Showing posts sorted by relevance for query usaha. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query usaha. Sort by date Show all posts

Sunday, December 4, 2016

Beda pemufakatan makar dan penyampaian kritik

Politisi Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar Jumat (2/12/2016).
Politisi Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar Jumat (2/12/2016). © Indrianto Eko Suwarso /Antara Foto

Belakangan kata makar sontak populer. Publik menyoroti kata itu karena keluar dari pihak polisi dan tentara nasional terkait adanya potensi makar di demonstrasi Jumat lalu (2/12/2016).

Nyatanya demonstrasi yang dikenal "212" itu jauh dari usaha makar. Malah Presiden Joko Widodo salat bersama dan juga berpidato di Monumen Nasional--tempat aksi digelar.

"Terima kasih atas doa dan zikir yang telah dipanjatkan untuk keselamatan bangsa dan negara kita. Allahu Akbar," demikian penggalan pidato Jokowi ketika itu.

Tapi dugaan makar yang diduga akan menunggangi aksi itu ternyata terbongkar. Di beberapa tempat yang berbeda ada 11 nama yang ditangkap polisi.

Dari 11 orang itu polisi menetapkan 10 nama yang jadi tersangka. Yakni Kivlan Zein, Adityawarman Thahar, Ratna Sarumpaet, Firza Huzein, Eko Santjojo, Alvin Indra, Rachmawati Soekarnoputri, Sri Bintang Pamungkas, dan kakak beradik Rizal dan Jamran.

Dikutip dari CNN Indonesia, dari 10 nama itu ada delapan yang dijerat Pasal 107 juncto Pasal 110 juncto Pasal 87 KUHP mengenai pemufakatan jahat untuk melakukan makar. Ahmad Dhani sendiri dijerat Pasal 207 KUHP mengenai penghinaan terhadap Presiden.

Penangkapan itu kemudian menuai tanda tanya. Yang paling nyaring adalah dari Partai Gerindra. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono mengatakan tudingan makar kepada para tokoh dan aktivis itu membahayakan perkembangan demokrasi.

"Pada kesempatan ini saya minta kepada kepolisian untuk membebaskan semua, termasuk Sri Bintang Pamungkas," kata Ferry.

Ferry beranggapan sulit baginya menuding tokoh-tokoh yang ditangkap itu berbuat makar. Menurutnya makar merupakan sebuah upaya penggulingan pemerintahan yang sah dengan mengerahkan kekuatan besar. Tapi dalam pandangan Ferry mereka hanya menyampaikan pendapat di muka publik, dan itu merupakan bagian dari kritik.

"Saya takut persepsi ini dibangun sedemikian rupa, dan tidak bisa memilah mana sikap kritis dan pembungkaman," tuturnya.

Tapi polisi punya persepsi berbeda. Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, mengatakan perbuatan makar beda jauh dengan penyampaian kritik.

"Pandangan kritis yang disampaikan lewat kritik itu lumrah, tetapi rambu hukum harus dipegang. Kalau makar dengan pemufakatan jahat, ini adalah barang yang berbeda dengan kritik," ujar Boy dalam jumpa pers di Gedung Divisi Humas Polri Jakarta, Sabtu (3/12/2016).

Bagi Boy kritik tidak boleh disampaikan dengan ujaran kebencian, penistaan, kata-kata bohong dan penghasutan. Ia berharap kritik itu tetap sesuai dengan tatanan hukum dan aturan yang berlaku, baik penyampaian melalui verbal, non verbal atau media elektronik.

"Jadi, kami ini bukannya terlalu reaktif. Kami hanya bermain pada tatanan hukum dan kami lakukan pada tindakan nyata," katanya.

Lebih jauh, menurut Boy, penentuan tindak pidana makar dalam bentuk pemufakatan tidak perlu menunggu apa yang direncanakan terjadi. Dalam arti, penyidik tidak perlu menunggu pemberontakan terealisasi untuk menangkap mereka.

Dalam kasus ini, penyidik Polri menemukan bukti para tersangka berupaya memanfaatkan ruang kebebasan untuk melahirkan gagasan berbau hasutan yang bisa disalahartikan.

Semua tersangka diduga berencana untuk memanfaatkan massa yang mengikuti doa bersama untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. "Situasinya multikompleks. Tidak bisa kami katakan ini murni ibadah. Polisi selalu berpikir ada kecurigaan," kata Boy menambahkan.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, makar memiliki arti: 1. akal busuk; tipu muslihat; 2. perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang dan sebagainya; 3. perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah.

Dalam sejarahnya undang-undang terkait makar lahir dari usaha pihak berkuasa untuk melawan setiap pihak yang mencoba melawan untuk menggulingkannya. Dalam Undang-undang KUHP yang dilahirkan Belanda dan diadopsi Indonesia disebutkan makar itu usaha atau kegiatan untuk menumbangkan pemerintah yang sah.

Dalam Pasal 107 KUHP makar diidentikkan dengan empat hal: makar terhadap pemerintah, ideologi, wilayah dan makar terhadap kepala negara.

Jenis hukuman untuk pelaku makar beraneka ragam, ada yang cuma 2,5 tahun saja, ada juga yang sampai 20 tahun, bahkan hukuman mati, seperti yang dikatakan Kepala Polda Metro Jaya, Irjen Pol Mochamad Iriawan.

Indonesia pernah beberapa kali terancam makar yang dilakukan warga negaranya.

Kasus makar pertama dilakukan oleh seorang perwira muda bernama Daniel Maukar. Dia melakukan serangan ke Istana Negara dengan pesawat tempur MiG-17 Fresco di era kepemimpinan Sukarno.

Akibatnya Daniel diadili atas tindakan makar dan dijatuhi hukuman mati, namun diampuni dan hanya menjalani delapan tahun masa tahanan sebelum akhirnya bebas.

Kasus makar yang lain dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka, Republik Maluku Selatan dan juga Organisasi Papua Merdeka, karena dianggap melawan kedaulatan NKRI.

Sebagai catatan, tidak cuma perbuatan makar yang berujung bui. Kritik pun juga bisa. Misalnya kritikan soal banjir yang dilayangkan Abdul Hamid (62), warga Samarinda, Kalimantan Timur, kepada Wali Kota Syaharie Jaang.

Hamid dipolisikan beberapa waktu lalu dengan Undang-undang No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Nasib yang sama juga dialami Fadli Rahim (33), pegawai negeri sipil lingkup Pemerintah Gowa, yang dipenjara karena mengkritik sistem pemerintahan Bupati Gowa Ichsan Limpo melalui media sosial Line.

"

| Beda | pemufakatan | makar | penyampaian | kritik | UNTUK | INFORMASI | LEBIH | LENGKAP | IKUTI | KAMI | MEDIA | SOSIAL< | span>< | div> < | div> Politisi | Rachmawati | Soekarnoputri | meninggalkan | gedung | Markas | Komando | Brimob | Kelapa | Depok | usai | menjalani | pemeriksaan | terkait | kasus | dugaan | Jumat | 2016) | Indrianto | Suwarso | Antara | Foto Belgan | kata | sontak | populer | Publik | menyoroti | karena | keluar | pihak | polisi< | tentara | nasional | adanya | potensi | demonstrasi | p> Nyatanya | yang | dikenal | 212< | jauh | usaha | Malah | Presiden | Joko | Widodo | salat | bersama | juga | berpidato | Monumen | Nasional | tempat | aksi | digelar | p> Terima | kasih | atas | zikir | telah | dipanjatkan | untuk | keselamatan | bangsa | negara | Allahu | Akbar | demikian | penggalan | pidato | Jokowi | ketika | p> Tapi | diduga | menunggangi | ternyata | terbongkar | beberapa | berbeda | nama | ditangkap | polisi | p> Dari | orang | menetapkan | jadi | tersangka | Yakni | Kivlan | Zein | Adityawarman | Thahar | Ratna | Sarumpaet | Firza | Huzein | Santjojo | Alvin | Indra | Bintang | Pamungkas | kakak | beradik | Rizal | Jamran | p> Dikutip | Indonesia | nama< | delapan | dijerat | Pasal | juncto | KUHP | mengenai | jahat | melakukan | Ahmad | Dhani | sendiri | penghinaan | terhadap | p> Penangkapan | kemudian | menuai | tanda | tanya | Yang | paling | nyaring | adalah | Partai | Gerindra | Wakil | Ketua | Umum | Ferry | Juliantono | mengat | tudingan | kepada | para | tokoh | aktivis | membahay | perkembangan | demokrasi | p> Pada | kesempatan | saya | minta | kepolisian | membebaskan | semua | termasuk | Ferry< | p> Ferry | beranggapan | sulit | baginya | menuding | berbuat | Menurutnya | merup | sebuah | upaya | penggulingan | pemerintahan | dengan | mengerahkan | kekuatan | besar< | Tapi | dalam | pandangan | hanya | menyampaikan | pendapat | muka | publik | bagian | p> Saya | takut | persepsi | dibangun | sedemikian | rupa | memilah | mana | sikap | kritis | pembungkaman | tuturnya< | punya | Kepala | Divisi | Humas | Polri< | Inspektur | Jenderal | Rafli | Amar | perbuatan | beda | p> Pandangan | disampaikan | lewat | lumrah | rambu | hukum | harus | dipegang | Kalau | makar< | barang | ujar | Boy< | jumpa | pers | Gedung | Jakarta | Sabtu | p> Bagi | boleh | ujaran | kebencian | penistaan | bohong | penghasutan | berharap | tetap | sesuai | tatanan | aturan | berlaku | baik | verbal | atau | media | elektronik | p> Jadi | kami | bukannya | reaktif< | Kami | bermain | pada | lakukan | tind | nyata | katanya | p> Lebih | menurut | penentuan | tindak | pidana | bentuk | perlu | menunggu | direncan | terjadi | Dalam | arti | penyidik | pemberont | terealisasi | menangkap | p> Dalam | menemukan | bukti | berupaya | memanfaatkan | ruang | kebebasan | melahirkan | gagasan | berbau | hasutan< | disalahartikan | p> Semua | berencana | massa | mengikuti | menggulingkan | Situasinya | multikompleks | Tidak | murni | ibadah | Polisi | berpikir | kecurigaan | menambahkan | p> Menurut | besar | Bahasa | memiliki | arti: | akal | busuk; | tipu | muslihat; | (usaha) | maksud | hendak | menyerang | (membunuh) | sebagainya; | menjatuhkan | pemerintah | sejarahnya | undang | lahir | berkuasa | melawan | setiap | mencoba | menggulingkannya | Undang | dilahirkan | Belanda | diadopsi | disebutkan | kegiatan | menumbangkan | diidentikkan | empat | hal: | ideologi | wilayah | kepala | p> Jenis | hukuman< | pelaku | beraneka | ragam | cuma | tahun | sampai | bahkan | hukuman | mati | seperti | dikat | Polda | Metro | Jaya | Irjen | Mochamad | Iriawan< | p> Indonesia | pernah | kali | terancam | dilakukan | warga | negaranya | p> Kasus | pertama | oleh | seorang | perwira | muda | bernama | Daniel | Maukar< | serangan | Istana | Negara | pesawat | tempur | Fresco | kepemimpinan | Sukarno | p> Akibatnya | diadili | dijatuhi | diampuni | masa | tahanan | akhirnya | bebas | lain | Aceh | Merdeka | Republik | Maluku | Selatan | Organisasi | Papua | dianggap | kedaulatan | NKRI | p> Sebagai | catatan | berujung | Kritik | Misalnya | kritikan | soal | banjir | dilayangkan | Abdul | Hamid | (62) | Samarinda | Kalimantan | Timur | Wali | Kota | Syaharie | Jaang | p> Hamid< | dipolisikan | waktu | 2008 | tentang | Informasi | Transaksi | Elektronik | (ITE) | Nasib | sama | dialami | Fadli | Rahim | (33) | pegawai | negeri | sipil | lingkup | Pemerintah | a>Gowa< | dipenjara | mengkritik | sistem | Bupati | Gowa | Ichsan | Limpo | sosial | Line | p> < | div> |

Beda pemufakatan makar dan penyampaian kritik

Politisi Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar Jumat (2/12/2016).
Politisi Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar Jumat (2/12/2016). © Indrianto Eko Suwarso /Antara Foto

Belakangan kata makar sontak populer. Publik menyoroti kata itu karena keluar dari pihak polisi dan tentara nasional terkait adanya potensi makar di demonstrasi Jumat lalu (2/12/2016).

Nyatanya demonstrasi yang dikenal "212" itu jauh dari usaha makar. Malah Presiden Joko Widodo salat bersama dan juga berpidato di Monumen Nasional--tempat aksi digelar.

"Terima kasih atas doa dan zikir yang telah dipanjatkan untuk keselamatan bangsa dan negara kita. Allahu Akbar," demikian penggalan pidato Jokowi ketika itu.

Tapi dugaan makar yang diduga akan menunggangi aksi itu ternyata terbongkar. Di beberapa tempat yang berbeda ada 11 nama yang ditangkap polisi.

Dari 11 orang itu polisi menetapkan 10 nama yang jadi tersangka. Yakni Kivlan Zein, Adityawarman Thahar, Ratna Sarumpaet, Firza Huzein, Eko Santjojo, Alvin Indra, Rachmawati Soekarnoputri, Sri Bintang Pamungkas, dan kakak beradik Rizal dan Jamran.

Dikutip dari CNN Indonesia, dari 10 nama itu ada delapan yang dijerat Pasal 107 juncto Pasal 110 juncto Pasal 87 KUHP mengenai pemufakatan jahat untuk melakukan makar. Ahmad Dhani sendiri dijerat Pasal 207 KUHP mengenai penghinaan terhadap Presiden.

Penangkapan itu kemudian menuai tanda tanya. Yang paling nyaring adalah dari Partai Gerindra. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono mengatakan tudingan makar kepada para tokoh dan aktivis itu membahayakan perkembangan demokrasi.

"Pada kesempatan ini saya minta kepada kepolisian untuk membebaskan semua, termasuk Sri Bintang Pamungkas," kata Ferry.

Ferry beranggapan sulit baginya menuding tokoh-tokoh yang ditangkap itu berbuat makar. Menurutnya makar merupakan sebuah upaya penggulingan pemerintahan yang sah dengan mengerahkan kekuatan besar. Tapi dalam pandangan Ferry mereka hanya menyampaikan pendapat di muka publik, dan itu merupakan bagian dari kritik.

"Saya takut persepsi ini dibangun sedemikian rupa, dan tidak bisa memilah mana sikap kritis dan pembungkaman," tuturnya.

Tapi polisi punya persepsi berbeda. Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, mengatakan perbuatan makar beda jauh dengan penyampaian kritik.

"Pandangan kritis yang disampaikan lewat kritik itu lumrah, tetapi rambu hukum harus dipegang. Kalau makar dengan pemufakatan jahat, ini adalah barang yang berbeda dengan kritik," ujar Boy dalam jumpa pers di Gedung Divisi Humas Polri Jakarta, Sabtu (3/12/2016).

Bagi Boy kritik tidak boleh disampaikan dengan ujaran kebencian, penistaan, kata-kata bohong dan penghasutan. Ia berharap kritik itu tetap sesuai dengan tatanan hukum dan aturan yang berlaku, baik penyampaian melalui verbal, non verbal atau media elektronik.

"Jadi, kami ini bukannya terlalu reaktif. Kami hanya bermain pada tatanan hukum dan kami lakukan pada tindakan nyata," katanya.

Lebih jauh, menurut Boy, penentuan tindak pidana makar dalam bentuk pemufakatan tidak perlu menunggu apa yang direncanakan terjadi. Dalam arti, penyidik tidak perlu menunggu pemberontakan terealisasi untuk menangkap mereka.

Dalam kasus ini, penyidik Polri menemukan bukti para tersangka berupaya memanfaatkan ruang kebebasan untuk melahirkan gagasan berbau hasutan yang bisa disalahartikan.

Semua tersangka diduga berencana untuk memanfaatkan massa yang mengikuti doa bersama untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. "Situasinya multikompleks. Tidak bisa kami katakan ini murni ibadah. Polisi selalu berpikir ada kecurigaan," kata Boy menambahkan.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, makar memiliki arti: 1. akal busuk; tipu muslihat; 2. perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang dan sebagainya; 3. perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah.

Dalam sejarahnya undang-undang terkait makar lahir dari usaha pihak berkuasa untuk melawan setiap pihak yang mencoba melawan untuk menggulingkannya. Dalam Undang-undang KUHP yang dilahirkan Belanda dan diadopsi Indonesia disebutkan makar itu usaha atau kegiatan untuk menumbangkan pemerintah yang sah.

Dalam Pasal 107 KUHP makar diidentikkan dengan empat hal: makar terhadap pemerintah, ideologi, wilayah dan makar terhadap kepala negara.

Jenis hukuman untuk pelaku makar beraneka ragam, ada yang cuma 2,5 tahun saja, ada juga yang sampai 20 tahun, bahkan hukuman mati, seperti yang dikatakan Kepala Polda Metro Jaya, Irjen Pol Mochamad Iriawan.

Indonesia pernah beberapa kali terancam makar yang dilakukan warga negaranya.

Kasus makar pertama dilakukan oleh seorang perwira muda bernama Daniel Maukar. Dia melakukan serangan ke Istana Negara dengan pesawat tempur MiG-17 Fresco di era kepemimpinan Sukarno.

Akibatnya Daniel diadili atas tindakan makar dan dijatuhi hukuman mati, namun diampuni dan hanya menjalani delapan tahun masa tahanan sebelum akhirnya bebas.

Kasus makar yang lain dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka, Republik Maluku Selatan dan juga Organisasi Papua Merdeka, karena dianggap melawan kedaulatan NKRI.

Sebagai catatan, tidak cuma perbuatan makar yang berujung bui. Kritik pun juga bisa. Misalnya kritikan soal banjir yang dilayangkan Abdul Hamid (62), warga Samarinda, Kalimantan Timur, kepada Wali Kota Syaharie Jaang.

Hamid dipolisikan beberapa waktu lalu dengan Undang-undang No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Nasib yang sama juga dialami Fadli Rahim (33), pegawai negeri sipil lingkup Pemerintah Gowa, yang dipenjara karena mengkritik sistem pemerintahan Bupati Gowa Ichsan Limpo melalui media sosial Line.

"

| Beda | pemufakatan | makar | penyampaian | kritik | UNTUK | INFORMASI | LEBIH | LENGKAP | IKUTI | KAMI | MEDIA | SOSIAL< | span>< | div> < | div> Politisi | Rachmawati | Soekarnoputri | meninggalkan | gedung | Markas | Komando | Brimob | Kelapa | Depok | usai | menjalani | pemeriksaan | terkait | kasus | dugaan | Jumat | 2016) | Indrianto | Suwarso | Antara | Foto Belgan | kata | sontak | populer | Publik | menyoroti | karena | keluar | pihak | polisi< | tentara | nasional | adanya | potensi | demonstrasi | p> Nyatanya | yang | dikenal | 212< | jauh | usaha | Malah | Presiden | Joko | Widodo | salat | bersama | juga | berpidato | Monumen | Nasional | tempat | aksi | digelar | p> Terima | kasih | atas | zikir | telah | dipanjatkan | untuk | keselamatan | bangsa | negara | Allahu | Akbar | demikian | penggalan | pidato | Jokowi | ketika | p> Tapi | diduga | menunggangi | ternyata | terbongkar | beberapa | berbeda | nama | ditangkap | polisi | p> Dari | orang | menetapkan | jadi | tersangka | Yakni | Kivlan | Zein | Adityawarman | Thahar | Ratna | Sarumpaet | Firza | Huzein | Santjojo | Alvin | Indra | Bintang | Pamungkas | kakak | beradik | Rizal | Jamran | p> Dikutip | Indonesia | nama< | delapan | dijerat | Pasal | juncto | KUHP | mengenai | jahat | melakukan | Ahmad | Dhani | sendiri | penghinaan | terhadap | p> Penangkapan | kemudian | menuai | tanda | tanya | Yang | paling | nyaring | adalah | Partai | Gerindra | Wakil | Ketua | Umum | Ferry | Juliantono | mengat | tudingan | kepada | para | tokoh | aktivis | membahay | perkembangan | demokrasi | p> Pada | kesempatan | saya | minta | kepolisian | membebaskan | semua | termasuk | Ferry< | p> Ferry | beranggapan | sulit | baginya | menuding | berbuat | Menurutnya | merup | sebuah | upaya | penggulingan | pemerintahan | dengan | mengerahkan | kekuatan | besar< | Tapi | dalam | pandangan | hanya | menyampaikan | pendapat | muka | publik | bagian | p> Saya | takut | persepsi | dibangun | sedemikian | rupa | memilah | mana | sikap | kritis | pembungkaman | tuturnya< | punya | Kepala | Divisi | Humas | Polri< | Inspektur | Jenderal | Rafli | Amar | perbuatan | beda | p> Pandangan | disampaikan | lewat | lumrah | rambu | hukum | harus | dipegang | Kalau | makar< | barang | ujar | Boy< | jumpa | pers | Gedung | Jakarta | Sabtu | p> Bagi | boleh | ujaran | kebencian | penistaan | bohong | penghasutan | berharap | tetap | sesuai | tatanan | aturan | berlaku | baik | verbal | atau | media | elektronik | p> Jadi | kami | bukannya | reaktif< | Kami | bermain | pada | lakukan | tind | nyata | katanya | p> Lebih | menurut | penentuan | tindak | pidana | bentuk | perlu | menunggu | direncan | terjadi | Dalam | arti | penyidik | pemberont | terealisasi | menangkap | p> Dalam | menemukan | bukti | berupaya | memanfaatkan | ruang | kebebasan | melahirkan | gagasan | berbau | hasutan< | disalahartikan | p> Semua | berencana | massa | mengikuti | menggulingkan | Situasinya | multikompleks | Tidak | murni | ibadah | Polisi | berpikir | kecurigaan | menambahkan | p> Menurut | besar | Bahasa | memiliki | arti: | akal | busuk; | tipu | muslihat; | (usaha) | maksud | hendak | menyerang | (membunuh) | sebagainya; | menjatuhkan | pemerintah | sejarahnya | undang | lahir | berkuasa | melawan | setiap | mencoba | menggulingkannya | Undang | dilahirkan | Belanda | diadopsi | disebutkan | kegiatan | menumbangkan | diidentikkan | empat | hal: | ideologi | wilayah | kepala | p> Jenis | hukuman< | pelaku | beraneka | ragam | cuma | tahun | sampai | bahkan | hukuman | mati | seperti | dikat | Polda | Metro | Jaya | Irjen | Mochamad | Iriawan< | p> Indonesia | pernah | kali | terancam | dilakukan | warga | negaranya | p> Kasus | pertama | oleh | seorang | perwira | muda | bernama | Daniel | Maukar< | serangan | Istana | Negara | pesawat | tempur | Fresco | kepemimpinan | Sukarno | p> Akibatnya | diadili | dijatuhi | diampuni | masa | tahanan | akhirnya | bebas | lain | Aceh | Merdeka | Republik | Maluku | Selatan | Organisasi | Papua | dianggap | kedaulatan | NKRI | p> Sebagai | catatan | berujung | Kritik | Misalnya | kritikan | soal | banjir | dilayangkan | Abdul | Hamid | (62) | Samarinda | Kalimantan | Timur | Wali | Kota | Syaharie | Jaang | p> Hamid< | dipolisikan | waktu | 2008 | tentang | Informasi | Transaksi | Elektronik | (ITE) | Nasib | sama | dialami | Fadli | Rahim | (33) | pegawai | negeri | sipil | lingkup | Pemerintah | a>Gowa< | dipenjara | mengkritik | sistem | Bupati | Gowa | Ichsan | Limpo | sosial | Line | p> < | div> |

Wednesday, December 7, 2016

Masinton: Aktor Penyandang Dana Upaya Makar Harus Ditelusuri

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi III DPR Masinton Pasaribu meminta aparat menelusuri aktor penyandang dana makar.

Hal itu terkait pernyataan kepolisian yang terus mengembangkan kasus tersebut.

"Aktor penyandang dana ini harus ditelusuri. Siapa?" kata Masinton di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (8/12/2016).

Selain itu, polisi pun harus menelusuri rekam jejak usaha penyandang dananya.

"Bersumber dari usaha yang legal atau ilegal, misalnya penyelundupan atau korupsi,"  katanya.

Masinto mengatakan rekam jejak penyandang dana tersebut perlu diungkap jika polisi berhasil mengetahui pelaku tersebut.

Bila bersumber dari usaha ilegal, Masinton meminta aparat membekukan dana serta menyita aset pelaku penyandang dana makar.

"Rekam jejak usaha juga perlu ditelusuri, jangan-jangan bersumber dari duit korupsi," kata Politikus PDIP itu.

Mengenai jeratan pasal makar kepada sejumlah aktivis dan tokoh yang ditangkap polisi, Masinton melihat aparat melihat indikasi ke arah itu.

"

| Masinton: | Aktor | Penyandang | Dana | Upaya | Makar | Harus | Ditelusuri | Laporan | Wartawan | Tribunnews | Ferdinand | Was< | strong>< | p> TRIBUNNEWS | JAKARTA< | strong> | Anggota | Komisi | Masinton | Pasaribu< | meminta | aparat | menelusuri | aktor | penyandang | dana | makar | p> Hal | terkait | pernyataan | kepolisian | yang | terus | mengembangkan | kasus | tersebut | p> Aktor | harus | ditelusuri | Siapa | kata | Gedung | Jakarta | Kamis | 2016) | p> Selain | polisi | rekam | jejak | usaha | dananya | p> Bersumber | legal | atau | ilegal | misalnya | penyelundupan | korupsi | katanya | p> Masinto | mengat | perlu | diungkap | jika | berhasil | mengetahui | pelaku | p> Bila | bersumber | membekukan | serta | menyita | aset | p> Rekam | juga | jangan | duit | Politikus | PDIP | p> Mengenai | jeratan | pasal | kepada | sejumlah | aktivis | tokoh | ditangkap | melihat | indikasi | arah | p> |

Thursday, December 8, 2016

Hatta Taliwang Ditangkal, Masinton Yakin Potensi Makar Kecil

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepolisian menangkap aktivis Hatta Taliwang.

Hatta diamankan karena diduga terlibat perencanaan makar kepada pemerintah pada Jumat (2/12/2016).

Anggota Komisi III DPR Masinton Pasaribu meyakini potensi orang yang dituduh polisi untuk melakukan makar kecil.

"Tapi sebagai pintu masuk untuk menelusuri pembiayaannya, aktor pendanaannya sah-sah saja dilakukan oleh polisi," kata Masinton di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (8/12/2016).

Masinton mengungkapkan alasan keyakinannya tersebut.

Ia menuturkan jaringan aktivis kepada grass root tidak cukup kuat.

Pengorganisasian massa juga lemah.

"Kedua, beberapa orang ini memang dari dulu sifatnya adalah oposan sejati, mau pemerintahannya siapa, dia teriak saja," kata Masinton.

Alasan lainnya, kata Masinton, aktivis tersebut tidak punya basis pengorganisasian massa yang mengakar dan solid.

Mereka, kata Masinton, cuma memanfaatkan situasi serta kerumunan lalu diklaim untuk melakukan makar.

"Itu kan kepemimpinannya harus punya akar yang kuat, dan punya jaringan yang kuat juga, nah yang saya bisa baca dari ini adalah bahwa mereka ini digunakan oleh aktor-aktor yang punya uang untuk menciptakan instabilitas, mengganggu stabilitas Pemerintahan Jokowi JK," ujar Politikus PDIP itu.

Oleh karenanya, Masinton meminta aparat menelusuri aktor penyandang dana tersebut. Kemudian, mencari sumber usaha apakah ilegal atau tidak.

"Akan menjadi berbahaya jika sumber-sumber usaha selama ini yang berdasar usaha ilegal, seperti penyelundupan, korupsi, pembalakan hutan, apa segala macam, digunakan untuk mengganggu stabilitas negara, ini akan berbahaya dan harus aset-asetnya dibekukan," kata Masinton.

"

| Hatta | Taliwang | Ditangkal, | Masinton | Yakin | Potensi | Makar | Kecil | TRIBUNNEWS | JAKARTA | strong> | Kepolisian | menangkap | aktivis | Taliwang< | p> Hatta | diamankan | karena | diduga | terlibat | perencanaan | makar | kepada | pemerintah | pada | Jumat | 2016) | p> Anggota | Komisi | DPR< | Pasaribu< | meyakini | potensi | orang | yang | dituduh | polisi | untuk | melakukan | kecil | p> Tapi | sebagai | pintu | masuk | menelusuri | pembiayaannya | aktor | pendanaannya | dilakukan | oleh | kata | Gedung | Jakarta | Kamis | p> Masinton | mengungkapkan | alasan | keyakinannya | tersebut | p> Ia | menuturkan | jaringan | grass | root | cukup | kuat | p> Pengorganisasian | massa | juga | lemah | p> Kedua | beberapa | memang | dulu | sifatnya | adalah | oposan | sejati | pemerintahannya | siapa | teriak | p> Alasan | lainnya | punya | basis | pengorganisasian | mengakar | solid | p> Mereka | cuma | memanfaatkan | situasi | serta | kerumunan | diklaim | p> Itu | kepemimpinannya | harus | akar | saya | baca | bahwa | digun | uang | mencipt | instabilitas | mengganggu | stabilitas | Pemerintahan | Jokowi | ujar | Politikus | PDIP | p> Oleh | karenanya | meminta | aparat | penyandang | dana | Kemudian | mencari | sumber | usaha | apakah | ilegal | atau | p>Akan | menjadi | berbahaya | jika | selama | berdasar | seperti | penyelundupan | korupsi | pembal | hutan | segala | macam | negara | aset | asetnya | dibekukan | p> |

Sunday, December 4, 2016

Peninggalan Belanda, UU Terkait Makar Sebaiknya Diuji Materi di MK : Okezone News

JAKARTA - Peraturan perundang-undangan terkait kemanan negara yang mengatur soal makar sebaiknya ditinjau kembali melalui uji materi (judicial review) di Mahkamah Konstitusi (MK). Demikian disarankan ahli pidana Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Prof Hibnu Nugroho.

"Pandangan saya karena ini delik keamanan negara rumusannya harus terkonsep dan terstruktur, sehingga kalau tidak jelas lebih baik uji materi ke MK, apakah ini masuk kualifikasi delik melanggar HAM atau bertentangan dengan UUD 1945 apa tidak," katanya saat dihubungi Okezone, Minggu (4/12/2016).

BERITA REKOMENDASI


Kendati pasal makar masuk ke dalam delik formil, namun konsep, rancangan dan batasan penjelasan aturan ini mesti jelas dan terukur sehingga tidak menimbulkan multitafsir.

"Biar ada batasan yang cukup, memang UU ini delik formil. Delik formil itu delik yang tidak perlu melibatkan akibat, jadi (baru) usaha (makar) pun bisa (ditindak). Tapi usaha yang bagaimana? Inilah yang harus terukur," terang dia.

Saat ditanya mengenai kemungkinan peraturan terkait makar ini diuji materi ke MK, Hibnu menjawab bahwa aturan hukum tersebut merupakan peninggalan zaman belanda. "Ya, paling tidak karena ini konstruksi hukum. Itu kan UU peninggalan Belanda Keamanan Negara itu," pungkasnya.

Sebelumnya, pada 2 Desember 2016, delapan orang ditangkap atas dugaan pemufakatan makar yakni eks Staf Ahli Panglima TNI Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha, mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zein, dan Ketua Solidaritas Sahabat Cendana Firza Huzein. 

Selanjutnya, adalah seniman dan aktivis politik Ratna Sarumpaet, pentolan Dewa 19 sekaligus calon Wakil Bupati Bekasi Ahmad Dhani, putri Presiden pertama Presiden Soekarno, Rachmawati Soerkarnoputri, Sri Bintang Pamungkas dan Eko. 

Sementara juga ada dua orang yang ditangkap dan dijerat Pasal 28 Undang-Undang ITE yakni Jamran dan Rizal Kobar.

Hingga kini polisi masih menahan tiga orang, mereka adalah Sri Bintang Pamungkas, Jamran, dan Rizal Kobar. Delapan tersangka lainnya sudah dilepas usai menjalani pemeriksaan 1x24 jam.

"

| Peninggalan | Belanda, | Terkait | Makar | Sebaiknya | Diuji | Materi | Okezone | News | JAKARTA | strong> | Peraturan | perundang | undangan | terkait | kemanan | negara | yang | mengatur | soal | makar | sebaiknya | ditinjau | kembali | materi | (judicial | review< | em>) | Mahkamah | Konstitusi | (MK) | Demikian | disarankan | ahli | pidana | Universitas | Jenderal | Soedirman | (Unsoed) | Prof | Hibnu | Nugroho | p> Pandangan | saya | karena | delik | keamanan | rumusannya | harus | terkonsep | terstruktur | kalau | jelas | lebih | baik | apakah | masuk | kualifikasi | melanggar | atau | bertentangan | dengan | 1945 | katanya | saat | dihubungi | Okezone< | Minggu | 2016) | p> BERITA | REKOMENDASI< | p> < | div> Kendati | pasal | dalam | formil | konsep | rancangan | batasan | penjelasan | aturan | mesti | terukur | menimbulkan | multitafsir | p> Biar | cukup | memang | Delik | perlu | melibatkan | jadi | (baru) | usaha | (makar) | (ditindak) | Tapi | bagaimana | Inilah | terang | p> Saat | ditanya | mengenai | kemungkinan | peraturan | diuji | menjawab | bahwa | hukum | tersebut | merup | peninggalan | zaman | belanda | paling | konstruksi | Belanda | Keamanan | Negara | pungkasnya | p> Senya | pada | Desember | 2016 | delapan | orang | ditangkap | atas | dugaan | pemufakatan | yakni | Staf | Ahli | Panglima | Brigjen | (Purn) | Adityawarman | Thaha | mantan | Kepala | Kostrad | Mayjen | Kivlan | Zein | Ketua | Solitas | Sahabat | Cendana | Firza | Huzein | p> Selanjutnya | adalah | seniman | aktivis | politik | Ratna | Sarumpaet | pentolan | Dewa | sekaligus | calon | Wakil | Bupati | Bekasi | Ahmad | Dhani | putri | Presiden | pertama | Soekarno | Rachmawati | Soerkarnoputri | Bintang | Pamungkas | p> Sementara | juga | dijerat | Pasal | Undang | Jamran | Rizal | Kobar | p> Hingga | kini | polisi | masih | menahan | tiga | Delapan | tersangka | lainnya | dilepas | usai | menjalani | pemeriksaan | 1x24 | p> |

Melihat Kasus Makar yang Dilakukan Anak Buah Panji Gumilang

Jakarta - Beberapa hari ini publik dikagetkan dengan istilah makar atau usaha penggulingan pemerintahan yang sah. Berikut kasus makar yang telah berkekuatan hukum tetap yaitu anak buah Panji Gumilang yaitu Salamin dan Mujono.

Kasus bermula saat Negara Islam Indonesia (NII) melakukan perjuangan secara fisik tetapi berhasil diamankan oleh pemerintah pada 1962. NII kemudian menjadi gerakan bawah tanah dan muncul Panji Gumilang. Melihat situasi politik terkini, NII kemudian mengubah arah garis politik dengan membentuk organisasi kemasyarakatan. Untuk mengelabui petugas, dibuatlah organisasi Masyarakat Indonesia Membangun (MIM).

Salah satu yang tertarik dengan gerakan itu yaitu Salamin yang dibaiat oleh Panji Gumilang untuk ikut bergabung mendirikan Negara Islam Indonesia pada 1990. Salamin yang lahir pada 12 Juli 1958 ditunjuk sebagai Koordinator Kepala Bagian Keuangan Provinsi Jawa Tengah.

Sejak saat itu, Salamin melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Salah satunya menghimpun dana dan disetor ke Pondok Pesantren Al Zaytun.

Adapun Mujono bergabung dengan Pondok Pesantren Alzaytun pada 2007 dan setahun setelahnya dilantik Panji Gumilang untuk koordinator Karesidenan Pekalongan.

Organisasi ini mengundang kecurigaan aparat, termasuk kepada Salamin dan Mujono. Akhirnya keduanya digerebek anggota Polda Jawa engah pada 23 Mei 2011. Dari penangkapan itu didapati sejumlah dokumen yang berisi susunan organisasi kenegaraan, UUD dan peraturan hukuman pidana sendiri.

Mujiono dan Salamin lalu diadili karena diyakini melanggar Pasal 110 ayat 1 jo Pasal 107 ayat 1 KUHP tentang Makar. Ancaman pasal tersebut yaitu penjara seumur hidup. Jaksa akhirnya menuntut mereka dengan hukuman selama 12 tahun penjara.

Pada 12 Januari 2012, Pengadilan Negeri (PN) Semarang menjatuhkan hukuman kepada Salamin dan Mujono selama 3 tahun penjara. Hukuman itu diturunkan menjadi 2 tahun penjara oleh majelis hakim banding pada 28 Maret 2012.

Atas tuntutan itu, jaksa mengajukan kasasi dan tetap meminta kedua terdakwa dihukum 12 tahun penjara. Tapi apa kata MA?

"Menyatakan Salamin dan Mujono Agus Salim terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana permufakatan jahat untuk melakukan makar dengan maksud menggulingkan pemerintah," putus majelis kasasi sebagaimana dikutip dari website Mahkamah Agung (MA), Minggu (4/12/2016).

MA mengembalikan hukuman sesuai putusan PN Semarang karena hal-hal yang meirngankan pertimbangannya tidak berubah.

"Menjatuhkan hukuman penjara selama 3 tahun," kata majelis yang terdiri dari Zaharuddin Utama, Achmad Yamanie dan Sofyan Sitompul.

Bila anak buahnya dikenakan makar, bagaimana dengan Panji Gumilang? Ternyata Panji hanya dikenakan pasal pemalsuan akta otentik sesuai pasal 255 KUHP. Pemalsuan itu terkait status yayasan Pondok Pesantren Alzaytun. Panji kemudian dijebloskan ke LP Indramayu untuk waktu 10 bulan, sesuai putusan.
(asp/erd)

"

| Melihat | Kasus | Makar | yang | Dilakukan | Anak | Buah | Panji | Gumilang | Jakarta< | strong> | Beberapa | hari | publik | dikagetkan | dengan | istilah | makar | atau | usaha | penggulingan | pemerintahan | Berikut | kasus | telah | berkekuatan | hukum | tetap | yaitu | anak | buah | Salamin | Mujono | bermula | saat | Negara | Islam | Indonesia | (NII) | melakukan | perjuangan | secara | fisik | berhasil | diamankan | oleh | pemerintah | pada | 1962 | kemudian | menjadi | bawah | tanah | muncul | situasi | politik | terkini | mengubah | arah | garis | membentuk | organisasi | kemasyarakatan | Untuk | mengelabui | petugas | dibuatlah | Masyarakat | Membangun | (MIM) | p>Salah | satu | tertarik | dibaiat | untuk | ikut | bergabung | mendirikan | 1990 | lahir | Juli | 1958 | ditunjuk | sebagai | Koordinator | Kepala | Bagian | Keuangan | Provinsi | Jawa | Tengah | p>Sejak | berbagai | upaya | mewujudkan | cita | tersebut | Salah | satunya | menghimpun | dana | disetor | Pondok | Pesantren | Zaytun | p>Adapun | Alzaytun | 2007 | setahun | setelahnya | dilantik | koordinator | Karesidenan | Pekalongan | p>Organisasi | mengundang | kecurigaan | aparat | termasuk | kepada | Akhirnya | keduanya | digerebek | anggota | Polda | engah | 2011 | Dari | penangkapan | didapati | sejumlah | dokumen | berisi | susunan | kenegaraan | peraturan | hukuman | pidana | sendiri | p>Mujiono | diadili | karena | diyakini | melanggar | Pasal | ayat | KUHP | tentang | Ancaman | pasal | penjara | seumur | hidup | Jaksa | akhirnya | menuntut | selama | tahun | p>Pada | Januari | 2012 | Pengadilan | Negeri | (PN) | Semarang | menjatuhkan | Hukuman | diturunkan | majelis | hakim | banding | Maret | p>Atas | tuntutan | jaksa | mengajukan | kasasi | meminta | kedua | terdakwa | dihukum | Tapi | kata | p>Menyat | Agus | Salim | terbukti | meyakinkan | bersalah | tindak | permufakatan | jahat | maksud | menggulingkan | putus | sebagaimana | dikutip | website | Mahkamah | Agung | (MA) | Minggu | 2016) | p>MA | mengembalikan | sesuai | putusan | meirngankan | pertimbangannya | berubah | p>Menjatuhkan | terdiri | Zaharuddin | Utama | Achmad | Yamanie | Sofyan | Sitompul | p>Bila | buahnya | diken | bagaimana | Ternyata | hanya | pemalsuan | akta | otentik | Pemalsuan | terkait | status | yayasan | dijebloskan | Indramayu | waktu | bulan | (asp | erd)< |