Showing posts sorted by date for query kekerasan. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query kekerasan. Sort by relevance Show all posts

Tuesday, December 6, 2016

Kepala Polri: Dugaan Makar Diperoleh dari Operasi Intelijen

Senin, 05 Desember 2016 | 17:45 WIB

Kepala Polri: Dugaan Makar Diperoleh dari Operasi Intelijen  

Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Mako Brimob Kelapa Dua usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar di Depok, Jawa Barat, Jumat malam, 2 Desember 2016. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan penangkapan 11 aktivis yang diduga melakukan pemufakatan jahat untuk makar terhadap pemerintah diperoleh melalui aktivitas intelijen kepolisian. Aktivitas mereka, kata Tito, sudah terpantau cukup intensif.

Menurut Tito, gerakan politik itu berencana memanfaatkan massa yang akan dikerahkan menduduki gedung Dewan Perwakilan Rakyat setelah Aksi Bela Islam III. "Kami sudah dapat dari intelijen-intelijen kami. Ada indikasi pemufakatan jahat menuju makar," kata Tito di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 5 Desember 2016. 

Kelompok itu, menurut Tito, akan memanfaatkan massa untuk memaksa parlemen mengadakan Sidang Umum Istimewa yang berujung pada pemakzulan terhadap pemerintahan yang sah. Salah satu isu yang digunakan adalah pengembalian Undang-Undang Dasar 1945 yang asli.

Tito mengatakan upaya makar tidak berkaitan dengan Aksi Bela Islam yang menuntut proses hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang terjerat kasus dugaan menistakan agama. Menurut Tito, menyampaikan kritik terhadap pemerintah adalah hal yang sah jika disampaikan sesuai dengan aturan, termasuk untuk menyampaikan kritik melalui DPR. "Tapi menduduki DPR secara paksa dan kekerasan, apa pun alasannya, adalah inkonstitusional," katanya.

Sebelum aksi 2 Desember berlangsung, Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap sejumlah aktivis terkait dengan dugaan makar. Penangkapan dilakukan di beberapa tempat terpisah pada pagi hari. Sejumlah tokoh, seperti Rachmawati Soekarnoputri dan Sri Bintang Pamungkas, ditangkap bersama sembilan orang lain.

Tito menjelaskan, dari sebelas orang yang ditangkap, tiga di antaranya masih ditahan kepolisian. Sementara itu, delapan orang telah dibebaskan dengan berbagai pertimbangan, seperti alasan kesehatan dan alat bukti masih didalami kepolisian.

Kuasa hukum Rachmawati Sukarnoputri, Yusril Ihza Mahendra, mempermasalahkan penetapan kliennya sebagai tersangka dalam kasus dugaan makar. Ia menilai polisi tak memiliki bukti yang kuat untuk menjerat kliennya. 

"Seharusnya polisi bisa lebih berhati-hati dalam penangkapan ini," kata Yusril, akhir pekan lalu. Menurut dia, para tersangka hanya bermaksud mengkritik pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dianggap kurang memuaskan. Kata dia, hal ini wajar dan diatur dalam Undang-Undang tentang Penyampaian Pendapat. "Itu tidak dilarang."

ARKHELAUS W.

"

| Kepala | Polri: | Dugaan | Makar | Diperoleh | Operasi | Intelijen | Senin | Desember | 2016 | 17:45 | WIB< | p> < | div> Rachmawati | Soekarnoputri | meninggalkan | gedung | Mako | Brimob | Kelapa | usai | menjalani | pemeriksaan | terkait | kasus | dugaan | makar | Depok | Jawa | Barat | Jumat | malam | ANTARA | Indrianto | Suwarso< | p> < | div> TEMPO | strong> |  Jakarta< | strong>  | Kepolisian | Jenderal | Tito | Karnavian | mengat | penangkapan | aktivis | yang | diduga | melakukan | pemufakatan | jahat | untuk | terhadap | pemerintah | diperoleh | aktivitas | intelijen | kepolisian | Aktivitas | kata | terpantau | cukup | intensif | p>Menurut | politik | berencana | memanfaatkan | massa | dikerahkan | menduduki | Dewan | Perwakilan | Rakyat | setelah | Aksi | Bela | Islam | Kami | dapat | kami | indikasi | menuju | Kompleks | Parlemen | Senayan | Jakarta | p>Kelompok | menurut | memaksa | parlemen | mengad | Sidang | Umum | Istimewa | berujung | pada | pemakzulan | pemerintahan | Salah | satu | digun | adalah | pengembalian | Undang | Dasar | 1945 | asli | p>Tito | upaya | berkaitan | dengan | menuntut | proses | hukum | Basuki | Tjahaja | Purnama | alias | Ahok | terjerat | menist | agama | Menurut | menyampaikan | kritik | jika | disampaikan | sesuai | aturan | termasuk | Tapi | secara | paksa | kekerasan | alasannya | inkonstitusional | katanya | p>Se | aksi | berlangsung | Daerah | Metro | Jaya | menangkap | sejumlah | Penangkapan | dilakukan | beberapa | tempat | terpisah | pagi | hari | Sejumlah | tokoh | seperti | Rachmawati | Bintang | Pamungkas | ditangkap | bersama | sembilan | orang | lain | menjelaskan | sebelas | tiga | antaranya | masih | ditahan | Sementara | delapan | telah | dibebaskan | berbagai | pertimbangan | alasan | kesehatan | alat | bukti | didalami | p>Kuasa | Sukarnoputri | Yusril | Ihza | Mahendra | mempermasalahkan | penetapan | kliennya | sebagai | tersangka | dalam | menilai | polisi | memiliki | kuat | menjerat | p>Seharusnya | lebih | berhati | hati | akhir | pekan | para | hanya | bermaksud | mengkritik | Presiden | Joko | Widodo | dianggap | kurang | memuaskan | Kata | wajar | diatur | tentang | Penyampaian | Pendapat | dilarang | p>ARKHELAUS | strong>< | p> |

Kepala Polri: Dugaan Makar Diperoleh dari Operasi Intelijen

Senin, 05 Desember 2016 | 17:45 WIB

Kepala Polri: Dugaan Makar Diperoleh dari Operasi Intelijen

Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Mako Brimob Kelapa Dua usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar di Depok, Jawa Barat, Jumat malam, 2 Desember 2016. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan penangkapan 11 aktivis yang diduga melakukan pemufakatan jahat untuk makar terhadap pemerintah diperoleh melalui aktivitas intelijen kepolisian. Aktivitas mereka, kata Tito, sudah terpantau cukup intensif.

Menurut Tito, gerakan politik itu berencana memanfaatkan massa yang akan dikerahkan untuk menduduki gedung Dewan Perwakilan Rakyat setelah Aksi Bela Islam III. "Kami sudah dapat dari intelijen-intelijen kami. Ada indikasi pemufakatan jahat menuju makar," kata Tito di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 5 Desember 2016.

Kelompok itu, menurut Tito, akan memanfaatkan kumpulan massa untuk memaksa parlemen mengadakan Sidang Umum Istimewa yang berujung pada pemakzulan terhadap pemerintahan yang sah. Beberapa isu yang digunakan, seperti pengembalian Undang-undang Dasar 1945 yang asli.

Tito mengatakan upaya makar itu tidak berkaitan dengan Aksi Bela Islam yang menuntut proses hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang terjerat kasus duga menistakan agama. Menurut Tito, menyampaikan kritik terhadap pemerintah adalah hal yang sah jika disampaikan sesuai aturan. Termasuk untuk menyampaikan kritik melalui DPR. "Tetapi menduduki DPR secara paksa dan kekerasan apapun juga alasannya adalah inkonstitusional," kata dia.

Sebelum aksi 2 Desember berlangsung Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap sejumlah aktivis terkait dengan dugaan makar. Penangkapan dilakukan di beberapa tempat terpisah pada pagi hari. Sejumlah tokoh seperti Rachmawati Soekarnoputri hingga Sri Bintang Pamungkas ditangkap bersama sembilan orang lain.

Tito menjelaskan dari sebelas orang yang ditangkap, tiga di antaranya masih ditahan kepolisian. Sementara itu, delapan orang telah dibebaskan dengan berbagai pertimbangan, seperti alasan kesehatan dan alat bukti masih didalami kepolisian.

Kuasa hukum Rachmawati Soekarnoputri, Yusril Ihza Mahendra, mempermasalahkan penetapan kliennya sebagai tersangka dalam kasus dugaan makar. Ia menilai polisi tak memiliki bukti yang kuat untuk menjerat kliennya.

"Seharusnya polisi bisa lebih berhati-hati dalam penangkapan ini," kata Yusril, akhir pekan lalu. Menurut Yusril, para tersangka hanya bermaksud mengkritik pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dianggap kurang memuaskan. Kata dia, hal ini wajar dan diatur dalam Undang-Undang tentang Penyampaian Pendapat. "Itu tidak dilarang."

ARKHELAUS W.

"

| Kepala | Polri: | Dugaan | Makar | Diperoleh | Operasi | Intelijen | Senin | Desember | 2016 | 17:45 | WIB< | p> < | div> Rachmawati | Soekarnoputri | meninggalkan | gedung | Mako | Brimob | Kelapa | usai | menjalani | pemeriksaan | terkait | kasus | dugaan | makar | Depok | Jawa | Barat | Jumat | malam | ANTARA | Indrianto | Suwarso< | p> < | div> TEMPO | strong>< | span> | Jakarta< | Kepolisian | Jenderal | Tito | Karnavian | mengat | penangkapan | aktivis | yang | diduga | melakukan | pemufakatan | jahat | untuk | terhadap | pemerintah | diperoleh | aktivitas | intelijen | kepolisian | Aktivitas | kata | terpantau | cukup | intensif | p>Menurut | politik | berencana | memanfaatkan | massa | dikerahkan | menduduki | Dewan | Perwakilan | Rakyat | setelah | Aksi | Bela | Islam | Kami | dapat | kami | indikasi | menuju | Kompleks | Parlemen | Senayan | Jakarta | p>Kelompok | menurut | kumpulan | memaksa | parlemen | mengad | Sidang | Umum | Istimewa | berujung | pada | pemakzulan | pemerintahan | Beberapa | digun | seperti | pengembalian | Undang | undang | Dasar | 1945 | asli | p>Tito | upaya | berkaitan | dengan | menuntut | proses | hukum | Basuki | Tjahaja | Purnama | alias | Ahok | terjerat | duga | menist | agama | Menurut | menyampaikan | kritik | adalah | jika | disampaikan | sesuai | aturan | Termasuk | secara | paksa | kekerasan | apapun | juga | alasannya | inkonstitusional | p>Se | aksi | berlangsung | Daerah | Metro | Jaya | menangkap | sejumlah | Penangkapan | dilakukan | beberapa | tempat | terpisah | pagi | hari | Sejumlah | tokoh | Rachmawati | Bintang | Pamungkas | ditangkap | bersama | sembilan | orang | lain | menjelaskan | sebelas | tiga | antaranya | masih | ditahan | Sementara | delapan | telah | dibebaskan | berbagai | pertimbangan | alasan | kesehatan | alat | bukti | didalami | p>Kuasa | Yusril | Ihza | Mahendra | mempermasalahkan | penetapan | kliennya | sebagai | tersangka | dalam | menilai | polisi | memiliki | kuat | menjerat | p>Seharusnya | lebih | berhati | hati | akhir | pekan | para | hanya | bermaksud | mengkritik | Presiden | Joko | Widodo | dianggap | kurang | memuaskan | Kata | wajar | diatur | tentang | Penyampaian | Pendapat | dilarang | p>ARKHELAUS | p> |

Pengamat: Perbuatan Makar tak Harus Ada Kekerasan atau Kerusuhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah pihak mengkritisi tuduhan makar aparat kepolisian terhadap sejumlah aktivis, purnawirawan TNI dan kader parpol. Hal ini karena penggunaan istilah makar dinilai berlebihan kepada 11 aktivis tersebut, lantaran perbuatan para tersangka dinilai tidak masuk dalam unsur makar.

Mabes Polri sebelumnya menyatakan dugaan perbuatan makar oleh para aktivis telah dimulai dengan pemufakatan jahat para tersangka untuk merencanakan makar. Yakni melakukan sejumlah pertemuan, sebagai upaya menduduki gedung DPR RI meski tanpa pasukan maupun senjata.

Hal ini pun menimbulkan pertanyaan publik, apakah perbuatan kesebelas orang tersebut sudah masuk dalam kategori makar. Adapun kepada para tersangka sendiri dijerat pasal 107 juncto pasal 110 juncto pasal 87 KUHP.

Menurut Pakar Hukum Pidana dari Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji, sebuah perbuatan dikategorikan makar sebagaimana disebut dalam pasal 87 KUHP, dalam doktrin dan yurisprudensinya memperluas arti makar. Yakni tahapan persiapan yang kemudian dibuktikan dengan adanya niat (mens rea) berupa persiapan atau perbuatan Makar.

"Mengacu pasal ini, tindakan makar dapat terjadi pada tahapan yg dinamakan voorbereidigings handeling atau persiapan perbuatan sifatnya, dapat dipidana," ujar Indriyanto saat dihubungi di Jakarta, Selasa (6/12).

Karenanya, dalam kasus 11 tokoh tersebut, Indriyanto menilai penyidik menggunakan pasal tersebut dengan melihat tahapan persiapan perbuatan para tokoh, yang dianggap sebagai upaya merencanakan percobaan makar. Seperti upaya penggulingan Pemerintahan yang sah, yang dalam pasal tersebut sudah memenuhi unsur niat.

"Misalnya saja adanya alat bukti berupa undangan dan saksi berupa penyebaran undangan mengganti pemerintahan sah dan membentuk pemerintah transisi ini ini telah memenuhi unsur niat atau faktor subyektif negatif dari mens rea untuk menggulingkan Pemerintahan yang sah pada tahapan sudah terpenuhi," ujar Indriyanto.

Ia juga menyebut, perbuatan makar juga diartikan tidak harus ada pelaksanaan perbuatan, yakni cukup dengan permulaan pelaksanaan sudah terpenuhi. Menurutnya pelaksanaan sudah dapat dipidana jika telah ada undangan, orasi untuk mengganti pemerintahan yang sah.

Ia juga menilai, perbuatan makar tidak perlu menunggu ada akibat dari perbuatan tersebut tersebut misalkan kerusuhan maupun ancaman kekerasan. "Ini tidak perlu ada akibatnya berupa kerusuhan dalam masyarakat, karena ini delik formil, karena itu percobaan makar sudah dapat dipidana. Ketentuan makar tidak harus ada kekerasan atau ancaman kekerasan dan bukan dalam pemahaman pemberontakan fisik," ujar Guru Besar Hukum Pidana Universitas Krisnadwipayana tersebut.

"

| Pengamat: | Perbuatan | Makar | Harus | Kekerasan | atau | Kerusuhan | REPUBLIKA | JAKARTA | Sejumlah | pihak | mengkritisi | tuduhan | makar | aparat | kepolisian | terhadap | sejumlah | aktivis | purnawirawan | kader | parpol | karena | penggunaan | istilah | dinilai | berlebihan | kepada | tersebut | lantaran | perbuatan | para | tersangka | masuk | dalam | unsur | p> Mabes | Polri | senya | menyat | dugaan | oleh | telah | dimulai | dengan | pemufakatan | jahat | untuk | merencan | Yakni | melakukan | pertemuan | sebagai | upaya | menduduki | gedung | meski | tanpa | pasukan | maupun | senjata | p> Hal | menimbulkan | pertanyaan | publik | apakah | kesebelas | orang | kategori | Adapun | sendiri | dijerat | pasal | juncto | KUHP | p> Menurut | Pakar | Hukum | Pidana | Universitas | Indonesia | Indriyanto | Seno | Adji | sebuah | dikategorikan | sebagaimana | disebut | doktrin | yurisprudensinya | memperluas | arti | tahapan | persiapan | yang | kemudian | dibuktikan | adanya | niat | (mens | rea) | berupa | p> Mengacu | tind | dapat | terjadi | pada | dinam | voorbereidigings | handeling< | sifatnya | dipidana | ujar | saat | dihubungi | Jakarta | Selasa | p> Karenanya | kasus | tokoh | menilai | penyidik | menggun | melihat | dianggap | percobaan | Seperti | penggulingan | Pemerintahan | memenuhi | p> Misalnya | alat | bukti | undangan | saksi | penyebaran | mengganti | pemerintahan | membentuk | pemerintah | transisi | faktor | subyektif | negatif | mens | menggulingkan | terpenuhi | p> Ia | juga | menyebut | diartikan | harus | pelaksanaan | yakni | cukup | permulaan | Menurutnya | jika | orasi | perlu | menunggu | misalkan | kerusuhan | ancaman | kekerasan | masyarakat | delik | formil | Ketentuan | bukan | pemahaman | pemberont | fisik | Guru | Besar | Krisnadwipayana | p> |

Mengurai Strategi Makar 212 - News Liputan6.com

Tito mengatakan, berdasarkan informasi dari intelijen, ada komunikasi yang intens antara para pelaku makar dengan demonstran 2 Desember. Rencananya, kelompok tersebut akan mengarahkan ratusan ribu massa aksi Bela Islam Jilid III ke gedung parlemen untuk menduduki MPR/DPR.

"Silakan jika datang ke DPR sampaikan aspirasi ke komisi masing-masing. Tapi duduki DPR secara paksa, kekerasan, apapun alasannya, itu inkonstitusional. Kami melihat gerakan itu," ungkap dia.

Sebab itu, Kapolri jauh-jauh hari menyebut ada kelompok makar yang berencana mendompleng massa Aksi Bela Islam. Namun, masyarakat salah paham dan menganggap pernyataan itu mengarah ke GNPF MUI.

"Kami tahu Anda (pelaku makar), kira-kira begitu. Tolong hentikan, jangan manfatkan massa GNPF yang murni ingin proses hukum terhadap saudara Basuki. Polri komit untuk proses hukum itu sudah kita buktikan," jelas Tito.

Untuk itu, Polri pun membangun dialog dengan massa GNPF MUI dan sejumlah tokoh masyakarat. Hasilnya, jelas demonstran Bela Islam Jilid III hanya membawa satu isu yakni penanganan perkara Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

"Kami bangun dialog dengan GNPF dalam rangka tuntutan Basuki atau melakukan ikut dalam upaya duduki DPR, kemudian agenda politik lain? Mereka menyatakan komit, tidak. Kami putusannya satu isu, proses hukum," beber dia.

Beruntungnya, GNPF MUI akhirnya tidak keras hati dan mau memindahkan agendanya yang semula gelar sajadah di Jalan Sudirman-Thamrin ke Monumen Nasional atau Monas.

"Kalau begitu, jangan gunakan Jalan Sudirman-Thamrin. Kalau mereka gunakan Jalan Sudirman-Thamrin, dengan massa yang begitu besar, ekornya ada di DPR/MPR sampai Semanggi, Patung Senayan, belok dia ke depan Hotel Mulia dan seterusnya. Sampai ke belakang DPR, berikutnya naik Semanggi dan pelintir sedikit saja. Mudah sekali jumlah massa besar, mudah sekali (ke DPR)," beber Tito.

3 dari 4 halaman


"

| Mengurai | Strategi | Makar | News | Liputan6.com | Tito | mengat | berdasarkan | informasi | intelijen | komunikasi | yang | intens | antara | para | pelaku | makar | dengan | demonstran | Desember | Rencananya | kelompok | tersebut | mengarahkan | ratusan | ribu | massa | aksi | Bela | Islam | Jilid | gedung | parlemen | untuk | menduduki | p> Sil | jika | datang | sampaikan | aspirasi | komisi | masing | Tapi | duduki | secara | paksa | kekerasan | apapun | alasannya | inkonstitusional | Kami | melihat | ungkap | p> Sebab | Kapolri | jauh | hari | menyebut | makar< | berencana | mendompleng | Aksi | Namun | masyarakat | salah | paham | menganggap | pernyataan | mengarah | GNPF | p> Kami | tahu | Anda | (pelaku | makar) | kira | begitu | Tolong | hentikan | jangan | manfatkan | murni | ingin | proses | hukum | terhadap | saudara | Basuki | Polri | komit | buktikan | jelas | p> Untuk | membangun | dialog | sejumlah | tokoh | masyakarat | Hasilnya | hanya | membawa | satu | yakni | penanganan | perkara | Tjahaja | Purnama | atau | Ahok | bangun | dalam | rangka | tuntutan | melakukan | ikut | upaya | kemudian | agenda | politik | lain | Mereka | menyat | putusannya | beber | p> Beruntungnya | akhirnya | keras | hati | memindahkan | agendanya | semula | gelar | Jalan | Sudirman | Thamrin | Monumen | Nasional | Monas | p> Kalau | Kalau | besar | ekornya | sampai | Semanggi | Patung | Senayan | belok | depan | Hotel | Mulia | seterusnya | Sampai | belg | berikutnya | naik | pelintir | sedikit | Mudah | sekali | jumlah | mudah | DPR) | p> 3 | halaman< | p> < | div> |

Pengamat: Perbuatan Makar tak Harus Ada Kekerasan atau Kerusuhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah pihak mengkritisi tuduhan makar aparat kepolisian terhadap sejumlah aktivis, purnawirawan TNI dan kader parpol. Hal ini karena penggunaan istilah makar dinilai berlebihan kepada 11 aktivis tersebut, lantaran perbuatan para tersangka dinilai tidak masuk dalam unsur makar.

Mabes Polri sebelumnya menyatakan dugaan perbuatan makar oleh para aktivis telah dimulai dengan pemufakatan jahat para tersangka untuk merencanakan makar. Yakni melakukan sejumlah pertemuan, sebagai upaya menduduki gedung DPR RI meski tanpa pasukan maupun senjata.

Hal ini pun menimbulkan pertanyaan publik, apakah perbuatan kesebelas orang tersebut sudah masuk dalam kategori makar. Adapun kepada para tersangka sendiri dijerat pasal 107 juncto pasal 110 juncto pasal 87 KUHP.

Menurut Pakar Hukum Pidana dari Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji, sebuah perbuatan dikategorikan makar sebagaimana disebut dalam pasal 87 KUHP, dalam doktrin dan yurisprudensinya memperluas arti makar. Yakni tahapan persiapan yang kemudian dibuktikan dengan adanya niat (mens rea) berupa persiapan atau perbuatan Makar.

"Mengacu pasal ini, tindakan makar dapat terjadi pada tahapan yg dinamakan voorbereidigings handeling atau persiapan perbuatan sifatnya, dapat dipidana," ujar Indriyanto saat dihubungi di Jakarta, Selasa (6/12).

Karenanya, dalam kasus 11 tokoh tersebut, Indriyanto menilai penyidik menggunakan pasal tersebut dengan melihat tahapan persiapan perbuatan para tokoh, yang dianggap sebagai upaya merencanakan percobaan makar. Seperti upaya penggulingan Pemerintahan yang sah, yang dalam pasal tersebut sudah memenuhi unsur niat.

"Misalnya saja adanya alat bukti berupa undangan dan saksi berupa penyebaran undangan mengganti pemerintahan sah dan membentuk pemerintah transisi ini ini telah memenuhi unsur niat atau faktor subyektif negatif dari mens rea untuk menggulingkan Pemerintahan yang sah pada tahapan sudah terpenuhi," ujar Indriyanto.

Ia juga menyebut, perbuatan makar juga diartikan tidak harus ada pelaksanaan perbuatan, yakni cukup dengan permulaan pelaksanaan sudah terpenuhi. Menurutnya pelaksanaan sudah dapat dipidana jika telah ada undangan, orasi untuk mengganti pemerintahan yang sah.

Ia juga menilai, perbuatan makar tidak perlu menunggu ada akibat dari perbuatan tersebut tersebut misalkan kerusuhan maupun ancaman kekerasan. "Ini tidak perlu ada akibatnya berupa kerusuhan dalam masyarakat, karena ini delik formil, karena itu percobaan makar sudah dapat dipidana. Ketentuan makar tidak harus ada kekerasan atau ancaman kekerasan dan bukan dalam pemahaman pemberontakan fisik," ujar Guru Besar Hukum Pidana Universitas Krisnadwipayana tersebut.

"

| Pengamat: | Perbuatan | Makar | Harus | Kekerasan | atau | Kerusuhan | REPUBLIKA | JAKARTA | Sejumlah | pihak | mengkritisi | tuduhan | makar | aparat | kepolisian | terhadap | sejumlah | aktivis | purnawirawan | kader | parpol | karena | penggunaan | istilah | dinilai | berlebihan | kepada | tersebut | lantaran | perbuatan | para | tersangka | masuk | dalam | unsur | p> Mabes | Polri | senya | menyat | dugaan | oleh | telah | dimulai | dengan | pemufakatan | jahat | untuk | merencan | Yakni | melakukan | pertemuan | sebagai | upaya | menduduki | gedung | meski | tanpa | pasukan | maupun | senjata | p> Hal | menimbulkan | pertanyaan | publik | apakah | kesebelas | orang | kategori | Adapun | sendiri | dijerat | pasal | juncto | KUHP | p> Menurut | Pakar | Hukum | Pidana | Universitas | Indonesia | Indriyanto | Seno | Adji | sebuah | dikategorikan | sebagaimana | disebut | doktrin | yurisprudensinya | memperluas | arti | tahapan | persiapan | yang | kemudian | dibuktikan | adanya | niat | (mens | rea) | berupa | p> Mengacu | tind | dapat | terjadi | pada | dinam | voorbereidigings | handeling< | sifatnya | dipidana | ujar | saat | dihubungi | Jakarta | Selasa | p> Karenanya | kasus | tokoh | menilai | penyidik | menggun | melihat | dianggap | percobaan | Seperti | penggulingan | Pemerintahan | memenuhi | p> Misalnya | alat | bukti | undangan | saksi | penyebaran | mengganti | pemerintahan | membentuk | pemerintah | transisi | faktor | subyektif | negatif | mens | menggulingkan | terpenuhi | p> Ia | juga | menyebut | diartikan | harus | pelaksanaan | yakni | cukup | permulaan | Menurutnya | jika | orasi | perlu | menunggu | misalkan | kerusuhan | ancaman | kekerasan | masyarakat | delik | formil | Ketentuan | bukan | pemahaman | pemberont | fisik | Guru | Besar | Krisnadwipayana | p> |

Monday, December 5, 2016

Polri Diminta Hati-Hati Usut Kasus Dugaan Makar

Liputan6.com, Jakarta - Penyidik Polri menangkap 11 aktivis dan tokoh nasional, terkait dugaan makar, Jumat 2 Desember 2016 pagi. Penangkapan itu dilakukan jelang aksi damai 2 Desember di Monumen Nasional.

Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), Miko Susanto Ginting, mengingatkan Polri agar ekstra hati-hati dalam menangani dugaan makar ini. Ada sejumlah unsur yang harus dibuktikan oleh Polri.

"Permufakatan untuk melakukan makar, maka harus ada niat dan perbuatan permulaan. Kedua hal itu harus dilakukan untuk maksud tertentu dengan cara serangan yang nyata dan bersifat kekerasan," ucap Miko kepada Liputan6.com, Jakarta, Senin (5/12/2016).

Dia pun meminta, dalam mengusut kasus ini, Kepolisian cermat agar tak terjadi banyak praktik yang tidak tepat.

"Di titik ini, pihak Kepolisian benar-benar harus cermat dan hati-hati. Jangan sampai banyak praktik yang tidak tepat selama ini terjadi kembali," Miko menjelaskan.

Saat ditanya, apakah dia telah melihat adanya serangan nyata sebagai wujud makar, dia hanya mengaku belum tahu.

"Hingga hari ini hanya pihak Kepolisian yang mengetahui hal itu. Oleh karenanya, mesti didorong untuk cermat, hati-hati, dan akuntabel dalam penegakan hukumnya," tandas Miko.

Sebelumnya, 11 tokoh dan aktivis ditangkap di beberapa tempat dalam waktu hampir bersamaan, Jumat 2 Desember pagi. Mereka diduga kuat terlibat upaya makar.

Tujuh orang tersangka makar yakni Kivlan Zein, Adityawarman, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko, Alvin Indra, dan Rachmawati Soekarnoputri telah dipulangkan setelah menjalani pemeriksaan hampir 1x24 jam.

Begitu juga terhadap musikus Ahmad Dhani yang dalam penangkapan ini ditetapkan sebagai tersangka penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Sementara tiga lainnya, yakni Sri Bintang Pamungkas, Jamran, dan Rizal Kobar ditahan di Polda Metro Jaya. Ketiganya dijerat dengan UU ITE dan juga Pasal 107 Jo Pasal 110 KUHP tentang Makar  dan Permufakatan Jahat.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan, penangkapan itu bukan berarti membungkam sikap kritis masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Dia menegaskan, perbuatan makar dan kritik berbeda.

Jenderal bintang dua itu menuturkan, dalam era demokrasi di Indonesia, seringkali terjadi ujaran kebencian yang dilakukan masyarakat secara luas. Apalagi dengan berkembangnya teknologi informasi yang semakin pesat.

"

| Polri | Diminta | Hati-Hati | Usut | Kasus | Dugaan | Makar | Liputan6 | Jakarta | strong> | Penyidik | menangkap | aktivis | tokoh | nasional | terkait | dugaan | makar< | Jumat | Desember | 2016 | pagi | Penangkapan | dilakukan | jelang | aksi | damai | Monumen | Nasional | p> Peneliti | Pusat | Studi | Hukum | Kebij | Indonesia | (PSHK) | Miko | Susanto | Ginting | mengingatkan | agar | ekstra | hati | dalam | menangani | makar | sejumlah | unsur | yang | harus | dibuktikan | oleh | p> Permufakatan | untuk | melakukan | maka | niat | perbuatan | permulaan | Kedua | maksud | tertentu | dengan | cara | serangan | nyata | bersifat | kekerasan | ucap | kepada | com< | Senin | 2016) | p> Dia | meminta | mengusut | kasus | Kepolisian | cermat | terjadi | banyak | praktik | tepat | p> Di | titik | pihak | benar | Jangan | sampai | selama | kembali | menjelaskan | p> Saat | ditanya | apakah | telah | melihat | adanya | sebagai | wujud | hanya | mengaku | tahu | p> Hingga | hari | mengetahui | Oleh | karenanya | mesti | didorong | akuntabel | peneg | hukumnya | tandas | p> Senya | ditangkap | beberapa | tempat | waktu | hampir | bersamaan | Mereka | diduga | kuat | terlibat | upaya | p> Tujuh | orang | tersangka | yakni | Kivlan | Zein | Adityawarman | Ratna | Sarumpaet | Firza | Husein | Alvin | Indra | Rachmawati | Soekarnoputri | dipulangkan | setelah | menjalani | pemeriksaan | 1x24 | p> Begitu | juga | terhadap | musikus | Ahmad | Dhani | penangkapan | ditetapkan | penghinaan | Presiden | Joko | Widodo | atau | Jokowi | p> Sementara | tiga | lainnya | Bintang | Pamungkas | Jamran | Rizal | Kobar | ditahan | Polda | Metro | Jaya | Ketiganya | dijerat | Pasal | KUHP | tentang | Makar< | a>  | Permufakatan | Jahat | p> Kadiv | Humas | Mabes | Irjen | Rafli | Amar | mengat | bukan | berarti | membungkam | sikap | kritis | masyarakat | kebij | pemerintah | menegaskan | kritik | berbeda | p> Jenderal | bintang | menuturkan | demokrasi | seringkali | ujaran | kebencian | secara | luas | Apalagi | berkembangnya | teknologi | informasi | semakin | pesat | p> |

Pasal makar untuk 'bungkam kebebasan berpendapat'?

politik, sri bintang pamungkas, makarImage copyright AP Image caption Sri Bintang Pamungkas pernah dipenjara di era pemerintahan Presiden Suharto atas tuduhan subversif.

Suara Ernalia, istri Sri Bintang Pamungkas, beberapa kali terdengar tercekat. Dia berupaya menjelaskan duduk perkara penangkapan suaminya, tanpa larut dalam kesedihan.

Sudah dua malam Sri Bintang Pamungkas menghabiskan waktu sebagai tahanan kepolisian sejak dibawa dari rumahnya di bilangan Cibubur, Jakarta Timur, pada Jumat (02/11) pagi. Sri Bintang adalah salah satu dari 11 orang yang ditangkap dan dijadikan tersangka oleh kepolisian menjelang doa bersama di kawasan Monas.

"Waktu awal-awal, ketika dibawa ke Markas Brimob, saya tidak dikasih surat apapun. Minta tidak dikasih. Mau foto kopi tidak boleh, difoto menggunakan ponsel juga tidak boleh. Kemarin saya sudah lihat surat penahanannya setelah dibawa ke Polda. Tuduhannya makar, Pasal 107 KUHP," kata Ernalia kepada BBC Indonesia.

Ernalia mengutarakan bahwa tuduhan kepolisian terhadap suaminya didasari oleh pertemuan dengan sejumlah tokoh di sebuah hotel. Tapi, menurut Ernalia, Sri Bintang tidak menghadiri pertemuan itu.

"Kemudian (tuduhan) dialihkan ke waktu (Sri Bintang Pamungkas) ada di orasi di penggusuran," kata Ernalia.

Dalam rekaman video di media Youtube, tampak mantan politikus PPP itu berorasi di bawah jalan tol. Saat itu dia mengatakan bahwa kaum kaya semestinya diberikan pajak tinggi, lalu hasilnya disalurkan ke fakir miskin.

"Pemerintah kita sejak zamannya Suharto sampai hari ini tidak melakukan itu. Apa yang bisa saya simpulkan dari situ? Mereka jahat...Ya harus diturunkan, harus dijatuhkan. Inilah yang perlu kita lakukan pada presiden-presiden yang jahat ini, termasuk Jokowi," kata Sri Bintang Pamungkas.

Ucapan Sri Bintang tersebut, kata Ernalia, adalah hak dia untuk berpendapat dan meminta.

Image copyright EPA Image caption Kepolisian menyatakan sebanyak delapan orang diduga melakukan makar dengan berupaya menggiring para peserta doa bersama di kawasan Silang Monas, 2 Desember lalu, untuk menguasai gedung DPR/MPR.

'Tergesa-gesa'

Secara terpisah, Ratna Sarumpaet menuding Polri ingin tergesa-gesa menangkap dan menjadikannya sebagai tersangka tapi tidak siap dengan unsur-unsur bukti.

"Katanya sudah terpenuhi unsur-unsurnya. Unsur yang mana?" tanya Ratna.

Yusril Ihza Mahendra, selaku kuasa hukum Ratna dan Rachmawati Sukarnoputri, mengatakan apa yang dilakukan kliennya hanyalah sebatas kritikan terhadap pemerintah.

"Kalau sampai pelaksanaan makar, masih jauh. Dan bahwa mereka mengadakan rapat-rapat, pertemuan, mengkritik pemerintah, itu normal-normal saja," kata Yusril Ihza Mahendra, Minggu (04/12) siang.

Perbedaan kritik dan makar

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Boy Rafli Amar, menepis klaim bahwa yang dilakukan 11 orang adalah murni kritik terhadap pemerintah.

"Apakah di alam demokrasi ini tidak boleh orang mengkritik? Ini bukan kritikan. Kritik dengan makar berbeda," tegas Boy.

Boy mengklaim kepolisian telah mengantongi beragam bukti yang memberatkan 11 tersangka, termasuk tulisan tangan dan hasil pemantauan percakapan.

"Dugaan ini berkaitan adanya rencana pemanfaatan massa untuk menduduki kantor DPR RI, kemudian berencana melakukan pemaksaan agar bisa dilakukannya sidang istimewa untuk menuntut pergantian pemerintahan dan seterusnya," kata Boy.

Boy menegaskan bahwa penangkapan tidak perlu menunggu sampai upaya makar telah terjadi. "Ketika terdeteksi adanya niatan itu, inilah yang dimainkan kepolisian."

Image copyright HOTLI SIMANJUNTAK/EPA Image caption Pasal makar dalam KUHP, menurut Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Alghiffari Aqsa, telah digunakan penguasa sejak era Orde Baru sebagai alat untuk membungkam kebebasan berekspresi.

Tafsir penguasa

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Alghiffari Aqsa, mengatakan bahwa pasal makar dalam KUHP telah digunakan sejak era Orde Baru sebagai alat untuk membungkam kebebasan berekspresi.

"Pasal makar itu tergantung dari definisi ataupun tafsir penguasa. Seringkali orang dituduh makar karena ekspresinya meminta pemerintah untuk turun atau menyampaikan ekspresi ketidakpuasan terhadap pemerintah. Penerapan pasal itu tidak tepat, melanggar kebebasan berekspresi," kata Alghiffari.

Pasal makar, tambahnya, bisa saja digunakan apabila memang ada bukti-bukti yang memadai.

"Jika ada bukti-bukti menggulingkan pemerintahan, dalam artian ada kekerasan di dalamnya, ada upaya untuk melakukan sabotase, ada upaya untuk membuat kaos. Tapi apakah orang-orang yang ditangkap punya kemampuan itu?"

Menurut ahli hukum pidana dari Universitas Indonesia, Eva Ahyani Djulfa, hal yang bisa mengategorikan suatu perbuatan sebagai makar berdasarkan pasal 87 KUHP adalah niat dan permulaan pelaksanaan.

Karena niat adalah sesuatu yang abstrak, maka aparat hukum bisa memandangnya menggunakan sudut pandang subjektif.

"Jadi segala tindakan yang menggambarkan tentang niat, itu sudah dianggap sebagai permulaan pelaksanaan," kata Eva.

Namun, ada sudut pandang objektif yang juga bisa dipakai dari sisi hukum. Sudut pandang ini menimbang kemampuan seseorang atau suatu pihak untuk mewujudkan tindakan makar.

"Kedua sudut pandang ini bisa sama-sama digunakan. Hanya saja, tergantung dari penegak hukum," tutup Eva.

Pada Jumat 2 Desember, sebanyak delapan orang ditangkap atas dugaan pemufakatan makar yakni eks Staf Ahli Panglima TNI Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha, mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zein, Ketua Solidaritas Sahabat Cendana Firza Huzein.

Turut ditangkap aktivis politik Ratna Sarumpaet, calon wakil Bupati Bekasi Ahmad Dhani, putri presiden pertama Presiden Soekarno, Rachmawati Soerkarnoputri, Sri Bintang Pamungkas dan Eko.

Ada pula dua orang yang ditangkap dan dijerat Pasal 28 Undang-Undang ITE yakni Jamran dan Rizal Kobar.

Pasal-pasal makar dalam KUHP

Pasal 104

  • Makar dengan maksud untuk membunuh, atau merampas kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil Presiden memerintah, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Pasal 105

[Pasal ini ditiadakan berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 1946, pasal VIII, butir 13.]

Pasal 106

  • Makar dengan maksud supaya seluruh atau sebagian dari wilayah negara, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Pasal 107

  1. Makar dengan maksud untuk menggulingkan pemerintah, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
  2. Para pemimpin dan pengatur makar tersebbut dalam ayat 1, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.
"

| Pasal | makar | untuk | bungkam | kebebasan | berpendapat? | Image | copyright< | span> | caption< | Bintang | Pamungkas | pernah | dipenjara | pemerintahan | Presiden | Suharto | atas | tuduhan | subversif | Suara | Ernalia | istri | beberapa | kali | terdengar | tercekat | berupaya | menjelaskan | duduk | perkara | penangkapan | suaminya | tanpa | larut | dalam | kesedihan | p>Sudah | malam | menghabiskan | waktu | sebagai | tahanan | kepolisian | sejak | dibawa | rumahnya | bilangan | Cibubur | Jakarta | Timur | pada | Jumat | pagi | adalah | salah | satu | orang | yang | ditangkap | dijadikan | tersangka | oleh | menjelang | bersama | kawasan | Monas | p>Waktu | awal | ketika | Markas | Brimob | saya | dikasih | surat | apapun | Minta | foto | kopi | boleh | difoto | menggun | ponsel | juga | Kemarin | lihat | penahanannya | setelah | Polda | Tuduhannya | KUHP | kata | kepada | Indonesia | p>Ernalia | mengutar | bahwa | terhadap | didasari | pertemuan | dengan | sejumlah | tokoh | sebuah | hotel | Tapi | menurut | menghadiri | p>Kemudian | (tuduhan) | dialihkan | (Sri | Pamungkas) | orasi | penggusuran | p>Dalam | rekaman | video | media | Youtube | tampak | mantan | politikus | berorasi | bawah | jalan | Saat | mengat | kaum | kaya | semestinya | diberikan | pajak | tinggi | hasilnya | disalurkan | fakir | miskin | p>Pemerintah | zamannya | sampai | hari | melakukan | simpulkan | situ | Mereka | jahat | harus | diturunkan | dijatuhkan | Inilah | perlu | lakukan | presiden | termasuk | Jokowi | p>Ucapan | tersebut | berpendapat | meminta | EPA< | Kepolisian | menyat | sebanyak | delapan | diduga | menggiring | para | peserta | Silang | Desember | menguasai | gedung | Tergesa | gesa< | h2>Secara | terpisah | Ratna | Sarumpaet | menuding | Polri | ingin | tergesa | gesa | menangkap | menjadikannya | siap | unsur | bukti | p>Katanya | terpenuhi | unsurnya | Unsur | mana | tanya | p>Yusril | Ihza | Mahendra | selaku | kuasa | hukum | Rachmawati | Sukarnoputri | dilakukan | kliennya | hanyalah | sebatas | kritikan | pemerintah | p>Kalau | pelaksanaan | masih | jauh | mengad | rapat | mengkritik | normal | Yusril | Minggu | siang | p>Perbedaan | kritik | makar< | h2>Kepala | Divisi | Humas | Mabes | Rafli | Amar | menepis | klaim | murni | p>Apakah | alam | demokrasi | bukan | Kritik | berbeda | tegas | p>Apa | arti | keikutsertaan | salat | Rizieq | Shihab | li> Aksi | 212: | Usai | bicara | langsung | serukan | tangkap | Ahok | li> < | ul>Boy | mengklaim | telah | mengantongi | beragam | memberatkan | tulisan | tangan | hasil | pemantauan | percakapan | p>Dugaan | berkaitan | adanya | rencana | pemanfaatan | massa | menduduki | kantor | kemudian | berencana | pemaksaan | agar | dilakukannya | sidang | istimewa | menuntut | pergantian | seterusnya | p>Boy | menegaskan | menunggu | upaya | terjadi | Ketika | terdeteksi | niatan | inilah | dimainkan | HOTLI | SIMANJUNTAK | Direktur | Lembaga | Bantuan | Hukum | Alghiffari | Aqsa | digun | penguasa | Orde | Baru | alat | membungkam | berekspresi | Tafsir | penguasa< | h2>Direktur | pasal | p>Pasal | tergantung | definisi | ataupun | tafsir | Seringkali | dituduh | karena | ekspresinya | turun | atau | menyampaikan | ekspresi | kepuasan | Penerapan | tepat | melanggar | tambahnya | apabila | memang | memadai | p>Jika | menggulingkan | artian | kekerasan | dalamnya | sabotase | membuat | kaos | apakah | punya | kemampuan | p>Menurut | ahli | pidana | Universitas | Ahyani | Djulfa | mengategorikan | suatu | perbuatan | berdasarkan | niat | permulaan | p>Karena | sesuatu | abstrak | maka | aparat | memandangnya | sudut | pandang | subjektif | p>Jadi | segala | tind | menggambarkan | tentang | dianggap | p>Namun | objektif | dipakai | sisi | Sudut | menimbang | seseorang | pihak | mewujudkan | p>Kedua | sama | Hanya | penegak | tutup | p>Pada | dugaan | pemufakatan | yakni | Staf | Ahli | Panglima | Brigjen | (Purn) | Adityawarman | Thaha | Kepala | Kostrad | Mayjen | Kivlan | Zein | Ketua | Solitas | Sahabat | Cendana | Firza | Huzein | p>Turut | aktivis | politik | calon | wakil | Bupati | Bekasi | Ahmad | Dhani | putri | pertama | Soekarno | Soerkarnoputri | p>Ada | pula | dijerat | Undang | Jamran | Rizal | Kobar | strong> | KUHP< | strong>< | 104< | p>Makar | maksud | membunuh | merampas | kemerdekaan | meniad | Wakil | memerintah | diancam | mati | penjara | seumur | hidup | sementara | paling | lama | puluh | tahun | li>< | ul>Pasal | 105< | p>[Pasal | ditiad | undang | Tahun | 1946 | VIII | butir | 106< | supaya | seluruh | sebagian | wilayah | negara | 107< | lima | belas | li> Para | pemimpin | pengatur | tersebbut | ayat | ol> |