Showing posts sorted by relevance for query tetapi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query tetapi. Sort by date Show all posts

Sunday, December 4, 2016

Diduga Makar, Tiga Orang Masih Ditahan, Tujuh Dibebaskan

Sementara tiga lainnya yang masih ditahan adalah Sri Bintang Pamungkas yang juga dijerat dengan tuduhan makar dan dua lainnya, Jamran dan Rizal Kobar, dijerat UU Informasi & Transaksi Elektronik ITE.

Polisi: Makar Bisa Berbentuk Permufakatan Jahat

Dalam keterangan pers di Mabes Polri Jakarta, Kadiv Humas Irjen Pol. Boy Rafli Amar mengatakan ada tujuh orang yang dipersangkakan melakukan upaya melanggar pasal 107 junto pasal 110 KUHP. Dugaan ini berkaitan dengan rencana pemanfaatan massa untuk menduduki kantor DPR, pemaksaan agar bisa dilakukan Sidang Istimewa dan menuntut pergantian pemerintah dan sebagainya”. Ditambahkannya, “makar di sini merupakan tindakan permufakatan jahat. Dalam pemahaman penyidik Polri, makar merupakan permufakatan atau bisa juga dikategorikan sebagai perbuatan delik formil, artinya tidak perlu terjadi dulu perbuatan makar tersebut.”

Polisi, menurut Boy Rafli Amar, telah bertindak hati-hati dengan mengumpulkan informasi dan barang bukti selama tiga minggu terakhir ini. Penangkapan yang dilakukan menjelang unjuk rasa besar-besaran hari Jum'at (2/12) yang dipusatkan di Lapangan Monumen Nasional, “merupakan upaya polisi menjaga kemurnian ibadah di silang Monas dan mengeliminir berbagai indikasi kerawanan yang mungkin terjadi, seperti pemanfaatan massa secara sedemikian rupa,” tambahnya.​

Aksi damai 2 Desember 2016.

Aksi damai 2 Desember 2016.

Sejumlah Besar Massa Gelar Aksi Damai di Monas

Sejumlah besar massa dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bogor, Jawa Barat dan Kalimantan, meramaikan unjuk rasa yang disebut sebagai “Aksi Bela Islam III”. Aksi damai itu dihadiri oleh Kapolri Jendral Polisi Tito Karnavian, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dan sejumlah pemimpin organisasi massa. Wartawan VOA di Jakarta Fathiyah Wardah melaporkan, massa yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain dari Jakarta, Bogor, Jawa Barat dan Kalimantan, duduk dengan tertib sambil mengucapkan bersalawat dan berzikir. Di luar dugaan Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menkopolhukam Wiranto, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin dan beberapa menteri ikut mendatangi lokasi untuk melaksanakan sholat Jum'at bersama.

Dalam khutbah Jum'at, salah seorang pemimpin Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) Habib Riziew Shihab mengatakan aksi yang dilakukan ribuan umat Islam ini bukan ingin merusak negara kesatuan Republik Indonesia tetapi untuk menuntut keadilan.

"Hari ini jutaan umat Islam datang ke Jakarta bukan untuk merusak NKRI,bukan untuk melawan Pancasila dan menodai UUD 1945 dan bukan juga untuk menghancurkan kebhinekaan kita tetapi saya sampaikan kepada ulama, umaro khususnya bapak presiden, mereka datang untuk membela Al Quran, agama dan menegakan hukum karena justru mereka cinta kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dan bersemboyan Bhineka Tunggal Ika," ujarnya.

Presiden Joko Widodo Sampaikan Terima Kasih kepada Peserta Aksi

Ketika didaulat menyampaikan pidato, Presiden Joko Widodo menyampaikan terima kasih kepada peserta aksi damai itu.

“Terima kasih atas doa dan dzikir yang dipanjatkan bagi negara kita. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Saya ingin memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya karena seluruh jemaah hadir tertib dalam ketertiban sehingga acaranya bisa berjalan baik," katanya.

Pernyataan Presiden Joko Widodo ini ditanggapi peserta aksi dengan meminta supaya gubernur non aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama, atau yang dikenal sebagai Ahok, ditangkap. Presiden tidak memberi tanggapan atas permintaan itu, tetapi sebelumnya Kapolri Jendral Polisi Tito Karnavian memastikan bahwa proses hukum terhadap Ahok akan terus berlanjut. Proses kasus itu kini berada di tangan Kejaksaan Agung.

"Kemaren sudah diserahkan tersangkanya, saudara Basuki Tjahaja Purnama. Apa yang kami lakukan sudah maksimal, kenapa? Bayangkan berapa kali juga diperiksa KPK tidak bisa jadi tersangka tetapi ketika ditangani oleh Polri bisa jadi tersangka. Untuk itu saya mohon dukungan dari saudara-saudara semua agar proses hukumnya terus berjalan. Dan Polri bersama saudara-saudara sekalian terus mengawal kasus ini," jelasnya.

Kasus Ahok Kini Ditangani Kejaksaan Agung

Pada 16 November lalu, Badan Reserse Kriminal Mabes Polri telah menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama. Penyidik menjeratnya dengan pasal 156 KUHP dengan ancaman hukuman paling lama 4 tahun dan pasal 156a KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun. Tim jaksa penuntut umum menyatakan berkas perkara Ahok lengkap dan akan segera diadili. [em/fw]

"

| Diduga | Makar, | Tiga | Orang | Masih | Ditahan, | Tujuh | Dibebaskan | Sementara | tiga | lainnya | yang | masih | ditahan | adalah | Bintang | Pamungkas | juga | dijerat | dengan | tuduhan | makar | Jamran | Rizal | Kobar | Informasi | & | Transaksi | Elektronik | p> Polisi: | Makar | Bisa | Berbentuk | Permufakatan | Jahat< | strong>< | p> Dalam | keterangan | pers | Mabes | Polri | Jakarta | Kadiv | Humas | Irjen | Rafli | Amar | mengat | tujuh | orang | dipersangk | melakukan | upaya | melanggar | pasal | junto | KUHP | Dugaan | berkaitan | rencana | pemanfaatan | massa | untuk | menduduki | kantor | pemaksaan | agar | dilakukan | Sidang | Istimewa | menuntut | pergantian | pemerintah | sebagainya” | Ditambahkannya | “makar | sini | merup | tind | permufakatan | jahat | Dalam | pemahaman | penyidik | atau | dikategorikan | sebagai | perbuatan | delik | formil | artinya | perlu | terjadi | dulu | tersebut | ”< | p> Polisi | menurut | telah | bertindak | hati | mengumpulkan | informasi | barang | bukti | selama | minggu | terakhir | Penangkapan | menjelang | unjuk | rasa | besar | besaran | hari | Jumat | dipusatkan | Lapangan | Monumen | Nasional | “merup | polisi | menjaga | kemurnian | ibadah | silang | Monas | mengeliminir | berbagai | indikasi | kerawanan | mungkin | seperti | secara | sedemikian | rupa | tambahnya | ​< | p> Aksi | damai | Desember | 2016 | p> Sejumlah | Besar | Massa | Gelar | Aksi | Damai | Monas< | daerah | Bogor | Jawa | Barat | Kalimantan | meramaikan | disebut | “Aksi | Bela | Islam | III” | dihadiri | oleh | Kapolri | Jendral | Polisi | Tito | Karnavian | Wakil | Ketua | Hidayat | Wahid | sejumlah | pemimpin | organisasi | Wartawan | Fathiyah | Wardah | melaporkan | datang | Indonesia | antara | lain | duduk | tertib | sambil | mengucapkan | bersalawat | berzikir | luar | dugaan | Presiden | Joko | Widodo | Jusuf | Kalla | Menkopolhukam | Wiranto | Menteri | Agama | Lukman | Hakim | Saifudin | beberapa | menteri | ikut | mendatangi | lokasi | melaksan | sholat | bersama | khutbah | salah | seorang | Pengawal | Fatwa | Majelis | Ulama | (GNPF | MUI) | Habib | Riziew | Shihab | aksi | ribuan | umat | bukan | ingin | merusak | negara | kesatuan | Republik | keadilan | p> Hari | jutaan | NKRI | melawan | Pancasila | menodai | 1945 | menghancurkan | kebhinekaan | saya | sampaikan | kepada | ulama | umaro | khususnya | bapak | presiden | membela | Quran | agama | meneg | hukum | karena | justru | cinta | berdasarkan | bersemboyan | Bhineka | Tunggal | ujarnya | p> Presiden | Sampaikan | Terima | Kasih | Peserta | Aksi< | p> Ketika | didaulat | menyampaikan | pidato | terima | kasih | peserta | p> “Terima | atas | dzikir | dipanjatkan | bagi | Allahu | Akbar | Saya | memberikan | penghargaan | setinggi | tingginya | seluruh | jemaah | hadir | dalam | ketertiban | acaranya | berjalan | baik | katanya | p> Pernyataan | ditanggapi | meminta | supaya | gubernur | aktif | Basuki | Tjahaya | Purnama | dikenal | Ahok | ditangkap | memberi | tanggapan | permintaan | senya | memastikan | bahwa | proses | terhadap | terus | berlanjut | Proses | kasus | kini | berada | tangan | Kejaksaan | Agung | p> Kemaren | diserahkan | tersangkanya | saudara | Tjahaja | kami | lakukan | maksimal | kenapa | Bayangkan | berapa | kali | diperiksa | jadi | tersangka | ketika | ditangani | Untuk | mohon | dukungan | semua | hukumnya | sekalian | mengawal | jelasnya | p> Kasus | Kini | Ditangani | Agung< | p> Pada | November | Badan | Reserse | Kriminal | menetapkan | penistaan | Penyidik | menjeratnya | ancaman | hukuman | paling | lama | tahun | 156a | jaksa | penuntut | umum | menyat | berkas | perkara | lengkap | segera | diadili | fw]< | em>< | p> |

Friday, December 2, 2016

Mahfud MD: Makar Tuduhan Serius | Nasional

Yogyakarta - Tuduhan makar terhadap 10 orang diantaranya Rahmawati Soekarnoputri, Sri Bintang Pamungkas, Ratna Sarumpaet dan Ahmad Dhani bukanlah tuduhan yang sembarangan.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menilai, penangkapan delapan aktivis atas tuduhan makar bukan perkara main-main, sebab hukumannya sesuai KUHP bisa sampai hukuman mati.

"Saya kira, Kepolisian sudah punya data dan fakta sehingga menetapkan mereka sebagai tersangka kasus makar. Karena tuduhan itu serius, maka ini tidak bisa main-main. Kita tak bisa menyalahkan Polisi, asal ada buktinya dan upaya makar itu hal yang serius. Polisi memang harus melakukan tindakan preventif,” kata Mahfud MD, di Yogyakarta, Jumat (2/12).

Menyikapi upaya yang dilakukan Rahmawati dan kawan-kawan untuk menduduki MPR dan meminta wakil rakyat menggulingkan pemerintahan Joko Widodo â€" Jusuf Kalla, pakar hukum tata negara ini berkomentar bahwa barangkali Rahmawati dan aktivis lainnya, tidak paham bahwa parlemen termasuk MPR tidak bisa menggulingkan pemerintah yang sah dan terlegimitasi. Tetapi, ujar Mahfud, penangkapan harus dilakukan berdasarkan bukti awal yang kuat.

"Mungkin Mbak Rahma dan kawan-kawan belum tahu kalau sekarang sudah berbeda dari era Orba atau Gus Dur dimana legislatif tidak bisa lagi memberhentikan Presiden. Undang-Undang Dasar sudah diamandemen dan berlaku sejak 2004, mereka tampaknya belum paham," ujar Mahfud.

Namun, lanjut Mahfud, pihak Kepolisian perlu menjelaskan ke publik, mengapa sampai muncul tuduhan makar tersebut. “Tetapi hargai upaya Polisi. Masyarakat harus menunggu Polisi menjabarkan bukti awal hingga akhirnya melakukan penangkapan terhadap Rahma dan aktivis lainnya. Kalau tidak terbukti, segera lepaskan,” ucapnya.

Meski belum mendapatkan data soal penangkapan tersebut, Mahfud MD menjelaskan bahwa dalam KUHP setidaknya ada 10 pasal soal tindakan makar dan semua ancamannya berat, dari hukuman mati, penjara seumur hidup atau 20 tahun penjara.

Dijelaskan Mahfud, barangkali tindakan Rahma dan kawan-kawan memang tidak ditujukan sebagai upaya makar. Tetapi mereka lupa bahwa rencana makar adalah perbuatan serius sehingga harus disikapi secara serius pula oleh penegak hukum.

"Tuduhan makar itu serius, tetapi kalau dikaitkan dengan politik tuduhan itu juga tidak benar. Kalau memang ada langkah-langkah yang ditujukan untuk menjatuhkan pemerintah secara tidak sah bahkan dalam tindakan preventif atau sebelum makar terjadi, penangkapan memang bisa dilakukan," tambahnya.

Kondisi politik itu, ujar Mahfud, jika penangkapan tersebut hanya dikaitkan dengan aksi doa bersama 2 Desember yang merupakan kelanjutan aksi atas kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Kalau penangkapan itu memang dilakukan terkait dengan upaya menjatuhkan pemerintah dengan cara yang tidak sah dan melanggar hukum, maka itulah makar,” katanya.

Tindakan preventif atas upaya makar, bisa dilakukan meskipun pihak bersangkutan belum melakukan apa-apa. Namun jangan sampai penangkapan itu mematikan hak-hak politik para aktivis, dan Polisi wajib mengumumkan alasan penangkapan secara transparan.

Suara PembaruanSuara Pembaruan>

Fuska Sani Evani/YUD

Suara Pembaruan

"

| Mahfud | Makar | Tuduhan | Serius | Nasional | Yogyakarta | strong> | makar | terhadap | orang | diantaranya | Rahmawati | Soekarnoputri | Bintang | Pamungkas | Ratna | Sarumpaet | Ahmad | Dhani | bukanlah | tuduhan | yang | sembarangan | p> Mantan | Ketua | Mahkamah | Konstitusi | (MK) | menilai | penangkapan | delapan | aktivis | atas | bukan | perkara | main | hukumannya | sesuai | KUHP | sampai | hukuman | mati | p> Saya | kira | Kepolisian | punya | data | fakta | menetapkan | sebagai | tersangka | kasus | Karena | serius | maka | Kita | menyalahkan | Polisi | asal | buktinya | upaya | memang | harus | melakukan | tind | preventif | kata | Jumat | p> Menyikapi | dilakukan | kawan | untuk | menduduki | meminta | wakil | rakyat | menggulingkan | pemerintahan | Joko | Widodo | Jusuf | Kalla | pakar | hukum | tata | negara | berkomentar | bahwa | barangkali | lainnya | paham | parlemen | termasuk | pemerintah | terlegimitasi | ujar | berdasarkan | bukti | awal | kuat | p> Mungkin | Mbak | Rahma | tahu | kalau | sekarang | berbeda | Orba | atau | dimana | legislatif | lagi | memberhentikan | Presiden | Undang | Dasar | diamandemen | berlaku | sejak | 2004 | tampaknya | p> Namun | lanjut | pihak | perlu | menjelaskan | publik | mengapa | muncul | tersebut | “Te | hargai | Masyarakat | menunggu | menjabarkan | akhirnya | Kalau | terbukti | segera | lepaskan | ucapnya | p> Meski | mendapatkan | soal | dalam | senya | pasal | semua | ancamannya | berat | penjara | seumur | hidup | tahun | p> Dijelaskan | ditujukan | lupa | rencana | adalah | perbuatan | disikapi | secara | pula | oleh | penegak | p> Tuduhan | dikaitkan | dengan | politik | juga | benar | langkah | menjatuhkan | bahkan | terjadi | tambahnya | p> Kondisi | jika | hanya | aksi | bersama | Desember | merup | kelanjutan | dugaan | penistaan | agama | Gubernur | Basuki | Tjahaja | Purnama | alias | Ahok | p> “Kalau | terkait | cara | melanggar | itulah | katanya | p> Tind | meskipun | bersangkutan | Namun | jangan | mematikan | para | wajib | mengumumkan | alasan | transparan | p> < | p> Fuska | Sani | Evani | YUD< | p> Suara | Pembaruan< | p> |

Sunday, December 4, 2016

Makar di Era Reformasi

Dalam konteks menjaga kontinuitas proses reformasi, rencana atau tindakan makar adalah sebuah perjudian dengan taruhan yang amat besar dan sulit dikalkulasikan. Ilustrasi/SINDOnews

Bambang Soesatyo 
Ketua Komisi III DPR RI Fraksi Partai Golkar/Presidium Nasional KAHMI 2012-2017 

POLRI telah mempertaruhkan reputasi dan kredibilitasnya ketika menetapkan sejumlah orang sebagai tersangka perencana makar. Benar-tidak langkah Polri itu akan dikonfirmasi oleh pengadilan. Tetapi, langkah hukum oleh Polri itu mengingatkan semua komponen masyarakat akan pentingnya menjaga dan mengamankan kontinuitas dan skenario proses reformasi yang sudah berjalan sejauh ini.

Demokratisasi pada berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah berproses hingga sekarang adalah produk reformasi. Kendati rakyat merasakan betapa bangsa ini harus menempuh jalan berliku untuk mencapai atau mewujudkan tujuan besar dari reformasi, proses atau skenario yang sudah berjalan sejauh ini tidak boleh dipertaruhkan dengan apa pun, termasuk rencana atau tindakan makar. Jangan berjudi dengan keberlangsungan proses reformasi Indonesia.

Dalam konteks menjaga kontinuitas proses reformasi, rencana atau tindakan makar adalah sebuah perjudian dengan taruhan yang amat besar dan sulit dikalkulasikan. Menggulingkan pemerintahan yang sah dengan aksi makar dan kemudian menghadirkan pemerintahan baru yang bukan pilihan rakyat tidak hanya tampak sebagai sebuah perjudian, tetapi juga sebuah gagasan yang sangat spekulatif.  

Apakah pemerintahan baru yang lahir dari rahim aksi makar itu proreformasi atau antireformasi? Siapa atau kelompok apa yang akan dihadirkan untuk menjalankan roda pemerintahan negara, plus semua agenda reformasi bangsa? Apakah rezim pemerintahan itu kredibel dan kompeten? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan inilah yang patut direnungkan semua komponen bangsa.  

Siapa yang bisa menilai dengan benar dan pasti tentang tabiat sebuah rezim pemerintahan yang dihadirkan dengan mekanisme yang tidak demokratis? Karena tidak ada yang bisa menilai dengan benar dan pasti, makar adalah sebuah perjudian atau tindakan spekulatif yang segala akibatnya akan dibebankan di pundak rakyat.  Demi kesejahteraan dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia, jangan melibatkan rakyat dalam perjudian memperebutkan kekuasaan.

Maka itu, langkah Polri mendeteksi dan mencegah makar harus dilihat dan dipahami dalam konteks itu. Konteks yang jauh lebih luas dan strategis. Dengan mencegah makar, Polri dan TNI setidaknya ingin membangun kepastian tentang kontinuitas proses reformasi bangsa dan negara.

Hampir dua dekade setelah rakyat melakoni semua proses dan tahapan reformasi, dunia sudah telanjur melihat dan meyakini Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga. Bukti paling monumental demokrasi Indonesia dewasa ini terpancar dari kilau Aksi Damai dan Doa Bersama 212 yang mendunia. 

Dengan begitu, makar atau menggulingkan pemerintahan RI yang sah sudah barang tentu akan dilihat sebagai langkah mundur atau kegagalan Indonesia dalam merampungkan proses demokratisasi pada berbagai aspek kehidupan berbangsa, bernegara, dan kehidupan setiap individu putra-putri bangsa. Bisa dipastikan bahwa generasi muda Indonesia yang lahir pada dasawarsa 80 dan 90-an akan sulit menerima jika proses demokratisasi harus ditarik mundur karena tampilnya rezim pemerintahan baru produk makar. 

Orang-orang muda itu bertumbuh-kembang dalam alam demokratis dan menikmati penghargaan atas hak-hak asasi mereka sejak dari dalam keluarga hingga di tengah komunitasnya masing-masing. Lebih dari itu, jika kegiatan makar memancing perlawanan dari elemen-elemen masyarakat yang prokonstitusi, sudah barang tentu harga yang harus dibayar bangsa ini menjadi sangat mahal.

dibaca 2.599x

"

| Makar | Reformasi | Dalam | konteks | menjaga | kontinuitas | proses | reformasi | rencana | atau | tind | makar | adalah | sebuah | perjudian | dengan | taruhan | yang | amat | besar | sulit | dikalkulasikan | Ilustrasi | SINDOnews < | p>Bambang | Soesatyo < | strong> | Ketua | Komisi | Fraksi | Partai | Golkar | Presidium | Nasional | KAHMI | 2012 | 2017 POLRI< | telah | mempertaruhkan | reputasi | kredibilitasnya | ketika | menetapkan | sejumlah | orang | sebagai | tersangka | perencana | Benar | langkah | Polri | dikonfirmasi | oleh | pengadilan | hukum | mengingatkan | semua | komponen | masyarakat | pentingnya | mengamankan | skenario | berjalan | sejauh | p>Demokratisasi | pada | berbagai | aspek | kehidupan | berbangsa | bernegara | berproses | sekarang | produk | Kendati | rakyat | meras | betapa | bangsa | harus | menempuh | jalan | berliku | untuk | mencapai | mewujudkan | tujuan | boleh | dipertaruhkan | termasuk | Jangan | berjudi | keberlangsungan | Indonesia | p>Dalam | Menggulingkan | pemerintahan | aksi | kemudian | menghadirkan | baru | bukan | pilihan | hanya | tampak | juga | gagasan | sangat | spekulatif |   < | p>Apakah | lahir | rahim | proreformasi | antireformasi | Siapa | kelompok | dihadirkan | menjalankan | roda | negara | plus | agenda | Apakah | rezim | kredibel | kompeten | Jawaban | pertanyaan | inilah | patut | direnungkan | p>Siapa | menilai | benar | pasti | tentang | tabiat | mekanisme | demokratis | Karena | segala | dibebankan | pundak | Demi | kesejahteraan | penghormatan | terhadap | asasi | manusia | jangan | melibatkan | dalam | memperebutkan | kekuasaan | p>Maka | mendeteksi | mencegah | dilihat | dipahami | Konteks | jauh | lebih | luas | strategis | Dengan | senya | ingin | membangun | kepastian | p>Hampir | dekade | setelah | melakoni | tahapan | dunia | telanjur | melihat | meyakini | demokrasi | terbesar | ketiga | Bukti | paling | monumental | dewasa | terpancar | kilau | Aksi | Damai | Bersama | mendunia | p>Dengan | begitu | menggulingkan | barang | tentu | mundur | kegagalan | merampungkan | demokratisasi | setiap | individu | putra | putri | Bisa | dipastikan | bahwa | generasi | muda | dasawarsa | menerima | jika | ditarik | karena | tampilnya | p>Orang | bertumbuh | kembang | alam | menikmati | penghargaan | atas | sejak | keluarga | tengah | komunitasnya | masing | Lebih | kegiatan | memancing | perlawanan | elemen | prokonstitusi | harga | dibayar | menjadi | mahal | p>dibaca | 599x< | span>< | div> |

Friday, December 9, 2016

Makar Ideologis

Komaruddin Hidayat. Foto/Istimewa

Komaruddin Hidayat
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
@komar_hidayat

MENGAPA sosok presiden atau wakil presiden kemanapun pergi mesti ada pengawalnya? Jawabannya, khawatir ada bahaya mengancam. Jangan-jangan ada orang jahat yang mau membunuh atau menyakiti.

Jadi, siapapun yang menjadi pemimpin mesti menyadari tidak semua orang senang kepada dirinya. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar juga tantangan yang menghadang.

Ini analog dengan eksistensi Negara Repubik Indonesia. Ada-ada saja orang yang tidak senang pada Indonesia, baik dari dalam  maupun  luar negeri. Artinya, negara  mesti dikawal sebagaimana mengawal presiden karena sangat mungkin ada kekuatan yang mengancam. Dan itulah sebabnya hampir semua negara memiliki pasukan tempur dan intelijen negara. 

Salah satu ancaman yang tertuju pada sosok negara dan pemerintah Indonesia saat ini adalah menyangkut posisi ideologi dan hukum. Ada ustaz yang berpidato, sebagai umat beragama hanya pantas tunduk pada hukum agama. Hukum Allah.

Pernyataan itu betul dalam konteks pribadi  dan komunalisme keagamaan. Tapi sebagai warga negara, maka hukum yang tertinggi adalah undang-undang produk DPR bersama pemerintah.

Seseorang bisa saja tidak senang pada presidennya atau sistem politik negaranya. Tetapi ketika ketidaksenangannya disampaikan terbuka dan menghasut orang lain untuk ikut membenci negara, atau menggoyangnya, maka dia telah melakukan makar ideologis.

Mengkritik pemerintah itu bagus dan dilindungi undang-undang. Itu satu paket dengan sistem demorasi.

Dalam hal ini ada sekelompok orang yang aneh. Mereka memandang sistem demokrasi itu thaghut. Syaitan yang mesti dilawan, jangan diikuti. Tetapi anehnya mereka sangat menikmati iklim demokrasi dalam menjual gagasannya. Tanpa iklim demokrasi geeakan mereka akan tertindas.

Mereka betah tinggal di negara yang mereka musuhi. Kalau tidak senang mestinya hijrah saja. Begitupun dengan Indonesia. Ada yang agendanya ingin mengagamakan Indonesia menurut versi dan tafsiran mereka sendiri.

dibaca 3.606x

"

| Makar | Ideologis | Komaruddin | Hidayat | Foto | Istimewa < | p>Komaruddin | Hidayat< | strong>Guru | Besar | Universitas | Islam | Negeri | (UIN) | Syarif | Hidayatullah@komar_hidayatMENGAPA< | strong> | sosok | presiden | atau | wakil | kemanapun | pergi | mesti | pengawalnya | Jawabannya | khawatir | bahaya | mengancam | Jangan | jangan | orang | jahat | yang | membunuh | menyakiti | p>Jadi | siapapun | menjadi | pemimpin | menya | semua | senang | kepada | dirinya | Semakin | tinggi | jabatan | seseorang | semakin | besar | juga | tantangan | menghadang | p>Ini | analog | dengan | eksistensi | Negara | Repubik | Indonesia | pada | baik | dalam  | maupun  | luar | negeri | Artinya | negara  | dikawal | sebagaimana | mengawal | karena | sangat | mungkin | kekuatan | itulah | hampir | negara | memiliki | pasukan | tempur | intelijen | p>Salah | satu | ancaman | tertuju | pemerintah | saat | adalah | menyangkut | posisi | ideologi | hukum | ustaz | berpidato | sebagai | umat | beragama | hanya | pantas | tunduk | agama | Hukum | Allah | p>Pernyataan | betul | dalam | konteks | pribadi  | komunalisme | keagamaan | Tapi | warga | maka | tertinggi | undang | produk | bersama | p>Seseorang | presidennya | sistem | politik | negaranya | ketika | kesenangannya | disampaikan | terbuka | menghasut | lain | untuk | ikut | membenci | menggoyangnya | telah | melakukan | makar | ideologis | p>Mengkritik | bagus | dilindungi | paket | demorasi | p>Dalam | sekelompok | aneh | Mereka | memandang | demokrasi | thaghut | Syaitan | dilawan | diikuti | anehnya | menikmati | iklim | menjual | gagasannya | Tanpa | tertindas | p>Mereka | betah | tinggal | musuhi | Kalau | mestinya | hijrah | Begitupun | agendanya | ingin | mengagam | menurut | versi | tafsiran | sendiri | p>dibaca | 606x< | span>< | div> |

Thursday, December 8, 2016

Gambar Aliran Dugaan Dana Makar Beredar di Media Sosial, Kapolda: Nanti Kalau Ada Bukti Kita Buka

WARTA KOTA, SEMANGGI-- Gambar  berbentuk bagan dugaan penerimaan aliran dana untuk gerakan makar sebelum aki bela islam jilid III di Monumen Nasional (Monas), Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (2/12), beredar.

Gambar itu berisi juga foto-foto sejumlah tokoh, baik tokoh berlatar belakang politisi, pengusaha, pensiunan militer, ustaz, dan maupun aktivis buruh.

Baca: Polisi Jerat Hatta Taliwang Pakai UU ITE dan Pasal Makar

20161209 hatta taliwang isu makar
Aktivis Hatta Taliwang dibekuk di Rusun Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Dia hanya tertawa dan berpesan agar ketua RT setempat menjaga rusunnya.

Bahkan anak bontot mantan Presiden Soeharto atau Tomy Soeharto digadang-gadang sebagai orang yang mengalirkan dana dalam gambar tersebut.

Baca: Rachmawati Soekarnoputri Stres Jika Dirawat di Rumah Sakit

Rachmawati
Rachmawati dan Sejumlah Tokoh yang Ditangkap sudah Dijadikan Tersangka Makar.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Mochammad Iriawan mengatakan foto yang beredar di media sosial janganlah dipercaya. Karena kalau menuduh seseorang tanpa bukti melanggar Undang-Undang.

"Ya jangan dulu lah, kalau belum jelas ya jangan dispkeluasi macam-macam. Bukan, belum lah belum. Itu kata siapa?" tanya Iriawan kepada wartawan di Ancol, Jakarta Utara, Jumat (9/12).

Dia menegaskan bahwa seseorang jangan sampai dituduh. Jadi perlu ada bukti yang otentik untuk menjerat mereka ke dalam hukum.

"Ya gak boleh lah nuduh orang. Perlu bukti dong. Jangan nuduh. (Tomy Soeharto-red) Bukan, tapi gak boleh nuduh. Nanti kalau udah ada baru kita buka. Kalau gambar orang bisa buka, semua juga bisa. Jangan percaya media sosial ya. Menyesatkan lah. Kalau orang ga terlibat lalu dituduh, kan gak enak," ucapnya.

Saat ditanya sekali lagi soal gambar-gambar aktivis yang diduga mendapatkan aliran dana untuk makar, dia menegaskan semua sedang diselidiki.

"Semua orang bisa gambar. Tersangka boleh bicara apa saja bebas. Kami terus ngusut. Kami mau nggak mungkin hentikan," ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, polisi menangkap 10 orang pada Jumat (2/12) dengan berbagai tuduhan, tetapi sebagian besar tuduhannya adalah makar.

Dari 10 orang itu, tiga orang, satu di antaranya Sri Bintang Pamungkas, masih ditahan di Polda Metro Jaya. Sri Bintang dituduh akan melakukan makar.

Beberapa tokoh lainnya, seperti Mayjen  Purn Kivlan Zein, Rachmawati Soekarnoputri, Ahmad Dhani, dan Eko, telah ditetapkan sebagai tersangka tetapi tidak ditahan.

Polisi kemarin menangkap dan menahan mantan anggota DPR dan aktivis, Hatta Taliwang, dari tempat tinggalnya di Rusun Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Sementara itu, Wartakotalive.com belum bisa menghubungi Tommy Soeharto yang di dalam gambar itu sebagai penyandang dana.

"

| Gambar | Aliran | Dugaan | Dana | Makar | Beredar | Media | Sosial, | Kapolda: | Nanti | Kalau | Bukti | Kita | Buka | WARTA | KOTA | SEMANGGI | strong> | Gambar  | berbentuk | bagan | dugaan | penerimaan | aliran | dana | untuk | makar | bela | islam | jilid | Monumen | Nasional | (Monas) | Gambir | Jakarta | Pusat | Jumat | beredar | p> Gambar | berisi | juga | foto | sejumlah | tokoh | baik | berlatar | belg | politisi | pengusaha | pensiunan | militer | ustaz | maupun | aktivis | buruh | p> Baca: | Polisi | Jerat | Hatta | Taliwang | Pakai | Pasal | Makar< | strong>< | h4> Aktivis | dibekuk | Rusun | Bendungan | Hilir | hanya | tertawa | berpesan | agar | ketua | setempat | menjaga | rusunnya | h5> Bahkan | anak | bontot | mantan | Presiden | Soeharto | atau | Tomy | digadang | gadang | sebagai | orang | yang | mengalirkan | dalam | gambar | tersebut | Rachmawati | Soekarnoputri | Stres | Jika | Dirawat | Rumah | Sakit< | h4> Rachmawati | Sejumlah | Tokoh | Ditangkap | Dijadikan | Tersangka | h5> Kapolda | Metro | Jaya | Irjen | Mochammad | Iriawan | mengat | media | sosial | janganlah | dipercaya | Karena | kalau | menuduh | seseorang | tanpa | bukti | melanggar | Undang | p> Ya | jangan | dulu | jelas | dispkeluasi | macam | Bukan | kata | siapa | tanya | kepada | wartawan | Ancol | Utara | p> Dia | menegaskan | bahwa | sampai | dituduh | Jadi | perlu | otentik | menjerat | hukum | boleh | nuduh | Perlu | dong | Jangan | (Tomy | red) | udah | baru | buka | semua | percaya | Menyesatkan | terlibat | enak | ucapnya | p> Saat | ditanya | sekali | lagi | soal | diduga | mendapatkan | diselidiki | p> Semua | bicara | bebas | Kami | terus | ngusut | nggak | mungkin | hentikan | p> Seperti | diberit | senya | polisi | menangkap | pada | dengan | berbagai | tuduhan | sebagian | besar | tuduhannya | adalah | p> Dari | tiga | satu | antaranya | Bintang | Pamungkas | masih | ditahan | Polda | melakukan | p> Beberapa | lainnya | seperti | Mayjen  | Purn | Kivlan | Zein | Ahmad | Dhani | telah | ditetapkan | tersangka | p> Polisi | kemarin | menahan | anggota | tempat | tinggalnya | p> Sementara | Wartakotalive | menghubungi | Tommy | penyandang | p> |

Friday, December 2, 2016

10 Orang Ditangkap Terkait Makar, Mabes Polri: Mereka Dipanggil Tidak Hadir

Jakarta - Mabes Polri menangkap 10 orang termasuk Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, dan Rachmawati Soekarnoputri. Mereka ditangkap karena telah dipanggil beberapa kali dan tidak hadir.

"Sudah dipanggil beberapa kali, tetapi tidak memenuhi panggilan." kata Kabag Penum Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul di Monas, Jakarta Pusat, Jumat (2/12/2016).

Martinus menegaskan bahwa penangkapan itu telah sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Martinus lalu mencontohkan salah satu orang yang ditangkap yaitu Ahmad Dhani yang selalu mangkir saat dipanggil polisi.

"Penangkapan itu kan sesuai dengan KUHAP. Upaya panggilan tidak dipenuhi, makanya dilakukan penangkapan, Misalnya terhadap saudara ADP (Ahmad Dhani Prasetyo)," ujar Martinus.

Hingga saat ini, polisi masih memeriksa Ahmad Dhani cs yang ditangkap pagi tadi terkait dugaan makar. Dari 10 orang yang ditangkap, ada 8 orang yang dikenai pasal pidana makar.

Kesepuluh orang yang ditangkap berinisial AD, E, AD, KZ, FA, RA, RS, SB, JA, dan RK. Delapan orang di antaranya dikenai tuduhan Pasal 107 KUHP jo Pasal 110 KUHP jo 87 KUHP.

Penangkapan ini dilakukan berdasarkan hasil penyelidikan tim Polda Metro Jaya. Namun Polri belum menjelaskan rinci soal perbuatan dugaan makar yang dilakukan mereka.

(mei/dhn)

"

| Orang | Ditangkap | Terkait | Makar, | Mabes | Polri: | Mereka | Dipanggil | Tidak | Hadir | Jakarta< | strong> | Polri | menangkap | orang | termasuk | Ahmad | Dhani | Ratna | Sarumpaet | Rachmawati | Soekarnoputri | ditangkap | karena | telah | dipanggil | beberapa | kali | tidak | hadir | Sudah | tetapi | memenuhi | panggilan | kata | Kabag | Penum | Kombes | Martinus | Sitompul | Monas | Jakarta | Pusat | Jumat | 2016) | p>Martinus | menegaskan | bahwa | penangkapan | sesuai | dengan | Kitab | Undang | undang | Hukum | Acara | Pidana | (KUHAP) | lalu | mencontohkan | salah | satu | yang | yaitu | selalu | mangkir | saat | polisi | p>Penangkapan | KUHAP | Upaya | dipenuhi | makanya | dilakukan | Misalnya | terhadap | saudara | (Ahmad | Prasetyo) | ujar | p>Hingga | masih | memeriksa | pagi | tadi | terkait | dugaan | makar | Dari | dikenai | pasal | pidana | p>Kesepuluh | berinisial | Delapan | antaranya | tuduhan | Pasal | KUHP | berdasarkan | hasil | penyelidikan | Polda | Metro | Jaya | Namun | belum | menjelaskan | rinci | soal | perbuatan | mereka | p>(mei | dhn)< |

Sunday, December 4, 2016

Makar di Era Reformasi

Dalam konteks menjaga kontinuitas proses reformasi, rencana atau tindakan makar adalah sebuah perjudian dengan taruhan yang amat besar dan sulit dikalkulasikan. Ilustrasi/SINDOnews

Bambang Soesatyo 
Ketua Komisi III DPR RI Fraksi Partai Golkar/Presidium Nasional KAHMI 2012-2017 

POLRI telah mempertaruhkan reputasi dan kredibilitasnya ketika menetapkan sejumlah orang sebagai tersangka perencana makar. Benar-tidak langkah Polri itu akan dikonfirmasi oleh pengadilan. Tetapi, langkah hukum oleh Polri itu mengingatkan semua komponen masyarakat akan pentingnya menjaga dan mengamankan kontinuitas dan skenario proses reformasi yang sudah berjalan sejauh ini.

Demokratisasi pada berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah berproses hingga sekarang adalah produk reformasi. Kendati rakyat merasakan betapa bangsa ini harus menempuh jalan berliku untuk mencapai atau mewujudkan tujuan besar dari reformasi, proses atau skenario yang sudah berjalan sejauh ini tidak boleh dipertaruhkan dengan apa pun, termasuk rencana atau tindakan makar. Jangan berjudi dengan keberlangsungan proses reformasi Indonesia.

Dalam konteks menjaga kontinuitas proses reformasi, rencana atau tindakan makar adalah sebuah perjudian dengan taruhan yang amat besar dan sulit dikalkulasikan. Menggulingkan pemerintahan yang sah dengan aksi makar dan kemudian menghadirkan pemerintahan baru yang bukan pilihan rakyat tidak hanya tampak sebagai sebuah perjudian, tetapi juga sebuah gagasan yang sangat spekulatif.  

Apakah pemerintahan baru yang lahir dari rahim aksi makar itu proreformasi atau antireformasi? Siapa atau kelompok apa yang akan dihadirkan untuk menjalankan roda pemerintahan negara, plus semua agenda reformasi bangsa? Apakah rezim pemerintahan itu kredibel dan kompeten? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan inilah yang patut direnungkan semua komponen bangsa.  

Siapa yang bisa menilai dengan benar dan pasti tentang tabiat sebuah rezim pemerintahan yang dihadirkan dengan mekanisme yang tidak demokratis? Karena tidak ada yang bisa menilai dengan benar dan pasti, makar adalah sebuah perjudian atau tindakan spekulatif yang segala akibatnya akan dibebankan di pundak rakyat.  Demi kesejahteraan dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia, jangan melibatkan rakyat dalam perjudian memperebutkan kekuasaan.

Maka itu, langkah Polri mendeteksi dan mencegah makar harus dilihat dan dipahami dalam konteks itu. Konteks yang jauh lebih luas dan strategis. Dengan mencegah makar, Polri dan TNI setidaknya ingin membangun kepastian tentang kontinuitas proses reformasi bangsa dan negara.

Hampir dua dekade setelah rakyat melakoni semua proses dan tahapan reformasi, dunia sudah telanjur melihat dan meyakini Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga. Bukti paling monumental demokrasi Indonesia dewasa ini terpancar dari kilau Aksi Damai dan Doa Bersama 212 yang mendunia. 

Dengan begitu, makar atau menggulingkan pemerintahan RI yang sah sudah barang tentu akan dilihat sebagai langkah mundur atau kegagalan Indonesia dalam merampungkan proses demokratisasi pada berbagai aspek kehidupan berbangsa, bernegara, dan kehidupan setiap individu putra-putri bangsa. Bisa dipastikan bahwa generasi muda Indonesia yang lahir pada dasawarsa 80 dan 90-an akan sulit menerima jika proses demokratisasi harus ditarik mundur karena tampilnya rezim pemerintahan baru produk makar. 

Orang-orang muda itu bertumbuh-kembang dalam alam demokratis dan menikmati penghargaan atas hak-hak asasi mereka sejak dari dalam keluarga hingga di tengah komunitasnya masing-masing. Lebih dari itu, jika kegiatan makar memancing perlawanan dari elemen-elemen masyarakat yang prokonstitusi, sudah barang tentu harga yang harus dibayar bangsa ini menjadi sangat mahal.

dibaca 5.509x

"

| Makar | Reformasi | Dalam | konteks | menjaga | kontinuitas | proses | reformasi | rencana | atau | tind | makar | adalah | sebuah | perjudian | dengan | taruhan | yang | amat | besar | sulit | dikalkulasikan | Ilustrasi | SINDOnews < | p>Bambang | Soesatyo < | strong> | Ketua | Komisi | Fraksi | Partai | Golkar | Presidium | Nasional | KAHMI | 2012 | 2017 POLRI< | telah | mempertaruhkan | reputasi | kredibilitasnya | ketika | menetapkan | sejumlah | orang | sebagai | tersangka | perencana | Benar | langkah | Polri | dikonfirmasi | oleh | pengadilan | hukum | mengingatkan | semua | komponen | masyarakat | pentingnya | mengamankan | skenario | berjalan | sejauh | p>Demokratisasi | pada | berbagai | aspek | kehidupan | berbangsa | bernegara | berproses | sekarang | produk | Kendati | rakyat | meras | betapa | bangsa | harus | menempuh | jalan | berliku | untuk | mencapai | mewujudkan | tujuan | boleh | dipertaruhkan | termasuk | Jangan | berjudi | keberlangsungan | Indonesia | p>Dalam | Menggulingkan | pemerintahan | aksi | kemudian | menghadirkan | baru | bukan | pilihan | hanya | tampak | juga | gagasan | sangat | spekulatif |   < | p>Apakah | lahir | rahim | proreformasi | antireformasi | Siapa | kelompok | dihadirkan | menjalankan | roda | negara | plus | agenda | Apakah | rezim | kredibel | kompeten | Jawaban | pertanyaan | inilah | patut | direnungkan | p>Siapa | menilai | benar | pasti | tentang | tabiat | mekanisme | demokratis | Karena | segala | dibebankan | pundak | Demi | kesejahteraan | penghormatan | terhadap | asasi | manusia | jangan | melibatkan | dalam | memperebutkan | kekuasaan | p>Maka | mendeteksi | mencegah | dilihat | dipahami | Konteks | jauh | lebih | luas | strategis | Dengan | senya | ingin | membangun | kepastian | p>Hampir | dekade | setelah | melakoni | tahapan | dunia | telanjur | melihat | meyakini | demokrasi | terbesar | ketiga | Bukti | paling | monumental | dewasa | terpancar | kilau | Aksi | Damai | Bersama | mendunia | p>Dengan | begitu | menggulingkan | barang | tentu | mundur | kegagalan | merampungkan | demokratisasi | setiap | individu | putra | putri | Bisa | dipastikan | bahwa | generasi | muda | dasawarsa | menerima | jika | ditarik | karena | tampilnya | p>Orang | bertumbuh | kembang | alam | menikmati | penghargaan | atas | sejak | keluarga | tengah | komunitasnya | masing | Lebih | kegiatan | memancing | perlawanan | elemen | prokonstitusi | harga | dibayar | menjadi | mahal | p>dibaca | 509x< | span>< | div> |