Showing posts sorted by relevance for query hasilnya. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query hasilnya. Sort by date Show all posts

Thursday, December 8, 2016

Mantan Panglima TNI Bicara Penangkapan Kivlan Zein Cs yang Dituduh Makar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Djoko Santoso mengatakan masalah politik dan hukum janganlah menggunakan perasaan, melainkan harus konkret.

Pernyataan Panglima TNI di Era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut dilontarkan setelah ditanya wartawan mengenai perasaannya ada mantan Jenderal TNI yang ditangkap karena diduga terlibat makar.

‎Mereka yakni Kivlan Zein yang merupakan Purnawirawan TNI Angkatan Darat dengan pangkat terakhir mayor Jenderal serta Adityawarman, yang juga Purnawirawan TNI AD dengan pangkat Brigadir Jenderal.

"Jadi di permasalahan politik, dan hukum jangan main perasaan. Semuanya harus konkret ya," kata Djoko di kediamannya usai bertemu Anies Baswedan di kediamannya, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (8/12/2016).

‎

Baca: Polda Metro Jaya: Jangan Percaya Isu Petinggi TNI AD Marah Terkait Penangkapan Kivlan Zein

Mantan Jenderal Infanteri tersebut mengatakan mengenai adanya dugaan makar yang dilakukan sejumlah tokoh termasuk diantaranya dua purnawiraan TNI sebaiknya diserahkan kepada hukum yang berlaku.

"Serahkan saja kepada proses hukum yang berlaku, kita lihat bagaimana hasilnya. Mereka sudah diperiksa dan sebagian sudah dikeluarkan," katanya.

Mantan Pangdam Pattimura dan Pangdam Jaya tersebut mengaku tidak bisa menilai apakah yang dilakukan dua mantan jenderal tersebut tergolong makar.

Begitu mengenai apakah keduanya layak ditangkap atau tidak.

‎"Ya kembali saya tidak punya kewenangan untuk menilai, karena satu saya tidak punya kewenangan, yang kedua tidak punya informasi tentang itu. Salah kalau kita enggak tahu, enggak ada informasi dan bukan kapasitas saya," pungkasnya.

Sebelumnya beredar video di Youtube mengatasnamakan DragonTV berdurasi tiga menit‎ 30 detik mengenai penangkapan Kivlan Zen dan Adityawarman, sebelum aksi doa dan salat berjamaah di kawasan Monas 4 Desember lalu.

Dalam video itu disebutkan jika Jajaran perwira tinggi dan menengah TNI tersinggung atas penangkapan tersebut.

Video itu telah dibantah oleh Mabes TNI.

Menurut Kapuspen TNI Mayjen Wuryanto, berita yang disiarkan di saluran itu hoax.

Setelah ditelusuri saluran youtube tersebut tidak menginduk pada stasiun Dragon TV di Tiongkok.

"

| Mantan | Panglima | Bicara | Penangkapan | Kivlan | Zein | yang | Dituduh | Makar | TRIBUNNEWS | JAKARTA | strong> | Jenderal | (Purn) | Djoko | Santoso | mengat | masalah | politik | hukum | janganlah | menggun | perasaan | melainkan | harus | konkret | p> Pernyataan | Susilo | Bambang | Yudhoyono | (SBY) | tersebut | dilontarkan | setelah | ditanya | wartawan | mengenai | perasaannya | mantan | ditangkap | karena | diduga | terlibat | makar | p> ‎Mereka | yakni | merup | Purnawirawan | Angkatan | Darat | dengan | pangkat | terakhir | mayor | serta | Adityawarman | juga | Brigadir | p> Jadi | permasalahan | jangan | main | Semuanya | kata | kediamannya | usai | bertemu | Anies | Baswedan | Cipayung | Jakarta | Timur | Kamis | 2016) | p> ‎< | p> Baca: | Polda | Metro | Jaya: | Jangan | Percaya | Petinggi | Marah | Terkait | Zein< | strong>< | h4> Mantan | Infanteri | adanya | dugaan | dilakukan | sejumlah | tokoh | termasuk | diantaranya | purnawiraan | sebaiknya | diserahkan | kepada | berlaku | p> Serahkan | proses | lihat | bagaimana | hasilnya | Mereka | diperiksa | sebagian | dikeluarkan | katanya | p> Mantan | Pangdam | Pattimura | Jaya | mengaku | menilai | apakah | jenderal | tergolong | p> Begitu | keduanya | layak | atau | p> ‎Ya | kembali | saya | punya | kewenangan | untuk | satu | kedua | informasi | tentang | Salah | kalau | enggak | tahu | bukan | kapasitas | pungkasnya | p> Senya | beredar | video | Youtube< | mengatasnam | DragonTV | berdurasi | tiga | menit‎ | detik | penangkapan | aksi | salat | berjamaah | kawasan | Monas | Desember | p> Dalam | disebutkan | jika | Jajaran | perwira | tinggi | menengah | tersinggung | atas | p> Video | telah | dibantah | oleh | Mabes | p> Menurut | Kapuspen | Mayjen | Wuryanto | berita | disiarkan | saluran | hoax | p> Setelah | ditelusuri | youtube | menginduk | pada | stasiun | Dragon | Tiongkok | p> |

Monday, December 5, 2016

Mengurai Strategi Makar 212 - News Liputan6.com

Tito mengatakan, berdasarkan informasi dari intelijen, ada komunikasi yang intens antara para pelaku makar dengan demonstran 2 Desember. Rencananya, kelompok tersebut akan mengarahkan ratusan ribu massa aksi Bela Islam Jilid III ke gedung parlemen untuk menduduki MPR/DPR.

"Silakan jika datang ke DPR sampaikan aspirasi ke komisi masing-masing. Tapi duduki DPR secara paksa, kekerasan, apapun alasannya, itu inkonstitusional. Kami melihat gerakan itu," ungkap dia.

Sebab itu, Kapolri jauh-jauh hari menyebut ada kelompok makar yang berencana mendompleng massa Aksi Bela Islam. Namun, masyarakat salah paham dan menganggap pernyataan itu mengarah ke GNPF MUI.

"Kami tahu Anda (pelaku makar), kira-kira begitu. Tolong hentikan, jangan manfatkan massa GNPF yang murni ingin proses hukum terhadap saudara Basuki. Polri komit untuk proses hukum itu sudah kita buktikan," jelas Tito.

Untuk itu, Polri pun membangun dialog dengan massa GNPF MUI dan sejumlah tokoh masyakarat. Hasilnya, jelas demonstran Bela Islam Jilid III hanya membawa satu isu yakni penanganan perkara Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

"Kami bangun dialog dengan GNPF dalam rangka tuntutan Basuki atau melakukan ikut dalam upaya duduki DPR, kemudian agenda politik lain? Mereka menyatakan komit, tidak. Kami putusannya satu isu, proses hukum," beber dia.

Beruntungnya, GNPF MUI akhirnya tidak keras hati dan mau memindahkan agendanya yang semula gelar sajadah di Jalan Sudirman-Thamrin ke Monumen Nasional atau Monas.

"Kalau begitu, jangan gunakan Jalan Sudirman-Thamrin. Kalau mereka gunakan Jalan Sudirman-Thamrin, dengan massa yang begitu besar, ekornya ada di DPR/MPR sampai Semanggi, Patung Senayan, belok dia ke depan Hotel Mulia dan seterusnya. Sampai ke belakang DPR, berikutnya naik Semanggi dan pelintir sedikit saja. Mudah sekali jumlah massa besar, mudah sekali (ke DPR)," beber Tito.

3 dari 4 halaman


"

| Mengurai | Strategi | Makar | News | Liputan6.com | Tito | mengat | berdasarkan | informasi | intelijen | komunikasi | yang | intens | antara | para | pelaku | makar | dengan | demonstran | Desember | Rencananya | kelompok | tersebut | mengarahkan | ratusan | ribu | massa | aksi | Bela | Islam | Jilid | gedung | parlemen | untuk | menduduki | p> Sil | jika | datang | sampaikan | aspirasi | komisi | masing | Tapi | duduki | secara | paksa | kekerasan | apapun | alasannya | inkonstitusional | Kami | melihat | ungkap | p> Sebab | Kapolri | jauh | hari | menyebut | makar< | berencana | mendompleng | Aksi | Namun | masyarakat | salah | paham | menganggap | pernyataan | mengarah | GNPF | p> Kami | tahu | Anda | (pelaku | makar) | kira | begitu | Tolong | hentikan | jangan | manfatkan | murni | ingin | proses | hukum | terhadap | saudara | Basuki | Polri | komit | buktikan | jelas | p> Untuk | membangun | dialog | sejumlah | tokoh | masyakarat | Hasilnya | hanya | membawa | satu | yakni | penanganan | perkara | Tjahaja | Purnama | atau | Ahok | bangun | dalam | rangka | tuntutan | melakukan | ikut | upaya | kemudian | agenda | politik | lain | Mereka | menyat | putusannya | beber | p> Beruntungnya | akhirnya | keras | hati | memindahkan | agendanya | semula | gelar | Jalan | Sudirman | Thamrin | Monumen | Nasional | Monas | p> Kalau | Kalau | besar | ekornya | sampai | Semanggi | Patung | Senayan | belok | depan | Hotel | Mulia | seterusnya | Sampai | belg | berikutnya | naik | pelintir | sedikit | Mudah | sekali | jumlah | mudah | DPR) | p> 3 | halaman< | p> < | div> |

Tuesday, December 6, 2016

Mengurai Strategi Makar 212 - News Liputan6.com

Tito mengatakan, berdasarkan informasi dari intelijen, ada komunikasi yang intens antara para pelaku makar dengan demonstran 2 Desember. Rencananya, kelompok tersebut akan mengarahkan ratusan ribu massa aksi Bela Islam Jilid III ke gedung parlemen untuk menduduki MPR/DPR.

"Silakan jika datang ke DPR sampaikan aspirasi ke komisi masing-masing. Tapi duduki DPR secara paksa, kekerasan, apapun alasannya, itu inkonstitusional. Kami melihat gerakan itu," ungkap dia.

Sebab itu, Kapolri jauh-jauh hari menyebut ada kelompok makar yang berencana mendompleng massa Aksi Bela Islam. Namun, masyarakat salah paham dan menganggap pernyataan itu mengarah ke GNPF MUI.

"Kami tahu Anda (pelaku makar), kira-kira begitu. Tolong hentikan, jangan manfatkan massa GNPF yang murni ingin proses hukum terhadap saudara Basuki. Polri komit untuk proses hukum itu sudah kita buktikan," jelas Tito.

Untuk itu, Polri pun membangun dialog dengan massa GNPF MUI dan sejumlah tokoh masyakarat. Hasilnya, jelas demonstran Bela Islam Jilid III hanya membawa satu isu yakni penanganan perkara Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

"Kami bangun dialog dengan GNPF dalam rangka tuntutan Basuki atau melakukan ikut dalam upaya duduki DPR, kemudian agenda politik lain? Mereka menyatakan komit, tidak. Kami putusannya satu isu, proses hukum," beber dia.

Beruntungnya, GNPF MUI akhirnya tidak keras hati dan mau memindahkan agendanya yang semula gelar sajadah di Jalan Sudirman-Thamrin ke Monumen Nasional atau Monas.

"Kalau begitu, jangan gunakan Jalan Sudirman-Thamrin. Kalau mereka gunakan Jalan Sudirman-Thamrin, dengan massa yang begitu besar, ekornya ada di DPR/MPR sampai Semanggi, Patung Senayan, belok dia ke depan Hotel Mulia dan seterusnya. Sampai ke belakang DPR, berikutnya naik Semanggi dan pelintir sedikit saja. Mudah sekali jumlah massa besar, mudah sekali (ke DPR)," beber Tito.

3 dari 4 halaman


"

| Mengurai | Strategi | Makar | News | Liputan6.com | Tito | mengat | berdasarkan | informasi | intelijen | komunikasi | yang | intens | antara | para | pelaku | makar | dengan | demonstran | Desember | Rencananya | kelompok | tersebut | mengarahkan | ratusan | ribu | massa | aksi | Bela | Islam | Jilid | gedung | parlemen | untuk | menduduki | p> Sil | jika | datang | sampaikan | aspirasi | komisi | masing | Tapi | duduki | secara | paksa | kekerasan | apapun | alasannya | inkonstitusional | Kami | melihat | ungkap | p> Sebab | Kapolri | jauh | hari | menyebut | makar< | berencana | mendompleng | Aksi | Namun | masyarakat | salah | paham | menganggap | pernyataan | mengarah | GNPF | p> Kami | tahu | Anda | (pelaku | makar) | kira | begitu | Tolong | hentikan | jangan | manfatkan | murni | ingin | proses | hukum | terhadap | saudara | Basuki | Polri | komit | buktikan | jelas | p> Untuk | membangun | dialog | sejumlah | tokoh | masyakarat | Hasilnya | hanya | membawa | satu | yakni | penanganan | perkara | Tjahaja | Purnama | atau | Ahok | bangun | dalam | rangka | tuntutan | melakukan | ikut | upaya | kemudian | agenda | politik | lain | Mereka | menyat | putusannya | beber | p> Beruntungnya | akhirnya | keras | hati | memindahkan | agendanya | semula | gelar | Jalan | Sudirman | Thamrin | Monumen | Nasional | Monas | p> Kalau | Kalau | besar | ekornya | sampai | Semanggi | Patung | Senayan | belok | depan | Hotel | Mulia | seterusnya | Sampai | belg | berikutnya | naik | pelintir | sedikit | Mudah | sekali | jumlah | mudah | DPR) | p> 3 | halaman< | p> < | div> |

Monday, December 5, 2016

Mengurai Strategi Makar 212 - News Liputan6.com

Tito mengatakan, berdasarkan informasi dari intelijen, ada komunikasi yang intens antara para pelaku makar dengan demonstran 2 Desember. Rencananya, kelompok tersebut akan mengarahkan ratusan ribu massa aksi Bela Islam Jilid III ke gedung parlemen untuk menduduki MPR/DPR.

"Silakan jika datang ke DPR sampaikan aspirasi ke komisi masing-masing. Tapi duduki DPR secara paksa, kekerasan, apapun alasannya, itu inkonstitusional. Kami melihat gerakan itu," ungkap dia.

Sebab itu, Kapolri jauh-jauh hari menyebut ada kelompok makar yang berencana mendompleng massa Aksi Bela Islam. Namun, masyarakat salah paham dan menganggap pernyataan itu mengarah ke GNPF MUI.

"Kami tahu Anda (pelaku makar), kira-kira begitu. Tolong hentikan, jangan manfatkan massa GNPF yang murni ingin proses hukum terhadap saudara Basuki. Polri komit untuk proses hukum itu sudah kita buktikan," jelas Tito.

Untuk itu, Polri pun membangun dialog dengan massa GNPF MUI dan sejumlah tokoh masyakarat. Hasilnya, jelas demonstran Bela Islam Jilid III hanya membawa satu isu yakni penanganan perkara Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

"Kami bangun dialog dengan GNPF dalam rangka tuntutan Basuki atau melakukan ikut dalam upaya duduki DPR, kemudian agenda politik lain? Mereka menyatakan komit, tidak. Kami putusannya satu isu, proses hukum," beber dia.

Beruntungnya, GNPF MUI akhirnya tidak keras hati dan mau memindahkan agendanya yang semula gelar sajadah di Jalan Sudirman-Thamrin ke Monumen Nasional atau Monas.

"Kalau begitu, jangan gunakan Jalan Sudirman-Thamrin. Kalau mereka gunakan Jalan Sudirman-Thamrin, dengan massa yang begitu besar, ekornya ada di DPR/MPR sampai Semanggi, Patung Senayan, belok dia ke depan Hotel Mulia dan seterusnya. Sampai ke belakang DPR, berikutnya naik Semanggi dan pelintir sedikit saja. Mudah sekali jumlah massa besar, mudah sekali (ke DPR)," beber Tito.

3 dari 4 halaman


"

| Mengurai | Strategi | Makar | News | Liputan6.com | Tito | mengat | berdasarkan | informasi | intelijen | komunikasi | yang | intens | antara | para | pelaku | makar | dengan | demonstran | Desember | Rencananya | kelompok | tersebut | mengarahkan | ratusan | ribu | massa | aksi | Bela | Islam | Jilid | gedung | parlemen | untuk | menduduki | p> Sil | jika | datang | sampaikan | aspirasi | komisi | masing | Tapi | duduki | secara | paksa | kekerasan | apapun | alasannya | inkonstitusional | Kami | melihat | ungkap | p> Sebab | Kapolri | jauh | hari | menyebut | makar< | berencana | mendompleng | Aksi | Namun | masyarakat | salah | paham | menganggap | pernyataan | mengarah | GNPF | p> Kami | tahu | Anda | (pelaku | makar) | kira | begitu | Tolong | hentikan | jangan | manfatkan | murni | ingin | proses | hukum | terhadap | saudara | Basuki | Polri | komit | buktikan | jelas | p> Untuk | membangun | dialog | sejumlah | tokoh | masyakarat | Hasilnya | hanya | membawa | satu | yakni | penanganan | perkara | Tjahaja | Purnama | atau | Ahok | bangun | dalam | rangka | tuntutan | melakukan | ikut | upaya | kemudian | agenda | politik | lain | Mereka | menyat | putusannya | beber | p> Beruntungnya | akhirnya | keras | hati | memindahkan | agendanya | semula | gelar | Jalan | Sudirman | Thamrin | Monumen | Nasional | Monas | p> Kalau | Kalau | besar | ekornya | sampai | Semanggi | Patung | Senayan | belok | depan | Hotel | Mulia | seterusnya | Sampai | belg | berikutnya | naik | pelintir | sedikit | Mudah | sekali | jumlah | mudah | DPR) | p> 3 | halaman< | p> < | div> |

Pasal makar untuk 'bungkam kebebasan berpendapat'?

politik, sri bintang pamungkas, makarImage copyright AP Image caption Sri Bintang Pamungkas pernah dipenjara di era pemerintahan Presiden Suharto atas tuduhan subversif.

Suara Ernalia, istri Sri Bintang Pamungkas, beberapa kali terdengar tercekat. Dia berupaya menjelaskan duduk perkara penangkapan suaminya, tanpa larut dalam kesedihan.

Sudah dua malam Sri Bintang Pamungkas menghabiskan waktu sebagai tahanan kepolisian sejak dibawa dari rumahnya di bilangan Cibubur, Jakarta Timur, pada Jumat (02/11) pagi. Sri Bintang adalah salah satu dari 11 orang yang ditangkap dan dijadikan tersangka oleh kepolisian menjelang doa bersama di kawasan Monas.

"Waktu awal-awal, ketika dibawa ke Markas Brimob, saya tidak dikasih surat apapun. Minta tidak dikasih. Mau foto kopi tidak boleh, difoto menggunakan ponsel juga tidak boleh. Kemarin saya sudah lihat surat penahanannya setelah dibawa ke Polda. Tuduhannya makar, Pasal 107 KUHP," kata Ernalia kepada BBC Indonesia.

Ernalia mengutarakan bahwa tuduhan kepolisian terhadap suaminya didasari oleh pertemuan dengan sejumlah tokoh di sebuah hotel. Tapi, menurut Ernalia, Sri Bintang tidak menghadiri pertemuan itu.

"Kemudian (tuduhan) dialihkan ke waktu (Sri Bintang Pamungkas) ada di orasi di penggusuran," kata Ernalia.

Dalam rekaman video di media Youtube, tampak mantan politikus PPP itu berorasi di bawah jalan tol. Saat itu dia mengatakan bahwa kaum kaya semestinya diberikan pajak tinggi, lalu hasilnya disalurkan ke fakir miskin.

"Pemerintah kita sejak zamannya Suharto sampai hari ini tidak melakukan itu. Apa yang bisa saya simpulkan dari situ? Mereka jahat...Ya harus diturunkan, harus dijatuhkan. Inilah yang perlu kita lakukan pada presiden-presiden yang jahat ini, termasuk Jokowi," kata Sri Bintang Pamungkas.

Ucapan Sri Bintang tersebut, kata Ernalia, adalah hak dia untuk berpendapat dan meminta.

Image copyright EPA Image caption Kepolisian menyatakan sebanyak delapan orang diduga melakukan makar dengan berupaya menggiring para peserta doa bersama di kawasan Silang Monas, 2 Desember lalu, untuk menguasai gedung DPR/MPR.

'Tergesa-gesa'

Secara terpisah, Ratna Sarumpaet menuding Polri ingin tergesa-gesa menangkap dan menjadikannya sebagai tersangka tapi tidak siap dengan unsur-unsur bukti.

"Katanya sudah terpenuhi unsur-unsurnya. Unsur yang mana?" tanya Ratna.

Yusril Ihza Mahendra, selaku kuasa hukum Ratna dan Rachmawati Sukarnoputri, mengatakan apa yang dilakukan kliennya hanyalah sebatas kritikan terhadap pemerintah.

"Kalau sampai pelaksanaan makar, masih jauh. Dan bahwa mereka mengadakan rapat-rapat, pertemuan, mengkritik pemerintah, itu normal-normal saja," kata Yusril Ihza Mahendra, Minggu (04/12) siang.

Perbedaan kritik dan makar

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Boy Rafli Amar, menepis klaim bahwa yang dilakukan 11 orang adalah murni kritik terhadap pemerintah.

"Apakah di alam demokrasi ini tidak boleh orang mengkritik? Ini bukan kritikan. Kritik dengan makar berbeda," tegas Boy.

Boy mengklaim kepolisian telah mengantongi beragam bukti yang memberatkan 11 tersangka, termasuk tulisan tangan dan hasil pemantauan percakapan.

"Dugaan ini berkaitan adanya rencana pemanfaatan massa untuk menduduki kantor DPR RI, kemudian berencana melakukan pemaksaan agar bisa dilakukannya sidang istimewa untuk menuntut pergantian pemerintahan dan seterusnya," kata Boy.

Boy menegaskan bahwa penangkapan tidak perlu menunggu sampai upaya makar telah terjadi. "Ketika terdeteksi adanya niatan itu, inilah yang dimainkan kepolisian."

Image copyright HOTLI SIMANJUNTAK/EPA Image caption Pasal makar dalam KUHP, menurut Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Alghiffari Aqsa, telah digunakan penguasa sejak era Orde Baru sebagai alat untuk membungkam kebebasan berekspresi.

Tafsir penguasa

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Alghiffari Aqsa, mengatakan bahwa pasal makar dalam KUHP telah digunakan sejak era Orde Baru sebagai alat untuk membungkam kebebasan berekspresi.

"Pasal makar itu tergantung dari definisi ataupun tafsir penguasa. Seringkali orang dituduh makar karena ekspresinya meminta pemerintah untuk turun atau menyampaikan ekspresi ketidakpuasan terhadap pemerintah. Penerapan pasal itu tidak tepat, melanggar kebebasan berekspresi," kata Alghiffari.

Pasal makar, tambahnya, bisa saja digunakan apabila memang ada bukti-bukti yang memadai.

"Jika ada bukti-bukti menggulingkan pemerintahan, dalam artian ada kekerasan di dalamnya, ada upaya untuk melakukan sabotase, ada upaya untuk membuat kaos. Tapi apakah orang-orang yang ditangkap punya kemampuan itu?"

Menurut ahli hukum pidana dari Universitas Indonesia, Eva Ahyani Djulfa, hal yang bisa mengategorikan suatu perbuatan sebagai makar berdasarkan pasal 87 KUHP adalah niat dan permulaan pelaksanaan.

Karena niat adalah sesuatu yang abstrak, maka aparat hukum bisa memandangnya menggunakan sudut pandang subjektif.

"Jadi segala tindakan yang menggambarkan tentang niat, itu sudah dianggap sebagai permulaan pelaksanaan," kata Eva.

Namun, ada sudut pandang objektif yang juga bisa dipakai dari sisi hukum. Sudut pandang ini menimbang kemampuan seseorang atau suatu pihak untuk mewujudkan tindakan makar.

"Kedua sudut pandang ini bisa sama-sama digunakan. Hanya saja, tergantung dari penegak hukum," tutup Eva.

Pada Jumat 2 Desember, sebanyak delapan orang ditangkap atas dugaan pemufakatan makar yakni eks Staf Ahli Panglima TNI Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha, mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zein, Ketua Solidaritas Sahabat Cendana Firza Huzein.

Turut ditangkap aktivis politik Ratna Sarumpaet, calon wakil Bupati Bekasi Ahmad Dhani, putri presiden pertama Presiden Soekarno, Rachmawati Soerkarnoputri, Sri Bintang Pamungkas dan Eko.

Ada pula dua orang yang ditangkap dan dijerat Pasal 28 Undang-Undang ITE yakni Jamran dan Rizal Kobar.

Pasal-pasal makar dalam KUHP

Pasal 104

  • Makar dengan maksud untuk membunuh, atau merampas kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil Presiden memerintah, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Pasal 105

[Pasal ini ditiadakan berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 1946, pasal VIII, butir 13.]

Pasal 106

  • Makar dengan maksud supaya seluruh atau sebagian dari wilayah negara, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Pasal 107

  1. Makar dengan maksud untuk menggulingkan pemerintah, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
  2. Para pemimpin dan pengatur makar tersebbut dalam ayat 1, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.
"

| Pasal | makar | untuk | bungkam | kebebasan | berpendapat? | Image | copyright< | span> | caption< | Bintang | Pamungkas | pernah | dipenjara | pemerintahan | Presiden | Suharto | atas | tuduhan | subversif | Suara | Ernalia | istri | beberapa | kali | terdengar | tercekat | berupaya | menjelaskan | duduk | perkara | penangkapan | suaminya | tanpa | larut | dalam | kesedihan | p>Sudah | malam | menghabiskan | waktu | sebagai | tahanan | kepolisian | sejak | dibawa | rumahnya | bilangan | Cibubur | Jakarta | Timur | pada | Jumat | pagi | adalah | salah | satu | orang | yang | ditangkap | dijadikan | tersangka | oleh | menjelang | bersama | kawasan | Monas | p>Waktu | awal | ketika | Markas | Brimob | saya | dikasih | surat | apapun | Minta | foto | kopi | boleh | difoto | menggun | ponsel | juga | Kemarin | lihat | penahanannya | setelah | Polda | Tuduhannya | KUHP | kata | kepada | Indonesia | p>Ernalia | mengutar | bahwa | terhadap | didasari | pertemuan | dengan | sejumlah | tokoh | sebuah | hotel | Tapi | menurut | menghadiri | p>Kemudian | (tuduhan) | dialihkan | (Sri | Pamungkas) | orasi | penggusuran | p>Dalam | rekaman | video | media | Youtube | tampak | mantan | politikus | berorasi | bawah | jalan | Saat | mengat | kaum | kaya | semestinya | diberikan | pajak | tinggi | hasilnya | disalurkan | fakir | miskin | p>Pemerintah | zamannya | sampai | hari | melakukan | simpulkan | situ | Mereka | jahat | harus | diturunkan | dijatuhkan | Inilah | perlu | lakukan | presiden | termasuk | Jokowi | p>Ucapan | tersebut | berpendapat | meminta | EPA< | Kepolisian | menyat | sebanyak | delapan | diduga | menggiring | para | peserta | Silang | Desember | menguasai | gedung | Tergesa | gesa< | h2>Secara | terpisah | Ratna | Sarumpaet | menuding | Polri | ingin | tergesa | gesa | menangkap | menjadikannya | siap | unsur | bukti | p>Katanya | terpenuhi | unsurnya | Unsur | mana | tanya | p>Yusril | Ihza | Mahendra | selaku | kuasa | hukum | Rachmawati | Sukarnoputri | dilakukan | kliennya | hanyalah | sebatas | kritikan | pemerintah | p>Kalau | pelaksanaan | masih | jauh | mengad | rapat | mengkritik | normal | Yusril | Minggu | siang | p>Perbedaan | kritik | makar< | h2>Kepala | Divisi | Humas | Mabes | Rafli | Amar | menepis | klaim | murni | p>Apakah | alam | demokrasi | bukan | Kritik | berbeda | tegas | p>Apa | arti | keikutsertaan | salat | Rizieq | Shihab | li> Aksi | 212: | Usai | bicara | langsung | serukan | tangkap | Ahok | li> < | ul>Boy | mengklaim | telah | mengantongi | beragam | memberatkan | tulisan | tangan | hasil | pemantauan | percakapan | p>Dugaan | berkaitan | adanya | rencana | pemanfaatan | massa | menduduki | kantor | kemudian | berencana | pemaksaan | agar | dilakukannya | sidang | istimewa | menuntut | pergantian | seterusnya | p>Boy | menegaskan | menunggu | upaya | terjadi | Ketika | terdeteksi | niatan | inilah | dimainkan | HOTLI | SIMANJUNTAK | Direktur | Lembaga | Bantuan | Hukum | Alghiffari | Aqsa | digun | penguasa | Orde | Baru | alat | membungkam | berekspresi | Tafsir | penguasa< | h2>Direktur | pasal | p>Pasal | tergantung | definisi | ataupun | tafsir | Seringkali | dituduh | karena | ekspresinya | turun | atau | menyampaikan | ekspresi | kepuasan | Penerapan | tepat | melanggar | tambahnya | apabila | memang | memadai | p>Jika | menggulingkan | artian | kekerasan | dalamnya | sabotase | membuat | kaos | apakah | punya | kemampuan | p>Menurut | ahli | pidana | Universitas | Ahyani | Djulfa | mengategorikan | suatu | perbuatan | berdasarkan | niat | permulaan | p>Karena | sesuatu | abstrak | maka | aparat | memandangnya | sudut | pandang | subjektif | p>Jadi | segala | tind | menggambarkan | tentang | dianggap | p>Namun | objektif | dipakai | sisi | Sudut | menimbang | seseorang | pihak | mewujudkan | p>Kedua | sama | Hanya | penegak | tutup | p>Pada | dugaan | pemufakatan | yakni | Staf | Ahli | Panglima | Brigjen | (Purn) | Adityawarman | Thaha | Kepala | Kostrad | Mayjen | Kivlan | Zein | Ketua | Solitas | Sahabat | Cendana | Firza | Huzein | p>Turut | aktivis | politik | calon | wakil | Bupati | Bekasi | Ahmad | Dhani | putri | pertama | Soekarno | Soerkarnoputri | p>Ada | pula | dijerat | Undang | Jamran | Rizal | Kobar | strong> | KUHP< | strong>< | 104< | p>Makar | maksud | membunuh | merampas | kemerdekaan | meniad | Wakil | memerintah | diancam | mati | penjara | seumur | hidup | sementara | paling | lama | puluh | tahun | li>< | ul>Pasal | 105< | p>[Pasal | ditiad | undang | Tahun | 1946 | VIII | butir | 106< | supaya | seluruh | sebagian | wilayah | negara | 107< | lima | belas | li> Para | pemimpin | pengatur | tersebbut | ayat | ol> |

Pasal makar untuk 'bungkam kebebasan berpendapat'?

politik, sri bintang pamungkas, makarImage copyright AP Image caption Sri Bintang Pamungkas pernah dipenjara di era pemerintahan Presiden Suharto atas tuduhan subversif.

Suara Ernalia, istri Sri Bintang Pamungkas, beberapa kali terdengar tercekat. Dia berupaya menjelaskan duduk perkara penangkapan suaminya, tanpa larut dalam kesedihan.

Sudah dua malam Sri Bintang Pamungkas menghabiskan waktu sebagai tahanan kepolisian sejak dibawa dari rumahnya di bilangan Cibubur, Jakarta Timur, pada Jumat (02/11) pagi. Sri Bintang adalah salah satu dari 11 orang yang ditangkap dan dijadikan tersangka oleh kepolisian menjelang doa bersama di kawasan Monas.

"Waktu awal-awal, ketika dibawa ke Markas Brimob, saya tidak dikasih surat apapun. Minta tidak dikasih. Mau foto kopi tidak boleh, difoto menggunakan ponsel juga tidak boleh. Kemarin saya sudah lihat surat penahanannya setelah dibawa ke Polda. Tuduhannya makar, Pasal 107 KUHP," kata Ernalia kepada BBC Indonesia.

Ernalia mengutarakan bahwa tuduhan kepolisian terhadap suaminya didasari oleh pertemuan dengan sejumlah tokoh di sebuah hotel. Tapi, menurut Ernalia, Sri Bintang tidak menghadiri pertemuan itu.

"Kemudian (tuduhan) dialihkan ke waktu (Sri Bintang Pamungkas) ada di orasi di penggusuran," kata Ernalia.

Dalam rekaman video di media Youtube, tampak mantan politikus PPP itu berorasi di bawah jalan tol. Saat itu dia mengatakan bahwa kaum kaya semestinya diberikan pajak tinggi, lalu hasilnya disalurkan ke fakir miskin.

"Pemerintah kita sejak zamannya Suharto sampai hari ini tidak melakukan itu. Apa yang bisa saya simpulkan dari situ? Mereka jahat...Ya harus diturunkan, harus dijatuhkan. Inilah yang perlu kita lakukan pada presiden-presiden yang jahat ini, termasuk Jokowi," kata Sri Bintang Pamungkas.

Ucapan Sri Bintang tersebut, kata Ernalia, adalah hak dia untuk berpendapat dan meminta.

Image copyright EPA Image caption Kepolisian menyatakan sebanyak delapan orang diduga melakukan makar dengan berupaya menggiring para peserta doa bersama di kawasan Silang Monas, 2 Desember lalu, untuk menguasai gedung DPR/MPR.

'Tergesa-gesa'

Secara terpisah, Ratna Sarumpaet menuding Polri ingin tergesa-gesa menangkap dan menjadikannya sebagai tersangka tapi tidak siap dengan unsur-unsur bukti.

"Katanya sudah terpenuhi unsur-unsurnya. Unsur yang mana?" tanya Ratna.

Yusril Ihza Mahendra, selaku kuasa hukum Ratna dan Rachmawati Sukarnoputri, mengatakan apa yang dilakukan kliennya hanyalah sebatas kritikan terhadap pemerintah.

"Kalau sampai pelaksanaan makar, masih jauh. Dan bahwa mereka mengadakan rapat-rapat, pertemuan, mengkritik pemerintah, itu normal-normal saja," kata Yusril Ihza Mahendra, Minggu (04/12) siang.

Perbedaan kritik dan makar

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Boy Rafli Amar, menepis klaim bahwa yang dilakukan 11 orang adalah murni kritik terhadap pemerintah.

"Apakah di alam demokrasi ini tidak boleh orang mengkritik? Ini bukan kritikan. Kritik dengan makar berbeda," tegas Boy.

Boy mengklaim kepolisian telah mengantongi beragam bukti yang memberatkan 11 tersangka, termasuk tulisan tangan dan hasil pemantauan percakapan.

"Dugaan ini berkaitan adanya rencana pemanfaatan massa untuk menduduki kantor DPR RI, kemudian berencana melakukan pemaksaan agar bisa dilakukannya sidang istimewa untuk menuntut pergantian pemerintahan dan seterusnya," kata Boy.

Boy menegaskan bahwa penangkapan tidak perlu menunggu sampai upaya makar telah terjadi. "Ketika terdeteksi adanya niatan itu, inilah yang dimainkan kepolisian."

Image copyright HOTLI SIMANJUNTAK/EPA Image caption Pasal makar dalam KUHP, menurut Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Alghiffari Aqsa, telah digunakan penguasa sejak era Orde Baru sebagai alat untuk membungkam kebebasan berekspresi.

Tafsir penguasa

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Alghiffari Aqsa, mengatakan bahwa pasal makar dalam KUHP telah digunakan sejak era Orde Baru sebagai alat untuk membungkam kebebasan berekspresi.

"Pasal makar itu tergantung dari definisi ataupun tafsir penguasa. Seringkali orang dituduh makar karena ekspresinya meminta pemerintah untuk turun atau menyampaikan ekspresi ketidakpuasan terhadap pemerintah. Penerapan pasal itu tidak tepat, melanggar kebebasan berekspresi," kata Alghiffari.

Pasal makar, tambahnya, bisa saja digunakan apabila memang ada bukti-bukti yang memadai.

"Jika ada bukti-bukti menggulingkan pemerintahan, dalam artian ada kekerasan di dalamnya, ada upaya untuk melakukan sabotase, ada upaya untuk membuat kaos. Tapi apakah orang-orang yang ditangkap punya kemampuan itu?"

Menurut ahli hukum pidana dari Universitas Indonesia, Eva Ahyani Djulfa, hal yang bisa mengategorikan suatu perbuatan sebagai makar berdasarkan pasal 87 KUHP adalah niat dan permulaan pelaksanaan.

Karena niat adalah sesuatu yang abstrak, maka aparat hukum bisa memandangnya menggunakan sudut pandang subjektif.

"Jadi segala tindakan yang menggambarkan tentang niat, itu sudah dianggap sebagai permulaan pelaksanaan," kata Eva.

Namun, ada sudut pandang objektif yang juga bisa dipakai dari sisi hukum. Sudut pandang ini menimbang kemampuan seseorang atau suatu pihak untuk mewujudkan tindakan makar.

"Kedua sudut pandang ini bisa sama-sama digunakan. Hanya saja, tergantung dari penegak hukum," tutup Eva.

Pada Jumat 2 Desember, sebanyak delapan orang ditangkap atas dugaan pemufakatan makar yakni eks Staf Ahli Panglima TNI Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha, mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zein, Ketua Solidaritas Sahabat Cendana Firza Huzein.

Turut ditangkap aktivis politik Ratna Sarumpaet, calon wakil Bupati Bekasi Ahmad Dhani, putri presiden pertama Presiden Soekarno, Rachmawati Soerkarnoputri, Sri Bintang Pamungkas dan Eko.

Ada pula dua orang yang ditangkap dan dijerat Pasal 28 Undang-Undang ITE yakni Jamran dan Rizal Kobar.

Pasal-pasal makar dalam KUHP

Pasal 104

  • Makar dengan maksud untuk membunuh, atau merampas kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil Presiden memerintah, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Pasal 105

[Pasal ini ditiadakan berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 1946, pasal VIII, butir 13.]

Pasal 106

  • Makar dengan maksud supaya seluruh atau sebagian dari wilayah negara, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Pasal 107

  1. Makar dengan maksud untuk menggulingkan pemerintah, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
  2. Para pemimpin dan pengatur makar tersebbut dalam ayat 1, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.
"

| Pasal | makar | untuk | bungkam | kebebasan | berpendapat? | Image | copyright< | span> | caption< | Bintang | Pamungkas | pernah | dipenjara | pemerintahan | Presiden | Suharto | atas | tuduhan | subversif | Suara | Ernalia | istri | beberapa | kali | terdengar | tercekat | berupaya | menjelaskan | duduk | perkara | penangkapan | suaminya | tanpa | larut | dalam | kesedihan | p>Sudah | malam | menghabiskan | waktu | sebagai | tahanan | kepolisian | sejak | dibawa | rumahnya | bilangan | Cibubur | Jakarta | Timur | pada | Jumat | pagi | adalah | salah | satu | orang | yang | ditangkap | dijadikan | tersangka | oleh | menjelang | bersama | kawasan | Monas | p>Waktu | awal | ketika | Markas | Brimob | saya | dikasih | surat | apapun | Minta | foto | kopi | boleh | difoto | menggun | ponsel | juga | Kemarin | lihat | penahanannya | setelah | Polda | Tuduhannya | KUHP | kata | kepada | Indonesia | p>Ernalia | mengutar | bahwa | terhadap | didasari | pertemuan | dengan | sejumlah | tokoh | sebuah | hotel | Tapi | menurut | menghadiri | p>Kemudian | (tuduhan) | dialihkan | (Sri | Pamungkas) | orasi | penggusuran | p>Dalam | rekaman | video | media | Youtube | tampak | mantan | politikus | berorasi | bawah | jalan | Saat | mengat | kaum | kaya | semestinya | diberikan | pajak | tinggi | hasilnya | disalurkan | fakir | miskin | p>Pemerintah | zamannya | sampai | hari | melakukan | simpulkan | situ | Mereka | jahat | harus | diturunkan | dijatuhkan | Inilah | perlu | lakukan | presiden | termasuk | Jokowi | p>Ucapan | tersebut | berpendapat | meminta | EPA< | Kepolisian | menyat | sebanyak | delapan | diduga | menggiring | para | peserta | Silang | Desember | menguasai | gedung | Tergesa | gesa< | h2>Secara | terpisah | Ratna | Sarumpaet | menuding | Polri | ingin | tergesa | gesa | menangkap | menjadikannya | siap | unsur | bukti | p>Katanya | terpenuhi | unsurnya | Unsur | mana | tanya | p>Yusril | Ihza | Mahendra | selaku | kuasa | hukum | Rachmawati | Sukarnoputri | dilakukan | kliennya | hanyalah | sebatas | kritikan | pemerintah | p>Kalau | pelaksanaan | masih | jauh | mengad | rapat | mengkritik | normal | Yusril | Minggu | siang | p>Perbedaan | kritik | makar< | h2>Kepala | Divisi | Humas | Mabes | Rafli | Amar | menepis | klaim | murni | p>Apakah | alam | demokrasi | bukan | Kritik | berbeda | tegas | p>Apa | arti | keikutsertaan | salat | Rizieq | Shihab | li> Aksi | 212: | Usai | bicara | langsung | serukan | tangkap | Ahok | li> < | ul>Boy | mengklaim | telah | mengantongi | beragam | memberatkan | tulisan | tangan | hasil | pemantauan | percakapan | p>Dugaan | berkaitan | adanya | rencana | pemanfaatan | massa | menduduki | kantor | kemudian | berencana | pemaksaan | agar | dilakukannya | sidang | istimewa | menuntut | pergantian | seterusnya | p>Boy | menegaskan | menunggu | upaya | terjadi | Ketika | terdeteksi | niatan | inilah | dimainkan | HOTLI | SIMANJUNTAK | Direktur | Lembaga | Bantuan | Hukum | Alghiffari | Aqsa | digun | penguasa | Orde | Baru | alat | membungkam | berekspresi | Tafsir | penguasa< | h2>Direktur | pasal | p>Pasal | tergantung | definisi | ataupun | tafsir | Seringkali | dituduh | karena | ekspresinya | turun | atau | menyampaikan | ekspresi | kepuasan | Penerapan | tepat | melanggar | tambahnya | apabila | memang | memadai | p>Jika | menggulingkan | artian | kekerasan | dalamnya | sabotase | membuat | kaos | apakah | punya | kemampuan | p>Menurut | ahli | pidana | Universitas | Ahyani | Djulfa | mengategorikan | suatu | perbuatan | berdasarkan | niat | permulaan | p>Karena | sesuatu | abstrak | maka | aparat | memandangnya | sudut | pandang | subjektif | p>Jadi | segala | tind | menggambarkan | tentang | dianggap | p>Namun | objektif | dipakai | sisi | Sudut | menimbang | seseorang | pihak | mewujudkan | p>Kedua | sama | Hanya | penegak | tutup | p>Pada | dugaan | pemufakatan | yakni | Staf | Ahli | Panglima | Brigjen | (Purn) | Adityawarman | Thaha | Kepala | Kostrad | Mayjen | Kivlan | Zein | Ketua | Solitas | Sahabat | Cendana | Firza | Huzein | p>Turut | aktivis | politik | calon | wakil | Bupati | Bekasi | Ahmad | Dhani | putri | pertama | Soekarno | Soerkarnoputri | p>Ada | pula | dijerat | Undang | Jamran | Rizal | Kobar | strong> | KUHP< | strong>< | 104< | p>Makar | maksud | membunuh | merampas | kemerdekaan | meniad | Wakil | memerintah | diancam | mati | penjara | seumur | hidup | sementara | paling | lama | puluh | tahun | li>< | ul>Pasal | 105< | p>[Pasal | ditiad | undang | Tahun | 1946 | VIII | butir | 106< | supaya | seluruh | sebagian | wilayah | negara | 107< | lima | belas | li> Para | pemimpin | pengatur | tersebbut | ayat | ol> |