Showing posts sorted by date for query Indonesia. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query Indonesia. Sort by relevance Show all posts

Friday, December 9, 2016

Makar Ideologis

Komaruddin Hidayat. Foto/Istimewa

Komaruddin Hidayat
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
@komar_hidayat

MENGAPA sosok presiden atau wakil presiden kemanapun pergi mesti ada pengawalnya? Jawabannya, khawatir ada bahaya mengancam. Jangan-jangan ada orang jahat yang mau membunuh atau menyakiti.

Jadi, siapapun yang menjadi pemimpin mesti menyadari tidak semua orang senang kepada dirinya. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar juga tantangan yang menghadang.

Ini analog dengan eksistensi Negara Repubik Indonesia. Ada-ada saja orang yang tidak senang pada Indonesia, baik dari dalam  maupun  luar negeri. Artinya, negara  mesti dikawal sebagaimana mengawal presiden karena sangat mungkin ada kekuatan yang mengancam. Dan itulah sebabnya hampir semua negara memiliki pasukan tempur dan intelijen negara. 

Salah satu ancaman yang tertuju pada sosok negara dan pemerintah Indonesia saat ini adalah menyangkut posisi ideologi dan hukum. Ada ustaz yang berpidato, sebagai umat beragama hanya pantas tunduk pada hukum agama. Hukum Allah.

Pernyataan itu betul dalam konteks pribadi  dan komunalisme keagamaan. Tapi sebagai warga negara, maka hukum yang tertinggi adalah undang-undang produk DPR bersama pemerintah.

Seseorang bisa saja tidak senang pada presidennya atau sistem politik negaranya. Tetapi ketika ketidaksenangannya disampaikan terbuka dan menghasut orang lain untuk ikut membenci negara, atau menggoyangnya, maka dia telah melakukan makar ideologis.

Mengkritik pemerintah itu bagus dan dilindungi undang-undang. Itu satu paket dengan sistem demorasi.

Dalam hal ini ada sekelompok orang yang aneh. Mereka memandang sistem demokrasi itu thaghut. Syaitan yang mesti dilawan, jangan diikuti. Tetapi anehnya mereka sangat menikmati iklim demokrasi dalam menjual gagasannya. Tanpa iklim demokrasi geeakan mereka akan tertindas.

Mereka betah tinggal di negara yang mereka musuhi. Kalau tidak senang mestinya hijrah saja. Begitupun dengan Indonesia. Ada yang agendanya ingin mengagamakan Indonesia menurut versi dan tafsiran mereka sendiri.

dibaca 3.606x

"

| Makar | Ideologis | Komaruddin | Hidayat | Foto | Istimewa < | p>Komaruddin | Hidayat< | strong>Guru | Besar | Universitas | Islam | Negeri | (UIN) | Syarif | Hidayatullah@komar_hidayatMENGAPA< | strong> | sosok | presiden | atau | wakil | kemanapun | pergi | mesti | pengawalnya | Jawabannya | khawatir | bahaya | mengancam | Jangan | jangan | orang | jahat | yang | membunuh | menyakiti | p>Jadi | siapapun | menjadi | pemimpin | menya | semua | senang | kepada | dirinya | Semakin | tinggi | jabatan | seseorang | semakin | besar | juga | tantangan | menghadang | p>Ini | analog | dengan | eksistensi | Negara | Repubik | Indonesia | pada | baik | dalam  | maupun  | luar | negeri | Artinya | negara  | dikawal | sebagaimana | mengawal | karena | sangat | mungkin | kekuatan | itulah | hampir | negara | memiliki | pasukan | tempur | intelijen | p>Salah | satu | ancaman | tertuju | pemerintah | saat | adalah | menyangkut | posisi | ideologi | hukum | ustaz | berpidato | sebagai | umat | beragama | hanya | pantas | tunduk | agama | Hukum | Allah | p>Pernyataan | betul | dalam | konteks | pribadi  | komunalisme | keagamaan | Tapi | warga | maka | tertinggi | undang | produk | bersama | p>Seseorang | presidennya | sistem | politik | negaranya | ketika | kesenangannya | disampaikan | terbuka | menghasut | lain | untuk | ikut | membenci | menggoyangnya | telah | melakukan | makar | ideologis | p>Mengkritik | bagus | dilindungi | paket | demorasi | p>Dalam | sekelompok | aneh | Mereka | memandang | demokrasi | thaghut | Syaitan | dilawan | diikuti | anehnya | menikmati | iklim | menjual | gagasannya | Tanpa | tertindas | p>Mereka | betah | tinggal | musuhi | Kalau | mestinya | hijrah | Begitupun | agendanya | ingin | mengagam | menurut | versi | tafsiran | sendiri | p>dibaca | 606x< | span>< | div> |

Thursday, December 8, 2016

Tangkap Aktivis dengan Tuduhan Makar, Nama Baik Polri Jadi Taruhan : Okezone News

JAKARTA â€" Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono, mempersilakan kepolisian memproses hukum sejumlah aktivis yang diduga melakukan makar terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun, Arief mengingatkan nama baik Polri menjadi taruhannya jika tak ada bukti adanya makar.

"Namun jika polisi nanti tidak bisa membuktikan adanya upaya makar dari kelompok aktivis maka taruhannya adalah nama Polri sendiri," ujar Arief saat dihubungi, Jumat (9/12/2016).

BERITA REKOMENDASI


Ia melanjutkan, apa yang dilakukan sejumlah aktivis seperti Rachmawati Soekarnoputri, Sri Bintang Pamungkas, serta Hatta Taliwang belum bisa disebut sebagai tindakan makar. Arif menerangkan, syarat terjadinya makar jika adanya keterlibatan militer, pengikut banyak, sampai keinginan untuk mengganti ideologi negara.

"Sebab biasanya di semua negara jika terjadi makar maka syarat utama harus ada keterlibatan militer, keinginan menggantikan ideologi negara, pengikutnya banyak, dan ada rapat-rapat tertutup. Nah, ini mereka mau makar masa buat rapat terbuka dan ngundang wartawan," keluh Arief.

Presiden Jokowi, menurutnya, tak boleh begitu saja percaya dengan informasi akan adanya gerakan makar yamg direncanakan pada 2 Desember 2016. Perbedaan pandangan, kata Arief, sah-sah saja di negara demokrasi seperti Indonesia, sepanjang tak mengubah konstitusi negara.

"Jadi Pak Jokowi dan Polri harus waspada jangan-jangan informasi para aktivis akan adanya makar dari intelijen hanya sebuah cara untuk semakin mendelegitimasi institusi Polri sebagai penjaga demokrasi yang akhirnya Polri akan bernasib sama seperti institusi TNI di era Soeharto," simpulnya.

Diketahui, 10 orang ditangkap dalam kasus dugaan makar pada 2 Desember 2016. Mereka adalah mantan staf ahli panglima TNI, Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha; mantan Kepala Staf Kostrad, Mayjen (Purn) Kivlan Zein; dan Ketua Solidaritas Sahabat Cendana Firza Huzein.

Kemudian seniman dan aktivis politik Ratna Sarumpaet; pentolan band Dewa 19 sekaligus calon wakil bupati Bekasi, Ahmad Dhani; putri presiden pertama RI Soekarno, Rachmawati Soerkarnoputri; Sri Bintang Pamungkas; dan Eko. Sementara ada dua orang yang ditangkap dan dijerat Pasal 28 Undang-Undang ITE yakni Jamran dan Rizal Kobar.

Terakhir, kepolisian menangkap mantan anggota DPR 1999â€"2004, Hatta Taliwang, yang diduga terlibat dengan pemufakatan makar bersama delapan aktivis yang sudah ditetapkan tersangka.

"

| Tangkap | Aktivis | dengan | Tuduhan | Makar, | Nama | Baik | Polri | Jadi | Taruhan | Okezone | News | JAKARTA< | strong> | Wakil | Ketua | Umum | Partai | Gerindra | Arief | Poyuono | mempersil | kepolisian | memproses | hukum | sejumlah | aktivis | yang | diduga | melakukan | makar | terhadap | pemerintahan | Presiden | Joko | Widodo | (Jokowi) | Namun | mengingatkan | nama | baik | menjadi | taruhannya | jika | bukti | adanya | p> Namun | polisi | nanti | membuktikan | upaya | kelompok | maka | adalah | sendiri | ujar | saat | dihubungi | Jumat | 2016) | p> BERITA | REKOMENDASI< | p> < | div> Ia | melanjutkan | dilakukan | seperti | Rachmawati | Soekarnoputri | Bintang | Pamungkas | serta | Hatta | Taliwang | disebut | sebagai | tind | Arif | menerangkan | syarat | terjadinya | keterlibatan | militer | pengikut | banyak | sampai | keinginan | untuk | mengganti | ideologi | negara | p> Sebab | biasanya | semua | terjadi | utama | harus | menggantikan | pengikutnya | rapat | tertutup | Nah< | masa | buat | terbuka | ngundang< | wartawan | keluh | p> Presiden | Jokowi | menurutnya | boleh | begitu | percaya | informasi | yamg | direncan | pada | Desember | 2016 | Perbedaan | pandangan | kata | demokrasi | Indonesia | sepanjang | mengubah | konstitusi | p> Jadi | waspada | jangan | para | intelijen | hanya | sebuah | cara | semakin | mendelegitimasi | institusi | penjaga | akhirnya | bernasib | sama | Soeharto | simpulnya | p> Diketahui | orang | ditangkap | dalam | kasus | dugaan | Mereka | mantan | staf | ahli | panglima | Brigjen | (Purn) | Adityawarman | Thaha; | Kepala | Staf | Kostrad | Mayjen | Kivlan | Zein; | Solitas | Sahabat | Cendana | Firza | Huzein | p> Kemudian | seniman | politik | Ratna | Sarumpaet; | pentolan | band | Dewa | sekaligus | calon | wakil | bupati | Bekasi | Ahmad | Dhani; | putri | presiden | pertama | Soekarno | Soerkarnoputri; | Pamungkas; | Sementara | dijerat | Pasal | Undang | yakni | Jamran | Rizal | Kobar | p> Terakhir | menangkap | anggota | 1999â€"2004 | terlibat | pemufakatan | bersama | delapan | ditetapkan | tersangka | p> |

Wapres Minta ICMI Ikut Aktif Cegah Upaya Makar

JAKARTA, KOMPAS.com â€" Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia membantu pemerintah dalam upaya mencegah terjadinya tindakan pengambilalihan kekuasaan secara inkonstitusional atau makar.

Permintaan itu disampaikan Wapres saat membuka Silaturahmi Kerja Nasional ICMI, Kamis (8/12/2016) malam.

Kalla mengatakan, dibutuhkan upaya dari seluruh komponen, termasuk ICMI, guna mencegah terealisasinya upaya makar tersebut.

Apalagi, sejumlah petinggi ICMI merupakan pejabat negara dan pemerintahan, terutama di Dewan Pakar.

"Ya, karena itu Dewan Pakar harus mencegah terjadinya makar,” kata Wapres.

Untuk diketahui, posisi Ketua Dewan Pakar ICMI saat ini dipegang Zulkifli Hasan, yang juga merupakan Ketua MPR dan Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional.

Sementara itu, posisi Wakil Ketua Dewan Pakar dijabat oleh Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama yang juga politisi Partai Persatuan Pembangunan.

"Tadi (saya) bicara dengan Ketua MPR, Dewan Pakar kan, Dewan Pakar agar jangan makar," ucap Kalla.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu menekankan agar seluruh komponen ICMI dapat tetap menjaga semangat nilai-nilai keislaman dan juga keindonesiaan dalam setiap mengambil keputusan.

Hal itu diperlukan untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Isu makar sempat muncul jelang pelaksanaan aksi damai bertajuk doa bersama pada 2 Desember lalu.

Aksi doa bersama itu menuntut proses hukum terhadap Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama.

Setidaknya, sebelas orang ditangkap aparat kepolisian terkait upaya itu. Namun, beberapa di antaranya kini telah dilepaskan, meski tetap bersandang status tersangka.

Kompas TV Penanganan Tersangka Makar jadi Bahasan Kapolri dengan DPR

"

| Wapres | Minta | ICMI | Ikut | Aktif | Cegah | Upaya | Makar | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> | Wakil | Presiden | Jusuf | Kalla< | meminta | Ikatan | Cendekiawan | Muslim | Indonesia | membantu | pemerintah | dalam | upaya | mencegah | terjadinya | tind | pengambilalihan | kekuasaan | secara | inkonstitusional | atau | makar | p> Permintaan | disampaikan | saat | membuka | Silaturahmi | Kerja | Nasional | ICMI< | Kamis | 2016) | malam | p> Kalla | mengat | dibutuhkan | seluruh | komponen | termasuk | guna | terealisasinya | tersebut | p> Apalagi | sejumlah | petinggi | merup | pejabat | negara | pemerintahan | terutama | Dewan | Pakar | p> Ya | karena | harus | kata | p> Untuk | diketahui | posisi | Ketua | dipegang | Zulkifli | Hasan< | yang | juga | Umum | Partai | Amanat | Nasional< | p> Sementara | dijabat | oleh | Lukman | Hakim | Saifuddin< | Menteri | Agama | politisi | Persatuan | Pembangunan< | p> Tadi | (saya) | bicara | dengan | agar | jangan | ucap | Kalla | p> Mantan | Golkar< | menekankan | dapat | tetap | menjaga | semangat | nilai | keislaman | keindonesiaan | setiap | mengambil | keputusan | p> Hal | diperlukan | untuk | kedaulatan | Negara | Kesatuan | Republik | p> Isu | sempat | muncul | jelang | pelaksanaan | aksi | damai | bertajuk | bersama< | pada | Desember< | p> Aksi | menuntut | proses | hukum | terhadap | Gubernur | nonaktif | Jakarta | Basuki | Tjahja | Purnama | p> Senya | sebelas | orang | ditangkap | aparat | kepolisian | terkait | Namun | beberapa | antaranya | kini | telah | dilepaskan | meski | bersandang | status | tersangka | p> Kompas | span> | Penanganan | Tersangka | jadi | Bahasan | Kapolri | DPR< | p> |

Wapres Minta ICMI Ikut Aktif Cegah Upaya Makar

JAKARTA, KOMPAS.com â€" Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia membantu pemerintah dalam upaya mencegah terjadinya tindakan pengambilalihan kekuasaan secara inkonstitusional atau makar.

Permintaan itu disampaikan Wapres saat membuka Silaturahmi Kerja Nasional ICMI, Kamis (8/12/2016) malam.

Kalla mengatakan, dibutuhkan upaya dari seluruh komponen, termasuk ICMI, guna mencegah terealisasinya upaya makar tersebut.

Apalagi, sejumlah petinggi ICMI merupakan pejabat negara dan pemerintahan, terutama di Dewan Pakar.

"Ya, karena itu Dewan Pakar harus mencegah terjadinya makar,” kata Wapres.

Untuk diketahui, posisi Ketua Dewan Pakar ICMI saat ini dipegang Zulkifli Hasan, yang juga merupakan Ketua MPR dan Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional.

Sementara itu, posisi Wakil Ketua Dewan Pakar dijabat oleh Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama yang juga politisi Partai Persatuan Pembangunan.

"Tadi (saya) bicara dengan Ketua MPR, Dewan Pakar kan, Dewan Pakar agar jangan makar," ucap Kalla.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu menekankan agar seluruh komponen ICMI dapat tetap menjaga semangat nilai-nilai keislaman dan juga keindonesiaan dalam setiap mengambil keputusan.

Hal itu diperlukan untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Isu makar sempat muncul jelang pelaksanaan aksi damai bertajuk doa bersama pada 2 Desember lalu.

Aksi doa bersama itu menuntut proses hukum terhadap Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama.

Setidaknya, sebelas orang ditangkap aparat kepolisian terkait upaya itu. Namun, beberapa di antaranya kini telah dilepaskan, meski tetap bersandang status tersangka.

Kompas TV Penanganan Tersangka Makar jadi Bahasan Kapolri dengan DPR

"

| Wapres | Minta | ICMI | Ikut | Aktif | Cegah | Upaya | Makar | JAKARTA | KOMPAS | com< | strong> | Wakil | Presiden | Jusuf | Kalla< | meminta | Ikatan | Cendekiawan | Muslim | Indonesia | membantu | pemerintah | dalam | upaya | mencegah | terjadinya | tind | pengambilalihan | kekuasaan | secara | inkonstitusional | atau | makar | p> Permintaan | disampaikan | saat | membuka | Silaturahmi | Kerja | Nasional | ICMI< | Kamis | 2016) | malam | p> Kalla | mengat | dibutuhkan | seluruh | komponen | termasuk | guna | terealisasinya | tersebut | p> Apalagi | sejumlah | petinggi | merup | pejabat | negara | pemerintahan | terutama | Dewan | Pakar | p> Ya | karena | harus | kata | p> Untuk | diketahui | posisi | Ketua | dipegang | Zulkifli | Hasan< | yang | juga | Umum | Partai | Amanat | Nasional< | p> Sementara | dijabat | oleh | Lukman | Hakim | Saifuddin< | Menteri | Agama | politisi | Persatuan | Pembangunan< | p> Tadi | (saya) | bicara | dengan | agar | jangan | ucap | Kalla | p> Mantan | Golkar< | menekankan | dapat | tetap | menjaga | semangat | nilai | keislaman | keindonesiaan | setiap | mengambil | keputusan | p> Hal | diperlukan | untuk | kedaulatan | Negara | Kesatuan | Republik | p> Isu | sempat | muncul | jelang | pelaksanaan | aksi | damai | bertajuk | bersama< | pada | Desember< | p> Aksi | menuntut | proses | hukum | terhadap | Gubernur | nonaktif | Jakarta | Basuki | Tjahja | Purnama | p> Senya | sebelas | orang | ditangkap | aparat | kepolisian | terkait | Namun | beberapa | antaranya | kini | telah | dilepaskan | meski | bersandang | status | tersangka | p> Kompas | span> | Penanganan | Tersangka | jadi | Bahasan | Kapolri | DPR< | p> |

Komisioner Komnas HAM: Makar Hak Konstitusional Rakyat

Jakarta, CNN Indonesia -- Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai menilai upaya mengganti presiden di tengah masa jabatan merupakan hak konstitusional warga negara. Namun hal itu harus sesuai dengan undang-undang.

Pernyataan itu disampaikan Pigai menyikapi penangkapan sejumlah aktivis yang dituding melakukan makar, termasuk Direktur Institut Soekarno-Hatta, Hatta Taliwang, yang ditangkap pada dini hari tadi.

"Kritikan rakyat itu merupakan hak konstitusional warga negara, termasuk perbuatan atau tindakan mengganti presiden di tengah jalan asal konstitusional melalui parlemen," kata Pigai dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, di Jakarta kemarin.

Dia menilai penangkapan Hatta Taliwang dan sejumlah tokoh yang dituduh makar membuktikan watak pemerintahan represif. Sepanjang tindakan makar sesuai dengan konstitusi, menurutnya, hal itu bukan persoalan.

"Penangkapan terhadap Ibu Rachma dkk, termasuk Pak Hatta Taliwang, menujukkan tindakan represif pemerintah. Jangan sampai terjadi penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power)," katanya.

Pigai mengatakan, makar atau kudeta yang tidak dibenarkan adalah makar yang bersifat inkonstitusional. Hal itu berarti tindakan makar tersebut menimbulkan instabilitas nasional, pelanggaran HAM, menghilangkan demokrasi, dan kedigdayaan sipil.

Dia menjelaskan, dalam human rights and elections disebutkan, di tengah kondisi tertentu atau situasi terpaksa, presiden memiliki kemampuan untuk mengeluarkan pernyataan darurat atau state in emergency.

Demikian pula dengan rakyat. Mereka juga memiliki kesempatan untuk melakukan pengambilalihan kekuasaan, apakah melalui people power ataupun kudeta, baik oleh militer atau sipil. Dia menyebut tindakan makar pernah dipraktikkan di Indonesia dan di negara-negara lain.

"Keduanya dilakukan hanya semata-mata demi pemulihan stabilitas sosial dan integritas nasional," kata Pigai.

Komisioner asal Papua itu mengatakan, kekuasaan presiden tidak tak terbatas. Dalam arti, kekuasaan presiden dibatasi oleh konstitusi negara.

Presiden adalah pemangku kewajiban (obligation) atas perlindungan dan pemenuhan HAM. Sementara kedudukan rakyat sebagai pemilik hak (Right holder). Oleh karena itu, rakyat berhak menilai dan mengkritisinya.

Sementara itu, anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDIP Junimart Girsang berharap proses penyidikan kasus makar ini dilakukan secara transparan.

Dia meminta polisi mempublikasikan bukti makar yang dituduhkan kepada sejumlah orang yang telah ditangkap.

"Kami harapkan sekali lagi, polisi sebaiknya transparan dalam penyidikan. Sampaikanlah kepada masyarakat, agar tidak muncul isu-isu yang tidak kondusif," kata Junimart.

Dia yakin polisi masih memiliki bukti lain terkait dugaan makar tersebut. Namun Junimart belum mengetahui secara pasti dalam bentuk apa bukti tersebut.

"Kami tak tahu apakah mereka (polisi) masih punya bukti lain. Bukti percakapan langsung misalnya, saya yakin itu ada," kata Junimart.

Kemarin polisi kembali menangkap satu orang yang diduga terkait kasus makar. Kali ini yang ditangkap adalah Direktur Institut Soekarno-Hatta, Hatta Taliwang. Dia ditangkap di rumahnya pada pukul 01.30 WIB. (pmg/obs)

"

| Komisioner | Komnas | HAM: | Makar | Konstitusional | Rakyat | Jakarta< | span> | Indonesia< | span>< | strong> | Natalius | Pigai | menilai | upaya | mengganti | presiden | tengah | masa | jabatan | merup | konstitusional | warga | negara | Namun | harus | sesuai | dengan | undang | Pernyataan | disampaikan | menyikapi | penangkapan | sejumlah | aktivis | yang | dituding | melakukan | makar | termasuk | Direktur | Institut | Soekarno | Hatta | Taliwang | ditangkap | pada | dini | hari | tadi | p>Kritikan | rakyat | perbuatan | atau | tind | jalan | asal | parlemen | kata | dalam | keterangan | tertulis | diterima | CNNIndonesia | com< | Jakarta kemarin | p>Dia | tokoh | dituduh | membuktikan | watak | pemerintahan | represif | Sepanjang | konstitusi | menurutnya | bukan | persoalan | p>Penangkapan | terhadap | Rachma | menujukkan | pemerintah | Jangan | sampai | terjadi | penyalahgunaan | kekuasaan | (abuse | power< | em>) | katanya | p> Pigai | mengat | kudeta | dibenarkan | adalah | bersifat | inkonstitusional | berarti | tersebut | menimbulkan | instabilitas | nasional | pelanggaran | menghilangkan | demokrasi | kedigdayaan | sipil | menjelaskan | human | rights | elections< | disebutkan | kondisi | tertentu | situasi | terpaksa | memiliki | kemampuan | untuk | mengeluarkan | pernyataan | darurat | state | emergency | em>< | p>Demikian | pula | Mereka | juga | kesempatan | pengambilalihan | apakah | people | ataupun | baik | oleh | militer | menyebut | pernah | dipraktikkan | Indonesia | lain | p>Keduanya | dilakukan | hanya | semata | mata | demi | pemulihan | stabilitas | sosial | integritas | p>Komisioner | Papua | terbatas | Dalam | arti | dibatasi | p>Presiden | pemangku | kewajiban | (obligation< | atas | perlindungan | pemenuhan | Sementara | kedudukan | sebagai | pemilik | (Right | holder< | Oleh | karena | berhak | mengkritisinya | p>Sementara | anggota | Komisi | Fraksi | PDIP | Junimart | Girsang | berharap | proses | penyidikan | kasus | secara | transparan | meminta | polisi | mempublikasikan | bukti | dituduhkan | kepada | orang | telah | p>Kami | harapkan | sekali | lagi | sebaiknya | Sampaikanlah | masyarakat | agar | muncul | kondusif | yakin | masih | terkait | dugaan | mengetahui | pasti | bentuk | tak tahu | (polisi) | punya | Bukti | percakapan | langsung | misalnya | saya | p>Kemarin | kembali | menangkap | satu | diduga | Kali | rumahnya | pukul | (pmg | obs)< | strong> < |

Makar Ideologis

Komaruddin Hidayat. Foto/Istimewa

Komaruddin Hidayat
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
@komar_hidayat

MENGAPA sosok presiden atau wakil presiden kemanapun pergi mesti ada pengawalnya? Jawabannya, khawatir ada bahaya mengancam. Jangan-jangan ada orang jahat yang mau membunuh atau menyakiti.

Jadi, siapapun yang menjadi pemimpin mesti menyadari tidak semua orang senang kepada dirinya. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar juga tantangan yang menghadang.

Ini analog dengan eksistensi Negara Repubik Indonesia. Ada-ada saja orang yang tidak senang pada Indonesia, baik dari dalam  maupun  luar negeri. Artinya, negara  mesti dikawal sebagaimana mengawal presiden karena sangat mungkin ada kekuatan yang mengancam. Dan itulah sebabnya hampir semua negara memiliki pasukan tempur dan intelijen negara. 

Salah satu ancaman yang tertuju pada sosok negara dan pemerintah Indonesia saat ini adalah menyangkut posisi ideologi dan hukum. Ada ustaz yang berpidato, sebagai umat beragama hanya pantas tunduk pada hukum agama. Hukum Allah.

Pernyataan itu betul dalam konteks pribadi  dan komunalisme keagamaan. Tapi sebagai warga negara, maka hukum yang tertinggi adalah undang-undang produk DPR bersama pemerintah.

Seseorang bisa saja tidak senang pada presidennya atau sistem politik negaranya. Tetapi ketika ketidaksenangannya disampaikan terbuka dan menghasut orang lain untuk ikut membenci negara, atau menggoyangnya, maka dia telah melakukan makar ideologis.

Mengkritik pemerintah itu bagus dan dilindungi undang-undang. Itu satu paket dengan sistem demorasi.

Dalam hal ini ada sekelompok orang yang aneh. Mereka memandang sistem demokrasi itu thaghut. Syaitan yang mesti dilawan, jangan diikuti. Tetapi anehnya mereka sangat menikmati iklim demokrasi dalam menjual gagasannya. Tanpa iklim demokrasi geeakan mereka akan tertindas.

Mereka betah tinggal di negara yang mereka musuhi. Kalau tidak senang mestinya hijrah saja. Begitupun dengan Indonesia. Ada yang agendanya ingin mengagamakan Indonesia menurut versi dan tafsiran mereka sendiri.

dibaca 2.195x

"

| Makar | Ideologis | Komaruddin | Hidayat | Foto | Istimewa < | p>Komaruddin | Hidayat< | strong>Guru | Besar | Universitas | Islam | Negeri | (UIN) | Syarif | Hidayatullah@komar_hidayatMENGAPA< | strong> | sosok | presiden | atau | wakil | kemanapun | pergi | mesti | pengawalnya | Jawabannya | khawatir | bahaya | mengancam | Jangan | jangan | orang | jahat | yang | membunuh | menyakiti | p>Jadi | siapapun | menjadi | pemimpin | menya | semua | senang | kepada | dirinya | Semakin | tinggi | jabatan | seseorang | semakin | besar | juga | tantangan | menghadang | p>Ini | analog | dengan | eksistensi | Negara | Repubik | Indonesia | pada | baik | dalam  | maupun  | luar | negeri | Artinya | negara  | dikawal | sebagaimana | mengawal | karena | sangat | mungkin | kekuatan | itulah | hampir | negara | memiliki | pasukan | tempur | intelijen | p>Salah | satu | ancaman | tertuju | pemerintah | saat | adalah | menyangkut | posisi | ideologi | hukum | ustaz | berpidato | sebagai | umat | beragama | hanya | pantas | tunduk | agama | Hukum | Allah | p>Pernyataan | betul | dalam | konteks | pribadi  | komunalisme | keagamaan | Tapi | warga | maka | tertinggi | undang | produk | bersama | p>Seseorang | presidennya | sistem | politik | negaranya | ketika | kesenangannya | disampaikan | terbuka | menghasut | lain | untuk | ikut | membenci | menggoyangnya | telah | melakukan | makar | ideologis | p>Mengkritik | bagus | dilindungi | paket | demorasi | p>Dalam | sekelompok | aneh | Mereka | memandang | demokrasi | thaghut | Syaitan | dilawan | diikuti | anehnya | menikmati | iklim | menjual | gagasannya | Tanpa | tertindas | p>Mereka | betah | tinggal | musuhi | Kalau | mestinya | hijrah | Begitupun | agendanya | ingin | mengagam | menurut | versi | tafsiran | sendiri | p>dibaca | 195x< | span>< | div> |

Prabowo Instruksikan Kadernya Hati-hati Menyikapi Isu Makar

Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Gerindra Desmond Junaidi Mahesa menyatakan partainya bersikap hati-hati dalam menanggapi isu makar. Hal itu sesuai instruksi dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

"Kami disuruh berhati-hati bersikap. Kami tunggu proses persidangan atas tuduhan-tuduhan itu," kata Desmond di Kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (8/12).

Desmond mengatakan, secara khusus pihaknya terus mengikuti perkembangan kasus makar yang dituduhkan kepada Rachmawati Soekarnoputri selaku bagian Partai Gerindra. Namun dia lebih memilih menunggu proses persidangan perkara dugaan makar.

"Kami akan bereaksi kalau ada ketidakadilan yang dibebankan kepada Eko dan Bu Rachmawati," kata Desmond.

Dalam kasus dugaan makar, polisi telah menetapkan sepuluh orang sebagai tersangka. Mereka adalah Rachmawati Soekarnoputri, Kivlan Zein, Adityawarman Thahar, Ratna Sarumpaet, Firza Huzein, Eko Santjojo, Alvin Indra, dan Sri Bintang Pamungkas, Rizal dan Jamran.

Desmond menambahkan, polisi harus bisa menyebutkan bukti yang dijadikan dasar penangkapan sejumlah orang yang dituduh makar. Dia mempertanyakan bukti tersebut.

"Pembuktian itulah yang kami tunggu. Saya cuma berharap sebagai komisi hukum, jangan sampai polisi mengada-ada saja, akhirnya tidak bisa (dibuktikan) atau pembuktiannya dipaksakan," kata Desmond.

Sementara anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDIP Junimart Girsang mengapresiasi kinerja polisi dalam menangkap pelaku dugaan makar. Termasuk penangkapan Direktur Institut Soekarno-Hatta, Hatta Taliwang, dini hari tadi.

"Saya apresiasi, mereka ternyata tetap bergerak walaupun secara silent dan tentu penangkapan yang terbaru ini merupakan bukti bahwa kepolisian telah mengumpulkan bukti yang cukup. Sehingga mereka siap untuk melakukan penangkapan," kata Junimart.

Selain itu, dia meminta masyarakat mampu membedakan tindakan makar dan yang bukan makar. Menurut Junimart, makar tidak harus mengerahkan massa dalam melancarkan aksinya.

"Kalau makar itu kepentingan seseorang atau sekelompok orang untuk menggulingkan pemerintahan. Kan itu harus dibedakan," kata Junimart.

Hari ini polisi kembali menangkap satu orang yang diduga terkait kasus makar. Kali ini yang ditangkap adalah Direktur Institut Soekarno-Hatta, Hatta Taliwang. Dia ditangkap di rumahnya pada pukul 01.30 WIB. (pmg/gil)

"

| Prabowo | Instruksikan | Kadernya | Hati-hati | Menyikapi | Makar | Jakarta< | span> | Indonesia< | span>< | strong> | Anggota | Komisi | Fraksi | Partai | Gerindra | Desmond | Junaidi | Mahesa | menyat | partainya | bersikap | hati | dalam | menanggapi | makar | sesuai | instruksi | Ketua | Umum | Subianto | Kami | disuruh | berhati | tunggu | proses | persidangan | atas | tuduhan | kata | Kompleks | Jakarta | Kamis | p>Desmond | mengat | secara | khusus | pihaknya | terus | mengikuti | perkembangan | kasus | yang | dituduhkan | kepada | Rachmawati | Soekarnoputri | selaku | bagian | Namun | lebih | memilih | menunggu | perkara | dugaan | p>Kami | bereaksi | kalau | keadilan | dibebankan | p> Dalam | polisi | telah | menetapkan | sepuluh | orang | sebagai | tersangka | Mereka | adalah | Kivlan | Zein | Adityawarman | Thahar | Ratna | Sarumpaet | Firza | Huzein | Santjojo | Alvin | Indra | Bintang | Pamungkas | Rizal | Jamran | menambahkan | harus | menyebutkan | bukti | dijadikan | dasar | penangkapan | sejumlah | dituduh | mempertany | tersebut | p>Pembuktian | itulah | kami | Saya | cuma | berharap | komisi | hukum | jangan | sampai | mengada | akhirnya | (dibuktikan) | atau | pembuktiannya | dipaks | p>Sementara | anggota | PDIP | Junimart | Girsang | mengapresiasi | kinerja | menangkap | pelaku | Termasuk | Direktur | Institut | Soekarno | Hatta | Taliwang | dini | hari | tadi | p>Saya | apresiasi | ternyata | tetap | bergerak | walaupun | silent | tentu | terbaru | merup | bahwa | kepolisian | mengumpulkan | cukup | siap | untuk | melakukan | p>Selain | meminta | masyarakat | mampu | membed | tind | bukan | Menurut | mengerahkan | massa | melancarkan | aksinya | p>Kalau | kepentingan | seseorang | sekelompok | menggulingkan | pemerintahan | dibed | p>Hari | kembali | satu | diduga | terkait | Kali | ditangkap | rumahnya | pada | pukul | (pmg | gil)< | strong> < |

Mereka yang Ditindak Pasal Makar

Liputan6.com, Jakarta - Polisi menangkap 11 orang terkait dugaan makar dan pelanggaran UU ITE pada Jumat pagi, 2 Desember 2016. Mereka merupakan aktivis dan tokoh nasional yang dianggap akan memanfaatkan aksi super damai 212 di kawasan Monas, Jakarta Pusat, untuk berbuat makar.

Ke-11 orang ini disangka melanggar pasal berbeda. Ada yang diduga berbuat makar dan bermufakat jahat, penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo, serta ujaran kebencian yang mengandung suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Tujuh tersangka makar, yakni Kivlan Zein, Adityawarman, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko, Alvin Indra, dan Rachmawati Soekarnoputri telah dipulangkan setelah menjalani pemeriksaan hampir 1x24 jam. Sedangkan, tiga lainnya tetap ditahan. Mereka adalah Sri Bintang Pamungkas, seorang politikus senior yang sangat vokal di era Soeharto, kemudian Jamran dan Rizal Kobar yang merupakan pengurus ormas. 

Makar merupakan perbuatan yang dianggap kejahatan terhadap keamanan negara. Ini termaktub dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Beberapa pasal memilah-milah jenis tindakan makar; makar terhadap keselamatan presiden dan wakil terdapat dalam Pasal 104 KUHP, makar terhadap sebagian wilayah Indonesia dalam Pasal 106 KUHP, hingga makar terhadap pemerintah yang sah dalam Pasal 107 KUHP.

Saat ini, pasal yang ramai digunakan untuk menindak makar ialah Pasal 106 KUHP. Pasal ini banyak digunakan untuk menjerat pelaku makar yang biasanya berulah di wilayah rawan konflik di Indonesia Timur, seperti Papua dan Maluku Selatan. Sementara, kasus makar yang muncul pascademo 212 diduga hendak menggulingkan pemerintahan Presiden Jokowi. 

"

| Mereka | yang | Ditindak | Pasal | Makar | Liputan6 | Jakarta | strong> | Polisi | menangkap | orang | terkait | dugaan | makar< | pelanggaran | pada | Jumat | pagi | Desember | 2016 | merup | aktivis | tokoh | nasional | dianggap | memanfaatkan | aksi | super | damai | kawasan | Monas | Pusat | untuk | berbuat | makar | p> Ke | disangka | melanggar | pasal | berbeda | diduga | bermufakat | jahat | penghinaan | terhadap | Presiden | Joko | Widodo | serta | ujaran | kebencian | mengandung | suku | agama | antargolongan | (SARA) | p> Tujuh | tersangka | yakni | Kivlan | Zein | Adityawarman | Ratna | Sarumpaet | Firza | Husein | Alvin | Indra | Rachmawati | Soekarnoputri | telah | dipulangkan | setelah | menjalani | pemeriksaan | hampir | 1x24 | Sedangkan | tiga lainnya | tetap | ditahan | adalah Sri | Bintang | Pamungkas< | seorang | politikus | senior | sangat | vokal | Soeharto |  kemudian | Jamran | Rizal | Kobar | pengurus | ormas | p> < | p> Makar< | a> merup | perbuatan | kejahatan | keamanan | negara | termaktub | dalam Kitab | Undang | Hukum | Pidana | (KUHP) | Beberapa | memilah | milah | jenis | tind makar; | keselamatan | presiden | wakil | terdapat | dalam | KUHP | sebagian | wilayah | Indonesia | pemerintah | p> Saat | ramai | digun | menindak | ialah | banyak | menjerat | pelaku | biasanya | berulah | di wilayah | rawan | konflik | Timur | seperti Papua | Maluku | Selatan | Sementara | kasus | muncul | pascademo | hendak | menggulingkan | pemerintahan | Jokowi | p> |

Siapa Hatta Taliwang yang Jadi Tersangka Dugaan Makar? | politik

Hatta Taliwang. Dok. TEMPO/ Bernard Chaniago

TEMPO.CO, Jakarta - Nama Hatta Taliwang tiba-tiba jadi incaran polisi. Setelah 10 orang aktivis ditangkap karena dugaan makar, Hatta Taliwang diburu polisi karena diduga ikut dalam perencanaan penggulingan kekuasaan Presiden Joko Widodo. Hatta akhirnya ditangkap di salah satu flat di Rumah Susun Bendungan Hilir, Jakarta Pusat pada Kamis, 8 Desember 2016.

Polisi langsung menetapkan Hatta sebagai tersangka dalam kasus pemufakatan jahat untuk menggulingkan pemerintah yang sah sebagaimana diatur dalam Pasal 107, 110, dan 87 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri, Komisaris Besar Martinus Sitompul, mengatakan penangkapan Hatta sesuai dengan pernyataan kepolisian bahwa kemungkinan ada tersangka lain selain 10 orang yang ditangkap pada Jumat, 2 Desember lalu.

Simak pula: Dugaan Makar, Hatta Taliwang Ditangkap

"Dinihari tadi sekitar pukul satu, di sebuah rumah susun di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, telah ditangkap satu orang berinisial MH alias HT," kata Martin di kantornya, Jakarta Selatan, Kamis, 8 Desember 2016.

Siapa sebenarnya Hatta Taliwang? Pria ini lahir di Desa Brang Rea, Sumbawa Barat pada 17 Februari 1954. Hatta menjadi anak angkat Jenderal Besar (TNI) Abdul Haris Nasution. Hatta menjadi aktivis sejak mahasiswa. Ia menjadi Ketua Dewan Mahasiswa Muhammadiyah pada 1977-1978.

Baca juga: Dijerat UU ITE, Polisi Dalami Keterlibatan Hatta Soal Makar

Perjalanannya sebagai aktivis menemukan puncaknya saat ia menjadi satu dari 50 tokoh yang turut menandatangani akte notaris pendirian Partai Amanat Nasional (PAN). Hatta pun menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi PAN periode 1999-2004.

Setelah tak menjadi anggota DPR dan keluar dari PAN, nama Hatta tak lagi beredar di pusaran politik nasional. Tapi ia sempat mengejutkan dengan tulisannya di sebuah media online yang berjudul Waspada Politik Cina Raya.

Dalam tulisan itu Hatta mengutip berbagai referensi tentang upaya Republik Rakyat Cina memperluas emporium kekuasannya hingga Indonesia. "Indonesia telah lama menjadi target untuk dijadikan tanah baru mereka. Karenanya Cina di Indonesia dan para Cina perantauannya sudah mulai masuk dalam pertarungan politik praktis dengan mendirikan partai politik dan bahkan menguasai partai politik lainnya dengan tujuan politik untuk Presiden Indonesia," kata Muhammad Hatta Taliwang.

Kritik pada penguasa bukan hanya di era ini saja dia sampaikan. Saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih menjadi Presiden RI, Hatta juga mengeluarkan tulisan dan pernyataan yang mengkritik kebijakan-kebijakan SBY.

Baca pula: Soal Dana Makar, Penyidik Polda Koordinasi dengan PPATK

Pada 2014, Hatta mengirimkan surat terbuka pada MPR-DPR untuk memanggil SBY atas dugaan tidak transparan tentang utang yang masih ditanggung negara. Ia bersama Komite Nasional Penyelamat Rakyat (KN-KPR) juga pernah mendorong adanya sidang istimewa untuk menurungkan Presiden SBY.

Ajakan itu tak pernah bersambut. Hatta Taliwang yang dalam pemikirannya ingin mengembalikan UUD 1945 ke naskah aslinya, kini pun menyuarakan hal yang sama. Bersama Sri Bintang Pamungkas, Rachmawati Sokarnoputri, dan beberapa aktivis lainnya, ia kini menunggu pengadilan terkait kasus makar yang dituduhkan kepadanya.

DWI HERLAMBANG ADE | JH

Baca juga:
Polri Akan Buka Data Penyandang Dana Makar, Asal...
>
Pengurus Masjid Salman ITB Jelaskan Kronologi Pembubaran KKR

"

| Siapa | Hatta | Taliwang | yang | Jadi | Tersangka | Dugaan | Makar? | politik | TEMPO | Bernard | Chaniago< | p> TEMPO | strong>< | span> | Jakarta< | Nama | tiba | jadi | incaran | polisi | Setelah | orang | aktivis | ditangkap | karena | dugaan | makar | diburu | diduga | ikut | dalam | perencanaan | penggulingan | kekuasaan | Presiden | Joko | Widodo | akhirnya | salah | satu | flat | Rumah | Susun | Bendungan | Hilir | Jakarta | Pusat | pada | Kamis | Desember | 2016 | p>Polisi | langsung | menetapkan | sebagai | tersangka | kasus | pemufakatan | jahat | untuk | menggulingkan | pemerintah | sebagaimana | diatur | Pasal | Kitab | Undang | Hukum | Pidana | p>Kepala | Bagian | Penerangan | Umum | Polri | Komisaris | Besar | Martinus | Sitompul | mengat | penangkapan | sesuai | dengan | pernyataan | kepolisian | bahwa | kemungkinan | lain | selain | Jumat | p>Simak | pula: | Makar | Ditangkap< | p> Dinihari | tadi | pukul | sebuah | rumah | susun | telah | berinisial | alias | kata | Martin | kantornya | Selatan | p>Siapa | sebenarnya | Pria | lahir | Desa | Brang | Sumbawa | Barat | Februari | 1954 | menjadi | anak | angkat | Jenderal | (TNI) | Abdul | Haris | Nasution | sejak | mahasiswa | Ketua | Dewan | Mahasiswa | Muhammadiyah | 1977 | 1978 | p>Baca | juga: | Dijerat | Polisi | Dalami | Keterlibatan | Soal | Makar< | p>Perjalanannya | menemukan | puncaknya | saat | tokoh | turut | menandatangani | akte | notaris | pendirian | Partai | Amanat | Nasional | (PAN) | anggota | Perwakilan | Rakyat | (DPR) | Fraksi | periode | 1999 | 2004 | p>Setelah | keluar | nama | lagi | beredar | pusaran | nasional | Tapi | sempat | mengejutkan | tulisannya | media | online | berjudul | Waspada | Politik | Cina | Raya< | p>Dalam | tulisan | mengutip | berbagai | referensi | tentang | upaya | Republik | memperluas | emporium | kekuasannya | Indonesia | lama | target | dijadikan | tanah | baru | Karenanya | para | perantauannya | mulai | masuk | pertarungan | praktis | mendirikan | partai | bahkan | menguasai | lainnya | tujuan | Muhammad | p>Kritik | penguasa | bukan | hanya | sampaikan | Saat | Susilo | Bambang | Yudhoyono | (SBY) | masih | juga | mengeluarkan | mengkritik | kebij | Dana | Penyidik | Polda | Koordinasi | PPATK< | p>Pada | 2014 | mengirimkan | surat | terbuka | memanggil | atas | transparan | utang | ditanggung | negara | bersama | Komite | Penyelamat | KPR) | pernah | mendorong | adanya | sidang | istimewa | menurungkan | p>Aj | bersambut | pemikirannya | ingin | mengembalikan | 1945 | naskah | aslinya | kini | menyuar | sama | Bersama | Bintang | Pamungkas | Rachmawati | Sokarnoputri | beberapa | menunggu | pengadilan | terkait | dituduhkan | kepadanya | p>DWI | HERLAMBANG | juga:Polri | Akan | Buka | Data | Penyandang | Asal | a>Pengurus | Masjid | Salman | Jelaskan | Kronologi | Pembubaran | KKR< | p> < | div> |