demi | pemulihan | stabilitas | sosial | integritas | p>Komisioner | Papua | terbatas | Dalam | arti | dibatasi | p>Presiden | pemangku | kewajiban | (obligation< | atas | perlindungan | pemenuhan | Sementara | kedudukan | sebagai | pemilik | (Right | holder< | Oleh | karena | berhak | mengkritisinya | p>Sementara | anggota | Komisi | Fraksi | PDIP | Junimart | Girsang | berharap | proses | penyidikan | kasus | secara | transparan | meminta | polisi | mempublikasikan | bukti | dituduhkan | kepada | orang | telah | p>Kami | harapkan | sekali | lagi | sebaiknya | Sampaikanlah | masyarakat | agar | muncul | kondusif | yakin | masih | terkait | dugaan | mengetahui | pasti | bentuk | tak tahu | (polisi) | punya | Bukti | percakapan | langsung | misalnya | saya | p>Kemarin | kembali | menangkap | satu | diduga | Kali | rumahnya | pukul | (pmg | obs)< | strong> < |

Mantan Panglima TNI Bicara Penangkapan Kivlan Zein Cs yang Dituduh Makar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Djoko Santoso mengatakan masalah politik dan hukum janganlah menggunakan perasaan, melainkan harus konkret.

Pernyataan Panglima TNI di Era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut dilontarkan setelah ditanya wartawan mengenai perasaannya ada mantan Jenderal TNI yang ditangkap karena diduga terlibat makar.

‎Mereka yakni Kivlan Zein yang merupakan Purnawirawan TNI Angkatan Darat dengan pangkat terakhir mayor Jenderal serta Adityawarman, yang juga Purnawirawan TNI AD dengan pangkat Brigadir Jenderal.

"Jadi di permasalahan politik, dan hukum jangan main perasaan. Semuanya harus konkret ya," kata Djoko di kediamannya usai bertemu Anies Baswedan di kediamannya, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (8/12/2016).

‎

Baca: Polda Metro Jaya: Jangan Percaya Isu Petinggi TNI AD Marah Terkait Penangkapan Kivlan Zein

Mantan Jenderal Infanteri tersebut mengatakan mengenai adanya dugaan makar yang dilakukan sejumlah tokoh termasuk diantaranya dua purnawiraan TNI sebaiknya diserahkan kepada hukum yang berlaku.

"Serahkan saja kepada proses hukum yang berlaku, kita lihat bagaimana hasilnya. Mereka sudah diperiksa dan sebagian sudah dikeluarkan," katanya.

Mantan Pangdam Pattimura dan Pangdam Jaya tersebut mengaku tidak bisa menilai apakah yang dilakukan dua mantan jenderal tersebut tergolong makar.

Begitu mengenai apakah keduanya layak ditangkap atau tidak.

‎"Ya kembali saya tidak punya kewenangan untuk menilai, karena satu saya tidak punya kewenangan, yang kedua tidak punya informasi tentang itu. Salah kalau kita enggak tahu, enggak ada informasi dan bukan kapasitas saya," pungkasnya.

Sebelumnya beredar video di Youtube mengatasnamakan DragonTV berdurasi tiga menit‎ 30 detik mengenai penangkapan Kivlan Zen dan Adityawarman, sebelum aksi doa dan salat berjamaah di kawasan Monas 4 Desember lalu.

Dalam video itu disebutkan jika Jajaran perwira tinggi dan menengah TNI tersinggung atas penangkapan tersebut.

Video itu telah dibantah oleh Mabes TNI.

Menurut Kapuspen TNI Mayjen Wuryanto, berita yang disiarkan di saluran itu hoax.

Setelah ditelusuri saluran youtube tersebut tidak menginduk pada stasiun Dragon TV di Tiongkok.

"

| Mantan | Panglima | Bicara | Penangkapan | Kivlan | Zein | yang | Dituduh | Makar | TRIBUNNEWS | JAKARTA | strong> | Jenderal | (Purn) | Djoko | Santoso | mengat | masalah | politik | hukum | janganlah | menggun | perasaan | melainkan | harus | konkret | p> Pernyataan | Susilo | Bambang | Yudhoyono | (SBY) | tersebut | dilontarkan | setelah | ditanya | wartawan | mengenai | perasaannya | mantan | ditangkap | karena | diduga | terlibat | makar | p> ‎Mereka | yakni | merup | Purnawirawan | Angkatan | Darat | dengan | pangkat | terakhir | mayor | serta | Adityawarman | juga | Brigadir | p> Jadi | permasalahan | jangan | main | Semuanya | kata | kediamannya | usai | bertemu | Anies | Baswedan | Cipayung | Jakarta | Timur | Kamis | 2016) | p> ‎< | p> Baca: | Polda | Metro | Jaya: | Jangan | Percaya | Petinggi | Marah | Terkait | Zein< | strong>< | h4> Mantan | Infanteri | adanya | dugaan | dilakukan | sejumlah | tokoh | termasuk | diantaranya | purnawiraan | sebaiknya | diserahkan | kepada | berlaku | p> Serahkan | proses | lihat | bagaimana | hasilnya | Mereka | diperiksa | sebagian | dikeluarkan | katanya | p> Mantan | Pangdam | Pattimura | Jaya | mengaku | menilai | apakah | jenderal | tergolong | p> Begitu | keduanya | layak | atau | p> ‎Ya | kembali | saya | punya | kewenangan | untuk | satu | kedua | informasi | tentang | Salah | kalau | enggak | tahu | bukan | kapasitas | pungkasnya | p> Senya | beredar | video | Youtube< | mengatasnam | DragonTV | berdurasi | tiga | menit‎ | detik | penangkapan | aksi | salat | berjamaah | kawasan | Monas | Desember | p> Dalam | disebutkan | jika | Jajaran | perwira | tinggi | menengah | tersinggung | atas | p> Video | telah | dibantah | oleh | Mabes | p> Menurut | Kapuspen | Mayjen | Wuryanto | berita | disiarkan | saluran | hoax | p> Setelah | ditelusuri | youtube | menginduk | pada | stasiun | Dragon | Tiongkok | p> |

Tuesday, December 6, 2016

Kiki Syahnakri Minta Isu Makar Dihentikan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), Letjen (Purn) Kiki Syahnakri menilai Mayjen (Purn) Kivlan Zein dan Brigjen (Purn) Adityawarman tidak pernah merencanakan makar terhadap Presiden RI Joko Widodo.

Kiki pun meminta agar isu tersebut tidak dibesarkan dan ditanyakan kembali.

"Nggak ada mereka mau makar, ngarang itu ya, jadi itu barangkali tidak usah dibesar-besarkan lagi," kata Kiki kepada wartawan yang meminta komentarnya atas kasus dugaan makar yang membeli Kivlan Zen dan Adityawarman.

Kiki menambahkan, isu dugaan makar tersebut sebaiknya tidak dibahas lebih jauh agar tidak menimbulkan keresahan.

"Lebih baik nggak usah dibahas, yang diperlukan adalah merapatkan barisan ini, artinya barisan nasional," ujar Kiki seusai Pengukuhan Pengurus PPAD periode 2016-2021 di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Senin (5/12) siang.

Mantan Wakil Presiden, Jenderal (Purn) Try Sutrisno menyatakan, dirinya menganggap tidak ada pihak yang merencanakan makar. Namun Try juga menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum. Ia meminta semua pihak menunggu hasil pemeriksaan terhadap tokoh yang diduga merencanakan makar.

"Sudah ditangani, kita tunggu saja," ujar Try seusai menghadiri Pengukuhan Pengurus PPAD.

Ia mengimbau masyarakat untuk mengawal proses hukum yang kini sedang berjalan. "Prosesnya kan sudah berjalan, dari situ akan keluar informasi resminya," katanya.

Sebelumnya, dua purnawirawan perwira tinggi TNI, yakni Kivlan Zein dan Adityawarman diperiksa polisi atas dugaan hendak melakukan makar.

Selain keduanya, sejumlah tokoh juga dimintai keterangan di antaranya anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Rachmawati Soekarnoputri, musisi Ahmad Dhani, aktivis Ratna Sarumpaet, dan Sri Bintang Pamungkas.

Seluruhnya dijemput polisi pada Jumat (2/12) dini hari atau beberapa jam sebelum Aksi Bela Islam III atau Aksi 212.

Lebih jauh, Try Sutrisno mengimbau masyarakat Indonesia agar tetap tenang menghadapi munculnya isu makar. Ia meminta masyarakat lebih cerdas dalam memandang adanya isu tersebut sehingga tidak mudah terpecah belah.

"Saya minta masyarakat tetap tenang, tetap memperkokoh persatuan dan kesatuan, jangan mudah diadu domba," ujar Try.

Menurutnya, sikap untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dipegang teguh oleh seluruh Warga Negara Indonesia.

"Kita tetap punya komitmen akan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang asli," katanya. (fitri wulandari)

"

| Kiki | Syahnakri | Minta | Makar | Dihentikan | TRIBUNNEWS | JAKARTA< | strong> | Ketua | Persatuan | Purnawirawan | Angkatan | Darat | (PPAD) | Letjen | (Purn) | Syahnakri< | menilai | Mayjen | Kivlan | Zein< | Brigjen | Adityawarman | pernah | merencan | makar | terhadap | Presiden | Joko | Widodo< | p> Kiki | meminta | agar | tersebut | dibesarkan | ditany | kembali | p> Nggak | ngarang | jadi | barangkali | usah | dibesar | besarkan | lagi | kata | kepada | wartawan | yang | komentarnya | atas | kasus | dugaan | membeli | menambahkan | sebaiknya | dibahas | lebih | jauh | menimbulkan | keresahan | p> Lebih | baik | nggak | diperlukan | adalah | merapatkan | barisan | artinya | nasional | ujar | seusai | Pengukuhan | Pengurus | PPAD | periode | 2016 | 2021 | Balai | Kartini | Jakarta | Selatan | Senin | siang | p> Mantan | Wakil | Jenderal | Sutrisno | menyat | dirinya | menganggap | pihak | Namun | juga | menyerahkan | sepenuhnya | aparat | penegak | hukum | semua | menunggu | hasil | pemeriksaan | tokoh | diduga | p> Sudah | ditangani | tunggu | menghadiri | p> Ia | mengimbau | masyarakat | untuk | mengawal | proses | kini | berjalan | Prosesnya | situ | keluar | informasi | resminya | katanya | p> Senya | purnawirawan | perwira | tinggi | yakni | diperiksa | polisi | hendak | melakukan | p> Selain | keduanya | sejumlah | dimintai | keterangan | antaranya | anggota | Dewan | Pembina | Partai | Gerindra | Rachmawati | Soekarnoputri | musisi | Ahmad | Dhani | aktivis | Ratna | Sarumpaet | Bintang | Pamungkas | p> Seluruhnya | dijemput | pada | Jumat | dini | hari | atau | beberapa | Aksi | Bela | Islam | Indonesia | tetap | tenang | menghadapi | munculnya | cerdas | dalam | memandang | adanya | mudah | terpecah | belah | p> Saya | minta | memperkokoh | persatuan | kesatuan | jangan | diadu | domba | p> Menurutnya | sikap | menjaga | keutuhan | Negara | Kesatuan | Republik | harus | dipegang | teguh | oleh | seluruh | Warga | p> Kita | punya | komitmen | NKRI | berdasarkan | Pancasila | 1945 | asli | (fitri | wulan)< | p> |

Monday, December 5, 2016

Peneliti Hukum: Polisi Harus Hati-hati Terapkan Pasal Makar

Senin, 05 Desember 2016 | 15:38 WIB

Peneliti Hukum: Polisi Harus Hati-hati Terapkan Pasal Makar  

Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Mako Brimob Kelapa Dua usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar di Depok, Jawa Barat, Jumat malam, 2 Desember 2016. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), Miko Ginting, berpendapat kepolisian harus cermat dan hati-hati dalam menerapkan tuduhan makar. "Makar bukan tindak pidana yang berdiri sendiri melainkan unsur dari tindak pidana."

Dalam keterangan tertulis, Senin, 5 Desember 2016, Miko mengatakan kata makar berasal dari istilah bahasa Belanda, yaitu anslaag. Anslaag berarti serangan yang berat. Sehingga, unsur utama dari tuduhan makar adalah adanya serangan yang berat. “Jika tidak ada serangan yang berat, tuduhan makar tidak terpenuhi." Kepolisian sebaiknya cermat dan hati-hati menerapkan tuduhan ini, agar penegakan hukum berjalan pada relnya.

Polisi menangkap 11 orang pada Jumat dinihari hingga pagi, 2 Desember 2016. Mereka adalah Sri Bintang Pamungkas, Jamran, Rijal Kobar, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Rachmawati Soekarnoputri, Kivlan Zein, Firza Huzein, Adityawarman Thaha, dan Eko Suryo Santjojo.

Mereka diperiksa di Markas Komando Brigade Mobil, Kelapa Dua, Depok. Penangkapan itu menjelang Aksi Bela Islam III yang digelar anggota Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI. Pada Jumat malam itu, tujuh orang dipulangkan. Sedangkan Sri Bintang, Rijal, dan Jamran ditahan hingga kini.

Ahmad Dhani diduga melanggar pasal penghinaan terhadap penguasa, sedangkan Rijal dan Jamran dikenai Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Tujuh lainnya dikenai pasal tentang percobaan makar.

Tindakan makar untuk menggulingkan pemerintah, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 tahun. Sedangkan para pemimpin dan para pengatur makar diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun. Dinyatakan ada makar jika niat untuk itu telah ada pelaksanaan permulaan.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, menjelaskan penangkapan para tokoh yang diduga merencanakan makar terhadap pemerintah itu bukan dilakukan tiba-tiba. "Semua melalui proses pemantauan, monitoring, penyelidikan selama tiga pekan," kata Boy di Monas, Jakarta Pusat, Jumat, 2 Desember 2016.

Boy mengatakan penangkapan itu bisa dipertanggungjawabkan. Alasan mereka ditangkap adalah karena mereka ingin memprovokasi massa Aksi Bela Islam III untuk mewujudkan agenda mereka. "Mereka punya agenda sendiri di luar dari kegiatan di Monas," ujar Boy. Kalau tidak ditangkap, mereka bisa membahayakan Aksi Super Damai 212.

REZKI ALVIONITASARI

"

| Peneliti | Hukum: | Polisi | Harus | Hati-hati | Terapkan | Pasal | Makar | Senin | Desember | 2016 | 15:38 | WIB< | p> < | div> Rachmawati | Soekarnoputri | meninggalkan | gedung | Mako | Brimob | Kelapa | usai | menjalani | pemeriksaan | terkait | kasus | dugaan | makar | Depok | Jawa | Barat | Jumat | malam | ANTARA | Indrianto | Suwarso< | p> < | div> TEMPO | strong>< | span> | Jakarta< | Pusat | Studi | Hukum | Kebij | Indonesia | (PSHK) | Miko | Ginting | berpendapat | kepolisian | harus | cermat | hati | dalam | menerapkan | tuduhan | bukan | tindak | pidana | yang | berdiri | sendiri | melainkan | unsur | p>Dalam | keterangan | tertulis | mengat | kata | berasal | istilah | bahasa | Belanda | yaitu | anslaag | Anslaag | berarti | serangan | berat | utama | adalah | adanya | “Jika | terpenuhi | Kepolisian | sebaiknya | agar | peneg | hukum | berjalan | pada | relnya | p>Polisi | menangkap | orang | dinihari | pagi | Mereka | Bintang | Pamungkas | Jamran | Rijal | Kobar | Ahmad | Dhani | Ratna | Sarumpaet | Rachmawati | Kivlan | Zein | Firza | Huzein | Adityawarman | Thaha | Suryo | Santjojo | p>Mereka | diperiksa | Markas | Komando | Brigade | Mobil | Penangkapan | menjelang | Aksi | Bela | Islam | digelar | anggota | Nasional | Pengawal | Fatwa | (GNPF) | Pada | tujuh | dipulangkan | Sedangkan | ditahan | kini | p>Ahmad | diduga | melanggar | pasal | penghinaan | terhadap | penguasa | dikenai | Undang | Informasi | Transaksi | Elektronik | Tujuh | lainnya | tentang | percobaan | p>Tind | untuk | menggulingkan | pemerintah | diancam | dengan | penjara | paling | lama | tahun | para | pemimpin | pengatur | seumur | hidup | atau | sementara | puluh | Dinyat | jika | niat | telah | pelaksanaan | permulaan | p>Kepala | Divisi | Hubungan | Masyarakat | Polri | Inspektur | Jenderal | Rafli | Amar | menjelaskan | penangkapan | tokoh | merencan | dilakukan | tiba | Semua | proses | pemantauan | monitoring | penyelidikan | selama | tiga | pekan | Monas | Jakarta | p>Boy | dipertanggungjawabkan | Alasan | ditangkap | karena | ingin | memprovokasi | massa | mewujudkan | agenda | punya | luar | kegiatan | ujar | Kalau | membahay | Super | Damai | p> REZKI | ALVIONITASARI< | p> |

Kiki Syahnakri Minta Isu Makar Dihentikan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), Letjen (Purn) Kiki Syahnakri menilai Mayjen (Purn) Kivlan Zein dan Brigjen (Purn) Adityawarman tidak pernah merencanakan makar terhadap Presiden RI Joko Widodo.

Kiki pun meminta agar isu tersebut tidak dibesarkan dan ditanyakan kembali.

"Nggak ada mereka mau makar, ngarang itu ya, jadi itu barangkali tidak usah dibesar-besarkan lagi," kata Kiki kepada wartawan yang meminta komentarnya atas kasus dugaan makar yang membeli Kivlan Zen dan Adityawarman.

Kiki menambahkan, isu dugaan makar tersebut sebaiknya tidak dibahas lebih jauh agar tidak menimbulkan keresahan.

"Lebih baik nggak usah dibahas, yang diperlukan adalah merapatkan barisan ini, artinya barisan nasional," ujar Kiki seusai Pengukuhan Pengurus PPAD periode 2016-2021 di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Senin (5/12) siang.

Mantan Wakil Presiden, Jenderal (Purn) Try Sutrisno menyatakan, dirinya menganggap tidak ada pihak yang merencanakan makar. Namun Try juga menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum. Ia meminta semua pihak menunggu hasil pemeriksaan terhadap tokoh yang diduga merencanakan makar.

"Sudah ditangani, kita tunggu saja," ujar Try seusai menghadiri Pengukuhan Pengurus PPAD.

Ia mengimbau masyarakat untuk mengawal proses hukum yang kini sedang berjalan. "Prosesnya kan sudah berjalan, dari situ akan keluar informasi resminya," katanya.

Sebelumnya, dua purnawirawan perwira tinggi TNI, yakni Kivlan Zein dan Adityawarman diperiksa polisi atas dugaan hendak melakukan makar.

Selain keduanya, sejumlah tokoh juga dimintai keterangan di antaranya anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Rachmawati Soekarnoputri, musisi Ahmad Dhani, aktivis Ratna Sarumpaet, dan Sri Bintang Pamungkas.

Seluruhnya dijemput polisi pada Jumat (2/12) dini hari atau beberapa jam sebelum Aksi Bela Islam III atau Aksi 212.

Lebih jauh, Try Sutrisno mengimbau masyarakat Indonesia agar tetap tenang menghadapi munculnya isu makar. Ia meminta masyarakat lebih cerdas dalam memandang adanya isu tersebut sehingga tidak mudah terpecah belah.

"Saya minta masyarakat tetap tenang, tetap memperkokoh persatuan dan kesatuan, jangan mudah diadu domba," ujar Try.

Menurutnya, sikap untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dipegang teguh oleh seluruh Warga Negara Indonesia.

"Kita tetap punya komitmen akan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang asli," katanya. (fitri wulandari)

"

| Kiki | Syahnakri | Minta | Makar | Dihentikan | TRIBUNNEWS | JAKARTA< | strong> | Ketua | Persatuan | Purnawirawan | Angkatan | Darat | (PPAD) | Letjen | (Purn) | Syahnakri< | menilai | Mayjen | Kivlan | Zein< | Brigjen | Adityawarman | pernah | merencan | makar | terhadap | Presiden | Joko | Widodo< | p> Kiki | meminta | agar | tersebut | dibesarkan | ditany | kembali | p> Nggak | ngarang | jadi | barangkali | usah | dibesar | besarkan | lagi | kata | kepada | wartawan | yang | komentarnya | atas | kasus | dugaan | membeli | menambahkan | sebaiknya | dibahas | lebih | jauh | menimbulkan | keresahan | p> Lebih | baik | nggak | diperlukan | adalah | merapatkan | barisan | artinya | nasional | ujar | seusai | Pengukuhan | Pengurus | PPAD | periode | 2016 | 2021 | Balai | Kartini | Jakarta | Selatan | Senin | siang | p> Mantan | Wakil | Jenderal | Sutrisno | menyat | dirinya | menganggap | pihak | Namun | juga | menyerahkan | sepenuhnya | aparat | penegak | hukum | semua | menunggu | hasil | pemeriksaan | tokoh | diduga | p> Sudah | ditangani | tunggu | menghadiri | p> Ia | mengimbau | masyarakat | untuk | mengawal | proses | kini | berjalan | Prosesnya | situ | keluar | informasi | resminya | katanya | p> Senya | purnawirawan | perwira | tinggi | yakni | diperiksa | polisi | hendak | melakukan | p> Selain | keduanya | sejumlah | dimintai | keterangan | antaranya | anggota | Dewan | Pembina | Partai | Gerindra | Rachmawati | Soekarnoputri | musisi | Ahmad | Dhani | aktivis | Ratna | Sarumpaet | Bintang | Pamungkas | p> Seluruhnya | dijemput | pada | Jumat | dini | hari | atau | beberapa | Aksi | Bela | Islam | Indonesia | tetap | tenang | menghadapi | munculnya | cerdas | dalam | memandang | adanya | mudah | terpecah | belah | p> Saya | minta | memperkokoh | persatuan | kesatuan | jangan | diadu | domba | p> Menurutnya | sikap | menjaga | keutuhan | Negara | Kesatuan | Republik | harus | dipegang | teguh | oleh | seluruh | Warga | p> Kita | punya | komitmen | NKRI | berdasarkan | Pancasila | 1945 | asli | (fitri | wulan)< | p> |

Peneliti Hukum: Polisi Harus Hati-hati Terapkan Pasal Makar

Senin, 05 Desember 2016 | 15:38 WIB

Peneliti Hukum: Polisi Harus Hati-hati Terapkan Pasal Makar  

Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Mako Brimob Kelapa Dua usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar di Depok, Jawa Barat, Jumat malam, 2 Desember 2016. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), Miko Ginting, berpendapat kepolisian harus cermat dan hati-hati dalam menerapkan tuduhan makar. "Makar bukan tindak pidana yang berdiri sendiri melainkan unsur dari tindak pidana."

Dalam keterangan tertulis, Senin, 5 Desember 2016, Miko mengatakan kata makar berasal dari istilah bahasa Belanda, yaitu anslaag. Anslaag berarti serangan yang berat. Sehingga, unsur utama dari tuduhan makar adalah adanya serangan yang berat. “Jika tidak ada serangan yang berat, tuduhan makar tidak terpenuhi." Kepolisian sebaiknya cermat dan hati-hati menerapkan tuduhan ini, agar penegakan hukum berjalan pada relnya.

Polisi menangkap 11 orang pada Jumat dinihari hingga pagi, 2 Desember 2016. Mereka adalah Sri Bintang Pamungkas, Jamran, Rijal Kobar, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Rachmawati Soekarnoputri, Kivlan Zein, Firza Huzein, Adityawarman Thaha, dan Eko Suryo Santjojo.

Mereka diperiksa di Markas Komando Brigade Mobil, Kelapa Dua, Depok. Penangkapan itu menjelang Aksi Bela Islam III yang digelar anggota Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI. Pada Jumat malam itu, tujuh orang dipulangkan. Sedangkan Sri Bintang, Rijal, dan Jamran ditahan hingga kini.

Ahmad Dhani diduga melanggar pasal penghinaan terhadap penguasa, sedangkan Rijal dan Jamran dikenai Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Tujuh lainnya dikenai pasal tentang percobaan makar.

Tindakan makar untuk menggulingkan pemerintah, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 tahun. Sedangkan para pemimpin dan para pengatur makar diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun. Dinyatakan ada makar jika niat untuk itu telah ada pelaksanaan permulaan.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, menjelaskan penangkapan para tokoh yang diduga merencanakan makar terhadap pemerintah itu bukan dilakukan tiba-tiba. "Semua melalui proses pemantauan, monitoring, penyelidikan selama tiga pekan," kata Boy di Monas, Jakarta Pusat, Jumat, 2 Desember 2016.

Boy mengatakan penangkapan itu bisa dipertanggungjawabkan. Alasan mereka ditangkap adalah karena mereka ingin memprovokasi massa Aksi Bela Islam III untuk mewujudkan agenda mereka. "Mereka punya agenda sendiri di luar dari kegiatan di Monas," ujar Boy. Kalau tidak ditangkap, mereka bisa membahayakan Aksi Super Damai 212.

REZKI ALVIONITASARI

"

| Peneliti | Hukum: | Polisi | Harus | Hati-hati | Terapkan | Pasal | Makar | Senin | Desember | 2016 | 15:38 | WIB< | p> < | div> Rachmawati | Soekarnoputri | meninggalkan | gedung | Mako | Brimob | Kelapa | usai | menjalani | pemeriksaan | terkait | kasus | dugaan | makar | Depok | Jawa | Barat | Jumat | malam | ANTARA | Indrianto | Suwarso< | p> < | div> TEMPO | strong>< | span> | Jakarta< | Pusat | Studi | Hukum | Kebij | Indonesia | (PSHK) | Miko | Ginting | berpendapat | kepolisian | harus | cermat | hati | dalam | menerapkan | tuduhan | bukan | tindak | pidana | yang | berdiri | sendiri | melainkan | unsur | p>Dalam | keterangan | tertulis | mengat | kata | berasal | istilah | bahasa | Belanda | yaitu | anslaag | Anslaag | berarti | serangan | berat | utama | adalah | adanya | “Jika | terpenuhi | Kepolisian | sebaiknya | agar | peneg | hukum | berjalan | pada | relnya | p>Polisi | menangkap | orang | dinihari | pagi | Mereka | Bintang | Pamungkas | Jamran | Rijal | Kobar | Ahmad | Dhani | Ratna | Sarumpaet | Rachmawati | Kivlan | Zein | Firza | Huzein | Adityawarman | Thaha | Suryo | Santjojo | p>Mereka | diperiksa | Markas | Komando | Brigade | Mobil | Penangkapan | menjelang | Aksi | Bela | Islam | digelar | anggota | Nasional | Pengawal | Fatwa | (GNPF) | Pada | tujuh | dipulangkan | Sedangkan | ditahan | kini | p>Ahmad | diduga | melanggar | pasal | penghinaan | terhadap | penguasa | dikenai | Undang | Informasi | Transaksi | Elektronik | Tujuh | lainnya | tentang | percobaan | p>Tind | untuk | menggulingkan | pemerintah | diancam | dengan | penjara | paling | lama | tahun | para | pemimpin | pengatur | seumur | hidup | atau | sementara | puluh | Dinyat | jika | niat | telah | pelaksanaan | permulaan | p>Kepala | Divisi | Hubungan | Masyarakat | Polri | Inspektur | Jenderal | Rafli | Amar | menjelaskan | penangkapan | tokoh | merencan | dilakukan | tiba | Semua | proses | pemantauan | monitoring | penyelidikan | selama | tiga | pekan | Monas | Jakarta | p>Boy | dipertanggungjawabkan | Alasan | ditangkap | karena | ingin | memprovokasi | massa | mewujudkan | agenda | punya | luar | kegiatan | ujar | Kalau | membahay | Super | Damai | p> REZKI | ALVIONITASARI< | p> |