Showing posts sorted by relevance for query kekerasan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query kekerasan. Sort by date Show all posts

Tuesday, December 6, 2016

Pengamat: Perbuatan Makar tak Harus Ada Kekerasan atau Kerusuhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah pihak mengkritisi tuduhan makar aparat kepolisian terhadap sejumlah aktivis, purnawirawan TNI dan kader parpol. Hal ini karena penggunaan istilah makar dinilai berlebihan kepada 11 aktivis tersebut, lantaran perbuatan para tersangka dinilai tidak masuk dalam unsur makar.

Mabes Polri sebelumnya menyatakan dugaan perbuatan makar oleh para aktivis telah dimulai dengan pemufakatan jahat para tersangka untuk merencanakan makar. Yakni melakukan sejumlah pertemuan, sebagai upaya menduduki gedung DPR RI meski tanpa pasukan maupun senjata.

Hal ini pun menimbulkan pertanyaan publik, apakah perbuatan kesebelas orang tersebut sudah masuk dalam kategori makar. Adapun kepada para tersangka sendiri dijerat pasal 107 juncto pasal 110 juncto pasal 87 KUHP.

Menurut Pakar Hukum Pidana dari Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji, sebuah perbuatan dikategorikan makar sebagaimana disebut dalam pasal 87 KUHP, dalam doktrin dan yurisprudensinya memperluas arti makar. Yakni tahapan persiapan yang kemudian dibuktikan dengan adanya niat (mens rea) berupa persiapan atau perbuatan Makar.

"Mengacu pasal ini, tindakan makar dapat terjadi pada tahapan yg dinamakan voorbereidigings handeling atau persiapan perbuatan sifatnya, dapat dipidana," ujar Indriyanto saat dihubungi di Jakarta, Selasa (6/12).

Karenanya, dalam kasus 11 tokoh tersebut, Indriyanto menilai penyidik menggunakan pasal tersebut dengan melihat tahapan persiapan perbuatan para tokoh, yang dianggap sebagai upaya merencanakan percobaan makar. Seperti upaya penggulingan Pemerintahan yang sah, yang dalam pasal tersebut sudah memenuhi unsur niat.

"Misalnya saja adanya alat bukti berupa undangan dan saksi berupa penyebaran undangan mengganti pemerintahan sah dan membentuk pemerintah transisi ini ini telah memenuhi unsur niat atau faktor subyektif negatif dari mens rea untuk menggulingkan Pemerintahan yang sah pada tahapan sudah terpenuhi," ujar Indriyanto.

Ia juga menyebut, perbuatan makar juga diartikan tidak harus ada pelaksanaan perbuatan, yakni cukup dengan permulaan pelaksanaan sudah terpenuhi. Menurutnya pelaksanaan sudah dapat dipidana jika telah ada undangan, orasi untuk mengganti pemerintahan yang sah.

Ia juga menilai, perbuatan makar tidak perlu menunggu ada akibat dari perbuatan tersebut tersebut misalkan kerusuhan maupun ancaman kekerasan. "Ini tidak perlu ada akibatnya berupa kerusuhan dalam masyarakat, karena ini delik formil, karena itu percobaan makar sudah dapat dipidana. Ketentuan makar tidak harus ada kekerasan atau ancaman kekerasan dan bukan dalam pemahaman pemberontakan fisik," ujar Guru Besar Hukum Pidana Universitas Krisnadwipayana tersebut.

"

| Pengamat: | Perbuatan | Makar | Harus | Kekerasan | atau | Kerusuhan | REPUBLIKA | JAKARTA | Sejumlah | pihak | mengkritisi | tuduhan | makar | aparat | kepolisian | terhadap | sejumlah | aktivis | purnawirawan | kader | parpol | karena | penggunaan | istilah | dinilai | berlebihan | kepada | tersebut | lantaran | perbuatan | para | tersangka | masuk | dalam | unsur | p> Mabes | Polri | senya | menyat | dugaan | oleh | telah | dimulai | dengan | pemufakatan | jahat | untuk | merencan | Yakni | melakukan | pertemuan | sebagai | upaya | menduduki | gedung | meski | tanpa | pasukan | maupun | senjata | p> Hal | menimbulkan | pertanyaan | publik | apakah | kesebelas | orang | kategori | Adapun | sendiri | dijerat | pasal | juncto | KUHP | p> Menurut | Pakar | Hukum | Pidana | Universitas | Indonesia | Indriyanto | Seno | Adji | sebuah | dikategorikan | sebagaimana | disebut | doktrin | yurisprudensinya | memperluas | arti | tahapan | persiapan | yang | kemudian | dibuktikan | adanya | niat | (mens | rea) | berupa | p> Mengacu | tind | dapat | terjadi | pada | dinam | voorbereidigings | handeling< | sifatnya | dipidana | ujar | saat | dihubungi | Jakarta | Selasa | p> Karenanya | kasus | tokoh | menilai | penyidik | menggun | melihat | dianggap | percobaan | Seperti | penggulingan | Pemerintahan | memenuhi | p> Misalnya | alat | bukti | undangan | saksi | penyebaran | mengganti | pemerintahan | membentuk | pemerintah | transisi | faktor | subyektif | negatif | mens | menggulingkan | terpenuhi | p> Ia | juga | menyebut | diartikan | harus | pelaksanaan | yakni | cukup | permulaan | Menurutnya | jika | orasi | perlu | menunggu | misalkan | kerusuhan | ancaman | kekerasan | masyarakat | delik | formil | Ketentuan | bukan | pemahaman | pemberont | fisik | Guru | Besar | Krisnadwipayana | p> |

Pengamat: Perbuatan Makar tak Harus Ada Kekerasan atau Kerusuhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah pihak mengkritisi tuduhan makar aparat kepolisian terhadap sejumlah aktivis, purnawirawan TNI dan kader parpol. Hal ini karena penggunaan istilah makar dinilai berlebihan kepada 11 aktivis tersebut, lantaran perbuatan para tersangka dinilai tidak masuk dalam unsur makar.

Mabes Polri sebelumnya menyatakan dugaan perbuatan makar oleh para aktivis telah dimulai dengan pemufakatan jahat para tersangka untuk merencanakan makar. Yakni melakukan sejumlah pertemuan, sebagai upaya menduduki gedung DPR RI meski tanpa pasukan maupun senjata.

Hal ini pun menimbulkan pertanyaan publik, apakah perbuatan kesebelas orang tersebut sudah masuk dalam kategori makar. Adapun kepada para tersangka sendiri dijerat pasal 107 juncto pasal 110 juncto pasal 87 KUHP.

Menurut Pakar Hukum Pidana dari Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji, sebuah perbuatan dikategorikan makar sebagaimana disebut dalam pasal 87 KUHP, dalam doktrin dan yurisprudensinya memperluas arti makar. Yakni tahapan persiapan yang kemudian dibuktikan dengan adanya niat (mens rea) berupa persiapan atau perbuatan Makar.

"Mengacu pasal ini, tindakan makar dapat terjadi pada tahapan yg dinamakan voorbereidigings handeling atau persiapan perbuatan sifatnya, dapat dipidana," ujar Indriyanto saat dihubungi di Jakarta, Selasa (6/12).

Karenanya, dalam kasus 11 tokoh tersebut, Indriyanto menilai penyidik menggunakan pasal tersebut dengan melihat tahapan persiapan perbuatan para tokoh, yang dianggap sebagai upaya merencanakan percobaan makar. Seperti upaya penggulingan Pemerintahan yang sah, yang dalam pasal tersebut sudah memenuhi unsur niat.

"Misalnya saja adanya alat bukti berupa undangan dan saksi berupa penyebaran undangan mengganti pemerintahan sah dan membentuk pemerintah transisi ini ini telah memenuhi unsur niat atau faktor subyektif negatif dari mens rea untuk menggulingkan Pemerintahan yang sah pada tahapan sudah terpenuhi," ujar Indriyanto.

Ia juga menyebut, perbuatan makar juga diartikan tidak harus ada pelaksanaan perbuatan, yakni cukup dengan permulaan pelaksanaan sudah terpenuhi. Menurutnya pelaksanaan sudah dapat dipidana jika telah ada undangan, orasi untuk mengganti pemerintahan yang sah.

Ia juga menilai, perbuatan makar tidak perlu menunggu ada akibat dari perbuatan tersebut tersebut misalkan kerusuhan maupun ancaman kekerasan. "Ini tidak perlu ada akibatnya berupa kerusuhan dalam masyarakat, karena ini delik formil, karena itu percobaan makar sudah dapat dipidana. Ketentuan makar tidak harus ada kekerasan atau ancaman kekerasan dan bukan dalam pemahaman pemberontakan fisik," ujar Guru Besar Hukum Pidana Universitas Krisnadwipayana tersebut.

"

| Pengamat: | Perbuatan | Makar | Harus | Kekerasan | atau | Kerusuhan | REPUBLIKA | JAKARTA | Sejumlah | pihak | mengkritisi | tuduhan | makar | aparat | kepolisian | terhadap | sejumlah | aktivis | purnawirawan | kader | parpol | karena | penggunaan | istilah | dinilai | berlebihan | kepada | tersebut | lantaran | perbuatan | para | tersangka | masuk | dalam | unsur | p> Mabes | Polri | senya | menyat | dugaan | oleh | telah | dimulai | dengan | pemufakatan | jahat | untuk | merencan | Yakni | melakukan | pertemuan | sebagai | upaya | menduduki | gedung | meski | tanpa | pasukan | maupun | senjata | p> Hal | menimbulkan | pertanyaan | publik | apakah | kesebelas | orang | kategori | Adapun | sendiri | dijerat | pasal | juncto | KUHP | p> Menurut | Pakar | Hukum | Pidana | Universitas | Indonesia | Indriyanto | Seno | Adji | sebuah | dikategorikan | sebagaimana | disebut | doktrin | yurisprudensinya | memperluas | arti | tahapan | persiapan | yang | kemudian | dibuktikan | adanya | niat | (mens | rea) | berupa | p> Mengacu | tind | dapat | terjadi | pada | dinam | voorbereidigings | handeling< | sifatnya | dipidana | ujar | saat | dihubungi | Jakarta | Selasa | p> Karenanya | kasus | tokoh | menilai | penyidik | menggun | melihat | dianggap | percobaan | Seperti | penggulingan | Pemerintahan | memenuhi | p> Misalnya | alat | bukti | undangan | saksi | penyebaran | mengganti | pemerintahan | membentuk | pemerintah | transisi | faktor | subyektif | negatif | mens | menggulingkan | terpenuhi | p> Ia | juga | menyebut | diartikan | harus | pelaksanaan | yakni | cukup | permulaan | Menurutnya | jika | orasi | perlu | menunggu | misalkan | kerusuhan | ancaman | kekerasan | masyarakat | delik | formil | Ketentuan | bukan | pemahaman | pemberont | fisik | Guru | Besar | Krisnadwipayana | p> |

Friday, December 2, 2016

Benarkah Sri Bintang Cs Makar? Begini Analisis Pakar Hukum

Jum'at, 02 Desember 2016 | 11:12 WIB

Benarkah Sri Bintang Cs Makar? Begini Analisis Pakar Hukum

Suasana penangkapan aktivis Sri Bintang. Kredit: Istimewa

TEMPO.CO, Jakarta - Pakar hukum pidana Universitas Indonesia Chudry Sitompul berpendapat para aktivis yang ditangkap Polda Metro Jaya belum bisa dibilang makar. Menurut dia, perbuatan bisa disebut makar jika ada perbuatan persiapan.

"Saya kira mereka belum memenuhi syarat itu karena belum ada perbuatan permulaan," kata dia ketika dihubungi Tempo, Jumat, 2 Desember 2016.

Makar menurut Chudry adalah tindakan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Disebut makar jika dalam proses pemakzulan itu menggunakan kekerasan fisik atau senjata.

Chudry mencontohkan makar adalah seperti gerakan Aceh Merdeka dan organisasi papua merdeka. Pada dua kelompok itu sangat jelas bahwa mereka ingin lepas dari Indonesia dan menggunakan senjata.

Baca: Penangkapan Aktivis, Pengacara Dilarang Masuk Markas Brimob

Tindakan ingin lepas dari Indonesia atau ingin menurunkan Presiden tak bisa disebut makar jika melalui proses hukum yang sesuai mekanisme. "Demokrasi misalnya melalui mekanisme hukum, kalau sekarang dengar pendapat di DPR, MK. Kalau tidak melalui proses itu dianggap makar," ujar Chudry.

Hari ini Polda Metro Jaya menangkap sejumlah aktivis yang diduga melakukan makar. Di antaranya adalah Sri Bintang Pamungkas, Ratna Sarumpaet, Rachamawati Soekarno Putri, Kivlan Zein, dan Ahmad Dhani. Mereka kini sedang diperiksa di Mako Brimob Kelapa Dua.

Baca:Beredar 10 Nama Aktivis yang Ditangkap Karena Dugaan Makar

Chudry mengataka polisi harus membuktikan bahwa para aktivis itu sudah melakukan persiapan untuk makar. "Ribuan orang dengan tangan kosong meminta presiden turun apakah itu sudah kita katakan bisa menggulingkan? Itu kan bisa ditindak saja sama polisi," katanya.

Menurut Chudry, jika para aktivis itu terbukti makar, mereka terancam disangka melanggar Pasal 107 atau Pasal 108 KUH Pidana. Hukuman pidana yang mengancam adalah maksimal 20 tahun penjara.

MAYA AYU PUSPITASARI

Baca:
Aktivis Ditangkap, Jokowi: Tanya Kapolri
>
Buya Syafii Maarif: Penjarakan Ahok Selama 400 Tahun

"

| Benarkah | Bintang | Makar? | Begini | Analisis | Pakar | Hukum | Jumat | Desember | 2016 | 11:12 | WIB< | p> < | div> Suasana | penangkapan | aktivis | Kredit: | Istimewa< | p> < | div> TEMPO | strong>< | span> | Jakarta< | hukum | pidana | Universitas | Indonesia | Chudry | Sitompul | berpendapat | para | yang | ditangkap | Polda | Metro | Jaya | belum | bisa | dibilang | makar | Menurut | perbuatan | disebut | jika | persiapan | p>Saya | kira | mereka | memenuhi | syarat | karena | permulaan | kata | ketika | dihubungi | Tempo | p>Makar | menurut | adalah | tindakan | untuk | menggulingkan | pemerintahan | Disebut | dalam | proses | pemakzulan | menggunakan | kekerasan | fisik | atau | senjata | p>Chudry | mencontohkan | seperti | gerakan | Aceh | Merdeka | organisasi | papua | merdeka | Pada | kelompok | sangat | jelas | bahwa | ingin | lepas | dari | p>Baca: | Penangkapan | Aktivis | Pengacara | Dilarang | Masuk | Markas | Brimob< | p>Tindakan | menurunkan | Presiden | melalui | sesuai | mekanisme | Demokrasi | misalnya | kalau | sekarang | dengar | pendapat | Kalau | tidak | dianggap | ujar | p>Hari | menangkap | sejumlah | diduga | melakukan | antaranya | Pamungkas | Ratna | Sarumpaet | Rachamawati | Soekarno | Putri | Kivlan | Zein | Ahmad | Dhani | Mereka | kini | sedang | diperiksa | Mako | Brimob | Kelapa | p>Baca:Beredar | Nama | Ditangkap | Karena | Dugaan | Makar< | p> Chudry | mengataka | polisi | harus | membuktikan | sudah | Ribuan | orang | dengan | tangan | kosong | meminta | presiden | turun | apakah | kita | katakan | ditindak | saja | sama | katanya | p>Menurut | terbukti | terancam | disangka | melanggar | Pasal | Pidana | Hukuman | mengancam | maksimal | tahun | penjara | p>MAYA | PUSPITASARI< | p>Baca:Aktivis | Jokowi: | Tanya | Kapolri> | Buya | Syafii | Maarif: | Penjarakan | Ahok | Selama | Tahun< | p> |

Tuesday, December 6, 2016

Kepala Polri: Dugaan Makar Diperoleh dari Operasi Intelijen

Senin, 05 Desember 2016 | 17:45 WIB

Kepala Polri: Dugaan Makar Diperoleh dari Operasi Intelijen

Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Mako Brimob Kelapa Dua usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar di Depok, Jawa Barat, Jumat malam, 2 Desember 2016. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan penangkapan 11 aktivis yang diduga melakukan pemufakatan jahat untuk makar terhadap pemerintah diperoleh melalui aktivitas intelijen kepolisian. Aktivitas mereka, kata Tito, sudah terpantau cukup intensif.

Menurut Tito, gerakan politik itu berencana memanfaatkan massa yang akan dikerahkan untuk menduduki gedung Dewan Perwakilan Rakyat setelah Aksi Bela Islam III. "Kami sudah dapat dari intelijen-intelijen kami. Ada indikasi pemufakatan jahat menuju makar," kata Tito di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 5 Desember 2016.

Kelompok itu, menurut Tito, akan memanfaatkan kumpulan massa untuk memaksa parlemen mengadakan Sidang Umum Istimewa yang berujung pada pemakzulan terhadap pemerintahan yang sah. Beberapa isu yang digunakan, seperti pengembalian Undang-undang Dasar 1945 yang asli.

Tito mengatakan upaya makar itu tidak berkaitan dengan Aksi Bela Islam yang menuntut proses hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang terjerat kasus duga menistakan agama. Menurut Tito, menyampaikan kritik terhadap pemerintah adalah hal yang sah jika disampaikan sesuai aturan. Termasuk untuk menyampaikan kritik melalui DPR. "Tetapi menduduki DPR secara paksa dan kekerasan apapun juga alasannya adalah inkonstitusional," kata dia.

Sebelum aksi 2 Desember berlangsung Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap sejumlah aktivis terkait dengan dugaan makar. Penangkapan dilakukan di beberapa tempat terpisah pada pagi hari. Sejumlah tokoh seperti Rachmawati Soekarnoputri hingga Sri Bintang Pamungkas ditangkap bersama sembilan orang lain.

Tito menjelaskan dari sebelas orang yang ditangkap, tiga di antaranya masih ditahan kepolisian. Sementara itu, delapan orang telah dibebaskan dengan berbagai pertimbangan, seperti alasan kesehatan dan alat bukti masih didalami kepolisian.

Kuasa hukum Rachmawati Soekarnoputri, Yusril Ihza Mahendra, mempermasalahkan penetapan kliennya sebagai tersangka dalam kasus dugaan makar. Ia menilai polisi tak memiliki bukti yang kuat untuk menjerat kliennya.

"Seharusnya polisi bisa lebih berhati-hati dalam penangkapan ini," kata Yusril, akhir pekan lalu. Menurut Yusril, para tersangka hanya bermaksud mengkritik pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dianggap kurang memuaskan. Kata dia, hal ini wajar dan diatur dalam Undang-Undang tentang Penyampaian Pendapat. "Itu tidak dilarang."

ARKHELAUS W.

"

| Kepala | Polri: | Dugaan | Makar | Diperoleh | Operasi | Intelijen | Senin | Desember | 2016 | 17:45 | WIB< | p> < | div> Rachmawati | Soekarnoputri | meninggalkan | gedung | Mako | Brimob | Kelapa | usai | menjalani | pemeriksaan | terkait | kasus | dugaan | makar | Depok | Jawa | Barat | Jumat | malam | ANTARA | Indrianto | Suwarso< | p> < | div> TEMPO | strong>< | span> | Jakarta< | Kepolisian | Jenderal | Tito | Karnavian | mengat | penangkapan | aktivis | yang | diduga | melakukan | pemufakatan | jahat | untuk | terhadap | pemerintah | diperoleh | aktivitas | intelijen | kepolisian | Aktivitas | kata | terpantau | cukup | intensif | p>Menurut | politik | berencana | memanfaatkan | massa | dikerahkan | menduduki | Dewan | Perwakilan | Rakyat | setelah | Aksi | Bela | Islam | Kami | dapat | kami | indikasi | menuju | Kompleks | Parlemen | Senayan | Jakarta | p>Kelompok | menurut | kumpulan | memaksa | parlemen | mengad | Sidang | Umum | Istimewa | berujung | pada | pemakzulan | pemerintahan | Beberapa | digun | seperti | pengembalian | Undang | undang | Dasar | 1945 | asli | p>Tito | upaya | berkaitan | dengan | menuntut | proses | hukum | Basuki | Tjahaja | Purnama | alias | Ahok | terjerat | duga | menist | agama | Menurut | menyampaikan | kritik | adalah | jika | disampaikan | sesuai | aturan | Termasuk | secara | paksa | kekerasan | apapun | juga | alasannya | inkonstitusional | p>Se | aksi | berlangsung | Daerah | Metro | Jaya | menangkap | sejumlah | Penangkapan | dilakukan | beberapa | tempat | terpisah | pagi | hari | Sejumlah | tokoh | Rachmawati | Bintang | Pamungkas | ditangkap | bersama | sembilan | orang | lain | menjelaskan | sebelas | tiga | antaranya | masih | ditahan | Sementara | delapan | telah | dibebaskan | berbagai | pertimbangan | alasan | kesehatan | alat | bukti | didalami | p>Kuasa | Yusril | Ihza | Mahendra | mempermasalahkan | penetapan | kliennya | sebagai | tersangka | dalam | menilai | polisi | memiliki | kuat | menjerat | p>Seharusnya | lebih | berhati | hati | akhir | pekan | para | hanya | bermaksud | mengkritik | Presiden | Joko | Widodo | dianggap | kurang | memuaskan | Kata | wajar | diatur | tentang | Penyampaian | Pendapat | dilarang | p>ARKHELAUS | p> |

Kepala Polri: Dugaan Makar Diperoleh dari Operasi Intelijen

Senin, 05 Desember 2016 | 17:45 WIB

Kepala Polri: Dugaan Makar Diperoleh dari Operasi Intelijen  

Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Mako Brimob Kelapa Dua usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar di Depok, Jawa Barat, Jumat malam, 2 Desember 2016. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan penangkapan 11 aktivis yang diduga melakukan pemufakatan jahat untuk makar terhadap pemerintah diperoleh melalui aktivitas intelijen kepolisian. Aktivitas mereka, kata Tito, sudah terpantau cukup intensif.

Menurut Tito, gerakan politik itu berencana memanfaatkan massa yang akan dikerahkan menduduki gedung Dewan Perwakilan Rakyat setelah Aksi Bela Islam III. "Kami sudah dapat dari intelijen-intelijen kami. Ada indikasi pemufakatan jahat menuju makar," kata Tito di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 5 Desember 2016. 

Kelompok itu, menurut Tito, akan memanfaatkan massa untuk memaksa parlemen mengadakan Sidang Umum Istimewa yang berujung pada pemakzulan terhadap pemerintahan yang sah. Salah satu isu yang digunakan adalah pengembalian Undang-Undang Dasar 1945 yang asli.

Tito mengatakan upaya makar tidak berkaitan dengan Aksi Bela Islam yang menuntut proses hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang terjerat kasus dugaan menistakan agama. Menurut Tito, menyampaikan kritik terhadap pemerintah adalah hal yang sah jika disampaikan sesuai dengan aturan, termasuk untuk menyampaikan kritik melalui DPR. "Tapi menduduki DPR secara paksa dan kekerasan, apa pun alasannya, adalah inkonstitusional," katanya.

Sebelum aksi 2 Desember berlangsung, Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap sejumlah aktivis terkait dengan dugaan makar. Penangkapan dilakukan di beberapa tempat terpisah pada pagi hari. Sejumlah tokoh, seperti Rachmawati Soekarnoputri dan Sri Bintang Pamungkas, ditangkap bersama sembilan orang lain.

Tito menjelaskan, dari sebelas orang yang ditangkap, tiga di antaranya masih ditahan kepolisian. Sementara itu, delapan orang telah dibebaskan dengan berbagai pertimbangan, seperti alasan kesehatan dan alat bukti masih didalami kepolisian.

Kuasa hukum Rachmawati Sukarnoputri, Yusril Ihza Mahendra, mempermasalahkan penetapan kliennya sebagai tersangka dalam kasus dugaan makar. Ia menilai polisi tak memiliki bukti yang kuat untuk menjerat kliennya. 

"Seharusnya polisi bisa lebih berhati-hati dalam penangkapan ini," kata Yusril, akhir pekan lalu. Menurut dia, para tersangka hanya bermaksud mengkritik pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dianggap kurang memuaskan. Kata dia, hal ini wajar dan diatur dalam Undang-Undang tentang Penyampaian Pendapat. "Itu tidak dilarang."

ARKHELAUS W.

"

| Kepala | Polri: | Dugaan | Makar | Diperoleh | Operasi | Intelijen | Senin | Desember | 2016 | 17:45 | WIB< | p> < | div> Rachmawati | Soekarnoputri | meninggalkan | gedung | Mako | Brimob | Kelapa | usai | menjalani | pemeriksaan | terkait | kasus | dugaan | makar | Depok | Jawa | Barat | Jumat | malam | ANTARA | Indrianto | Suwarso< | p> < | div> TEMPO | strong> |  Jakarta< | strong>  | Kepolisian | Jenderal | Tito | Karnavian | mengat | penangkapan | aktivis | yang | diduga | melakukan | pemufakatan | jahat | untuk | terhadap | pemerintah | diperoleh | aktivitas | intelijen | kepolisian | Aktivitas | kata | terpantau | cukup | intensif | p>Menurut | politik | berencana | memanfaatkan | massa | dikerahkan | menduduki | Dewan | Perwakilan | Rakyat | setelah | Aksi | Bela | Islam | Kami | dapat | kami | indikasi | menuju | Kompleks | Parlemen | Senayan | Jakarta | p>Kelompok | menurut | memaksa | parlemen | mengad | Sidang | Umum | Istimewa | berujung | pada | pemakzulan | pemerintahan | Salah | satu | digun | adalah | pengembalian | Undang | Dasar | 1945 | asli | p>Tito | upaya | berkaitan | dengan | menuntut | proses | hukum | Basuki | Tjahaja | Purnama | alias | Ahok | terjerat | menist | agama | Menurut | menyampaikan | kritik | jika | disampaikan | sesuai | aturan | termasuk | Tapi | secara | paksa | kekerasan | alasannya | inkonstitusional | katanya | p>Se | aksi | berlangsung | Daerah | Metro | Jaya | menangkap | sejumlah | Penangkapan | dilakukan | beberapa | tempat | terpisah | pagi | hari | Sejumlah | tokoh | seperti | Rachmawati | Bintang | Pamungkas | ditangkap | bersama | sembilan | orang | lain | menjelaskan | sebelas | tiga | antaranya | masih | ditahan | Sementara | delapan | telah | dibebaskan | berbagai | pertimbangan | alasan | kesehatan | alat | bukti | didalami | p>Kuasa | Sukarnoputri | Yusril | Ihza | Mahendra | mempermasalahkan | penetapan | kliennya | sebagai | tersangka | dalam | menilai | polisi | memiliki | kuat | menjerat | p>Seharusnya | lebih | berhati | hati | akhir | pekan | para | hanya | bermaksud | mengkritik | Presiden | Joko | Widodo | dianggap | kurang | memuaskan | Kata | wajar | diatur | tentang | Penyampaian | Pendapat | dilarang | p>ARKHELAUS | strong>< | p> |

Friday, December 2, 2016

Benarkah Sri Bintang Cs Makar? Begini Analisis Pakar Hukum

Jum'at, 02 Desember 2016 | 11:12 WIB

Benarkah Sri Bintang Cs Makar? Begini Analisis Pakar Hukum

Suasana penangkapan aktivis Sri Bintang. Kredit: Istimewa

TEMPO.CO, Jakarta - Pakar hukum pidana Universitas Indonesia Chudry Sitompul berpendapat para aktivis yang ditangkap Polda Metro Jaya belum bisa dibilang makar. Menurut dia, perbuatan bisa disebut makar jika ada perbuatan persiapan.

"Saya kira mereka belum memenuhi syarat itu karena belum ada perbuatan permulaan," kata dia ketika dihubungi Tempo, Jumat, 2 Desember 2016.

Makar menurut Chudry adalah tindakan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Disebut makar jika dalam proses pemakzulan itu menggunakan kekerasan fisik atau senjata.

Chudry mencontohkan makar adalah seperti gerakan Aceh Merdeka dan organisasi papua merdeka. Pada dua kelompok itu sangat jelas bahwa mereka ingin lepas dari Indonesia dan menggunakan senjata.

Baca: Penangkapan Aktivis, Pengacara Dilarang Masuk Markas Brimob

Tindakan ingin lepas dari Indonesia atau ingin menurunkan Presiden tak bisa disebut makar jika melalui proses hukum yang sesuai mekanisme. "Demokrasi misalnya melalui mekanisme hukum, kalau sekarang dengar pendapat di DPR, MK. Kalau tidak melalui proses itu dianggap makar," ujar Chudry.

Hari ini Polda Metro Jaya menangkap sejumlah aktivis yang diduga melakukan makar. Di antaranya adalah Sri Bintang Pamungkas, Ratna Sarumpaet, Rachamawati Soekarno Putri, Kivlan Zein, dan Ahmad Dhani. Mereka kini sedang diperiksa di Mako Brimob Kelapa Dua.

Baca:Beredar 10 Nama Aktivis yang Ditangkap Karena Dugaan Makar

Chudry mengataka polisi harus membuktikan bahwa para aktivis itu sudah melakukan persiapan untuk makar. "Ribuan orang dengan tangan kosong meminta presiden turun apakah itu sudah kita katakan bisa menggulingkan? Itu kan bisa ditindak saja sama polisi," katanya.

Menurut Chudry, jika para aktivis itu terbukti makar, mereka terancam disangka melanggar Pasal 107 atau Pasal 108 KUH Pidana. Hukuman pidana yang mengancam adalah maksimal 20 tahun penjara.

MAYA AYU PUSPITASARI

Baca:
Aktivis Ditangkap, Jokowi: Tanya Kapolri
>
Buya Syafii Maarif: Penjarakan Ahok Selama 400 Tahun

"

| Benarkah | Bintang | Makar? | Begini | Analisis | Pakar | Hukum | Jumat | Desember | 2016 | 11:12 | WIB< | p> < | div> Suasana | penangkapan | aktivis | Kredit: | Istimewa< | p> < | div> TEMPO | strong>< | span> | Jakarta< | hukum | pidana | Universitas | Indonesia | Chudry | Sitompul | berpendapat | para | yang | ditangkap | Polda | Metro | Jaya | belum | bisa | dibilang | makar | Menurut | perbuatan | disebut | jika | persiapan | p>Saya | kira | mereka | memenuhi | syarat | karena | permulaan | kata | ketika | dihubungi | Tempo | p>Makar | menurut | adalah | tindakan | untuk | menggulingkan | pemerintahan | Disebut | dalam | proses | pemakzulan | menggunakan | kekerasan | fisik | atau | senjata | p>Chudry | mencontohkan | seperti | gerakan | Aceh | Merdeka | organisasi | papua | merdeka | Pada | kelompok | sangat | jelas | bahwa | ingin | lepas | dari | p>Baca: | Penangkapan | Aktivis | Pengacara | Dilarang | Masuk | Markas | Brimob< | p>Tindakan | menurunkan | Presiden | melalui | sesuai | mekanisme | Demokrasi | misalnya | kalau | sekarang | dengar | pendapat | Kalau | tidak | dianggap | ujar | p>Hari | menangkap | sejumlah | diduga | melakukan | antaranya | Pamungkas | Ratna | Sarumpaet | Rachamawati | Soekarno | Putri | Kivlan | Zein | Ahmad | Dhani | Mereka | kini | sedang | diperiksa | Mako | Brimob | Kelapa | p>Baca:Beredar | Nama | Ditangkap | Karena | Dugaan | Makar< | p> Chudry | mengataka | polisi | harus | membuktikan | sudah | Ribuan | orang | dengan | tangan | kosong | meminta | presiden | turun | apakah | kita | katakan | ditindak | saja | sama | katanya | p>Menurut | terbukti | terancam | disangka | melanggar | Pasal | Pidana | Hukuman | mengancam | maksimal | tahun | penjara | p>MAYA | PUSPITASARI< | p>Baca:Aktivis | Jokowi: | Tanya | Kapolri> | Buya | Syafii | Maarif: | Penjarakan | Ahok | Selama | Tahun< | p> |

Monday, December 5, 2016

Mengurai Strategi Makar 212 - News Liputan6.com

Tito mengatakan, berdasarkan informasi dari intelijen, ada komunikasi yang intens antara para pelaku makar dengan demonstran 2 Desember. Rencananya, kelompok tersebut akan mengarahkan ratusan ribu massa aksi Bela Islam Jilid III ke gedung parlemen untuk menduduki MPR/DPR.

"Silakan jika datang ke DPR sampaikan aspirasi ke komisi masing-masing. Tapi duduki DPR secara paksa, kekerasan, apapun alasannya, itu inkonstitusional. Kami melihat gerakan itu," ungkap dia.

Sebab itu, Kapolri jauh-jauh hari menyebut ada kelompok makar yang berencana mendompleng massa Aksi Bela Islam. Namun, masyarakat salah paham dan menganggap pernyataan itu mengarah ke GNPF MUI.

"Kami tahu Anda (pelaku makar), kira-kira begitu. Tolong hentikan, jangan manfatkan massa GNPF yang murni ingin proses hukum terhadap saudara Basuki. Polri komit untuk proses hukum itu sudah kita buktikan," jelas Tito.

Untuk itu, Polri pun membangun dialog dengan massa GNPF MUI dan sejumlah tokoh masyakarat. Hasilnya, jelas demonstran Bela Islam Jilid III hanya membawa satu isu yakni penanganan perkara Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

"Kami bangun dialog dengan GNPF dalam rangka tuntutan Basuki atau melakukan ikut dalam upaya duduki DPR, kemudian agenda politik lain? Mereka menyatakan komit, tidak. Kami putusannya satu isu, proses hukum," beber dia.

Beruntungnya, GNPF MUI akhirnya tidak keras hati dan mau memindahkan agendanya yang semula gelar sajadah di Jalan Sudirman-Thamrin ke Monumen Nasional atau Monas.

"Kalau begitu, jangan gunakan Jalan Sudirman-Thamrin. Kalau mereka gunakan Jalan Sudirman-Thamrin, dengan massa yang begitu besar, ekornya ada di DPR/MPR sampai Semanggi, Patung Senayan, belok dia ke depan Hotel Mulia dan seterusnya. Sampai ke belakang DPR, berikutnya naik Semanggi dan pelintir sedikit saja. Mudah sekali jumlah massa besar, mudah sekali (ke DPR)," beber Tito.

3 dari 4 halaman


"

| Mengurai | Strategi | Makar | News | Liputan6.com | Tito | mengat | berdasarkan | informasi | intelijen | komunikasi | yang | intens | antara | para | pelaku | makar | dengan | demonstran | Desember | Rencananya | kelompok | tersebut | mengarahkan | ratusan | ribu | massa | aksi | Bela | Islam | Jilid | gedung | parlemen | untuk | menduduki | p> Sil | jika | datang | sampaikan | aspirasi | komisi | masing | Tapi | duduki | secara | paksa | kekerasan | apapun | alasannya | inkonstitusional | Kami | melihat | ungkap | p> Sebab | Kapolri | jauh | hari | menyebut | makar< | berencana | mendompleng | Aksi | Namun | masyarakat | salah | paham | menganggap | pernyataan | mengarah | GNPF | p> Kami | tahu | Anda | (pelaku | makar) | kira | begitu | Tolong | hentikan | jangan | manfatkan | murni | ingin | proses | hukum | terhadap | saudara | Basuki | Polri | komit | buktikan | jelas | p> Untuk | membangun | dialog | sejumlah | tokoh | masyakarat | Hasilnya | hanya | membawa | satu | yakni | penanganan | perkara | Tjahaja | Purnama | atau | Ahok | bangun | dalam | rangka | tuntutan | melakukan | ikut | upaya | kemudian | agenda | politik | lain | Mereka | menyat | putusannya | beber | p> Beruntungnya | akhirnya | keras | hati | memindahkan | agendanya | semula | gelar | Jalan | Sudirman | Thamrin | Monumen | Nasional | Monas | p> Kalau | Kalau | besar | ekornya | sampai | Semanggi | Patung | Senayan | belok | depan | Hotel | Mulia | seterusnya | Sampai | belg | berikutnya | naik | pelintir | sedikit | Mudah | sekali | jumlah | mudah | DPR) | p> 3 | halaman< | p> < | div> |

Polri Diminta Hati-Hati Usut Kasus Dugaan Makar

Liputan6.com, Jakarta - Penyidik Polri menangkap 11 aktivis dan tokoh nasional, terkait dugaan makar, Jumat 2 Desember 2016 pagi. Penangkapan itu dilakukan jelang aksi damai 2 Desember di Monumen Nasional.

Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), Miko Susanto Ginting, mengingatkan Polri agar ekstra hati-hati dalam menangani dugaan makar ini. Ada sejumlah unsur yang harus dibuktikan oleh Polri.

"Permufakatan untuk melakukan makar, maka harus ada niat dan perbuatan permulaan. Kedua hal itu harus dilakukan untuk maksud tertentu dengan cara serangan yang nyata dan bersifat kekerasan," ucap Miko kepada Liputan6.com, Jakarta, Senin (5/12/2016).

Dia pun meminta, dalam mengusut kasus ini, Kepolisian cermat agar tak terjadi banyak praktik yang tidak tepat.

"Di titik ini, pihak Kepolisian benar-benar harus cermat dan hati-hati. Jangan sampai banyak praktik yang tidak tepat selama ini terjadi kembali," Miko menjelaskan.

Saat ditanya, apakah dia telah melihat adanya serangan nyata sebagai wujud makar, dia hanya mengaku belum tahu.

"Hingga hari ini hanya pihak Kepolisian yang mengetahui hal itu. Oleh karenanya, mesti didorong untuk cermat, hati-hati, dan akuntabel dalam penegakan hukumnya," tandas Miko.

Sebelumnya, 11 tokoh dan aktivis ditangkap di beberapa tempat dalam waktu hampir bersamaan, Jumat 2 Desember pagi. Mereka diduga kuat terlibat upaya makar.

Tujuh orang tersangka makar yakni Kivlan Zein, Adityawarman, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko, Alvin Indra, dan Rachmawati Soekarnoputri telah dipulangkan setelah menjalani pemeriksaan hampir 1x24 jam.

Begitu juga terhadap musikus Ahmad Dhani yang dalam penangkapan ini ditetapkan sebagai tersangka penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Sementara tiga lainnya, yakni Sri Bintang Pamungkas, Jamran, dan Rizal Kobar ditahan di Polda Metro Jaya. Ketiganya dijerat dengan UU ITE dan juga Pasal 107 Jo Pasal 110 KUHP tentang Makar  dan Permufakatan Jahat.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan, penangkapan itu bukan berarti membungkam sikap kritis masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Dia menegaskan, perbuatan makar dan kritik berbeda.

Jenderal bintang dua itu menuturkan, dalam era demokrasi di Indonesia, seringkali terjadi ujaran kebencian yang dilakukan masyarakat secara luas. Apalagi dengan berkembangnya teknologi informasi yang semakin pesat.

"

| Polri | Diminta | Hati-Hati | Usut | Kasus | Dugaan | Makar | Liputan6 | Jakarta | strong> | Penyidik | menangkap | aktivis | tokoh | nasional | terkait | dugaan | makar< | Jumat | Desember | 2016 | pagi | Penangkapan | dilakukan | jelang | aksi | damai | Monumen | Nasional | p> Peneliti | Pusat | Studi | Hukum | Kebij | Indonesia | (PSHK) | Miko | Susanto | Ginting | mengingatkan | agar | ekstra | hati | dalam | menangani | makar | sejumlah | unsur | yang | harus | dibuktikan | oleh | p> Permufakatan | untuk | melakukan | maka | niat | perbuatan | permulaan | Kedua | maksud | tertentu | dengan | cara | serangan | nyata | bersifat | kekerasan | ucap | kepada | com< | Senin | 2016) | p> Dia | meminta | mengusut | kasus | Kepolisian | cermat | terjadi | banyak | praktik | tepat | p> Di | titik | pihak | benar | Jangan | sampai | selama | kembali | menjelaskan | p> Saat | ditanya | apakah | telah | melihat | adanya | sebagai | wujud | hanya | mengaku | tahu | p> Hingga | hari | mengetahui | Oleh | karenanya | mesti | didorong | akuntabel | peneg | hukumnya | tandas | p> Senya | ditangkap | beberapa | tempat | waktu | hampir | bersamaan | Mereka | diduga | kuat | terlibat | upaya | p> Tujuh | orang | tersangka | yakni | Kivlan | Zein | Adityawarman | Ratna | Sarumpaet | Firza | Husein | Alvin | Indra | Rachmawati | Soekarnoputri | dipulangkan | setelah | menjalani | pemeriksaan | 1x24 | p> Begitu | juga | terhadap | musikus | Ahmad | Dhani | penangkapan | ditetapkan | penghinaan | Presiden | Joko | Widodo | atau | Jokowi | p> Sementara | tiga | lainnya | Bintang | Pamungkas | Jamran | Rizal | Kobar | ditahan | Polda | Metro | Jaya | Ketiganya | dijerat | Pasal | KUHP | tentang | Makar< | a>  | Permufakatan | Jahat | p> Kadiv | Humas | Mabes | Irjen | Rafli | Amar | mengat | bukan | berarti | membungkam | sikap | kritis | masyarakat | kebij | pemerintah | menegaskan | kritik | berbeda | p> Jenderal | bintang | menuturkan | demokrasi | seringkali | ujaran | kebencian | secara | luas | Apalagi | berkembangnya | teknologi | informasi | semakin | pesat | p> |